
Reynand terduduk dengan lemas didepan saung nya dengan wajah yang memucat. Baru saja dia memuntahkan kembali isi perutnya yang hanya berisi dengan bubur nasi pagi tadi. Bau kotoran sapi sungguh mampu membuat nya merasa sangat tersiksa apalagi harus membersihkan dan berkutat dengan kotoran dan sapi itu begitu lama. Hari sudah beranjak sore dan dia baru menyelesaikan pekerjaan nya.
Sesekali dia menoleh kearah rumah Eyang putri, sebentar lagi mereka pasti akan keluar untuk Nara mencari udara segar dan juga melakukan pengobatan di aula itu. Reynand memutuskan untuk mandi terlebih dahulu sebelum kesana.
Dan benar saja setelah selesai mandi, Reynand dapat melihat jika diaula itu sudah ada pelayan Eyang putri yang menyiapkan berbagai perlengkapan untuk pengobatan Nara. Reynand tidak tahu jenis pengobatan macam apa yang dilakukan oleh nenek Bimantara ini, namun yang pasti dia sangat berharap Nara bisa bertahan selagi dia masih mencari informasi tentang pendonor ginjal untuk istrinya itu.
Mata Reynand menyelis tidak suka saat tiba tiba pandangan matanya melihat kearah pintu keluar, dimana Bimantara yang mendorong kursi roda Nara.
Sebentar, mata Nara dan Reynand bertabrakan dan saling pandang dari kejauhan, namun tidak lama karena Nara langsung memutuskan pandangan nya.
Reynand berjalan mendekat kearah mereka. Dia tidak memperdulikan tatapan tidak suka dari semua orang yang ada disana. Reynand hanya ingin melihat Nara dan menemani istrinya, bukankah dia yang lebih berhak disana?
"Keluarlah, Nara mau bertangas dan aku juga mau membalur obat ditubuhnya" pinta Eyang putri tanpa memandang siapapun diantara Bimantara dan Reynand yang ada didalam sebuah ruangan diaula itu.
Reynand memandang tajam Bimantara yang hanya menghela nafasnya dan berbalik badan meninggalkan ruangan itu. Dan kini hanya tinggal mereka bertiga bersama seorang pelayan pribadi Eyang putri.
"Kamu kenapa tidak keluar" kata Eyang putri memandang Reynand. Tangan nya memegang sebuah mangkuk keramik yang berisi sesuatu seperti....lulur??
Reynand langsung menggelengkan kepala nya dengan cepat. Sudah sejak semalam dia menunggu saat saat ini. Tidak mungkin dia pergi, lagi pula tidak ada salah nya dia disini dan melihat Nara
"Tidak nyonya, biarkan saya disini. Saya suaminya" jawab Reynand
Eyang putri hanya mendengus, dia memandang Nara yang hanya diam dengan tatapan kosong nya, lalu beralih kesebuah tempat untuk Nara bertangas nanti, atau istilah nya mandi uap.
Nara sudah malas untuk berdebat lagi, pinggang nya berdenyut ngilu saat ini, bahkan dia merasa sudah sangat dingin dan seluruh tulang nya juga sakit. Berdebat dengan Reynand hanya akan semakin menguras energi nya.
Reynand berlutut dihadapan Nara, memandang wajah pucat dan sayu Nara dengan lembut. Namun saat akan menyentuh tangan nya, Nara langsung menghindar membuat Reynand tertunduk sedih.
"Aku mohon, biarkan aku disini menemani mu" pinta Reynand memandang wajah Nara dengan lekat, penuh rindu, cinta, dan juga penyesalan yang mendalam. Namun....sudah tidak lagi Nara harapkan.
Nara menoleh pada Reynand dengan pandangan datar nya
"Sejak kapan kamu mau mendengarkan perkataan ku. Sejak dulu, semua memang keinginanmu saja. Jadi lakukan sesukamu" jawab Nara begitu dingin
Reynand kembali tertunduk sedih, dia mengangguk dan tersenyum tipis. Kebencian dan kekecewaan Nara mungkin sudah mendarah daging, hingga saat ini Reynand begitu sulit untuk meminta pengampunan itu. Tapi meskipun begitu dia tetap akan berusaha untuk meyakinkan Nara jika dia benar benar tulus dan menyesal.
