
Sore itu rumah eyang putri ramai oleh para cucu cucu nya. Hal yang paling jarang ditemukan mereka bisa berkumpul seperti ini. Apalagi Nara dan Reynand, mereka dengan cepat berbaur dengan para cucu eyang putri. Sore ini mereka mengadakan barbequan di taman belakang rumah eyang putri.
Semua nya tampak sibuk dengan tugas masing masing. Para tuan muda nampak sibuk memanggang daging dan juga seafood, sedangkan para asisten mereka terlihat kesana kemari menyiapkan hal hal yang lain.
Eyang putri duduk disaung bersama ibu mertua Reyza, mereka nampak mengobrol ringan disana. Sementara Nara saat ini sedang duduk seraya menyiapkan minuman ditikar yang terbentang diatas rumput. Nara duduk bersama dengan Naina, istri Reyza, dan juga adiknya Lolita. Mereka bekerja seraya bercerita tentang pengalaman mereka masing masing.
"Jadi kamu juga sakit kanker, kanker ginjal?" tanya Naira.
Nara langsung mengangguk dan tersenyum tipis.
"Ya, kita sama kan, sama sama pernah merasakan hal yang menakutkan itu" ucap Nara.
Naina juga tersenyum dan mengangguk.
"Kalau ingat itu, aku benar benar gak nyangka bisa ada difase ini. Bahkan aku sempat nyerah dulu. Tapi beruntungnya aku dikelilingi orang orang yang selalu mensuport aku, terutama keluarga dan suami" ungkap Naina. Dia masih ingat bagaimana perjuangan nya saat menjalani hari hari terberatnya karena kanker otak nya dulu.
"Kamu beruntung Nai. Aku dengar dari eyang putri kalau kalian menikah disaat kamu sakit parah ya?" tanya Nara seraya mengaduk minumannya.
"Hmm... mas Reyza mau nepati janjinya. Mungkin waktu itu dia berfikir kalau aku gak akan bisa bertahan lama, maka nya dia nikahin aku secepat itu" jawab Naina seraya tertawa kecil.
"Aku rasa karena dia cinta banget sama kamu" ucap Nara.
"Ya, aku beruntung memiliki dia. Dan aku lihat kamu juga sangat beruntung memiliki tuan Reynand. Dia terlihat memperhatikan kamu sejak tadi. Tatapan nya juga penuh cinta" ujar Naina menggoda Nara.
Nara tertawa kecil dan mengangguk, seraya matanya yang memandang Reynand yang sedang memanggang bersama Reyza. Sepertinya kedua orang itu cocok.
"Dia alasan aku untuk tetap hidup" gumam Nara.
Naina memperhatikan Nara dengan lekat.
"Cinta kalian begitu kuat" ucap Naina.
Nara tersenyum dan menggeleng.
"Entah lah, mungkin karena sudah banyak masa masa sulit yang kami lewati, jadi sampai detik ini semua terasa begitu berarti. Kamu pasti tahu bagaimana sulitnya untuk menjalani hari ditengah rasa sakit dan ketakutan bukan" ucap Nara.
Naina langsung mengangguk dengan cepat.
"Kamu benar, apalagi ketika sakit, namun kita juga menahan rindu dan cinta. Semua terasa sangat sulit. Dan karena sudah pernah mengalami kesakitan itu, semua nya sekarang jadi terasa lebih indah, dan semakin takut untuk saling menyakiti lagi" ungkap Naina.
"Kamu benar." jawab Nara. Dulu semua memang terasa sulit. Tapi sekarang semoga semua nya bisa berjalan sesuai dengan keinginan mereka.
Hingga tiba tiba mereka dikejutkan dengan kedatangan Bimantara yang langsung duduk dengan membawa si kecil Tasya, keponakan Naina.
"Hai aunty aunty... kalian sibuk sekali seperti nya" ucap Bimantara
Nara langsung tersenyum dan mencuil pipi gembul balita yang masih berusia dua tahun itu.
"Dimana Loli Bim?" tanya Naina
"Kebelakang, katanya mau ngambil susu Tasya" jawab Bimantara.
"Lucu banget deh" gumam Nara seraya memandangi Tasya yang ada dipangkuan Bimantara.
"Kamu cepat nikah, nanti juga punya yang lucu begini" ujar Naina.
