Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan

Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan
Adidaksa Terancam ???


__ADS_3

Hari ini perusahaan Polie baru saja melakukan rapat penting bersama para staf petinggi dan juga perusahaan Dopindo. Bimantara juga ada disana, bahkan setelah rapat selesai dia masih belum juga meninggalkan ruangan itu. Rapat kali ini terasa begitu berbeda, karena dipimpin langsung oleh Reynand. Tuan muda Adiputra yang kini bergabung bersama perusahaan Polie.


Tentu saja kehadiran Reynand diperusahaan Polie menuai pro dan kontra bagi sebagian karyawan dan petinggi perusahaan awalnya. Namun kini, saat Reynand berhasil meyakinkan pihak Dopindo untuk bekerja sama dalam pembangunan mega proyek dikota Bandung, semua orang begitu mensyukuri kehadiran tuan angkuh itu. Sungguh, kehadiran Reynand diperusahaan Polie menciptakan dampak bagus bagi mereka.


Banyak yang berfikir dan bingung, tentang apa sebenarnya hubungan antara pemimpin mereka dengan tuan muda Adiputra yang sudah didepak dari perusahaan nya ini. Kenapa Anara begitu mempercayai mega proyek ini dipimpin oleh Reynand??? Apa mereka menjalin sebuah hubungan? Tapi...bagaimana dengan tuan Bimantara yang selama ini juga dekat dengan pemimpin mereka.


Yah, berbagai persepsi saling bersarang difikiran masing masing, namun untuk bertanya tidak akan ada yang berani.


Saat ini Nara bersama Reynand, Bimantara dan Arya masih duduk didalam ruangan rapat. Mereka duduk saling berhadapan dan saling pandang satu sama lain. Namun tetap saja ada rasa tidak nyaman jika sudah saling bertemu meski saat rapat tadi mereka sudah sama sama bersikap profesional. Rasa cemburu dan tidak suka begitu kelihatan diwajah Reynand dan juga Bimantara. Tapi, mau bagaimana lagi. Arya dan Nara sudah malas menanggapinya.


"Aku rasa tuan Abas memang sudah mulai melakukan somasi dan sentilan pada perusahaan ini Nara" ucap Reynand. Sedari rapat tadi tangan nya masih tidak bisa melepaskan sebuah ipad.


"Ya, dia bahkan sudah mempengaruhi beberapa pemegang saham baru disini" sahut Arya pula.


"Apa itu tidak akan berakibat buruk untuk perusahaan ini?" tanya Bimantara.


"Tidak akan, aku masih bisa mengatasinya" jawab Reynand.


Bimantara mendengus gerah.


"Sombong sekali, tapi yah mau bagaimana lagi, itu memang ulah orang tua sendiri" sindir nya.


Reynand memandang Bimantara dengan kesal.


"Sudahlah. Lalu apa yang harus kita lakukan setelah ini?" tanya Nara yang langsung menyahuti awal perdebatan ini.


"Tidak ada, kita hanya harus fokus pada pembangunan proyek itu agar tuan Renggono semakin yakin. Masalah perusahaan Adidaksa, ini menjadi urusan ku. Aku yakin ini pasti ada sangkut pautnya dengan ulah wanita itu. Kamu paham bukan?" ujar Reynand pada Nara.


Nara langsung mengangguk setuju. Ya, siapa lagi jika bukan Cleo. Wanita itu pasti sudah mempengaruhi tuan Abas. Tapi dia juga tidak tahu bagaimana caranya Cleo bisa bekerja sama dengan tuan besar itu. Apa hubungan mereka sudah sedekat itu??? Entahlah.


"Wanita siapa?" tanya Bimantara yang tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh Reynand.


"Bukan urusan mu. Sebaiknya kau kembali. Bukankah rapat sudah selesai. Apa lagi yang kau tunggu disini?" tanya Reynand begitu sinis. Membuat Bimantara kembali mendengus kesal.

__ADS_1


"Cih, sesuka hati saya mau sampai kapan disini. Bukan urusan anda juga tuan muda" dengus Bimantara.


"Jelas menjadi urusanku, mata ku sakit melihat mu berkeliaran disini. Sebaiknya kau urus perusahaan mu itu jika tidak mau terkena imbas nya" ujar Reynand.


"Apa gunanya anda ada ha?" tantang Bimantara.


"Kalian selalu saja menambah masalah. Lanjutkan perdebatan kalian itu. Jangan pulang sebelum malam" ucap Nara seraya langsung beranjak dari duduk nya. Membuat Bimantara dan Reynand langsung memandang nya dengan bingung.


