Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan

Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan
Sakit Berdarah


__ADS_3

Subuh hari yang dingin dan terasa begitu menggigit membuat Nara mulai menggeliat dan sedikit menggigil. Suhu udara dirumah Eyang putri setiap menjelang subuh hari pasti membuat tidur nya tidak lagi nyenyak. Suara ayam yang berkokok riang juga mulai membangunkan tidur nya yang cukup lelap malam ini. Tidak biasa nya, dia seperti meminum obat tidur yang sudah lama dia tinggalkan.


Tangan Nara ingin meraih selimut yang sedikit merosot, namun dia merasa kenapa tangan nya terasa berat. Mata Nara yang masih terpejam, kini terbuka perlahan. Dia menoleh kesebelah kanan,dan betapa terkejut nya dia melihat ternyata Reynand yang tertidur dengan memeluk lengan nya.


Mata Nara mengerjap, bahkan sampai beberapa kali. Apa dia sedang bermimpi??? Kenapa Reynand disini, sejak kapan???


Nara ingin menarik tangan nya, namun dia urungkan takut Reynand terbangun. Hari masih pukul empat pagi. Entah sejak kapan tuan angkuh ini datang, setelah dua minggu dia pergi.


Nara memperhatikan dengan lekat wajah Reynand yang masih tertidur. Wajahnya tidak sebersih dulu lagi. Bahkan dapat Nara lihat Reynand sudah kurus dan berantakan. Tidak ada lagi tuan muda Adiputra yang angkuh dan penuh pesona, tidak ada lagi suaminya yang selalu berpenampilan sempurna. Yang Nara lihat kini hanyalah Reynand yang hanya orang biasa.


Nara sempat berfikir, kemana Reynand dua minggu ini. Apa dia menemui Cleo??? Apa dia bersenang senang dengan Cleo?? Entah lah, Nara sudah tidak ingin tahu lagi tentang itu.


Jika disaat Nara membutuhkan nya seperti dulu, jika disaat Nara masih mengharapkan cintanya dan Reynand menyambutnya dengan baik seperti ini, mungkin Nara akan menjadi wanita yang paling bahagia didunia. Tapi kini, setelah Nara menyerah, Reynand baru datang dan memohon maaf. Apa itu adil????


Tiba tiba Nara terkesiap saat merasakan pergerakan dari Reynand. Nara langsung memalingkan wajah dan kembali memejamkan matanya. Dia tidak ingin berbicara dengan Reynand.


Dan benar saja, ternyata Reynand terbangun dan langsung memandang ke arah Nara. Reynand tampak menggeliatkan sedikit tubuhnya yang pegal dan kaku karena posisi tidur yang tidak nyaman. Matanya melirik kearah jam, masih menunjukkan pukul empat subuh. Reynand berfikir, sebaiknya dia keluar sebelum Nara bangun.


Reynand beranjak, memandang wajah Nara yang masih terpejam. Dia tersenyum seraya menyelimuti tubuh Nara dengan selimut tebalnya.


Sekali lagi dia memandang wajah istrinya itu, dan kemudian mencium dahi Nara begitu lama dan dalam, seraya membisikkan sesuatu


"Cepatlah sehat, aku mencintaimu"


Dan setelah itu dia langsung berlalu keluar dari kamar Nara. Tanpa tahu sejak tadi istrinya sudah bangun dan kembali membuka mata dengan air mata yang mengalir disudut matanya


"Kenapa baru sekarang Rey?" batin Nara begitu pedih


...


Dan disaat matahari sudah mulai meninggi dan sinarnya sudah mulai menghangatkan tubuh. Semua orang sudah berkeliyaran dengan tugas mereka masing masing. Sedangkan Reynand masih duduk diaula untuk menunggu Nara datang bersama Eyang putri.


Sejak terbangun dari tidurnya tadi, dia tidak ada tidur lagi. Reynand hanya duduk diaula seraya menunggu datang nya pagi. Dan setelah berjam jam duduk disini akhirnya yang dia tunggu datang juga.


Namun lagi lagi, hatinya harus kembali terbakar saat melihat Nara datang bersama dengan Bimantara yang mendorong kursi roda nya. Diikuti oleh Arya dan juga Eyang putri bersama pelayan pribadinya


Reynand langsung berdiri dengan tatapan tajam kearah Bimantara. Namun lelaki itu hanya diam dengan tatapan datar nya bahkan terkesan menantang membuat Reynand benar benar tidak bisa menahan rasa kesal dihatinya.