Nara hanya tersenyum saja, dia tidak tahu dia bisa punya anak atau tidak. Bahkan ketika menikah dua tahun bersama Reynand kemarin saja dia tidak hamil hamil. Apalagi sekarang, ginjal nya hanya tinggal satu. Dan tentu kesehatan nya juga sudah tidak sebaik dulu.
Ya ampun.. kenapa sekarang Nara jadi cemas.
__ADS_1
"Kamu mau gendong" tanya Bima
"Aku takut dia jatuh" jawab Nara
Naina dan Bimantara langsung tertawa dan menggeleng lucu melihat Nara. Apalagi saat Bima meletakkan keponakan nya itu dipangkuan Nara, wajah Nara terlihat sangat tegang. Dan bahkan dia sangat kaku.
"Oh ya Tuhan" gumam Nara
"Relaks saja Nara. Enggak apa apa kok. Tasya baik budi, ya kan nak" ujar Naina seraya mengusap kepala Tasya yang kini memandang heran pada Nara.
Nara tertawa kecil dan memeluk tubuh mungkil balita itu. Ini adalah pertama kalinya Nara menggendong anak anak.
"Baru ini menggendong anak anak ya?" tanya Naina
"Iya, apa begitu kelihatan?" jawab Nara
Naina tertawa dan mengangguk lucu.
"Maka dari itu, lain kali ajak tuan angkuh itu pergi berlibur, agar kamu tidak ikut ikutan kaku seperti dia" sahut Bima
Nara langsung mencebikkan bibirnya dan memainkan pipi gembul Tasya.
"Kamu kayak nya dari tadi sensi banget sama tuan Reynand Bim" goda Nara.
"Nona tidak tahu saja kalau mereka itu kan saling perang dingin" sahut Arya yang tiba tiba datang dan bergabung bersama mereka.
"Wow... jadi kamu juga naksir nona Nara ya" sahut Lolita pula yang sudah ada disana, ditangan nya membawa susu Tasya.
"Iya, lihat saja tuh wajah tuan Reynand yang dari tadi melirik kesini terus" ucap Arya lagi. Membuat mereka semua langsung tertawa.
"Aryoo" Nara memandang Arya dengan kesal. Suka sekali dia mengacaukan suasana.
"Dia yang cemburu apa kamu yang cemburu Bim" goda Naina pula, dan kali ini Bima yang nampak mendengus kesal.
"Kayak nya si Bima deh kak, aku jadi inget kata kata eyang putri hari itu. Kalau si Bima kan naksir sama punya orang. Berarti kak Nara orang nya kan" sahut Lolita pula.
"Sok tahu kamu" dengus Bima
"Ya tahu memang, kelihatan dari wajah kamu kok" ledek Lolita
Bima langsung mengusal kepala Lolita dengan gemas. Jika sudah bergabung dengan para sepupu nya ini dia tidak akan menang.
"Jangan mau memang kak sama Bima, dia orang nya pemalas, mana malas mandi lagi. Kak Nara memang lebih cocok sama tuan Reynand" ucap Lolita seraya menjulurkan lidah nya pada Bima.
Nara hanya tertawa kecil dan menggeleng saja. Bahagia sekali dia berada ditengah tengah mereka. Sangat ramah dan begitu hangat.
"Sepertinya saya pernah lihat nona Naina. Tapi dimana ya" gumam Arya tiba tiba. Dia masih duduk disamping Bima seraya mengunyah kerupuk udang yang dibawanya sejak tadi.
"Jelas kamu pernah lihat. Nara kan pernah seliweran pada masanya di tv" sahut Bima, wajahnya masih kelihatan kesal.
"Wah berarti Sheralia itu ya, yang penyanyi terkenal itu. Tapi sayang cuma dua tahunan kalau tidak salah" ungkap Arya.
Naina langsung tertawa dan mengangguk.
"Kamu tahu ya" ucap Naina
"Tahu, saya kan salah satu fans anda nona" jawab Arya.
"Hei... jika dengar tuan angkuh itu bisa dipecat kamu jadi calon adik iparnya." dengus Bima
__ADS_1
"Kenapa, zaman itu zaman saat kami masih kuliah. Wajar dong, nama nya juga anak muda. Saya juga nonton konser besar nona Sheralia waktu itu" jawab Arya lagi, yang masih mengingat tentang gadis penyanyi dengan nama panggung Sheralia beberapa tahun lalu. Dan dia tidak menyangka jika ternyata Naina adalah orang nya.
