
Bulan telah terlalui dengan begitu cepat, tanpa terasa dan tanpa disadari. Panas dan hujan silih berganti selalu datang bergulir dengan waktu yang berputar tanpa henti.
Tidak terasa waktu telah berlalu dengan begitu cepat. Gendis benar benar tidak menyangka sama sekali jika dia bisa berada didesa ini sudah hampir dua bulan lamanya.
Berawal dari rasa sakit atas pengkhianatan yang dilakukan oleh kekasihnya, hingga sebuah kecelakaan yang membawa Gendis sampai dirumah ini. Rumah eyang putri yang sudah menjadi tempat bernaung nya selama ini.
Kaki Gendis sudah bisa berjalan seperti biasa. Meski masih sedikit ngilu, namun dia sudah bisa berjalan dan tidak lagi memakai tongkat. Pengobatan eyang putri sungguh bagus dan ampuh. Dia tidak perlu lagi memakai pan dikakinya yang patah seperti pengobatan yang biasa dilakukan dirumah sakit. Sekarang dia bisa sembuh secara alami dan tanpa kurang sedikitpun.
Dan besok, Gendis sudah memutuskan untuk pulang kembali ke rumah ayah nya di Jakarta. Tidak ada lagi alasan dia untuk tinggal lebih lama lagi dirumah ini. Dia sudah sembuh dan waktunya dia pergi. Gendis tidak ingin lagi merepotkan eyang putri dan Bima. Mereka sudah cukup baik merawatnya selama dua bulan ini.
Meskipun sebenarnya Gendis masih begitu betah berada didesa ini. Berjalan jalan dikebun eyang putri, memetik buah dan sayur. Juga bermain bersama hewan ternak nya. Semua benar benar membuat Gendis merasa tenang dan damai. Apalagi ditambah dengan Bima yang setiap minggu pasti dan datang menemani nya berkeliling perkebunan.
Gendis menghela nafasnya dalam dalam seraya memandang bintang dan bulan yang ada diatas sana. Dia tidak ingin pulang, dia masih malas jika berurusan dengan David. Tapi..... dia juga tidak mungkin disini terus bukan.
"Hei.... apa kamu tidak takut berada sendirian disini?" tanya Bima tiba tiba.
Gendis sedikit terkesiap, dan langsung menoleh pada Bima yang datang dengan dua gelas kopi ditangan nya. Gendis langsung tersenyum dan menerima gelas kopi itu dari tangan Bima. Sedangkan Bima langsung duduk disamping Gendis, disebuah Gazebo yang berada ditaman belakang rumah eyang putri.
Gazebo bersejarah yang sudah ada sejak zaman Naina dan Reyza dulu.
"Apa disini ada hantu?" tanya Gendis seraya menikmati kopinya.
Bima tertawa dan menggeleng.
"Entah lah, tapi kurasa sejak kedatangan mu tidak ada lagi" jawab Bima.
Gendis langsung memandang Bima dengan lekat.
"Apa kamu kira mereka takut dengan ku" sergah Gendis nampak cemberut. Namun Bima malah tertawa kembali.
"Tidak, mereka tidak takut dengan mu. Hanya saja mereka tidak ingin mengganggu orang yang sedang menenangkan dirinya karena patah hati." ledek Bima.
Gendis langsung melebarkan matanya mendengar itu. Dia menampar bahu Bima dengan kesal.
"Kurang ajar memang, kamu meledek ku" sahut Gendis.
"Aku tidak meledek, aku berbicara yang sesungguhnya" jawab Bima.
"Ya, karena kamu pun juga begitu. Sering duduk menyendiri merenungi nasib" balas Gendis tidak mau kalah.
"Setidaknya aku tidak menangis sepertimu" sahut Bima.
Gendis langsung memasang wajah jelek nya memandang Bima.
__ADS_1
"Aku juga tidak menangis ya" ucap Gendis.
Dan kali ini Bima yang mendoerkan bibirnya.
"Didepan ku memang tidak, kamu sok kuat. Tapi dibelakang kamu sering menangis kan" ledek Bima.
Gendis memandang Bima dengan begitu kesal.
"Menangis untuk lelaki yang tidak berguna. Menangis membuang air mata yang tidak seberapa itu" tambah nya lagi dengan wajah yang benar benar menyebalkan.
"Bimaaa" seru Gendis benar benar kesal. Namun Bima hanya tertawa meledek.
"Kenapa marah, aku benar kan. Setiap pagi sewaktu awal awal datang kemari mata mu selalu bengkak seperti panda" ejek Bima lagi.
Gendis mendengus dan langsung melompat kearah Bima dan menggigit lengan nya dengan kuat.
"Aaaaahhhh" teriak Bima dengan kuat namun juga tertawa melihat wajah kesal Gendis yang kelihatan marah dan begitu geram.
