Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan

Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan
Jadi Pebinor???


__ADS_3

Malam semakin larut, semua orang sudah masuk kedalam kamar masing masing untuk beristirahat. Setelah bercengkrama hangat dengan Arya dan Bimantara, Nara juga masuk kedalam kamar nya. Seperti biasa, dia meminum ramuan Eyang putri terlebih dahulu, dan setelah itu dia langsung tidur karena rasa kantuk yang sudah mendera.


Tanpa tahu seseorang kini sudah berdiri tepat didepan pintu kamarnya.


"Aku sudah memberi sedikit obat tidur diminuman nya tadi. Kamu bisa masuk dan melihatnya. Tapi tidak lama, karena itu bukan obat tidur biasa. Hanya serbuk tumbuhan yang hanya bisa bertahan beberapa jam saja" ungkap Eyang putri pada Reynand


Reynand tersenyum dan mengangguk. Dia cukup senang malam ini diberi kesempatan untuk menemui Nara meski hanya melihat nya tidur. Reynand sudah mengungkapkan semua yang dilakukan nya di Jakarta kepada Eyang putri, sehingga wanita tua itu bisa membuka sedikit hatinya dan membiarkan Reynand masuk kedalam rumah tuanya.


"Baik nyonya, terimakasih banyak" ucap Reynand seraya sedikit membungkukkan tubuh nya


"Tapi kamu ingat, jangan melakukan apapun yang membuat nya terganggu. Dia masih butuh istirahat yang cukup. Jangan menambah beban nya" ujar Eyang putri. Meski wajahnya ketus, namun Reynand tahu wanita ini benar benar baik


"Baik nyonya" jawab Reynand.


Eyang putri hanya mengangguk sekilas dan langsung pergi meninggalkan Reynand sendiri. Reynand tersenyum dan menghela nafas nya sejenak, dan setelah itu dia langsung membuka pintu kamar Nara dengan begitu pelan dan hati hati.


Dapat dia lihat Nara yang sudah tertidur begitu tenang dalam balutan selimut yang cukup tebal. Lampu tidur yang temaram tidak membuat Reynand merasa susah memandang wajah cantik itu, karena kilau bulan yang masuk melalui jendela juga mampu menyinari Nara yang tampak begitu berseri.


Reynand menutup pintu dengan pelan, dan langsung berjalan mendekat kearah Nara. Suasana malam itu benar benar sunyi dan sepi, karena waktu sudah pukul setengah dua belas malam. Rasa lelah setelah seharian bekerja dan berada diperjalanan yang cukup jauh langsung hilang setelah melihat wajah istrinya. Sejak dulu, Nara adalah rumah nya, Nara tempat dia kembali. Meski hatinya buta, tapi begitu lah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri.


Reynand duduk dibawah ranjang Nara, ranjang yang memang tidak terlalu tinggi. Dia memperhatikan wajah itu dengan lekat. Wajah yang tidak pernah dia lihat ketika masih ada cinta disana, wajah yang tidak pernah dia pandang ketika Nara masih mengharapkan nya.


Yah, jika waktu bisa diulang, mungkin kisah mereka tidak akan sesakit ini. Adik kecil yang menjadi cinta pertama nya, kini menjadi istrinya dengan jalan yang begitu rumit dan penuh kesakitan.


Sakit karena pengkhianatan Cleo tidak Reynand rasakan, yang dia rasakan begitu sakit adalah ketika mengingat kesalahan nya pada Anara. Gadis yang sudah lama dia damba, namun malah dia sia siakan begitu saja.


Reynand mengusap wajah Nara dengan lembut, matanya kembali berkaca kaca. Rasa rindu, cinta dan penyesalan ini sungguh sangat menyiksa. Apalagi mengingat keadaan Nara yang semakin hari semakin melemah, sungguh Reynand tidak sanggup melihat penderitaan Nara.


Melihat Nara tertawa dan tesenyum seperti tadi, dia cukup bahagia, meski bukan karena dia. Apa Nara bisa bahagia tanpa dia???? Apa jika dia pergi Nara akan bahagia???


Reynand memandangi wajah Nara dengan air mata yang menetes. Tidak.....dia tidak sanggup untuk meninggalkan Nara. Meski Nara membencinya, Reynand akan tetap memperjuangkan kembali cinta Nara. Nara sanggup berjuang selama dua tahun, kenapa Reynand tidak???


