Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan

Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan
Apa Kamu Cemburu???


__ADS_3

Nara memandang getir Zelina yang masih memperhatikan nya tidak berkedip. Meskipun begitu dia masih saja memakan madeleine buatan Nara. Sejak pertanyaan Zelina tadi, Nara menjadi terdiam, dia tidak tahu apa yang harus dijawabnya. Antara bahagia dan juga takut. Dia bahagia, karena bekal yang pernah dibawakan nya dulu ternyata sampai juga diperusahaan Reynand. Tapi dia juga takut, jika dia berkata iya, maka Zelina pasti akan mengetahui apa yang terjadi sebenar nya. Tidak, Nara tidak ingin Zelina tahu, Reynand pasti akan bertambah marah padanya. Mereka juga pasti tidak akan bisa bertemu lagi setelah ini.


"Kak, kenapa kakak diam saja. Ayo mengaku lah, kalau madeleine yang dibawa kak Rey pasti dari kakak kan" tuding Zelina lagi.


Dia benar benar yakin, karena rasa dan bentuk nya sama. Itu adalah madeleine terenak yang pernah dia rasakan, jadi Zelina masih ingat jelas bagaimana rasanya.


"Mungkin Reynand membeli ditempat lain Ze" elak Nara namun Zelina langsung menggeleng cepat


"No, tidak mungkin. Aku tahu kak, gimana rasanya. Sama kayak yang kakak buat ini" jawab Zelina


"Sudah lah. Aku dan Reynand tidak ada hubungan apa apa.Kamu kan tahu bagaimana kakakmu. Dia juga sudah memiliki kekasih" jawab Nara terdengar getir


"Cleo Reneila Demonte" tanya Zelina, dan Nara langsung mengangguk


"Ck perempuan angkuh itu. Aku gak pernah ketemu, cuma lihat diberita aja. Tapi aku gak suka sama dia. Terlalu sombong, dia gak bisa jadi kakak ipar ku" ungkap Zelina yang terus mengunyah cake nya


"Kenapa, itu pilihan kakak kamu" tanya Nara, masih bingung dengan ungkapan Zelina


"Dia memiliki selera yang cukup tinggi. Dan dari wajah nya aja aku udah tahu kalau dia cuma memanfaatkan kekuasaan kak Rey. Entah apa yang buat kak Rey bisa menjadikan dia kekasih" jawab Zelina .


Nara terdiam dan menggeleng pelan. Bahkan Zelina yang hanya seorang gadis polos saja bisa menilai bagaimana Cleo dan wataknya. Tapi kenapa Reynand tidak bisa. Bahkan dia sudah menjatuhkan segala hati dan kepercayaan nya pada gadis itu, sehingga tidak dapat lagi Nara untuk menyentuhnya.


"Aku rasa kak Rey hanya menjadikan nya mainan" kata Zelina lagi


Nara tersenyum dan kembali menggeleng


"Kamu sok tahu, bahkan mereka sudah menjalin kasih begitu lama. Tidak mungkin jika Reynand hanya menganggap nya sebagai mainan" sahut Nara. Dia membatin dalam hati, jika yang sebenar nya menjadi mainan adalah dirinya. Ya, dia yang menjadi mainan untuk Reynand, diperbuat sesuka hati, dan jika sudah tidak diperlukan, pasti akan dicampakkan begitu saja.


"Kak, aku tahu kak Rey. Lihat saja nanti siapa yang menjadi istrinya. Sudah pasti bukan wanita itu" ucap Zelina


"Kamu begitu yakin" sahut Nara


"Ya, karena setiap malam aku selalu berdoa jika jangan sampai kak Rey berjodoh dengan dia" jawab Zelina dengan tawa kecilnya membuat Nara juga ikut tertawa.


Lama Zelina berada diperusahaan Nara. Bahkan dia disana hingga sore hari, membuat Nara menjadi sedikit terhibur dengan keberadaan adik ipar nya itu. Tidak banyak orang yang tahu tentang Zelina Adiputra karena dia jarang menetap di Indonesia, lagi pula wajahnya juga belum pernah diekspos oleh keluarga Adiputra. Sehingga kemanapun Zelina pergi dia masih aman tanpa berita.


