Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan

Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan
Rumah Tua Eyang Putri


__ADS_3

Jalanan disore hari itu masih begitu terik, padahal hari sudah hampir mendekati senja. Sudah hampir empat jam Reynand mengendarai mobilnya mengikuti mobil Mahendra. Namun sampai detik ini mereka bahkan sama sekali belum ada berhenti. Tangan dan tubuh Reynand sudah terasa pegal dan sengal, namun semua masih bisa dia tahan, berharap jika secepatnya dia akan bertemu dengan Nara, istrinya.


Rasa rindu, cinta dan perasaan bersalah membuat nya sungguh tidak sabar untuk meminta maaf pada gadis itu. Gadis yang sudah dia lukai hatinya dengan begitu dalam.


Perjalanan yang dia tempuh cukup jauh, tidak tahu akan dibawa kemana oleh pengacara Nara ini, namun yang pasti dia sangat berharap jika Mahendra akan membawanya pada Nara. Dia sudah menjatuhkan harga dirinya demi untuk memohon pada Mahendra.


Jalanan senja hari itu mulai meredup, apalagi matahari yang sudah ingin tenggelam diperaduan nya. Hanya sinar jingga yang terlihat menembus pohon pohon akasia yang berbaris rapi. Ya dua jam sudah terlalui, dan bahkan hari sudah hampir gelap. Mobil yang Reynand kendarai sudah memasuki sebuah daerah hutan akasia yang terbentang luas.


Tidak ada satupun rumah yang terlihat, hanya pepohonan akasia yang ada sejauh mata memandang. Lampu mobil sudah mereka hidupkan. Mata Reynand sedikit memicing mengamati daerah ini. Kenapa Mahendra membawanya ketempat sepi seperti ini? Apa benar Nara ada didaerah seperti ini? Atau Mahendra yang sudah membohonginya?


Namun saat hari memang sudah gelap dan mentari sudah digantikan dengan sinar bulan. Mobil yang dikendarai Reynand berhenti disebuah rumah besar namun terlihat tua. Halaman nya sangat luas, rumah ini juga seperti rumah jaman dulu, sangat asri dan begitu sejuk namun juga terlihat menyeramkan dimalam hari seperti ini.


Reynand turun dari mobilnya dan memperhatikan rumah itu dengan lekat. Tiba tiba saja hatinya mulai bergemuruh tidak menentu. Tidak tahu kenapa, apa karena dia yang takut untuk bertemu dengan Nara? Ya, jelas saja, dia begitu takut jika Nara menolak nya atau bahkan mengusirnya. Mengingat betapa kejam dirinya selama ini.


"Apa Nara ada disini?" tanya Reynand saat Mahendra sudah berjalan mendekatinya


"Benar tuan" jawab Mahendra. Dia berjalan menuju teras rumah dimana ada beberapa orang pelayan yang sedang menyirami bunga disana.


Reynand menarik nafasnya dalam dalam untuk menenangkan hatinya yang tidak menentu. Dia kembali memperhatikan rumah itu dengan lekat. Awalnya dia mengira jika Mahendra akan membawa nya kesebuah rumah sakit atau tempat kesehatan lain nya. Namun dia malah dibawa ketempat ini. Apa rumah ini adalah rumah keluarga Nara???


"Mau apa???" tanya seseorang yang datang tiba tiba dari dalam rumah. Reynand yang sedang mengamati rumah itu langsung terkesiap kaget. Dia melihat seorang wanita tua yang berbadan besar namun terlihat anggun dengan sanggul besar dikepala nya.


"Selamat malam Eyang putri" sapa Mahendra sedikit membungkukkan tubuh nya


Wanita tua yang dipanggil dengan sebutan eyang putri itu hanya mengangguk saja, namun pandangan nya menatap tajam tanpa berkedip pada Reynand. Dan tentu saja itu membuat Reynand begitu canggung. Dia juga langsung membungkukkan tubuhnya dihadapan Eyang putri.


"Selamat malam nyonya" sapa Reynand


"Mau apa kamu kemari?" tanya Eyang putri. Nada bahasa nya terdengar begitu tidak suka. Apa dia tahu jika Reynand adalah suami Nara


"Saya...saya ingin bertemu dengan Nara nyonya" jawab Reynand


Alis eyang putri bergerak sedikit, memperhatikan Reynand dari ujung rambut hingga ujung kaki nya. Tampan, tapi cukup bengis, itulah yang ada difikiran Eyang putri saat ini.