"Masih betah saja anda disini tuan muda. Aku kira anda sudah melupakan Nara setelah menghilang selama dua minggu" ucap Bimantara begitu sinis.


"Aku masih suami nya" jawab Reynand begitu tajam


"Benarkah, aku tidak melihat seperti itu" bisik Bimantara


Reynand menggeram memandang Bimantara dengan tajam, namun tiba tiba mereka terkesiap saat Eyang putri memanggil Reynand dan Bimantara


"Jangan berisik kalian berdua. Pergi sana dikandang sapi ku kalau mau bertengkar. Biar sapi sapi ku yang menyaksikan nya" ujar Eyang putri begitu jengah


Reynand mendengus dan kembali memandang kearah Nara yang hanya diam


"Bawa kemari Nara" ujar Eyang putri


Reynand langsung ingin membantu Nara berdiri, namun Nara segera menjauhkan tangan nya dan tidak ingin disentuh oleh Reynand.


Nara malah menoleh kearah Bimantara, membuat lelaki itu dengan segera membantu memapah nya.


Tentu saja hati Reynand benar benar sakit dengan itu. Nara lebih memilih bersama orang lain dari pada dia, suami nya sendiri.


"Jangan dipaksa jika dia tidak mau dengan anda tuan" bisik Arya yang juga ikut menyusul Bimantara dengan membawa perlengkapan Nara

__ADS_1


Reynand mematung dan mendengus senyum getir. Tangan nya mengepal, namun sebisa mungkin dia menahan rasa sakit ini. Sakit sekali diabaikan seperti ini ketika ingin berubah menjadi lebih baik.


Meskipun sudah ditolak mentah mentah, namun Reynand tetap datang dan mendekat kearah mereka.


Dia memperhatikan Eyang putri yang mengobati Nara. Tidak tahu entah apa saja yang diucapkan oleh wanita tua itu. Seperti yang ada difilm yang mengisahkan tentang ritual pengobatan dengan kembang dan juga air, maka kini Reynand menyaksikan nya sendiri.


"Minum" ujar Eyang putri pada Nara


Namun dengan segera Bimantara yang dengan cepat meraih cawan dari tangan Eyang putri dan membantu Nara untuk meminum nya. Membuat Reynand lagi lagi mematung dengan hati yang semakin terbakar. Tapi bagaimana bisa marah, jika Nara saja tidak ingin dia sentuh.


Eyang putri hanya menggeleng pelan melihat kelakuan cucu nya ini. Sepertinya Bimantara memang sudah tidak lagi memikirkan jika Nara masih istri orang. Yah, dia tidak tahu siapa diantara mereka yang nantinya akan patah hati. Reynand ??? atau Bimantara???


Atau bahkan keduanya karena Nara yang tidak bisa bertahan untuk hidup???? Entah lah, siapa yang bisa menebak takdir dimasa depan. Jika sekarang saja kehidupan sudah begitu rumit. Apalagi Nara yang tidak memiliki semangat hidup ditambah dengan golongan darah nya yang begitu langka, tentu saja semua itu sangat berpengaruh untuk hidup dan matinya.


"Pergilah kalian, aku mau memandikan Nara, dia juga harus bertangas lagi" usir Eyang putri tanpa memandang ketiga lelaki itu yang saling pandang tajam


Dan kali ini tentu Bimantara dan Arya kalah, karena Reynand adalah pemilik Nara. Dia tidak keluar juga tidak masalah, tetapi mereka??? Bimantara langsung mendengus dan beralih membalikkan tubuhnya, namun sebelum itu, dia mendekat kearah Nara dan mengusap kepala gadis itu


"Kau harus kuat dan sembuh" ujar Bimantara dengan senyum teduh nya seperti biasa. Nara tersenyum tipis dan mengangguk


Sungguh, rasanya Reynand ingin sekali menghajar batang hidung lelaki ini. Bisa bisanya dia mendekati Nara disaat masih ada suaminya. Lalu bagaimana selama dua minggu ini ketika Reynand tidak ada?? Reynand tidak bisa membayangkan nya. Yah, Reynand tidak tahu jika Bimantara juga baru semalam datang ketempat ini, bertepatan dengan kedatangan nya.