Banyak hal yang diceritakan oleh Zelina, terutama tentang keluarga nya. Tentang rumah yang sudah terasa asing dan semua seperti orang yang tidak saling kenal lagi. Semua berubah sejak kepergian tuan Bagasyaksa, kakek mereka. Sejak itu keluarga mereka juga ikut berubah, terutama ayahnya. Dan dari cerita Zelina itu membuat Nara semakin penasaran tentang apa yang sebenarnya terjadi. Apalagi dia pernah memergoki ayah Reynand bersama dengan ibu Cleo, seseorang yang memang berniat jahat pada keluarga mereka.


"Ah tidak terasa hari sudah sore. Aku terlalu banyak berbicara" kata Zelina yang baru sadar jika jam sudah pukul setengah lima sore


"Jangan sungkan Ze, aku juga bukan orang yang banyak mulut. Tenang saja" jawab Nara dengan senyum nya


Zelina langsung tertawa sambil membereskan meja Nara yang penuh dengan cemilan nya


"Terimakasih untuk hari ini ya kak. Bertemu dengan kakak buat hati aku jauh lebih tenang. Aku gak tahu harus berbagi sama siapa" ungkap Zelina


Nara mengangguk dan tersenyum


"Jika kamu sedang sedih, kapan pun kamu bisa datang padaku" ujar Nara


"Pasti kak. Ah sekarang doa ku bertambah. Semoga saja yang menjadi kakak iparku nanti adalah kakak, aku pasti seneng banget" harap Zelina dengan wajah berbinar nya. Sedangkan Nara langsung tersenyum getir. Dia memang sudah menjadi kakak iparnya, tapi hanya istri bayangan. Dan jika doa Zelina seperti itu, Nara tidak tahu harus bahagia atau tidak. Menjadi istri seorang Reynand Adiputra tidak mudah, penuh rasa sakit dan yang pasti terasa begitu payah.


"Kamu terlalu banyak harapan Ze, kamu bisa kecewa nantinya" kata Nara


Namun Zelina langsung menggeleng


"Berharap adalah salah satu sifat alamiah makhluk hidup kak. Masalah kecewa atau enggak nya, itu udah resiko nanti. Karena terkadang harapan itu bisa menguatkan hati kita disaat lagi rapuh" sahut Zelina

__ADS_1


Nara hanya tersenyum dan mengangguk


Zelina belum mengerti sesakit apa harapan yang tidak tersampaikan. Meski hidupnya juga tidak mudah, tapi dia masih punya orang orang yang menyayanginya sebagai tempat sandaran jika harapan nya tidak tercapai. Tapi Nara, dia hanya sendirian, sendirian menanti harapan yang semakin lama semakin mustahil untuk diraih.


"Yasudah, kalau gitu aku pamit ya kak. Jangan kapok jika besok aku datang lagi" pamit Zelina


"Tentu, perusahaan ini selalu terbuka kapanpun" jawab Nara


Zelina langsung beranjak dan berdiri dari sofa, begitu pula dengan Nara, namun tiba tiba dia kembali jatuh terduduk dengan ringisan diwajahnya membuat Zelina langsung terkejut melihat nya


"Kak, ada apa?" tanya Zelina cemas. Apalagi melihat wajah Nara yang memucat menahan sakit


Nara masih diam sembari menggigit bibir nya menahan sakit dipinggang nya yang datang lagi. Zelina semakin panik dan duduk kembali disamping Nara. Mengusap bahu Nara dengan lembut


"Kak" panggil Zelina


Nara menarik nafasnya dalam dalam dan menghembuskan nya perlahan


"Gak apa apa Ze, cuma pegel aja" jawab Nara yang berusaha tersenyum. Namun siapapun tahu jika dia sedang kesakitan sekarang


"Jangan bohong kak, dari tadi wajah kakak udah pucat. Dan sekarang kakak kesakitan. Kita kerumah sakit ya" ajak Zelina yang benar benar cemas, namun Nara langsung menggeleng pelan


"Enggak, aku udah biasa begini. Nanti juga sembuh sendiri." jawab Nara


"Beneran?" tanya Zelina masih memandang Nara dengan tidak enak


Nara mengangguk dan tersenyum seraya mengusap sekilas lengan Zelina, bahkan dapat Zelina rasakan jika tangan Nara begitu dingin.


