
Nafas Nara dan Reynand terdengar memburu dengan degup jantung yang tidak beraturan. Ruangan gelap dan kamar yang temaram seolah terasa begitu mencekam. Ditambah mereka saat ini sudah seperti seorang pencuri yang memasuki rumah orang tanpa izin dari pemiliknya. Dan sekarang malah dipergoki tengah menggeledah ruangan yang sepertinya tidak boleh untuk dimasuki. Tentunya membuat mereka takut bukan kepalang.
Namun perasaan itu langsung sirna ketika melihat siapa yang ada dihadapan mereka saat ini.
"Guntur, kenapa kau disini?" tanya Reynand seraya mematikan sinar ponsel nya dan menarik Nara keluar.
"Saya mendapat kabar jika hari ini tuan muda akan ketempat ini, dan kebetulan saya sedang rapat diluar, jadi saya bisa menyusul anda" jawab Guntur.
"Lalu itu kenapa kamu memegang kapak yang sudah berdarah?" tanya Nara, jantung nya masih berdenyut dengan degup yang cepat. Dia benar benar terkejut tadi saat melihat Guntur datang dengan kapak berdarah ditangan nya.
"Ini kapak yang terpajang diruang depan, ada ular besar dipojok tangga, jadi saya bersama Arya membunuh nya dulu" jawab Guntur.
Nara langsung menghela nafas lega mendengar itu. Bahkan dia langsung mengusap dadanya dengan lembut. Benar benar membuat senam jantung saja.
"Kau sudah seperti seorang psikopat membawa benda itu ditengah gelap seperti ini" gerutu Reynand seraya mendudukkan dirinya disebuah kursi yang ada dikamar itu.
Guntur mengernyit, memandang sekilas pada kapak kecilnya. Psikopat dari mana? Ini hanya kapak kecil bahkan terkesan unik karena bewarna emas, hanya karena darah ular tadi jadi terlihat berbeda. Apa mereka berfikir jika ini adalah cerita tentang psikopat yang bunuh membunuh dirumah tua, begitu???? Ada ada saja.
"Arya dimana?" tanya Nara lagi. Wajahnya yang sempat memucat kini sudah mulai bewarna kembali.
"Arya menunggu diluar nona. Sepertinya asisten anda itu sangat takut dengan gelap" jawab Guntur seraya terkekeh dengan pelan.
Nara dan Reynand langsung mendengus mendengar itu. Karena mereka memang tahu jika lelaki berambut gondrong itu memang penakut.
"Sudah lah ayo kita keluar, kau harus menjelaskan semua nya padaku setelah ini" ujar Reynand seraya beranjak dari duduk nya diikuti oleh Nara.
Guntur hanya mengangguk kecil dan juga berjalan untuk keluar dari kamar dan rumah yang menyeramkan itu.
...
Saat ini mereka sudah berada disebuah restaurant kecil yang berada tidak jauh dari komplek perumahan asing tadi. Rasa tegang yang sempat mendera membuat mereka kehausan dan perlu menenangkan diri sejenak,seraya Reynand yang ingin mendengar penjelasan dari Guntur tentang semua yang dia ketahui.
Restauran ini berada didaerah yang cukup jauh dari pusat kota dan bahkan tempatnya sedikit tertutup. Tidak tahu kenapa Guntur membawa mereka ketempat ini.
Nara dan Arya hanya diam dan menikmati minuman serta cemilan yang mereka pesan. Mereka masih belum ingin ikut campur dengan pembicaraan Reynand dan mantan asisten nya ini.
"Jadi bisa kau jelaskan kenapa mereka ingin membawa ku semalam?" tanya Reynand memandang Guntur dengan lekat.
__ADS_1
Guntur nampak menghela nafasnya dengan berat. Dia bahkan bingung ingin menjelaskan semua nya dari mana.
"Sekarang nyawa anda sepertinya terancam tuan" ucap Guntur. Reynand mengernyit sedangkan Nara dan Arya memandang Guntur tidak percaya.
"Tuan besar ingin menguasai seluruh harta yang tersimpan yang sudah diwariskan pada anda dari Almarhum kakek anda" ucap Guntur lagi.
"Harta yang tersimpan? Tunggu, apa maksudmu itu separuh dari saham Adidaksa?" tanya Reynand. Namun Guntur langsung menggeleng, matanya mengedar memandangi area sekitar nya, takut takut jika ada yang mendengar pembicaraan mereka saat ini.
"Apa anda pernah mendengar tuan Bagasyaksa menyebutkan sesuatu tentang bukit Sinai?" tanya Guntur.
Reynand mengernyit, dia terdiam sejenak seraya berfikir sepertinya dia memang pernah mendengar tentang bukit itu.
"Bukankah itu bukit dimana villa kakek berada?" tanya Reynand, dan Guntur langsung mengangguk.
"Divilla itu tersimpan sebuah brangkas yang berisi surat dan kepemilikan aset yang ada di Amerika, dan juga harta benda berupa emas batangan yang cukup banyak. Itu semua atas nama anda" ungkap Guntur.
Uhuk uhuk
Bukan Reynand yang tersedak mendengar itu, melainkan Arya, dia tidak percaya jika Reynand sekaya itu. Wow sekali tuan muda ini. Jika diuangkan pasti banyak sekali itu. hahaha
"Lalu?" tanya Reynand yang masih belum mengerti. Dia tidak pernah merasa jika kakek nya mewariskan itu padanya.
Reynand terdiam kembali mendengar itu. Begitu pula dengan Nara dan Arya.
