
Tokyo, Jepang waktu setempat.
Tidak terasa sudah lebih dari dua minggu Nara dan Reynand berada di Jepang. Menikmati waktu waktu bulan madu mereka yang benar benar indah dan penuh dengan senyuman. Reynand berhasil membuat Nara merasa menjadi wanita yang paling bahagia saat itu. Berkeliling kota Jepang dan mendatangi setiap destinasi wisata yang di inginkan oleh Nara. Dan tentunya dengan kejutan kejutan kecil dari Reynand yang selalu bisa membuat nya merasakan jatuh cinta lagi dan lagi.
Ya, seromantis itu Reynand disini. Dan Nara suka...
Malam ini adalah malam terakhir mereka ada disini, setelah besok siang mereka akan kembali ke Indonesia untuk memulai kehidupan mereka yang sebenarnya. Kehidupan yang akan membuat Reynand menjadi tuan muda angkuh kembali.
Malam terakhir disini, Reynand membawa Nara kesebuah gedung, planetarium Tokyo. Sebuah tempat yang menawarkan hiburan berupa tempat yang memberikan kenyamanan untuk mereka yang menginginkan itu. Tempat yang berada dilantai paling atas sebuah gedung menara yang menampilkan visual dari keadaan langit malam yang indah. Mulai dari bintang yang bertaburan dilangit malam dan juga pemandangan aurora yang memancarkan cahaya indah nya. Sungguh benar benar tempat yang romantis dan menenangkan. Sangat pas untuk pasangan pengantin baru seperti mereka.
Nara bahkan benar benar menikmati suasana disini. Duduk dibawah indah nya pemandangan visual di atas, dia sudah seperti berada disebuah padang yang luas dan di alam yang terbuka.
Hatinya tenang...
Jiwanya damai...
Seperti tidak ada lagi apapun yang dia inginkan, dan jika waktu bisa berhenti sekarang, mungkin Nara tidak apa apa. Dia sudah bahagia, ada di tempat indah ini bersama dengan orang yang dia cinta.
Lalu, kebahagiaan seperti apa lagi yang dia inginkan...
Nara bersandar dibahu Reynand. Mereka duduk bersandar disebuah kursi sofa dengan bentuk yang nyaman untuk memandang keatas. Menikmati malam yang indah dan ditemani dengan alunan musik romantis yang mengalun merdu. Aroma wewangian relaksasi menambah kenyaman mereka berdua. Apalagi tidak ada orang disini selain mereka. Reynand sudah memboking tempat ini untuk satu malam. Dia tidak ingin ada yang mengganggu mereka bersantai dan menikmati waktu.
"Sayang...." panggil Reynand seraya mengusap kepala Nara dengan lembut.
"Hmm" gumam Nara.
Mata mereka masih sama sama memandang ke atas menikmati visual yang benar benar serasa asli.
"Apa yang kamu inginkan lagi didunia ini?" tanya Reynand.
Nara tersenyum lembut dan menggeleng pelan. Memandang jauh keatas sana, sangat jauh hingga dia tidak merasakan apapun lagi.
"Tidak ada, sejak dulu keinginanku hanya bisa mendapatkan cintamu. Dan sekarang aku sudah mendapatkan itu" jawab Nara.
Reynand langsung menoleh ke arah Nara. Mengusap wajah itu dengan begitu lembut.
"Apa kamu bahagia sekarang?" tanya Reynand
"Sangat... aku sangat bahagia" jawab Nara yang juga memandang wajah Reynand. Memandang senyum Reynand yang benar benar selalu membuat nya terbuai dan merindu.
Ya, mereka saling pandang dengan lekat, saling mengagumi satu sama lain. Pandangan mata yang sama sama penuh cinta dan kekaguman. Serasa tidak ada yang lain lagi dimata mereka selain keindahan wajah masing masing.
__ADS_1
"Bahagia mu adalah kehidupan ku, dan aku selalu berharap Tuhan bisa memberi ku waktu untuk bisa selalu membuat kamu bahagia" ucap Reynand.
"Aku mencintai kamu Rey... terimakasih untuk segala nya" ucap Nara yang langsung memeluk Reynand dengan lembut dan hangat.
