Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan

Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan
Aku Rindu


__ADS_3

Gendis mematung memandang Bima saat dia sudah berada didalam ruangan lelaki itu. Pandangan matanya langsung bersitatap dengan pandangan mata Bima yang masih sayu dan lemah. Bima tersenyum tipis memandang Gendis, namun senyum itu malah membuat air mata Gendis menetes kembali. Kenapa dia jadi secengeng ini???


"Kenapa diam disitu saja?" tanya Bima, masih dengan suara nya yang lemah.


Gendis menahan isak tangis nya seraya melangkah perlahan mendekati Bima. Langkah kaki nya terasa berat, bukan berat karena harus menemui Bima, tapi berat karena dia tidak tahu apa yang dirasakan nya sekarang. Gendis benar benar sangat bahagia melihat Bima yang sudah sadar dan tersenyum kembali.


Ya, dia rindu dengan senyum ini. Rindu sekali.


"Kenapa kamu lama sekali bangun nya" ucap Gendis seraya langsung memeluk tubuh Bima yang masih terbaring lemah di atas ranjang nya.


Dia tidak lagi malu, Gendis benar benar merindukan lelaki ini.


Bima tersenyum, tangan nya dengan pelan terangkat dan mengusap punggung Gendis. Sangat pelan, karena dia benar benar masih lemah.


Gendis semakin menangis dan memeluk Bima dengan erat. Seminggu dia menanti kesadaran Bima, seminggu dia selalu dipenuhi oleh rasa takut dan gelisah. Dan sekarang, Bima sudah sadar, Gendis benar benar bahagia.


"Bisakah nanti saja memeluk ku. Perutku sakit" ucap Bima tiba tiba.


Gendis terkesiap, dia langsung beranjak dan berdiri memandang Bima dengan wajah getir nya, seraya tangan nya yang mengusap kasar air matanya.


"Maaf... aku... aku kelepasan" jawab Gendis. Dia langsung menarik kursi dan duduk disamping ranjang Bima. Memperhatikan wajah Bima yang memang masih begitu pucat. Namun dia sudah bisa tersenyum meski tipis. Bahkan pandangan mata Bima sejak tadi tidak pernah beralih dan terus memandang Gendis dengan lekat. Hingga itu mampu membuat Gendis merasa canggung dan salah tingkah.


"Terimakasih..." ucap Bima


Gendis mengernyit, memandang Bima dengan bingung.


"Untuk apa?" tanya Gendis yang masih menyisakan isak tangis nya.


"Terimakasih telah menjadi alasan aku untuk tetap hidup" jawab Bima.


Gendis tertegun mendengar itu. Kenapa perkataan itu sama seperti yang Nara katakan tadi???


"Setiap hari, aku selalu mendengar bisikan bisikan kamu yang terus memanggil namaku. Aku sudah ingin menyerah karena rasanya begitu sakit. Tapi mendengar suara kamu, aku seperti diberikan sesuatu yang membuat aku lebih semangat untuk bertahan" ungkap Bima.


Gendis langsung tertunduk mendengar itu. Benarkah yang dikatakan oleh Bima. Kenapa dia seperti mendengar sebuah kata pujian yang mampu membuat hatinya terasa begitu bahagia.


"Tapi kamu terbangun karena nona Nara" gumam Gendis begitu pelan, bahkan dia semakin tertunduk karena lagi lagi harus menahan isak tangis nya. Hanya air mata nya saja yang kembali berjatuhan dari manik cokelatnya. Entah kenapa ketika mengingat itu hatinya terasa sakit.


"Apa kamu cemburu?" tanya Bima


"Tidak, hanya saja aku merasa seperti tidak berarti untuk kamu. Seminggu ini aku begitu takut dan cemas dengan keadaan kamu. Tapi nyatanya, hanya nona Nara yang bisa membuat kamu bangun" jawab Gendis.


Bima kembali tersenyum tipis dan memejamkan matanya sejenak. Dia memalingkan wajahnya dan memandang langit langit kamar dengan pandangan penuh arti.


"Aku terbangun memang karena Nara" jawab Bima


deg

__ADS_1


"Tapi yang menjadi alasan ku bangun adalah kamu" ucap Bima yang kini kembali memandang Gendis dengan lekat, bahkan begitu dalam hingga mampu membuat Gendis mematung memandang pandangan mata nan sayu itu.


"Aku selalu mendengar panggilan kamu saat aku merasa tidak ada disini. Tapi akibat ucapan yang dibisikkan oleh Nara, itu membuat aku harus cepat bangun. Aku tidak ingin orang yang menjadi alasan untuk aku hidup semakin sedih dan pergi" ungkap Bima lagi.


Bima menjulurkan tangan nya dengan pelan kearah Gendis, Gendis memandang tangan itu dengan bingung. Namun ketika melihat Bima melirik tangan nya, membuat Gendis langsung menggapai tangan itu. Tangan kekar yang langsung menggenggam tangan nya dengan lembut dan masih terasa begitu lemah.


