Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan

Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan
Pusat Perbelanjaan


__ADS_3

Sore ini Bima dan Gendis sudah berada disalah satu pusat perbelanjaan yang ada di ibu kota. Bima lebih dulu menjemput Gendis dirumah nya tadi. Dan benar saja jika Gendis hanya sendirian dirumah dan hanya ditemani oleh para pelayan nya.


Mereka berkeliling mall dan membeli keperluan Gendis terlebih dulu. Gadis berambut pirang ini terlihat cantik dan segar dengan setelan casual nya, dress pendek dan juga sepatu kets. Sangat jauh berbeda saat dia berada dirumah eyang putri yang hanya sering memakai celana pendek dan baju kaus saja.


"Apa kakimu tidak sakit lagi jika dibawa berjalan jalan begini?" tanya Bima saat Gendis sedang memilih milih beberapa pakaian yang terpajang disana.


"Saat ini belum, dan semoga saja tidak. Aku sudah sangat lama tidak keluar rumah dan berbelanja" jawab Gendis.


Bima langsung tertawa mendengar itu.


"Aku harap ayahmu tidak akan memenggal kepala ku karena sudah berani membawa putri nya pergi" ucap Bima.


Gendis tersenyum dan memandang Bima sejenak.


"Tidak akan, bukankah dia sudah percaya padamu" sahut Gendis. Dan kini mereka berjalan kembali menyusuri tempat pakaian itu.


"Percaya bagaimana, bahkan aku tidak bilang jika membawamu sekarang" ucap Bima seraya berjalan santai mengikuti langkah kaki Gendis.


"Tenang saja, aku sudah bilang. Dan dia memang percaya padamu. Buktinya dia menitipkan aku selama dua bulan bersama mu didesa eyang putri" ungkap Gendis.


Bima tertawa dan mengangguk.


"Benar juga, terkadang aku berfikir, apa dia tidak takut jika aku akan menculikmu dan meminta tebusan yang besar" gumam Bima


Gendis terkekeh mendengar mendengar itu.


"Apa kamu berani?" tanya Gendis.


"Tidak" jawab Bima langsung.


Mereka langsung tertawa bersama seraya kembali berjalan menyusuri gedung mall itu. Sepertinya tidak ada yang cocok untuk Gendis, sehingga dia tidak membeli apapun dari yang di lihat lihat nya tadi.


"Hei... menurut mu kado apa yang cocok untuk pasangan pengantin baru?" tanya Bima


Gendis yang sedang berjalan disamping Bima langsung menoleh kearah nya.


"Kamu ingin pergi undangan?" tanya Gendis.


Bima langsung mengangguk dengan cepat.


"Pernikahan tuan Adiputra" jawab Bima


"Wow.... ini sedikit sulit" sahut Gendis


"Kamu benar, aku bahkan bingung ingin memberinya apa" ucap Bima.

__ADS_1


Gendis terbahak mendengar itu. Dia tahu tuan muda Adiputra. Nama nya sudah tersebar dimana mana sebagai tuan muda yang memiliki segala nya, bahkan julukan tuan angkuh sudah tersematkan pada dirinya.


"Hampers pernikahan saja, seperti berisi barang barang perawatan diri untuk pengantin baru" usul Gendis.


Bima nampak terdiam sejenak, namun sedetik kemudian dia langsung mengangguk.


"Boleh juga, kamu bisa memilihkan nya untuk ku? Aku benar benar tidak tahu hal ini" ucap Bima.


"Tentu saja. Nanti kita ketempat itu, tidak jauh dari daerah sini. Disana barang barang nya berkualitas tinggi, sangat cocok untuk tuan Adiputra dan calon nya" ungkap Gendis.


"Ya, tuan angkuh itu mempunyai selera yang tinggi. Sangat sulit untuk ditebak" sahut Bima.


"Aku rasa begitu juga calon istri nya. Pasti sesuai dengan dia juga" kata Gendis.


Bima mendengus senyum dan mengangguk.


"Kamu benar, calon istri nya cukup anggun, cantik dan elegan. Tapi sifat nya berbeda dengan tuan angkuh itu. Calon istrinya begitu lembut dan baik hati" ungkap Bima tanpa sadar.


Gendis langsung menoleh kearah Bima. Bahkan wajah Bima nampak berbinar ketika mengungkapkan tentang calon istri tuan Adiputra itu.


"Kenapa kamu bisa tahu?" tanya Gendis.


Dan tentu pertanyaan itu membuat Bima langsung terkesiap. Bima menggaruk pelipis nya sejenak dan tersenyum getir. Sial kan, dia kelepasan lagi.