"Kamu pulang gih, besok kemari lagi. Hari udah sore, nanti mama kamu nyari" ujar Nara


"Tapi bener kakak gak apa apa aku tinggal?" tanya Zelina lagi dan Nara langsung mengangguk


"Kalau ada apa apa, hubungi aku ya kak. Ini nomor ponsel aku" kata Zelina seraya mencatat nomor ponsel nya dibelakang dokumen Nara


Nara tersenyum dan mengangguk. Dia begitu senang karena Zelina cukup perhatian padanya. Dan akhirnya dengan terpaksa Zelina tetap pulang meninggalkan Nara sendirian diruangan itu menahan sakit yang semakin lama semakin menggigit.


Lama Nara diperusahaan, menunggu rasa sakitnya mereda. Bahkan saat dia keluar hari sudah mulai gelap dan gedung perusahaan nya sudah tampak sepi.


Sepertinya Arya tidak kembali lagi, tidak biasanya memang. Biasa nya setiap dia pergi meninjau proyek dia tetap selalu kembali dan melihat Nara. Tapi hari ini, asisten sekaligus orang terdekatnya itu tidak kembali padahal sudah sejak pagi dia pergi.


Dan setelah dengan bersusah payah menahan sakit nya Nara pulang membawa mobilnya sendiri. Dia tiba dirumah hari sudah malam. Rumah itu tampak gelap, tapi sudah ada mobil Reynand yang terparkir asal digarasi nya.


Nara turun dari mobil dengan perlahan lahan, sesekali dia mengusap pinggang nya yang berdenyut ngilu. Juga sepertinya dia mulai berdarah lagi. Dan semoga saja Reynand sedang tidur atau dikamar nya. Nara tidak ingin bertemu Reynand dalam keadaan begini. Dia harus membersihkan diri nya dulu agar terlihat lebih segar.


Nara membuka pintu yang lagi lagi tidak dikunci. Meraba dinding mencari saklar lampu berada. Dan disaat dia menemukan nya, Nara langsung menghidupkan lampu diruang tengah itu. Dan dia langsung terkejut saat melihat Reynand yang ternyata berdiri tidak jauh dari tempat nya berada,


"Rey, kenapa kamu disitu?" tanya Nara dengan heran. Tapi dia langsung bergidik ngerih melihat tatapan mata Reynand yang begitu tajam seperti menyimpan amarah yang begitu besar. Apa Nara sudah melakukan kesalahan lagi? Apa dia ada menyinggung lelaki ini sehingga Reynand memandang nya begitu. Apa gara gara madeleine pagi tadi??? Tidak mungkin kan


"Aaargggg sakit Rey" teriak Nara saat Reynand langsung menarik kuat lengan Nara masuk kedalam kamar nya. Langkah kaki Nara bahkan terseret mengikuti langkah besar Reynand


Brak


Tubuh Nara langsung dihempaskan oleh Reynand kelantai dengan begitu kuat. Nara menoleh kearah nya dan langsung memundurkan tubuhnya saat Reynand memandannya dengan wajah yang mengeras bahkan memerah


"A...ada apa?" tanya Nara begitu pelan. Dia tidak tahu dia melakukan kesalahan apa


"Kamu masih bertanya ada apa Anara polie. Tidak kah kamu sadar dengan kesalahan mu ha?" seru Reynand begitu menggelegar. Bahkan dapat Nara lihat jika nafas lelaki ini menggebu dengan tangan yang terkepal erat. Bahkan baru kali ini Nara melihat Reynand begitu marah

__ADS_1


"Rey,,, aku,,,,,"


"Dasar ******, kamu berani mempermainkan aku. Kamu berani bertemu dengan nya dibelakang ku Anara. Kamu berani Anara!!!!" bentak nya lagi. Nara langsung memejamkan matanya karena begitu takut melihat Reynand. Bertemu siapa yang dia maksud? Zelina kah? Tapi kenapa Reynand mengatai nya ******??


