
Tidak perlu waktu yang lama untuk bisa mencintaimu
Kedatangan mu yang tiba tiba kedalam hidupku, nyatanya mampu mengalihkan semua lukaku
Kamu berhasil mengobati lukaku karena dia
Dan sekarang kamu yang telah menjadi hal terindah yang tanpa ragu untuk aku impikan
Terimakasih cinta
Semoga seusai patah dan layu yang kita rasakan
Ada semi yang indah menanti kita didepan sana
~Bimantara
....
Gendis berjalan perlahan dengan tangan nya yang digandeng oleh Bima. Langkahnya tertatih dan terlihat begitu kesulitan sebab matanya yang ditutup dengan kain. Entah kejutan apa yang akan diberikan oleh Bima. Saat dipertengahan jalan tadi Bima memberhentikan mobil nya dan malah menutup mata Gendis dengan kain. Tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh lelaki ini.
Tapi saat ini seperti nya Gendis tahu dia berada dimana. Seperti disebuah pantai. Karena dia memijak dataran yang terasa lembut dan berpasir, bahkan terpaan angin dingin yang menerpa wajah dan tubuhnya juga sudah membuktikan jika mereka memang berada dipantai, apalagi dengan suara ombak yang mulai terdengar bergemerisik.
"Kamu membawaku ke pantai Bim??" tanya Gendis
"Kamu tahu" ucap Bima yang masih merangkul lengan Gendis dan menuntun langkah nya dengan hati hati.
"Terasa" jawab Gendis.
Bima hanya tersenyum saja dan membawa Gendis ke tempat yang sudah disediakan nya.
"Apa masih lama?" tanya Gendis lagi.
"Tidak, sebentar lagi. Hati hati, angkat kaki mu sedikit" pinta Bima saat mereka melewati sebuah pembatas beton.
Bima membawa Gendis mendekati bibir pantai. Dimana malam yang sudah begitu larut itu suasana nampak begitu sepi dan lengang. Hingga dia bisa memberikan kejutan ini pada Gendis.
"Sudah sampai. Sekarang buka mata kamu dengan perlahan ya" ucap Bima seraya dia yang membuka ikatan kain dimata gadis itu.
Gendis membuka matanya perlahan, namun karena sudah cukup lama matanya ditutup membuat pandangan matanya masih kabur. Dan lama kelamaan saat pandangan mata itu sudah jelas, mata Gendis langsung melebar dengan sempurna saat melihat dimana dia berada.
Ya, di pinggir pantai, tapi bukan pantai seperti biasa melainkan pantai yang sudah dipenuhi dengan lampu taman yang sangat indah. Gendis memandang tempat dia berpijak, dan senyum nya langsung mengembang saat ternyata dia berpijak diantara lilin lilin yang berada didalam sebuah wadah kaca dan membentuk sebuah bentuk hati yang sangat manis.
Bahkan mata Gendis langsung mengedar memandangi tempat itu. Sangat romantis. Beberapa tangkai mawar merah juga mengelilingi tempat itu.
"Bim.... ini indah sekali" gumam Gendis.
"Kamu suka?"
Pertanyaan Bima membuat Gendis langsung berbalik dan memandang Bima yang kini sudah berlutut dihadapannya. Dan lagi lagi itu membuat mata Gendis kembali melebar dengan binar cokelat yang indah.
"Bima..." lirihnya seraya memandang Bima yang kini memandang nya dengan lekat dan penuh cinta.
"Mungkin hanya sebentar waktu kita bertemu, tapi pertemuan yang sebentar itu membuat aku sadar, jika ternyata kamu adalah harapan dan impian yang selalu aku dambakan selama ini.
__ADS_1
Gendis, aku mencintaimu...
Dan malam ini, aku ingin melamarmu menjadi istriku.
Maukah kamu menikah dengan ku dan menerima segala kekurangan ku???"
Tanya Bima seraya dia yang membuka sebuah kotak bewarna merah ditangan nya. Sebuah cincin berlian yang terlihat sangat indah dan manis.
Mata Gendis langsung berkaca kaca mendapatkan kejutan ini.
Bima melamar nya dengan kejutan yang sangat indah.
Gendis tersenyum dan langsung mengangguk dengan cepat. Membuat Bima juga semakin tersenyum dengan lebar. Bima langsung beranjak dan berdiri dihadapan Gendis. Meraih tangan Gendis dan memasangkan cincin itu dijari manis gadis itu. Hingga membuat setetes air mata Gendis langsung jatuh di wajah cantik nya.
Gendis benar benar terharu dengan apa yang sudah Bima lakukan...
"Jangan menangis, izinkan aku untuk mencintai kamu dan membuat kamu bahagia selalu" ujar Bima seraya menggenggam kedua tangan Gendis dengan erat.
"Terimakasih Bim, terimakasih banyak. Aku sangat bahagia" ucap Gendis yang langsung memeluk Bima dengan penuh perasaan.
Sungguh demi apapun, Gendis tidak menyangka jika Bima akan secepat ini melamarnya. Dia tidak menyangka jika Bima akan mewujudkan impian sederhana nya.
Ya Tuhan...
Gendis benar benar bahagia.
"Aku juga bahagia jika kamu bahagia" bisik Bima dengan tangan yang juga memeluk dan mengusap kepala Gendis.
"Kamu baik sekali" ucap Gendis.
Gendis langsung melepaskan pelukan nya dan memandang Bima dengan lekat.