"Aku tahu... karena dia rekan bisnis ku juga" jawab Bima dengan cepat.


"Benarkah?" tanya Gendis tidak percaya.


"Tentu saja, dia pemilik perusahaan Polie. Kami bekerja sama dengan ayahmu juga" sahut Bima.


Gendis mengendikkan bahunya sekilas.


"Aku fikir wanita itu adalah gadis yang membuat mu patah hati hingga mabuk mabukkan" sindir Gendis.


Bima hampir saja tersedak udara mendengar itu. Bahkan dia langsung canggung dan memalingkan wajahnya yang getir.


Gendis langsung tertawa melihat Bima.


"Benarkan tebakan ku" tuding Gendis seraya terus memperhatikan wajah Bima dengan wajah mengejek nya.


"Sok tahu sekali kamu. Sudah lah ayo" ajak Bima yang langsung berjalan lebih dulu meninggalkan Gendis.


"Hei.... jadi ternyata dia wanita itu ya. Waaahhhh pantas saja kamu patah hati begitu. Saingan mu berat kawan" goda Gendis dengan tawa lucunya.


Bima langsung memandang Gendis dengan kesal. Dia ingin menjitak kepala Gendis, namun Gendis langsung mengelak masih dengan tawanya. Dia baru tahu ini, tentu saja hal yang membuat perut nya tergelitik. Saingan Bima adalah tuan muda Adiputra, tentu saja sebelum berjuang dia sudah kalah duluan. Dan lihatlah sekarang, wajah Bima yang kesal karena dia terus menggodanya.

__ADS_1


"Heh... setidak nya aku tidak menangis sepanjang hari seperti mu" balas Bima tidak mau kalah.


Gendis langsung mencebikkan bibirnya mendengar itu.


"Kamu memang tidak menangis, tapi kamu seperti orang gila yang berkeliaran tengah malam dan mabuk mabukkan begitu" ejek Gendis.


Bima mendengus


"Seperti kamu tidak saja. Bahkan lebih parah, pergi jauh hanya karena untuk menghindar dan menenangkan diri" sahut Bima dengan tawa nya melihat wajah Gendis yang kini bergantian kesal.


"Yah, dan aku bertambah sial karena bertemu dengan mu" ucap Gendis.


"Aku juga sial bertemu dengan mu. Bukan nya mendapat hiburan tapi malah dipertemukan dengan orang yang patah hati juga" kata Bima. Namun sedetik kemudian dia langsung tertawa dan diikuti oleh Gendis yang juga tertawa seraya berjalan mendekat kearah Bima.


Mereka malah jadi mentertawakan nasib buruk mereka yang sama sama merasa patah hati. Yang satu patah hati karena cinta yang bertepuk sebelah tangan, dan yang satu patah hati karena dikhianati oleh kekasih nya. Miris sekali memang.


"Sudah lah, sesama orang yang sedang patah hati, bagaimana kalau kita menikmati hidup saja bersama sama. Mungkin lebih baik" tawar Bima seraya menjulurkan tangan nya pada Gendis.


Gendis tersenyum lebar dan mengangguk seraya meraih tangan itu.


"Seperti nya ide yang bagus. Aku tidak ingin patah hati sendirian" sahut Gendis.


Mereka kembali terbahak dan berjalan sembari bergandengan tangan. Lucu sekali memang.


"Apa kamu ingin aku temani kepesta pernikahan mereka.?" tawar Gendis


"Kamu mau?" tanya Bima tidak percaya


"Hmmm... aku kasihan padamu. Aku takut kamu akan menangis disana nanti jika tidak ada yang menemani" goda Gendis dengan senyum mengejek nya.


"Sialan kamu" dengus Bima seraya langsung memiting leher Gendis dengan lengan nya.


Gendis tertawa terbahak bahak seraya berusaha untuk menghindar, namun Bima yang gemas semakin mengeratikan dekapan nya dan mencubit gemas hidung Gendis.


"Aaaaaahh Bima" seru Gendis


"Ini akibat nya karena sudah berani menggoda ku" sahut Bima dengan kesal.


Gendis kembali tertawa memandang wajah itu. Bahkan mereka sampai tidak lagi memperhatikan orang orang yang ada disana. Dunia bahkan terasa hanya milik mereka saja.


Hingga tiba tiba


"Diandra...."


panggilan seseorang membuat Gendis dan Bima langsung terkesiap dan menoleh kebelakang mereka, dimana seorang lelaki sudah berdiri dengan pandangan matanya yang tajam.

__ADS_1


"David....." gumam Gendis


__ADS_2