__ADS_1
"Bawa Nara kemari" ujar Eyang putri. Reynand sedikit terkesiap dan langsung bangkit untuk mendorong kursi roda Nara
Dia meraih tubuh Nara dengan begitu hati hati. Kembali..untuk sesaat pandangan mata mereka saling bertatapan dengan lekat namun berbeda artian. Nara langsung merangkul pundak Reynand dengan ringisan diwajahnya karena pinggang nya yang tidak bisa lagi untuk diajak kompromi, sangat sakit dan terasa hancur. Reynand yang melihat itu terasa mencelos hatinya apalagi dia tahu jika Nara sedang menahan sakitnya saat ini.
Reynand mendudukkan Nara disebuah kursi khusus yang dibawahnya terdapat sebuah bak yang berisi air hangat dan ramuan yang bau nya khas dan semerbak. Dia membantu Eyang putri membuka pakaian Nara hingga menyisakan dalaman saja. Hati Reynand lagi lagi begitu sakit melihat tubuh polos Nara yang begitu kurus dan layu, tidak seperti terakhir kali dia memandang tubuh yang dulunya indah dan begitu menggiyurkan. Kini hanya tinggal tulang yang berlapis kulit. Sungguh hati Reynand seperti ingin menjerit saat ini. Dia benar benar bodoh dan semakin menyesal telah membiarkan Nara sendirian dalam menahan sakit nya, bukannya mengobati, namun dia malah menambah luka ditubuh Nara. Ya Tuhan...jika boleh meminta, ingin sekali Reynand yang menggantikan posisi Nara saat ini. Sudah cukup wanita baik ini menderita, tolong jangan tambahkan lagi deritanya.
Reynand langsung menyingkir saat Eyang putri mendekat kearah Nara dan mulai membalurkan ramuan bewarna hitam ketubuh Nara, ada sebuah ucapan seperti mantra??? yang dibisikkan oleh Eyang putri. Dan setelah itu pelayan Eyang putri langsung memasangkan dan membelitkan sebuah pembatas seperti kain namun tidak tembus air dan udara. Hanya menyisakan kepala Nara yang tertunduk dan memejamkan matanya menahan sakit.
"Nara, minum" ujar Eyang putri. Reynand dengan sigap membantu Nara untuk meminum ramuan itu. Ramuan yang rasanya sangat pahit dan membuat lidahnya terasa mati rasa. Bahkan Nara harus sampai menahan nafas untuk menghabiskan itu. Dia ingin menolak, namun tidak enak. Eyang putri sudah begitu baik membantunya, dan dia harus tahu diri untuk menuruti semua perintah wanita tua itu.
Reynand mengusap bibir Nara yang basah dan juga keringat yang ada diwajah Nara. Nara hanya diam dan memejamkan matanya. Rasa sakit dan uap yang masuk kedalam tubuhnya benar benar tidak bisa dijabarkan bagaimana rasanya. Dia benar benar ingin menyerah saja, namun kenapa Tuhan masih memberikan nya nafas sampai saat ini????
Reynand sudah ada, dan seharusnya jika dia mati, dia pasti akan mati dengan tenang bukan???
Hampir setengah jam Nara bertangas, setengah jam dia menahan rasa sakit yang menggigit hingga dia merasa ada sesuatu yang luruh dibawah sana. Sangat banyak, seperti ketika dia buang air kecil bahkan lebih banyak lagi, dan itu terasa begitu kental dan hangat.
Nara membuka perlahan matanya dan menoleh pada Eyang putri dengan pandangan mata yang mulai mengabur
"Tidak apa apa. Kamu harus kuat, biarkan itu keluar" kata Eyang putri yang tahu apa yang dimaksud Nara
"Nara...kamu kuat" gumam Reynand yang kembali mengusap wajah Nara. Dia cemas, panik, takut dan juga ikut lemah melihat Nara yang tidak berdaya seperti ini.
"Kamu harus sembuh, kamu harus sembuh Nara" bisik Reynand terus menerus seraya mengusap wajah dan kepala Nara
Usapan itu begitu terasa sampai kehati Nara, hingga membuatnya bisa sedikit lebih tenang. Namun tetap saja rasa kecewa, masih begitu besar dihatinya.
"Sudah, buka penutupnya" ujar Eyang putri pada pelayan pribadinya
"Kamu angkat Nara kesini" kini Eyang putri beralih pada Reynand sembari menyerahkan jubah mandi pada lelaki itu
Reynand langsung menerima nya dan mengangguk dengan cepat, dia berbalik arah dan langsung beralih kehadapan Nara setelah pelayan pribadi Eyang putri membuka penutup tubuh Nara
Namun seketika mata Reynand langsung membola saat melihat linangan darah dikaki Nara begitu banyak. Bahkan wadah air hangat yang ada dibawah nya kini sudah berganti dengan darah Nara. Sangat banyak, bahkan Nara seperti berada diatas linangan kolam darah.
