
Reynand sedikit meringis saat dia berjalan keluar kamar. Sungguh luka bekas operasi ini memang belum sepenuhnya kering. Rasa sakit dan ngilu beberapa kali membuat nya menarik nafas dalam dalam. Seharusnya dia memang masih harus dirawat dirumah sakit. Sepaling tidak masa pemulihan dalam sebulan agar luka nya benar benar kering dan pulih. Tapi yang terjadi, Reynand malah keluar dalam seminggu pasca operasi, ditambah melakukan perjalanan jauh dan juga sedikit tekanan, hingga membuat lukanya kembali terbuka. Bahkan sekarang dia sudah terlihat rapi dan ingin pergi lagi.
Reynand berjalan kearah dapur dengan perlahan seraya meraba dinding kamar nya. Didapur sudah ada Zelina dan mama. Mereka terlihat sedang sarapan saat ini.
"Rey, kenapa keluar. Kamu mau kemana?" tanya mama yang langsung membantu Reynand untuk duduk dikursi nya. Zelina yang sedang membuat roti bakar langsung menoleh kearah Reynand.
"Mau kerumah sakit ma" jawab Reynand seraya mendudukan tubuhnya dikursi makan
"Melihat Nara?" tanya mama
Dan Reynand langsung mengangguk dengan lesu
"Kamu yakin, tunggu lah sampai keadaan kamu pulih nak. Setelah itu baru melihat Nara" ujar mama, namun Reynand langsung menggeleng
"Rey hanya ingin melihat nya ma, sekaligus ingin menyerahkan surat perusahaan pada Arya, dan juga.....surat perpisahan kami" jawab Reynand. Dia langsung tertunduk dengan getir, tangan nya menggenggam dengan erat. Tidak rela, tapi.... dia juga tidak bisa menghalangi kebahagiaan Nara. Ada banyak hal yang harus Reynand lakukan, dan ketika semua selesai, maka dia akan memperjuangkan kembali cinta Nara. Mungkin untuk saat ini perkataan mama ada benar nya, untuk dia yang tidak memaksakan kehendaknya sendiri.
"Kakak, kakak nyerah gitu aja?" tanya Zelina yang tampak tidak terima
Reynand terdiam. Menyerah, tentu tidak. Dia hanya akan memulai semua nya dari awal. Bercerai bukan berarti melepaskan semua nya.
"Kamu yakin Rey?" tanya mama
Dan sungguh sebenarnya pertanyaan mama membuat hatinya goyah. Tapi perkataan Nara juga selalu terngiang dihatinya. Reynand benar benar tidak berdaya.
"Jika kamu sudah memutuskan, maka lakukan. Mama akan selalu mendukung apapun yang kamu perbuat, yang terpenting itu bisa membuat kamu menjadi lebih baik. Jika Tuhan masih mentakdirkan kalian bersama. Pasti kalian akan bertemu lagi dilain waktu" ungkap mama
"Tapi, kak Nara adalah perempuan yang kakak cari selama ini kan. Kenapa kakak lepasin gitu aja?" tanya Zelina pula
"Ze..... kamu belum mengerti nak" sahut mama membuat Zelina langsung terdiam
Reynand menghela nafasnya perlahan dan memandang Zelina dengan senyum tipis nya
"Sampai kapanpun, hanya dia Ze, hanya dia yang akan aku cari dan aku perjuangkan" ucap Reynand begitu yakin
Zelina memandang iba wajah sedih dan hancur kakak nya. Belum cukupkah semua kesakitan yang dirasakan oleh Reynand untuk membalas kesalahan yang pernah dia perbuat? Reynand sudah tertekan dengan masalah keluarga mereka. Dan sekarang dia juga harus tertekan dengan hubungan nya dengan Nara, gadis yang selama ini dia cari kemana mana.
"Sudah, sarapan dulu baru pergi. Jika kamu kerumah sakit, kamu harus sekalian memeriksakan keadaan mu nak, obat kamu juga sudah mau habis" ujar mama
Reynand hanya mengangguk dan memandang nanar teh hangat yang disodorkan mama kehadapan nya.
Zelina menghela nafas pelan, dan langsung duduk disamping mama. Reynand memandang nya dengan lekat. Ada yang berbeda dengan penampilan Zelina hari ini.