"Jangan menangis lagi" pinta Bima


Gendis menggeleng, namun air mata semakin banyak saja yang keluar dan Gendis langsung mengusap kasar wajah nya.


"Aku bangun untuk menagih janji kamu" kata Bima lagi.


"Aku tidak ingin menikah dengan orang yang masih terikat dengan cinta lama nya" jawab Gendis langsung.


"Apa orang itu kamu?" tuding Bima.


Gendis mengerucutkan bibirnya dan menampar lengan Bima sekilas.


"Kenapa aku, aku bahkan ingin dia yang mati, bukan kamu yang seperti ini" sahut Gendis langsung.


Bima kembali tersenyum, namun senyum nya kali ini sudah semakin lebar. Dan Gendis senang sekali melihat itu.


"Kamu takut aku mati?" tanya Bima


"Tentu saja" jawab Gendis.


Gendis kembali ingin menangis mendengar perkataan itu.


"Kenapa kamu jahat sekali. Aku sudah menunggu mu selama seminggu disini. Aku selalu takut dan berharap kamu bangun. Tapi kamu malah seperti ini" seru Gendis begitu kesal.


Dia bahkan ingin beranjak, namun Bima menarik tangan nya kembali.


"Hei.... jangan pergi lagi" ujar Bima.


"Kamu jahat" sergah Gendis yang kembali duduk dan mengusap air matanya. Namun tangan sebelah nya masih dia biarkan dalam genggaman Bima.


"Baiklah, maafkan aku. Aku hanya tidak ingin kamu menunggu ku disini hanya karena balas budi, ataupun merasa bersalah" ungkap Bima.


Gendis memandang Bima masih dengan sisa isak tangis nya.


"Dan aku juga tidak ingin kamu masih terikat dengan cinta masa lalu kamu hingga membuat aku menjadi pelarian" tambah Bima lagi.


"Seharusnya aku yang berkata seperti itu" sahut Gendis.


Bima memandang Gendis dengan lekat.


"Aku takut ketika kamu menikahi ku kamu hanya akan membuat ku menjadi pelarian mu dari perasaan mu terhadap nona Nara" ungkap Gendis, dia tertunduk kembali.

__ADS_1


Bima kembali tersenyum dan semakin mengeratkan genggaman tangan nya pada tangan Gendis.


"Apa kamu kira aku meminta kamu untuk menikah dengan ku itu hanyalah sebuah candaan saja?" tanya Bima.


Gendis kembali memandang Bima dengan lekat.


"Ketika aku sudah mengatakan itu, apalagi diantara hidup dan mati, aku mengatakan nya dengan serius Gendis. Aku memintamu dari hati ku yang paling dalam. Karena tanpa sadar, kamu bisa menghapus namanya dari hati ku, dan malah berganti dengan namamu" ungkap Bima dengan begitu dalam.


"Secepat itukah?" tanya Gendis dengan wajah yang tidak bisa di artikan.


"Siapa yang tahu hati seseorang seperti apa. Tuhan maha membolak balikkan hati. Kedekatan kita selama dua bulan lebih cukup membuat aku melupakan kesedihan ku" jawab Bima


Gendis mendengus senyum dan menggeleng pelan.


"Dan yang aku ragukan adalah perasaan mu" ucap Bima lagi.


"Apa kamu kira aku juga bercanda ketika mengucapkan janji itu?" tanya Gendis yang malah membalikkan perkataan Bima.


Bima mengerjapkan matanya sekilas dan memandang Gendis yang juga menatap nya. Hingga mereka saling pandang dengan lekat sekarang.


"Aku takut kamu pergi, bahkan melihat kamu yang seperti ini lebih sakit dari pada melihat pengkhianatan David. Tidak tahu apa, tapi aku benar benar tidak ingin kamu pergi. Aku ..... aku rindu kebersamaan kita Bim" jawab Gendis yang langsung tertunduk dengan wajah yang merona merah.


"Benarkah seperti itu?" tanya Bima, dan Gendis langsung mengangguk


"Jika begitu apa aku harus melamar mu jika sudah sembuh nanti" tanya Bima dengan senyum simpul nya.


Gendis tertawa dan mengangguk dengan cepat.


"Lebih cepat lebih baik, aku tidak ingin ada drama batal menikah lagi" jawab Gendis langsung.


Dan kali ini Bima yang tertawa kecil, namun sedetik kemudian dia langsung meringis kesakitan.


"Bim kenapa?" tanya Gendis yang panik.


"Perut ku sakit dibawa tertawa" jawab Bima.


"Dasar bodoh, jika begitu kenapa kamu tertawa" sahut Gendis


"Kamu lucu" jawab Bima dengan senyum nya memandang wajah Gendis yang cemberut.


"Kamu mentertawakan kemalanganku kan" tuding Gendis.


Bima menggeleng pelan.


"Aku mentertawakan wajah merona mu" jawab Bima.


Gendis langsung memalingkan wajahnya lagi, yang kini semakin bertambah merona. Sialan memang, hanya melihat tatapan itu saja sudah bisa membuat wajahnya memanas.

__ADS_1


__ADS_2