"Aku tidak menerima tamu malam hari" kata Eyang putri. Bahkan dia langsung melengos dan membalikkan tubuhnya untuk masuk kedalam rumah kembali.

__ADS_1


Reynand dan Mahendra langsung terkesiap bingung. Apalagi Reynand, dia langsung mengejar Eyang putri bahkan ingin meraih tangan nya. Namun langsung dia urungkan saat Eyang putri berbalik badan dan memandangnya dengan tajam


"Sudah aku bilang, aku tidak menerima tamu malam hari. Apa kamu tuli?" sergah Eyang putri


"Nyonya, maafkan saya jika saya mengganggu waktu istirahat anda. Tapi izinkan saya untuk bertemu dengan Nara. Saya mohon nyonya" pinta Reynand dengan begitu memelas. Dia sudah jauh jauh kemari, sudah begitu lama dia mencari keberadaan Nara, dan malam ini apapun resiko nya dia harus bisa bertemu dengan Nara


"Tidak bisa, memang nya kamu siapa mau bertemu dengan cucuku dimalam hari seperti ini" ucap Eyang putri begitu ketus


"Saya....saya suaminya nyonya" jawab Reynand. Namun Eyang putri malah mendengus sinis mendengar itu. Dia kembali memperhatikan Reynand dengan sinis, bahkan pandangan meremeh itu benar benar mampu mengusik hati Reynand


"Suami???? suami macam apa yang tega membiarkan istrinya berjuang sendirian. Menjijikkan" Eyang putri langsung memalingkan wajahnya saat melihat wajah penuh penyesalan dari Reynand yang tertunduk sedih


"Saya tahu saya sudah bersalah, maka dari itu saya datang untuk menebus semua kesalahan saya nyonya" jawab Reynand begitu pelan.


Eyang putri menghela nafasnya dengan jengah. Dia kembali memandang wajah kusut Reynand yang begitu tertekan. Sebanyak apa masalah yang sudah dia tanggung????


"Sudah lah, percuma juga kamu datang. Maafmu sudah tidak berlaku lagi. Nara juga sudah melupakan kamu. Pergilah" ucap Eyang putri yang kembali ingin masuk kedalam rumah


"Nyonya, saya mohon nyonya, izinkan saya bertemu dengan Nara" seru Reynand saat beberapa pelayan menghadang langkah nya untuk masuk kedalam rumah


"Tapi aku ingin bertemu dengan istriku" jawab Reynand yang masih memandang penuh harap pada Eyang putri, namun nihil wanita tua itu malah tidak menghiraukan keinginan nya. Bahkan pintu utama langsung ditutup dengan rapat.


"Tolong izinkan aku masuk" pinta Reynand begitu memelas pada pelayan pelayan rumah itu. Mereka semua memandang iba pada Reynand. Apalagi Mahendra yang sejak tadi hanya diam dan tidak berani mengatakan apapun.


"Tuan, perintah Eyang putri tidak bisa kami abaikan" ucap pelayan itu


"Tapi istriku didalam. Aku masih suaminya" kata Reynand yang masih memandang pintu rumah itu. Berharap seseorang keluar dari dalam sana


"Tuan sebaiknya kita kembali saja. Tidak ada yang berani menentang Eyang putri. Dia pemilik rumah ini" kata Mahendra pula


Reynand menggeleng dengan wajah lelah dan kusut nya, dia memandang Mahendra yang menghampiri nya


"Aku akan disini. Sudah sejauh ini aku mencari nya. Kamu bisa pulang sendiri jika mau. Dan aku begitu berterimakasih padamu" ucap Reynand


"Tuan yakin?" tanya Mahendra begitu ragu

__ADS_1


Reynand langsung mengangguk yakin. Dia tidak akan pulang sebelum bertemu Nara. Dia tidak akan kembali sebelum mendapatkan maaf dari istrinya itu. Seberat apapun akan dia perjuangkan, karena dia tahu, kesalahan nya adalah kesalahan yang begitu fatal.


"Baiklah, saya memang tidak bisa menemani tuan disini, masih banyak hal yang harus saya selesaikan" jawab Mahendra. Dan Reynand hanya mengangguk saja


Setelah kepergian Mahendra, Reynand kembali menoleh pada empat orang pelayan yang masih berdiri disana. Mereka memandang Reynand dengan ragu. Pasalnya mereka memang tidak tahu siapa Reynand. Eyang putri hanya meminta mereka untuk tidak membiarkan Reynand masuk kedalam rumah. Tapi mendengar penuturan Reynand jika dia adalah suami Nara, mereka sedikit terkejut.