"Ternyata kamu memang wanita ular. Berani beraninya kamu berhubungan dengan dia dibelakang ku. Apa begini caramu untuk menyelamatkan perusahaan ha" teriak Reynand lagi. Dan sungguh Anara tidak mengerti apa yang diamaksud oleh Reynand


"Aku tidak tahu apa maksud mu Rey" seru Anara pula


Reynand langsung tersenyum sinis dan menarik kuat rambut Anara hingga wanita itu langsung berdiri dengan terpaksa. Emosi Reynand sudah mencapai batas nya, dia benar benar murka saat melihat foto foto yang diberikan oleh Cleo siang tadi


"Katakan apa hubungan mu dengan Bimantara?" geram Reynand


"Bimantara" gumam Nara ditengah ringisan kesakitan nya


"Katakan" teriak Reynand lagi. Nara kembali memejamkan matanya dengan kuat, bahkan dia merasa jika jantung nya hampir terlepas ditempatnya


"Aku... aku tidak ada hubungan apapun dengan dia" jawab Nara dengan suara yang bergetar takut. Tangan nya memegangi lengan Reynand yang semakin menarik kuat rambut nya


"Kamu mencoba menipuku Anara. " geram Reynand. Dia memandangi wajah pucat Nara dengan lekat. Rasa benci, kecewa dan perasaan lain membuat perasaan nya tidak menentu


"Kamu berani berdansa dengan nya, kamu berani bertemu diluar dengan dia,apa kamu lupa siapa kamu sekarang ha" bentak Reynand lagi. Dia menghampaskan tubuh Nara kedinding hingga tubuh itu terasa begitu remuk. Semua rasa sakit kembali bersatu ditubuh dan hatinya.


Nara membuka perlahan matanya yang berair, memandang mata tajam Reynand yang memerah


"Kenapa.... apa kamu tidak suka??" tanya Nara memandang lekat wajah yang tampak terkesiap itu


"Kamu...."


"Apa kamu cemburu?" tanya Nara lagi


Reynand langsung mencekik leher Nara membuat Nara kembali memejamkan matanya


"Kamu benar benar cari mati" geram nya yang semakin menguatkan cengkarama tangan nya dilher Nara


Wajah Nara langsung memerah namun pucat, dia kembali memandang wajah Reynand dengan lemah


"Kamu terus membohongi hatimu sendiri..... kamu.....kamu egois Rey..." ucap Nara dengan nada terputus putus karena cekikan dileher Reynand yang semakin kuat


"Kamu bisa berbuat, semaumu...kenapa...kenapa aku tidak boleh???" tanya Nara seolah membangunkan api didalam dada Reynand yang memang sudah mulai berkobar


Dan benar saja, mendengar itu Reynand semakin menggila, dia bahkan tidak sadar hampir membuat nafas Nara terputus, dia juga tidak melihat jika saat ini darah sudah membanjiri lantai dimana Nara berdiri


"Kamu memang harus merasakan hal yang membuat mu jera Nara. Aku sudah berbaik hati padamu beberapa hari ini. Tapi nyatanya kamu tidak bisa dibaiki. Aku akan membuat hidupmu hancur sehancurnya" ungkap Reynand. Nara hanya diam bahkan sinar matanya nyaris meredup, membuat Reynand langsung melepaskan cekikan dileher Nara. Membuat Nara langsung jatuh terduduk dan terkulai dilantai


"Kamu egois" gumam Nara


"Aku memang egois, aku memang tidak suka kamu bermain dibelakangku. Aku tidak suka Nara" bentak Reynand


Dia ingin menarik lagi rambut Nara, namun matanya seketika langsung melebar melihat darah ditempat Nara berpijak


"Untuk sekarang aku yang sabar Rey, dan kamu yang tidak menghargai. Tapi nanti mungkin kamu yang sadar dan aku yang akan pergi" gumam Nara ditengah kesakitan nya. Matanya memandang Reynand yang masih mematung ditempatnya


"Aaargghhhh"


Reynand berteriak begitu kuat seolah sedang mengeluarkan seluruh luapan emosinya. Mata Nara langsung terpejam saat Reynand mengepalkan tangan nya dan mengarahkan nya pada Nara


dan

__ADS_1


Buukkk


__ADS_2