"Waaahh kak Nai keren, masih ada fans nya" ucap Lolita
"Kan dulu. Kalau sekarang mana berani lagi saya. Sudah dipecat jadi calon adik ipar tuan Reynand, ditambah pula dengan amarah tuan Reyza. Ooo tidak sanggup" kata Arya. Semua orang langsung memecahkan gelak tawa mendengar perkataan Arya.
"Ya bagus kalau kamu sadar diri. Reyza dan Reynand itu sebelas dua belas. Hanya saja Reyza sedikit lebih lembut dari pada Reynand yang pemarah itu" ungkap Bima.
Nara langsung memandang Bima dengan tawa kecilnya.
"Gak sadar diri, padahal yang suka buat marah dari dulu ya dia" sindir Arya
pluk
Satu tamparan langsung mendarat dibahu Arya.
....
Sementara ditempat Reynand dan Reyza, mereka masih berdiri dan membakar daging steak nya. Seraya memandangi gelak tawa wanita mereka masing masing.
"Anda terlihat kesal melihat Bima tuan" goda Reyza.
Reynand mendengus dan menggeleng.
"Sejak dulu, dia adalah hal yang paling membuat hati saya terbakar" jawab Reynand.
Reyza langsung tertawa mendengar itu.
"Bukankah nona Nara lebih memilih anda dari pada dia" kata Reyza pula
"Ya, tapi meskipun begitu, rasa cemburu itu tidak bisa dihilangkan" jawab Reynand.
"Itu berarti anda mencintai wanita anda tuan" ucap Reyza.
"Tentu saja, kisah kami cukup rumit tuan. Bahkan saya masih tidak pernah menyangka kami bisa ada ditahap ini. Dan bisa merencakan untuk menikah dan bersama kembali" ungkap Reynand seraya memadang Nara yang terlihat tertawa bersama istri Reyza. Kedua wanita cantik yang nampak anggun dan cantik. Jika Naina terlihat lebih ceria dan lembut, maka Nara terlihat anggun dan elegan. Mungkin karena dia adalah seorang wanita karir, sedangkan Naina adalah ibu rumah tangga biasa.
"Bersama kembali???" tanya Reyza.
Reynand mengangguk seraya membalik daging nya.
"Ya, kami sudah pernah menikah selama dua tahun dulu dan sudah satu tahun ini berpisah" jawab Reynand begitu terbuka.
"Benarkah begitu?? saya tidak menyangka tuan" ucap Reyza yang sungguh terkejut, jika ternyata Reynand dan Nara adalah mantan suami istri.
"Saya pernah berbuat kesalahan yang begitu bodoh. Saya menyia nyiakan dia, dan bahkan saya membuat dia semakin menderita ditengah penyakit yang dia derita. Dan disaat dia memilh pergi, disitu saya sadar jika ternyata, saya sangat mencintai dia" ungkap Reynand seraya memandang Nara dari kejauhan.
Reyza tertegun, namun sedetik kemudian dia nampak tersenyum dan menggeleng.
"Sepertinya kita hampir sama" ucap Reyza, membuat Reynand langsung menoleh kearah nya.
"Saya juga pernah membuat suatu kebodohan dan menyianyiakan istri saya disaat dia sakit. Dan itu adalah penyesalan saya yang terdalam. Hanya bedanya, waktu itu saya dan Naina belum menikah. Kami hanya berjanji untuk menikah jika saya sudah menyelesaikan study saya. Tapi nyatanya, karena kebodohan saya, kami malah berpisah cukup lama" ungkap Reyza pula.
Reynand mendengus senyum mendengar itu. Dia juga tahu jika istri Reyza juga menderita kanker. Penyakit mematikan, sama seperti Nara.
"Penyesalan yang tidak akan pernah bisa dilupakan" gumam Reynand.
"Tapi dengan penyesalan itu bukankah cinta kita pada mereka semakin kuat" sahut Reyza.
"Anda benar tuan. Rasanya bahkan sampai tidak bisa di ungkapkan dengan kata kata" sahut Reynand.
__ADS_1
Mereka tersenyum seraya memandangi wanita mereka masing masing. Wanita yang akan menjadi ratu didalam hati mereka. Wanita yang akan mereka cintai untuk seumur hidup. Wanita dengan cerita masa lalu yang begitu menyakitkan.