"Kamu mau kemana?" tanya Reynand
Zelina mendongak dan membalas pandangan Reynand
__ADS_1
"Mau bekerja. Ze diterima kerja disalah satu restauran di Menteng" jawab Zelina
"Kamu mau bekerja? Jadi waitress?" tanya Reynand tidak percaya
"Bagian kasir kak" jawab Zelina
Reynand langsung terdiam dan tertunduk. Sekarang dia benar benar tidak bisa menjadi kakak yang baik, bahkan Zelina harus bekerja demi untuk memenuhi kebutuhan nya sendiri.
"Kak.." panggil Zelina, dia tahu Reynand pasti keberatan
"Ze udah dewasa. Ze bosan jika dirumah terus. Mama juga udah mulai sehat, jadi biarin Ze kerja ya. Ze juga pengen ngeringain beban kakak sama mama" ungkap Zelina
Dan sungguh Reynand benar benar sedih mendengar itu. Bahkan mama langsung tertunduk dengan mata yang berkaca kaca. Tidak menyangka jika nasib keluarga nya akan menjadi seperti ini.
"Gajinya lumayan kok. Kerjanya juga enggak berat. Ze mau cari pengalaman dulu" kata Zelina lagi
Reynand tersenyum dan mengangguk dengan pelan
"Ya, yang terpenting kamu harus hati hati. Maafin aku yang gak bisa bahagiain kamu. Disaat keadaan seperti ini aku malah gak bisa berbuat apapun untuk kalian" Reynand langsung tertunduk menyembunyikan wajah sedih nya
Zelina langsung beranjak dari duduknya dan mendekat kearah Reynand. Dia memeluk kakak nya dengan erat, sebisa mungkin dia menahan tangis nya agar tidak keluar, namun percuma. Meskipun awalnya ragu, tapi Zelina tidak bisa diam saja. Hanya dia yang sehat sekarang, mama nya perlu uang untuk biaya pengobatan, sedangkan Reynand juga sudah tidak sehat lagi. Dan hanya dia yang bisa bekerja.
"Jangan sedih, kakak tetap kakak terbaik yang Ze punya" ucap Zelina dengan air mata yang semakin keluar. Reynand membalas pelukan Zelina dengan penuh emosi. Sungguh kenapa semua terasa menyakitkan.
Mama bahkan sudah tertunduk dan mengusap air matanya sekarang
"Bukankah kita saudara. Harus saling membantu dan menguatkan" ucap Zelina seraya melepaskan pelukan nya dari Reynand
Reynand tersenyum dan mengangguk, dia mengusap wajah Zelina. Dia tahu jika Zelina pasti sangat sedih dengan keadaan ini. Tapi Reynand cukup bangga Zelina bisa berusaha kuat untuk mereka.
"Jangan nangis lagi. Nanti biar aku antar" ujar Reynand seraya mengusap wajah Zelina sekilas
"Iya" jawab Zelina yang langsung tersenyum
Mama tersenyum dan mengusap kembali wajahnya. Dia sangat beruntung, disaat dia kehilangan semua nya. Namun dia masih memiliki dua orang anak yang cukup hebat dan saling menyayangi. Semoga mereka bisa melewati masa masa sulit ini.
...
Dua jam kemudian....
Reynand sudah tiba didepan sebuah rumah sakit besar diibukota. Setelah mengantar Zelina kerestaurant tempat nya bekerja, Reynand langsung pergi menuju rumah sakit. Rumah sakit tempat Nara menjalani transplantasi ginjalnya.
Reynand berjalan perlahan menuju keruangan Nara dirawat setelah tadi bertanya pada receptionist rumah sakit. Operasi sudah dilakukan tiga hari yang lalu, dan seharusnya sekarang Nara sudah menjalani masa pemulihan, semoga saja operasi nya berjalan dengan lancar.
Disetiap langkah kakinya, entah kenapa jantung Reynand berdetak tidak beraturan. Ada rasa ragu, takut dan rindu yang membuncah dihatinya. Ingin sekali dia menemani masa pemulihan Nara dan ada disisi Nara setiap waktunya. Tapi jika mengingat siapa dia sekarang, rasanya Reynand benar benar malu.
__ADS_1
Sekarang dia hanya lelaki pecundang, yang lemah dan tidak bisa berbuat apapun. Satu malaman dia berfikir, jika dia terus memaksa Nara menerima nya kembali, maka apa yang bisa dia berikan dan dia janjikan? Jika mengurus diri sendiri pun dia tidak bisa. Keadaan keluarga yang masih terlunta lunta seperti ini. Sudah pasti akan membuat Nara semakin tersiksa.