"Kurang ajar, mana ada begitu!!" seru Gendis.
"Memang begitu, jangan berkilah kamu. Aku melihat nya sendiri" jawab Bima seraya mengusap lengan nya yang terasa berdenyut karena gigitan Gendis.
"Kamu mengintip ku ha" tanya Gendis dengan mata yang memicing.
"Kamu" Gendis kembali ingin menggigit lengan Bima namun Bima segera menghindar dan tertawa terbahak bahak.
"Bimaa.... kamu memang kurang ajar" seru Gendis yang langsung berdiri dan ingin menarik Bima. Namun Bima terus menghindar.
Hingga tiba tiba..
brak..
umph
Mata mereka langsung terbuka lebar saat Gendis jatuh keatas tubuh Bima karena kakinya yang tersandung tikar. Namun yang membuat mereka sama sama mematung adalah Gendis jatuh tepat diatas dadanya dan bibir mereka yang malah saling menempel.
Gendis terkesiap, saat beberapa detik dia terdiam dan membiarkan bibirnya berada diatas bibir Bima. Hingga saat sadar dia langsung beranjak dan berguling disebelah Bima.
Bima masih tidak menyangka dengan apa yang terjadi. Dia bahkan masih begitu terkejut.
"Mmmm ma maaf... aku... aku tidak sengaja" jawab Gendis seraya beranjak untuk duduk dan memandang Bima dengan senyum getir nya.
Bima juga langsung bangun dan duduk menghadap kearah Gendis. Namun Gendis dengan cepat langsung turun dari atas Gazebo itu.
__ADS_1
"Aku masuk duluan, aku sudah mengantuk" ucap Gendis yang langsung berjalan dengan cepat dan sedikit tertatih. Meninggalkan Bima yang masih memandang nya dengan tidak percaya.
Bima meraba bibirnya seraya matanya yang memandang Gendis yang sudah masuk kedalam rumah.
"Ciuman pertama ku" gumam Bima, dan tanpa sadar jantung nya sejak tadi juga sudah bergemuruh dengan hebat.
Sementara didalam kamar, Gendis tersandar didaun pintu seraya meraba dadanya yang berdebar dengan kencang. Rasa hangat dan sensasi keterkejutan itu masih ada. Dia benar benar merutuki kebohodan nya. Bahkan wajahnya sekarang sudah begitu memerah karena malu. Untung saja hari sudah malam, jadi Bima tidak bisa melihat wajah memerah Gendis yang seperti ini.
"Uuhhh kenapa bisa begitu. Semoga saja dia tidak marah" gumam Gendis yang masih meremas dadanya yang bergemuruh.
....
Keesokan paginya...
Saat telah selesai sarapan, Eyang putri mengantar Gendis dan Bima yang akan berangkat ke Jakarta. Ya, Gendis memutuskan untuk menumpang Bima saja. Dia tidak ingin dijemput oleh orang orang suruhan ayahnya. Lagipula, beberapa hari yang lalu tuan Renggono sudah datang untuk mengucapkan terimakasih pada eyang putri karena sudah merawat Gendis selama ini.
Jadi sekarang, Gendis bisa pulang dengan Bima.
"Eyang, Gendis pamit. Terima kasih banyak sudah merawat Gendis selama ini" ucap Gendis dengan mata yang berkaca kaca.
Eyang putri tersenyum dan mengangguk seraya mengusap kepala Gendis dengan lembut.
"Sering sering main kemari kalau ada waktu" ujar Eyang.
"Pasti eyang. Gendis suka disini. Eyang jangan bosan kalau Gendis akan sering kemari nanti" jawab Gendis.
"Enggak akan. Kamu baik baik disana ya. Kalau ada apa apa bisa minta tolong Bima" kata eyang putri lagi.
"Kalau udah disana, mungkin dia lupa sama Bima eyang" sindir Bima. Gendis langsung mendengus gerah mendengar itu.
"Yang penting Gendis gak lupa eyang ya" sahut Gendis dan kini Bima yang mendengus.
"Gendis pamit eyang" ucap Gendis lagi seraya memeluk eyang putri dengan erat.
"Bima juga pamit eyang" kini giliran Bima yang memeluk eyang setelah bergantian dengan Gendis.
"Hati hati. Jangan ngebut ngebut Bim" ujar eyang putri seraya melambaikan tangan nya.
"Siap eyang" jawab Bima
"Jangan ulangi kejadian tadi malam ya, belum sah kalian" kata eyang putri lagi.
Bima dan Gendis yang sudah ingin masuk kedalam mobil langsung mematung dan saling pandang terkejut. Mereka langsung menoleh pada eyang putri yang tersenyum penuh arti.
__ADS_1
"Sial... ternyata eyang putri tahu"