"Kamu mau kemana Nara?" tanya mereka berdua bersamaan. Arya langsung tertawa melihat itu. Dia juga segera beranjak dari kursi nya dan mengikuti Nara.


"Kalian benar benar kompak" ledeknya dengan wajah yang menyebalkan.


Reynand dan Bimantara saling pandang kesal dan setelah itu kembali memalingkan wajah masing masing.


....


Sementara diperusahaan Adidaksa...


Sudah seminggu tuan besar itu tidak datang keperusahaan, dan baru hari ini dia memunculkan dirinya disana. Wajahnya tampak datar dan tidak ramah sama sekali, membuat seluruh karyawan perusahaan raksasa itu benar benar heran melihat nya. Sejak kepergian Reynand, perusahaan itu seperti tidak lagi memikiki aura positif. Perusahaan hanya berjalan seperti biasa, namun semangat karyawan seperti tidak ada lagi.


Kepergian Reynand benar benar mengubah suasana diperusahaan itu.


Meskipun Reynand terkenal dingin dan angkuh, namun dia tetap pemimpin yang bertanggung jawab. Tidak pernah meninggalkan perusahaan lebih dari dua hari, itupun pergi pasti karena urusan pekerjaan.


Entah kenapa beberapa bulan yang lalu tuan besar mereka mengatakan jika Reynand telah memakan banyak uang perusahaan hingga membuat saldo menipis bahkan gaji mereka terancam. Dan tentu mereka mempercayai itu karena tuan besar itu adalah orang tua Reynand sendiri.


Dan sekarang mereka merasa jika perusahaan Adikdaksa memang sudah terancam.


"Bagaimana hasil rapat hari ini diperusahaan Polie?" tanya tuan besar itu.


"Mereka tetap melanjutkan mega proyek itu tuan" jawab Guntur.


Tuan besar itu nampak biasa saja dan hanya menghela nafas pelan. Tidak ada beban sama sekali dari raut wajahnya.

__ADS_1


"Ya sudah lah. Yang terpenting kau cukup buat pemegang saham itu mundur saja" ujar nya.


"Baik tuan" jawab Guntur lagi.


"Ah iya, apa seluruh aset yang tersimpan itu sudah dialihkan atas namaku?" tanya tuan besar itu lagi.


Guntur terdiam sejenak, namun sedetik kemudian dia langsung menggeleng.


"Belum bisa selama tuan Reynand masih ada. Apalagi ini adalah wasiat dari tuan besar Bagasyaksa" jawab Guntur.


Mata tuan besar itu memicing, memandang Guntur dengan tajam dan begitu mengintimidasi. Tatapan yang terasa sangat dingin dan membunuh.


"Kau mau mempermainkan ku Guntur. Ini sudah berbulan bulan dan kau selalu mengatakan itu padaku" geram tuan besar itu.


"Maaf tuan, ini bukan kuasa saya. Bukankah seharusnya tuan sudah tahu itu. Tuan sendiri yang menandatangi itu bersama pengacara tuan besar Bagasyaksa waktu itu" ucap Guntur.


Tuan besar itu langsung terdiam, ada sedikit kegugupan diwajah tua nya. Dan lagi.... Guntur semakin mencurigai nya!


"Sudahlah, atur jadwal untuk bertemu dengan pengacara itu tiga hari lagi" ucap tuan besar itu.


"Untuk apa tuan?" tanya Guntur begitu ragu.


"Jangan banyak tanya. Cukup lakukan saja!!!" bentak nya begitu marah.


Dan mau tidak mau, Guntur hanya bisa mengangguk pasrah.


"Keluar kau!" usir tuan besar itu.


Guntur mengangguk dan langsung membalikkan tubuhnya untuk segera keluar dari ruangan panas itu. Ruangan yang dulu terasa begitu nyaman, kini sudah seperti neraka untuknya. Tapi demi kelangsungan perusahaan, Guntur memang harus bertahan.


Guntur sedikit terkejut saat membuka pintu tiba tiba seorang wanita paruh baya sudah berdiri dihadapan nya. Guntur tahu siapa dia, karena sudah beberapa kali bertemu.


"Nyonya Guzel, selamat siang" sapa Guntur seraya membungkukkan sedikit tubuh nya. Namun nyonya Guzel hanya mengangguk saja dengan wajah angkuh nya.

__ADS_1


Guntur membiarkan ibu Cleo itu masuk dan dia segera pergi dari sana seraya menutup kembali pintu ruangan itu. Membiarkan mereka berdua didalam sana. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi yang jelas, pasti bukan hal yang baik.


"Agas..." panggil nyonya Guzel pada tuan besar yang sedang duduk santai dikursi nya.


__ADS_2