"Kenapa kamu tidak keluar juga?" tanya Eyang putri yang kini sedang menyiapkan lulur untuk membalur tubuh Nara


"Tidak nyonya, saya akan tetap disini" jawab Reynand terdengar memaksa.


"Nara pasti akan berdarah lagi. Sanggup kamu" tanya Eyang putri dengan senyum sinis nya.


Reynand terdiam sejenak dan melihat Nara yang sedang berganti pakaian dengan sebuah kain kemben. Membayangkan nya saja sudah membuat wajah Reynand pucat, tapi.... dia harus kuat. Dia harus menahan trauma nya. Hanya sebentar, dan itu tidak akan sekakit apa yang dirasakan Nara


"Tidak apa apa nyonya" jawab Reynand mencoba tersenyum


"Balurkan ini ditubuhnya" ujar Eyang putri seraya menyerahkan mangkuk lulur ketangan Reynand


Reynand mengangguk dan langsung mendekat kearah Nara dengan ragu. Apalagi memandang wajah Nara yang datar dan begitu dingin. Tidak seperti pada Bimantara.


"Maaf" bisik Reynand sebelum membalurkan lulur itu.


Nara hanya diam, sesekali matanya mengerjap saat merasakan usapan lembut tangan Reynand ditubuhnya. Dulu usapan ini juga dia rasakan, namun usapan yang penuh damba dan gairah. Namun kini, dia dapat merasakan jika usapan ini penuh rasa ragu dan iba yang begitu dalam. Apa Reynand mengiba dengan tubuhnya yang sudah tinggal tulang ini?? Apa Reynand merasa bersalah melihat Nara yang seperti ini??? Apa Reynand kasihan melihat nasib nya yang malang ini???


Yah, memang begitu yang Reynand rasakan. Semua nya, namun yang paling besar adalah, rasa bersalah nya karena telah membiarkan tubuh ringkih ini berjuang sendirian.


Setelah membalurkan lulur itu diseluruh tubuh Nara, tanpa terkecuali. Nara kembali didudukkan diatas sebuah kursi yang dibawah nya terdapat seperti bak air panas. Nara ditangas kembali disana selama setengah jam. Sama seperti sebelum nya, Nara pasti akan kesakitan dengan wajah yang begitu pucat dan lemah. Keringat dingin bercampur keringat tubuhnya bercampur menjadi satu membuat Nara benar benar tidak berdaya, apalagi ditambah dengan sesuatu yang luruh dibawah sana


"Nara...." Reynand benar benar tidak tega jika melihat Nara yang seperti ini. Meski jantung dan kepala nya juga sudah mulai berdenyut kembali


Reynand mengusap wajah Nara terus menerus seolah dia memang menemani kesakitan Nara sekarang


"Sakit..." gumam Nara begitu lirih


"Kamu kuat Nara, kamu kuat. Bertahanlah, berjuanglah sekali lagi" pinta Reynand dengan mata yang berkaca kaca. Melihat Nara yang lemah, dia juga ikut merasakan nya


"Aku mohon, bertahan lah sekali lagi. Aku janji untuk membuat mu bahagia setelah ini" bisik Reynand


Mata sayu Nara yang penuh kesakitan langsung terbuka mendengar itu. Dia memandang Reynand yang masih menangkup wajah nya. Nara menggeleng lemah dan tersenyum tipis


"Aku tidak mengharapkan itu lagi" jawab Nara begitu lemah


"Nara...." lirih Reynand

__ADS_1


"Maafkan aku" pinta nya dengan wajah begitu mengiba. Namun Nara sudah terkulai lemah ditangan Reynand


"Nyonya, Nara..." Reynand terlihat panik saat Nara yang tiba tiba pingsan. Eyang putri mendekat dan memeriksa Nara yang memang sudah tidak sadarkan diri


"Buka penutup nya dan bawa kemari" ujar Eyang putri


Pelayan pribadi nya langsung membuka penutup tubuh Nara, dan lagi. Reynand segera memalingkan wajahnya saat melihat darah yang begitu banyak sudah tergenang dibawah sana.


Tanpa berkata apapun, dia segera mengangkat Nara dengan tangan dan kaki yang begitu bergetar. Bahkan kini wajahnya sudah sama dengan wajah Nara. Pucat pasih dan mulai berkeringat dingin.