"Perjanjian penyerahan aset jika tuan sudah menikah sebenarnya bukan untuk perusahaan Adidaksa, melainkan untuk seluruh aset yang tersimpan itu, karena nilai keseluruhan itu lebih besar dari saham Adidaksa dan seluruh aset didalam negeri" kata Guntur lagi.
"Jadi karena itu dia ingin membawa ku pergi semalam" gumam Reynand dengan helaan nafas yang berat.
"Padahal dulu sebelum kakek masih hidup dia tidak seperti ini. Apa dia berubah karena kakek sudah tidak ada? Dan apa kau tahu tentang hubungan dia dan tante Guzel?" tanya Reynand
Guntur mengangguk, namun nampak ragu.
"Sudah sejak tuan Bagasyaksa masih hidup saya sudah mengapdikan diri pada keluarga kalian. Dan Saya sudah mengenal tuan Abas dengan baik. Tapi memang setelah kepergian tuan Bagasyaksa, tuan Abas benar benar berubah. Saya seperti tidak lagi mengenali nya. Bahkan sekarang dia tidak canggung lagi membawa nyonya Guzel ke perusahaan atau kerumah kalian" ungkap Guntur.
Reynand memejamkan matanya sejenak dan menggeram kesal.
"Tapi entah kenapa pemikiran saya jika yang sekarang bersama kita bukan lah tuan Abas tuan, melainkan tuan Agas" ucapan Guntur kali ini membuat Reynand memandang nya bingung, begitu pula dengan Nara.
__ADS_1
"Paman Agas?" tanya Reynand sedikit menekan nada bicaranya.
Guntur mengangguk dan menghela nafas sejenak.
"Saya kenal tuan Abas, saya sudah lama hidup dengan nya. Dia tidak pernah mau menyakiti hati istri dan anak anak nya. Apalagi sampai tega mengusir kalian dari rumah. Saya sudah curiga sejak dia meminta saya untuk terus memojokkan anda diperusahaan, dan yang lebih parah nya saat dia mengusir kalian dengan kejam. Tapi saya masih tidak memiliki bukti apapun. Saya hanya tahu jika mereka sering bertemu dirumah ini karena beberapa kali saya mengikuti mereka" ungkap Guntur.
"Kau pernah kepenjara paman?" tanya Reynand. Dan Guntur kembali mengangguk.
"Ya, saya sudah memeriksa semua nya. Dan memang karena kebakaran yang terjadi dipenjara waktu itu, beberapa napi ada yang tewas dan ada juga yang kabur. Tapi kasus itu sudah ditutup karena dari pihak kita sudah tidak ada lagi yang mengungkitnya" jawab Guntur.
"Jika itu paman, lalu dimana papa" gumam Reynand.
"Apa orang yang mereka sekap itu?" tanya Nara pula.
Reynand dan Guntur langsung menoleh pada Nara, mereka saling pandang dengan lekat dan memikirkan sesuatu.
"Saya juga sempat berfikir begitu, namun sampai saat ini saya tidak bisa berbuat lebih. Gerak gerik saya selalu diawasi oleh tuan besar. Bahkan untuk sekarang saja saya tidak tahu mereka mengetahui pertemuan kita ini atau tidak" ucap Guntur.
"Apa karena kau ingin menjaga aset itu dari tangan pria tua itu maka kau berpihak padanya?" tanya Reynand.
Guntur menghela nafasnya dengan berat dan mengangguk pelan.
"Saya tidak punya pilihan lain tuan. Jika saya pergi dan memihak pada anda. Saya tidak akan tahu apa yang akan mereka lakukan" jawab Guntur.
"Baiklah, jika seperti itu. Kita sudahi pertemuan ini. Kau harus segera kembali. Jangan sampai mereka tahu kau menemui ku. Masalah aset yang tersimpan itu, bukankah mereka belum tahu dimana tempat nya?" tanya Reynand. Dan Guntur langsung mengangguk yakin.
"Jika begitu mulai saat ini kau selidiki dan cari bukti tentang siapa dia sebenarnya, papa atau paman. Besok aku akan pergi kerumah lama kakek dan juga..... rumah itu" ujar Reynand.
"Anda yakin akan pergi kerumah itu?" tanya Guntur sedikit ragu, pasalnya dia tahu seperti apa trauma Reynand.
"Tidak ada pilihan lain Guntur. Jika itu benar paman seperti yang kau duga, maka sudah sangat terlambat untuk mencari keberadaan papa. Aku harap kita tidak terlambat. Aku berharap banyak padamu" ucap Reynand. Ada setitik rasa bersalah dihatinya ketika Guntur menerka jika itu bukan papa nya, melainkan paman nya yang psikopat itu. Jika itu benar, bukankah orang yang disekap dan diberitahu Nara sejak empat tahun yang lalu adalah papa nya? Astaga, jika itu benar. Berarti sudah selama itu papa nya disekap. Reynand jadi tidak tahu harus berharap ini benar atau tidak.
"Baiklah tuan, saya tidak bisa membantu banyak untuk pergi kesana. Tapi saya akan mengabari apa yang akan dilakukan mereka saat ini. Saya hanya berharap anda bisa menjaga diri anda dengan baik. Karena besok juga tuan besar akan memanggil pengacara untuk mencari tahu tentang dimana letak aset itu" ungkap Guntur lagi.
"Tidak masalah, aku akan menjaga diri dengan baik. Terimakasih kau masih selalu setia pada kakek" ucap Reynand.
Guntur tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
"Hanya ini yang bisa saya lakukan untuk membalas kebaikan tuan Bagasyaksa" jawab Guntur.
Dan lagi, misi mereka kini sedikit berubah. Bukan lagi untuk merebut perusahaan, melainkan mencari tahu siapa orang yang ada bersama mereka saat ini. Tuan Abas, atau tuan Agas.