Sudah sangat lama dia mencari Anara, meski ada Cleo, tapi tidak ada yang tahu jika gadis itu hanyalah penghibur hati Reynand dikala sedang bermasalah dengan ayahnya. Tapi cintanya, hanya pada adik kecil nya, dan sekarang pada Anara.


"Maaf Nara...maafkan aku" bisik Reynand. Tangan nya masih mengusap wajah Nara yang tertidur. Alis yang rapi, hidung bangir yang mancung namun kecil, dan juga bibir ranum nya sungguh tampak indah meski kini wajah nya pucat dan layu. Kenapa Reynand tidak pernah menyadari jika Nara adalah adik kecilnya? Yah, dulu Nara adalah gadis remaja yang ceria dan cengeng, tapi sekarang Nara adalah gadis dewasa yang begitu anggun dan tegas. Siapa yang menyangka???


Reynand berlutut, dia mengusap air matanya dan mulai mendekatkan dirinya kewajah Nara. Mencium dahi Nara dengan begitu lembut dan penuh cinta, seolah dia meluahkan seluruh perasaan nya pada gadis itu. Reynand mengusap kembali wajah Nara, dan mengecup sekilas bibir pucat Nara. Hanya sekilas, dan dia kembali terduduk disamping Nara.


Reynand sedikit terkejut saat Nara mengalihkan tubuh dan menghadap kearah nya, namun matanya masih tetap terpejam.


Reynand mendengus senyum seraya menarik selimut Nara dan merapatkan nya kembali.

__ADS_1


"Kamu pasti sembuh dan bahagia lagi. Aku akan berjuang untuk itu" gumam Reynand sembari menyingkirkan rambut Nara yang menutupi wajah nya


"Selamat tidur istriku" bisik Reynand yang juga ikut merebahkan kepala nya diatas tempat tidur. Tepat dihadapan wajah Nara.


Reynand tidak berani untuk tidur diranjang Nara, dia takut akan membangunkan istrinya itu. Jadi Reynand memilih untuk tidur seperti ini. Mungkin untuk beberapa saat saja, dia ingin menemani Nara. Karena besok sore dia sudah harus kembali ke Jakarta.


Dan tanpa terasa, karena lelah dan kantuk yang mendera, Reynand akhirnya juga ikut terlelap.


Tanpa dia tahu jika beberapa saat kemudian, pintu kamar itu terbuka dan ada dua pasang mata yang mengintip kearahnya dengan pandangan sinis dan kesal.


"Kenapa dia malah bisa masuk" bisik Arya


"Mana aku tahu, ulah pasti ulah Eyang" bisik Bimantara pula


Mereka melihat ada mobil Reynand didepan rumah Eyang putri, tapi saat mencari, Reynand malah tidak kelihatan. Dan mereka tidak menyangka jika ternyata Reynand bisa masuk kedalam rumah dan malah tidur didalam kamar Nara.


Arya dan Bimantara yang sedang sibuk mengintip langsung terlonjak kaget saat tiba tiba telinga mereka ditarik dengan kuat oleh seseorang.


Arya ingin berteriak namun tidak jadi saat dia melihat jika Eyang putri lah dalang dari semua ini. Eyang putri langsung menarik Bimantara dan Arya menjauh dari kamar Nara.


"Dasar bocah gemblung. Bisa bisa nya kalian mengintip kamar orang ha" Eyang putri menarik dengan kuat telinga Arya dan Bimantara hingga mereka berdua langsung meringis kesakitan


"Ampun,, Eyang. Tuan Bima yang mengajak saya" seru Arya pula. Wajahnya bahkan sudah memerah menahan sakit sekarang


"Enak saja, kau yang memberi ide tadi" sahut Bimantara yang tidak mau disalahkan


Eyang putri semakin kesal melihat dua pemuda ini. Bisa bisanya mengintip kamar suami istri. Bagaimana jika mereka sedang melakukan sesuatu, bisa gawat urusan nya. Untung saja yang di intip adalah pasangan yang masih sakit, kalau tidak, astaga Eyang putri tidak bisa membayangkan nya.


Eyang putri menghempaskan kedua pemuda itu kesofa didepan kamar nya. Dia berdiri dan berkacak pinggang memandang kesal pada Bimantara dan Arya yang tampak meringis kesakitan dan mengusap telinga mereka masing masing.