Reynand meletakkan Nara diatas kursi panjang. Nafas nya memburu dan terasa sesak, kepala nya kembali sakit dengan jantung yang benar benar bergemuruh. Namun sekuat mungkin dia harus bisa menahan nya.


"Kalau tidak kuat, keluarlah. Jangan sampai kamu pingsan disini" ujar Eyang putri. Namun Reynand menggeleng dengan wajah pucatnya seraya terus membersihkan tubuh Nara dengan handuk yang sudah disediakan oleh pelayan Eyang putri


"Saya...saya bisa nyonya. Sakit ini tidak sebanding dengan sakit Nara" jawab Reynand


Eyang putri dan pelayan nya hanya menggeleng pelan. Bahkan mereka tahu jika saat ini Reynand memang tengah menahan rasa sakit dan trauma nya. Wajahnya yang pucat dan tangan nya yang bergetar hebat bahkan sudah bisa menjawab semua nya.


Reynand menggigit bibirnya dengan kuat saat membersihkan darah dikaki Nara. Sekuat mungkin dia menahan kesadaran nya agar tetap terjaga. Keringat dingin bahkan sudah membasahi seluruh tubuhnya yang bergetar. Hingga akhirnya tubuh Nara sudah bersih dan sudah dipasangkan pakaian kembali dibantu oleh pelayan Eyang putri.


Reynand mendudukkan Nara diatas kursi rodanya lagi, karena sungguh, untuk menggendong Nara dia sudah tidak sanggup. Kepalanya benar benar ingin pecah sekarang.


Dan Eyang putri cukup khawatir sebenar nya. Karena dia tahu, jika dibiarkan, trauma yang dialami oleh seseorang bisa berakibat fatal jika terus menerus ditahan dan dibiarkan.


Reynand mendorong kursi roda Nara keluar, sesekali dia bahkan menggelengkan kepala nya yang begitu berat. Bahkan pandangan matanya mulai mengabur sekarang. Kerongkongan nya mulai tercekat air liur, bahkan telinganya mulai berdenging dengan kuat


"Bawa Nara masuk" pinta Eyang putri pada Bimantara yang ternyata masih ada didepan ruangan itu bersama Arya


Melihat Nara yang pingsan mungkin sudah biasa bagi Bima dan Arya, tapi melihat Reynand yang hampir pingsan, mereka benar benar heran.


Reynand membiarkan Bimantara mengangkat tubuh Nara dan membawanya masuk kedalam rumah, sementara dia langsung melangkah kan kaki nya kesamping aula meninggalkan Arya yang masih terpaku memandang nya dengan heran


"Kamu lihat dia" pinta Eyang putri mengejutkan Arya


"Dia kenapa?" tanya Arya


"Mabuk darah" jawab Eyang putri yang langsung masuk kedalam menyusul Bimantara, karena dia harus memeriksa Nara


Arya langsung mendengus sinis mendengar itu. Wajah nya saja yang angkuh, tapi dengan darah ternyata dia takut. Astaga, menggelikkan.


Arya segera berjalan menuju samping aula, dan dapat dia lihat Reynand duduk bersandar dan memeluk lututnya dengan wajah yang dia sembunyikan dikedua lengannya. Tubuh lelaki itu tampak bergetar, bahkan tangan nya mengepal kuat, hingga tangan putih pucat itu terlihat merah dan membuku.


Arya mengenyit dan segera mendekat


"Hei tuan" panggil Arya, namun Reynand tidak bergeming. Dia seperti menahan sakit, tapi bukan kah seorang yang mabuk darah harusnya muntah muntah, tapi kenapa Reynand seperti menahan sakit begitu??


"Tuan" panggil Arya lagi


Dia mulai panik sekarang, apa Reynand mati??


"Tuan" panggil Arya seraya menggoyankan sedikit bahu Reynand


"Aku tidak apa apa...pergilah" ucap Reynand, namun terdengar seperti gumaman saja karena dia berbicara dengan mulut yang tertutup


"Syukurlah, saya kira anda sudah pingsan, jangan menyusahkan orang!!" dengus Arya yang segera berlalu setelah mengucapkan kata kata sekejam itu.


Dia tidak tahu jika saat ini Reynand benar benar sakit dan berasa berada diambang batas kesadaran. Bahkan darah sudah keluar melalui hidung nya sejak tadi, membuat Reynand benar benar tidak berdaya lagi.


.

__ADS_1


__ADS_2