"Jika aku tidak boleh masuk, bisakah aku menunggu disini?" tanya Reynand pada mereka.


Mereka terlihat saling pandang bingung dan ragu. Namun melihat wajah tampan yang begitu kusut dan lelah itu mereka semua menjadi tidak tega untuk mengusir nya


"Aku berjanji tidak akan membuat kerusuhan disini" kata Reynand lagi


"Bisakah tuan berjanji, kami tidak akan melarang tuan, asalkan tuan jangan masuk kedalam rumah. Mudah mudahan besok pagi Eyang putri sudah mengizinkan anda untuk menemui nona Nara" ujar salah seorang dari mereka


"Aku berjanji" jawab Reynand


Pelayan pelayan itu pun langsung mengangguk dan pergi membubarkan diri mereka. Membiarkan Reynand terduduk dengan lemas didepan rumah itu.


Hari memang sudah malam, dan seharusnya Reynand memang tidak memaksakan diri untuk masuk. Mungkin Nara memang sedang beristirahat, apalagi keadaan nya yang memang tidak baik baik saja.


Dan Reynand memilih untuk duduk didua anak tangga didepan rumah besar itu. Memandang kelangit yang dipenuhi oleh bintang yang bertaburan. Sangat indah, namun tidak seindah hatinya saat ini. Hati yang gelisah, resah dan gundah. Berharap Nara akan mau memaafkan nya, memaafkan segala yang telah dia torehkan kehati gadis itu.


Rasa lelah, remuk redam dan juga hawa dingin yang semakin malam semakin menusuk tidak menggoyahkan tekad Reynand. Sudah berjam jam dia duduk disana. Dia hanya menyandarkan tubuh lelah nya disebuah pilar besar yang menopang rumah itu, dan berharap bisa menopang tubuhnya yang sudah lelah. Berharap pagi akan segera tiba, berharap sinar matahari akan cepat menghangatkan tubuh nya yang sudah kedinginan, apalagi dia hanya mengenakan sebuah kemeja putih, bahkan kemeja itu sudah begitu lusuh dan kusut sekarang.


Matanya memandang nanar keatas langit malam yang sudah dini hari. Namun matanya sama sekali tidak dapat terpejam. Bahkan dia tidak tahu kapan terakhir kalinya dia tidur dengan nyaman, sudah sangat lama. Mungkin sejak kakek nya masih ada. Tapi setelah itu, kehidupan nya berubah drastis. Semua beban nya bertambah, apalagi dia diharuskan menjadi sempurna untuk perusahaan Adidaksa, perlakuan ayahnya yang semakin mengekang dan diktator. Dan semua itu menjadikan kehidupan Reynand tidak lagi seindah dulu.


Fikiran Reynand melayang pada beberapa tahun silam, dimana saat saat awal kepergian kakek nya dia begitu terpuruk. Ayahnya yang sempat menghilang beberapa hari dan juga dia yang sudah diharuskan bertanggung jawab untuk semua nya diusia yang masih begitu muda. Ditahun itu adalah tahun dimana Reynand benar benar berada dalam tekanan yang cukup kuat. Dan ditahun itu pula pertemuan nya dengan Cleo, gadis cantik yang bisa sedikit menghibur hatinya yang sedang gundah. Dan dipenghujung tahun itu pula dia bertemu dengan Anara. Gadis yang akhirnya terpenjara dalam cinta butanya.


Tapi tahun itu tidak sebanding dengan tahun ini. Tidak semenyedihkan tahun ini. Apa lagi akhir akhir ini, semua terasa begitu berat untuk Reynand. Ditahun ini dia kehilangan semua nya, keluarga,harta dan cinta. Semua sudah hancur dan tidak lagi tersisa.


Reynand tersenyum begitu pedih ketika mengingat nasib nya kini. Nasib yang mungkin dia dapatkan dari semua dosa dosa nya, apalagi dosa pada istrinya, Nara.


Reynand memejamkan mata dan menarik nafasnya dalam dalam, berharap rasa sesak didada nya bisa sedikit berkurang, meskipun sebenar nya mustahil. Malam itu, dia kembali tidak tidur, dan lagi lagi tenggelam dalam lamunan nasib buruknya.


Tanpa tahu, seseorang memandang nya dengan pandangan datar dari balik kain jendela didalam rumah.

__ADS_1


__ADS_2