"Ngapain kalian berdua itu ngintip ngintip kamar Nara. Mau jadi maling, malu maluin aja" omel Eyang putri


"Eyang kenapa sih biarin orang itu masuk kedalam kamar Nara?" tanya Bimantara tampak tidak suka


"Iya Eyang, harus nya dilarang kayak biasa. Dia itu kejam, gak punya hati" sahut Arya pula.


Mereka berdua sepertinya tidak terima Reynand yang mendekati Nara lagi


"La ya kok aneh. Nara itu masih istrinya. Mau dilarang dan dibilangin juga kita yang salah. Lagian dia dikamar istrinya sendiri. Udah halal. Kok malah kalian yang pada sibuk. Semua kan tergantung Nara" jawab Eyang putri dengan kepala yang menggeleng frustasi


"Eyang gak ngerti nih" Bimantara terlihat kesal, namun dia langsung meringis saat Eyang putri menjitak kepalanya

__ADS_1


"Kamu yang gak ngerti. Suka nya kok sama istri orang. Dibilangin gak baik. Mau jadi pebinor kamu" sergah Eyang putri


Bimantara tersenyum getir seraya mengusap dahinya


"Saya dukung kalau pebinor nya tuan Bima" sahut Arya pula


Bimantara langsung tersenyum senang mendengar itu


"Tuh Eyang, udah ada pendukung Bima" ucap Bima seraya tertawa lucu


Eyang putri langsung mendengus dan memandang Arya dengan kesal


"Kamu juga sama aja. Apa gak tahu dosa. Nara memang cantik. Nanti kalau udah pisah baru deketin. Ini masih ada suami nya udah nekad aja. Malah berani ngintip. Coba kalau mereka lagi nganu tadi, bisa keluar mata kalian itu" gerutu Eyang putri


"Ya karena deketin sekarang itu biar cepet pisah Eyang" sahut Arya


"Iya, kalau mereka tahu kami ngintip mereka gak akan jadi nganu. Lagian Nara juga gak bakalan mau lagi." kata Bima terdengar kesal. Dia jadi membayangkan jika mereka mengintip tapi Reynand dan Nara sedang begituan tadi. Astaga....pasti menyakitkan


"Otak kalian itu semakin malam semakin gak waras" ucap Eyang putri. Bisa bisanya cucu semata wayang nya ini menyukai istri orang. Ya ampun. Padahal Eyang putri bisa melihat bagaimana kesungguhan Reynand untuk memperjuangkan istrinya kembali.


"Bima, kamu itu Eyang sekolahin jauh jauh ke Jepang untuk jadi orang pinter. Bukan nya jauh jauh sekolah ke Jepang malah jadi pebinor. Astaga, kamu masih waras kan???" tanya Eyang putri terlihat begitu kesal sekarang


Arya langsung tertawa terbahak bahak mendengar itu, apalagi melihat wajah Bimantara yang begitu kesal


"Siapa yang tahu dia udah punya suami. Bima suka nya udah dari dulu" sahut Bimantara


"Dasar gemblung, kayak gak ada perempuan lain. Gak bisa tahan diri kamu. Awas kalau berani ngintip lagi. Eyang pulangin lagi kamu ke Jepang" ancam Eyang putri


"Tenang tuan, nanti saya bantu bikin mereka cepat pisah" bisik Arya, namun tiba tiba dia langsung meringis saat Eyang putri memukul bahu nya dengan kuat


"Jangan jadi iblis kamu ndrong. Siapa yang bisa nentuin takdir. Kalau jodoh mereka masih panjang, baru stress makan hati" omel Eyang putri


"Ya jangan sampai panjang" gumam Bimantara, namun dia langsung tersenyum getir saat Eyang putri memandang tajam kearah nya


"Iya iya, enggak lagi" ucap Bima langsung


Eyang putri langsung memijit pelipis nya yang terasa berat. Bimantara dan Arya, sungguh membuat nya stress ditengah malam seperti ini.


Entah apa yang ada didiri Nara hingga bisa membuat cucu nya bisa nekad seperti ini, padahal dia sudah cukup sering mengingatkan Bimantara.


Bukan karena Nara gadis yang malang, melainkan Nara yang masih memiliki suami. Reynand masih berhak atas hidup Nara dari pada siapapun. Meskipun tidak ada yang tahu bagaimana takdir mereka nantinya.

__ADS_1


__ADS_2