"Secepat itu?" tanya Gendis.
Bima tersenyum dan mengangguk seraya mengusap air mata Gendis dengan lembut.
"Sudah aku bilang bukan, tidak perlu waktu yang lama bagiku untuk mencintai kamu. Dalam sekejap mata kamu sudah bisa memenuhi seluruh ruang di hatiku" jawab Bima terdengar begitu manis. Membuat wajah cantik Gendis langsung bersemu merah.
"Terimakasih... aku juga mencintai kamu Bima" balas Gendis.
Bima mematung mendengar itu.
"Secepat itu?" tanya nya pula
Gendis tertawa kecil dan mengangguk malu. Bahkan dia langsung tertunduk karena tidak ingin memandang Bima.
"Tidak ada alasan untuk tidak mencintai lelaki yang sudah menolong hati dan ragaku" jawab Gendis.
Bima langsung mendengus senyum dan segera menarik Gendis kembali kedalam pelukan nya.
"Ahh... ini adalah ungkapan yang paling aku tunggu. Aku berjanji tidak akan membuat kamu kecewa Gendis. AKu berjanji" ucap Bima dengan begitu bahagia. Bahkan dia sampai melupakan luka nya yang sejak tadi sebenarnya sudah terasa nyeri karena dibawa berjalan jauh.
"Aku tahu jika kamu bisa menepati janji itu Bim. Dan kamu memang harus menepatinya. Jika kamu membuat ku kecewa seperti dia lagi, mungkin aku akan lebih memilih untuk mati" jawab Gendis
Bima menggeleng dan mengecup lama dahi Gendis, Memandang mata cokelat indah itu dengan lekat.
__ADS_1
"Aku tahu rasanya terluka seperti apa. Dan oleh sebab itu aku tidak akan membuat kamu merasakan sakit untuk yang kedua kali" ucap Bima begitu yakin.
"Kamu berjanji?"
"Aku janji. Karena aku mencintai kamu" jawab Bima.
Gendis tersenyum dan langsung memejamkan mata saat Bima mulai mendekatkan wajahnya dan mencium bibirnya dengan lembut.
Yah perasaan yang tidak bisa dijelaskan kenapa bisa datang secepat ini. Bukan sebagai pelampiasan maupun sebagai obat hati. Tapi perasaan itu datang seiring dengan luka mereka yang sama sama mulai sembuh dengan kedatangan cinta yang baru. Cinta yang semoga akan menjadi akhir dari perjalanan hidup mereka yang sudah cukup sakit merasakan rasanya patah hati.
Dan semoga, dengan satu langkah lebih dekat menuju hubungan yang sesungguhnya ini, mereka akan bisa sama sama saling menguatkan perasaan masing masing.
Malam ini, dimalam yang bertabur bintang. Dengan ombak dan lautan yang menjadi saksi dari Bima dan Gendis yang saling mengungkapkan perasaan mereka masing masing.
Bima melepaskan ciuman nya dan memandang Gendis dengan senyum bahagia nya. Tangan nya mengusap bibir ranum itu dengan lembut. Tidak perduli siapa masa lalu nya, tidak perduli bagaimana kisah cinta nya dulu, dan tidak perduli bagaimana dia dengan kekasihnya dulu. Sekarang, Bima hanya tahu, jika dia bahagia karena sudah memiliki Gendis untuk dia jadikan teman hidupnya kelak.
"Terimaksih sudah membalas perasaan ku" ucap Bima.
"Terimakasih juga kejutan romantis ini" jawab Gendis
Bima mendengus senyum dan mengangguk
Hingga tiba tiba...
Duaaaarrr
duaaarrr
duaaarrr
Ledakan kembang api diatas langit malam itu langsung membuat Gendis terkesiap kaget. Bahkan mulut nya sampai terperangah takjub melihat kembang api yang begitu besar dan banyak itu meledak diatas lautan. Sangat indah dan benar benar menakjubkan.
"Bima... ini kamu juga yang menyiapkan nya?" tanya Gendis dengan wajah tidak percayanya.
Bima tersenyum dan mengangguk.
"Kamu suka?" tanya Bima
Gendis langsung mengangguk dengan cepat.
"Suka sekali, ini sangat indah. Benar benar indah" jawab Gendis dengan mata yang kembali memandang ke atas.
Sedangkan Bima malah terfokus pada wajah Gendis yang berbinar dengan indah, apalagi terkena sinar dari kembang api yang bewarna warni diatas sana. Sangat indah dan begitu mempesona. Rambut pirang nya yang tersapu angin pantai dan juga senyum nya yang begitu lembut dan indah, sungguh membuat hati Bima benar benar terbuai.
Sungguh... dia sudah jatuh cinta pada gadis asing ini. Gadis asing yang datang tiba tiba kedalam kehidupan nya. Hingga tanpa sadar telah mengubah semua nya menjadi lebih indah.
...
Dan ditengah tengah kebahagiaan Bima dan Gendis, tentunya ada orang yang berperan penting dalam menyiapkan malam romantis yang indah ini.
Ya, siapa lagi kalau bukan Arya.
Ditengah laut, disebuah kapal kecil yang di sewa Bima, dia duduk dengan menopang dagu seraya memperhatikan orang orang yang masih terus meledakkan kembang api diatas lautan itu.
"Huh,, aku yang berencana, malah dia duluan yang melamar. Nasib jadi bawahan. Sialan" gumam Arya dengan lesu.
__ADS_1