"Aku yang berterimakasih sayang. Aku bahagia bisa memiliki kamu" jawab Reynand.
Malam yang indah untuk mereka berdua. Menghabiskan malam ditempat impian Nara, sebelum besok mereka akan kembali ketempat dimana mereka seharusnya kembali.
....
Jakarta, Indonesia....
Beberapa jam sebelum nya...
Gendis memandang aneh pada Bima yang kini sudah berdiri didepan rumah nya. Hari sudah malam dan Bima malah keluar ditengah kondisinya yang baru pulih. Gendis benar benar heran melihat laki laki ini.
Bima mengenakan sebuah kemeja biru langit, penampilan nya cukup rapi, padahal dia belum bekerja diperusahaan. Bima hanya bekerja dari rumah saja, tapi kenapa malam ini dia bisa serapi ini??
"Kenapa kamu kemari?" tanya Gendis.
Alis Bima tergerak mendengar itu.
"Apa tidak boleh?" tanya Bima pula.
"Bukan tidak boleh, hanya saja luka kamu belum terlalu sembuh, kamu masih harus banyak beristirahat Bim, bukannya malah keluyuran di tengah malam begini" gerutu Gendis
Bima tersenyum mendengar gerutuan itu.
"Aku hanya rindu" jawab Bima
Gendis memandang Bima dengan lekat.
"Bukankah semalam kita sudah bertemu" ucap Gendis, namun Bima menggeleng pelan.
"Aku ingin kita bertemu setiap hari" jawab Bima.
"Mana bisa begitu, aku tidak enak dengan eyang putri." ucap Gendis.
"Sudahlah, ayo masuk" ajak Gendis yang langsung menarik tangan Bima. Namun Bima malah menahan nya, membuat Gendis menoleh pada Bima dan memandang nya dengan aneh.
"Kenapa?" tanya Gendis
__ADS_1
"Aku ingin membawamu kesuatu tempat" ujar Bima
Alis Gendis menekuk bingung
"Kemana, ini sudah malam Bim. Kamu....."
Bima langsung membungkam mulut Gendis dengan jari nya.
"Kamu hanya perlu ikut, aku juga sudah meminta izin pada tuan Renggono. Ayo" ajak Bima. Dan kali ini dia yang menarik tangan Gendis.
Gendis memandang Bima dengan bingung, bahkan dia jadi seperti orang bodoh yang mau saja mengikuti Bima.
"Kita mau kemana Bim?" tanya Gendis yang kini sudah masuk kedalam mobil dan duduk disamping Bima.
"Kamu hanya perlu ikut" jawab Bima.
Gendis mendengus kesal dan memandang Bima dengan lekat.
"Kamu itu masih sakit. Tapi sudah berkeliyaran seperti ini. Jika luka mu tidak kering kering juga bagaimana" omel Gendis.
Bima tertawa lucu mendengar itu.
"Kenapa malah tertawa sih" ucap Gendis yang semakin kesal. Dia benar benar masih khawatir dengan keadaan Bima yang belum pulih benar. Dan sekarang Bima malah sudah membawa nya pergi. Entah mau pergi kemana.
"Kamu kenapa menjadi cerewet sekali sekarang. Aku sudah lebih baik sayang" ucap Bima.
Blushhh
Wajah Gendis langsung merona mendengar panggilan sayang itu. Bahkan dia langsung memalingkan wajahnya dari Bima.
Bima kembali terkekeh dan mengacak gemas kepala Gendis.
"Aku sudah tidak apa apa. Kamu tahu bagaimana eyang kan. Pengobatan nya itu selalu mujarab. Jadi luka ku sudah mulai membaik dan tidak sakit lagi sekarang" ungkap Bima.
"Aku hanya takut kamu sakit lagi" gumam Gendis begitu lirih.
Bima tersenyum dan menggeleng pelan.
"Tidak, aku jamin yang kemarin adalah yang terakhir kali aku membuat kamu takut" jawab Bima
"Kamu janji" pinta Gendis yang kini menoleh kearah Bima.
__ADS_1
"Aku janji" jawab Bima dengan senyum indah nya. Membuat Gendis juga ikut tersenyum.