Dan Reynand sudah memutuskan, untuk menuruti permintaan Nara. Melepaskan Nara agar wanita yang dia cintai itu bisa memilih kebahagiaan nya sendiri. Namun tetap, sampai kapan pun. Nara adalah tujuan utama dalam hidupnya.
Langkah Reynand mulai melemah, saat dia hampir tiba didepan ruangan Nara. Tangan nya memegang dua buah dokumen. Surat bersampul kuning, dan juga map bersampul merah. Dua hal yang harus Reynand serahkan, satu kebahagiaan nya karena sudah bisa memperbaiki kesalahan, dan satu adalah kesakitan nya karena harus dengan terpaksa melepaskan Naranya.
Reynand menarik nafasnya dalam dalam dan berjalan menuju Arya yang sedang duduk dikursi tunggu didepan ruangan Nara, dia memandang Reynand dengan lekat. Lelaki berambut gondrong itu tampak berdiri dari duduk nya saat Reynand sudah tiba dihadapan nya.
"Tuan Adiputra" sapa Arya
"Bagaimana keadaan Nara?" tanya Reynand, nafas nya sedikit tersengal karena berjalan lumayan jauh dan harus menahan sakit dipinggang
"Masih sangat lemah. Tapi operasinya berjalan dengan lancar" jawab Arya
"Kanker nya?" tanya Reynand lagi
"Berkat obat tradisional Eyang putri, kankernya tidak sampai menyebar ketubuhnya. Hanya saja Nara masih memerlukan masa pemulihan yang cukup lama disini sampai ginjal barunya bisa beradaptasi dengan tubuh Nara" ungkap Arya
Reynand langsung bisa bernafas dengan lega. Akhirnya pengorbanan yang dia lakukan tidak sia sia. Nara pasti sembuh dan bahagia lagi.
Arya memandang Reynand dengan lekat, tubuhnya semakin kurus dan tak terawat. Bahkan wajahnya masih saja pucat. Sebenarnya apa yang sudah terjadi pada tuan angkuh ini??
"Arya" panggil Reynand membuat Arya sedikit terkesiap
"Ini surat pengalihan perusahaan Polie" Reynand menyerahkan map itu pada Arya, namun Arya masih mematung dan hanya memandang nya saja.
"Untuk apa, bukankah perusahaan itu milik anda sekarang?" tanya Arya masih dengan nada yang sedikit kesal. Namun Reynand malah tersenyum tipis dan meletakkan surat itu didada Arya, membuat Arya langsung menangkap nya dengan sigap
"Aku tidak mungkin mengambil alih perusahaan itu. Meski aku tidak lagi mempunyai apa apa. Tapi itu tetap milik Nara. Aku sudah mengembalikan semua nya. Dan sekarang tugas kamu yang menjalankan nya" ujar Reynand
Mata Arya langsung melebar mendengar nya. Dia tidak pernah membuka internet ataupun berita distasiun tv, jadi dia sama sekali tidak tahu jika perusahaan Polie sudah aktif lagi
"Tuan Anda serius, perusahaan Polie sudah berjalan lagi? Bagaimana bisa?" tanya Arya tidak percaya
"Aku sudah berjanji untuk memperbaiki semua nya. Maka akan aku lakukan. Walau bagaimanapun caranya" jawab Reynand
Arya terdiam, dia tidak menyangka jika Reynand akan berusaha sampai seperti ini. Dari mencarikan donor ginjal untuk Nara, dan sekarang mengembalikan perusahaan Polie dalam keadaan seperti sedia kala. Semua nya pasti tidak murah bukan?????
"Aku ingin menjenguk Nara" ucapan Reynand langsung membuyarkan fikiran Arya
"Ah iya... tapi..." ucapan Arya terhenti dan membuat Reynand mengernyit bingung
"Dia baru saja sadar pagi ini setelah beberapa hari koma, tuan tolong jangan menganggu istirahatnya. Dokter Sebastian sudah mewanti wanti" ungkap Arya
Reynand tersenyum dan mengangguk
__ADS_1
Dia langsung berjalan menuju ruangan Nara dengan langkah yang nampak tertatih. Berdiri cukup lama membuat pinggang nya berdenyut dengan sangat.
Dan tentu itu tidak luput dari pandangan Arya, ditambah dengan surat bersampul kuning ditangan Reynand. Bukankah itu surat.......perpisahan??????