Seketika saja Reynand langsung menggeleng dan memegang kepala nya yang langsung berdenyut sakit, bahkan kaki nya bergetar menahan perasaan aneh itu. Wajah Reynand juga langsung memucat pasih, membuat pelayan Eyang putri begitu heran melihatnya.
__ADS_1
"Kenapa, takut?" tanya Eyang putri begitu sinis. Nara yang sejak tadi memejamkan matanya karena lemas, kini beralih dan memandang Reynand yang sudah memucat, lalu kembali menoleh kebawah kaki nya dimana semua sudah bewarna merah. Dia kembali menoleh kearah Reynand.
Reynand terlihat menarik nafasnya dalam dalam dan menggeleng pelan dengan tersenyum tipis, senyum yang benar benar dia paksakan. Sungguh demi apapun, siapapun tahu jika sekarang tubuh lelaki itu bergetar dengan hebat.
Reynand hanya diam dan langsung menyelimuti tubuh Nara dengan jubah mandi yang sejak tadi dia genggam dengan erat. Nara memperhatikan wajah Reynand, wajah nya pucat dan Nara dapat merasakan jika tangan lelaki ini begitu dingin dan bergetar. Bukankah Reynand memang takut darah???
Reynand tidak berani memandang kebawah, dia hanya menatap wajah Nara, seolah itu bisa menguatkan hati dan fikiran nya yang sudah dipenuhi oleh kejadian kejadian itu. Rasa takut, mual dan kalut sungguh membuat kepalanya benar benar sakit.
Dengan sekuat tenaga Reynand langsung mengangkat tubuh Nara. Tidak ada lagi yang dikatakan nya, karena sungguh bibirnya terkatup rapat dan sedikit bergetar sekarang.
Nara juga hanya diam dan merangkul pundak Reynand yang jelas terasa begitu bergetar, Reynand tidak akan pingsan dan menjatuhkan nya kan??
"Cepat letakkan disini, jangan sampai kamu menjatuhkan Nara" ujar Eyang putri yang sudah menyiapkan sebuah kursi santai yang memang menjadi tempat Nara
Reynand langsung meletakkan Nara disana, dengan pelan dan begitu hati hati, meski sungguh tubuhnya pun sudah tidak bisa dikondisikan lagi
Pelayan Eyang putri langsung menyelimuti Nara dengan sebuah kain, lalu kembali mengambil sebuah ember besar berisi air dan handuk untuk membersihkan tubuh Nara
Reynand kembali memegangi kepala nya yang benar benar sakit, nafasnya terlihat tersengal bahkan keringat dingin sudah membasahi wajah pucatnya sekarang.
"Pergilah, Nara sudah selesai, hanya tinggal membersihkan diri saja" usir Eyang putri
Reynand memandang Nara yang masih menatapnya dengan lemah. Dia masih ingin menemani Nara selagi ada kesempatan ini. Tapi rasa sakit dan perasaan aneh ini benar benar tidak bisa dia tahan. Darah Nara yang begitu banyak terus terngiang dikepala Reynand dan mengingatkan nya dengan darah yang paling membuat nya hancur waktu itu.
"Maaf" ucap Reynand begitu lemah dan pelan, Nara hanya terdiam dan memandang Reynand yang berlalu keluar dengan langkah yang terlihat tertatih dan sedikit oleng
"Lelaki lemah, tapi begitu angkuh dan sombong" gerutu Eyang putri seraya membuat sesuatu didalam cawan nya. Nara hanya diam dan masih memandang punggung Reynand yang menghilang dibalik pintu.
...
Reynand jatuh terduduk dibelakang aula. Dia tidak sanggup lagi berjalan jauh menuju saung yang hanya tinggal beberapa langkah lagi.
Kepala nya berdenyut sakit, bahkan tubuhnya sangat lemas. Dia meremas rambutnya dengan kuat membuat wajah pucatnya langsung memerah.
Perasaan takut dan mencekam itu benar benar membuat Reynand tidak berdaya. Darah Nara sangat banyak, hingga dia tidak bisa untuk menahan rasa trauma nya itu.
__ADS_1
"Kakek....." gumam Reynand yang langsung terkulai dan tidak sadarkan diri