
Malam ini Gendis sedang duduk disamping ranjang Bima. Dia baru saja menyuapi Bima makan. Bubur yang sedikit encer bercampur dengan asparagus. Itu juga hanya beberapa sendok saja Bima makan. Karena dia memang belum bisa memakan makanan yang berat berat.
Eyang putri sudah beristirahat dikamarnya. Mungkin dia kelelahan, jadi Gendis yang menemani Bima malam ini.
Bima memandang Gendis yang sedang meraih obatnya, wajah gadis ini juga terlihat lelah. Dan itu membuat Bima sungguh merasa bersalah. Apa Gendis memang tidak pernah beristirahat dirumah selama seminggu ini ketika dia tidak sadar???
"Minum lah" ujar Gendis seraya menyerahkan obat dan juga segelas air putih pada Bima. Bima meminumnya dengan cepat dan kembali menyerahkan gelasnya pada Gendis.
"Kenapa kamu tidak pulang dan beristirahat dirumah?" tanya Bima.
Gendis menggeleng pelan.
"Kasihan eyang, tidak ada yang menemani" jawab Gendis.
"Apa selama seminggu ini kamu tidak pulang kerumah?" tanya Bima lagi.
"Pulang, terkadang bergantian dengan mbak Naina yang menemani eyang. Hanya saja malam ini anak mbak Naina sedang sakit, jadi dia tidak bisa bermalam disini" jawab Gendis.
"Abi sakit?" gumam Bima
Gendis mengangguk.
"Pagi tadi dia masih baik baik saja, tapi tidak tahu kenapa siang nya dia malah demam. Mungkin karena virus dirumah sakit. Tubuhnya tidak tahan" jawab Gendis.
Bima hanya mengangguk saja dan kembali memandang Gendis.
"Bim..." panggil Gendis
"Kenapa?" tanya Bima dengan senyum nya.
"Waktu kamu sadar, nona Nara membisikkan sesuatu padamu, apa kamu mendengar nya?" tanya Gendis.
Bima terdiam sejenak, namun kemudian dia mengangguk dan tersenyum tipis.
"Apa kamu sudah sadar waktu itu?" tanya Gendis
"Sudah, aku bahkan mendengar semua perkataan kamu. Hanya saja, mataku masih terasa berat untuk terbuka" jawab Bima.
Gendis tertegun
"Kenapa kamu mau tahu apa yang dibisikkan Nara padaku?" tanya Bima
"Aku penasaran, karena begitu dia membisikkan sesuatu padamu, kamu langsung bangun" jawab Gendis dengan wajah nya yang terlihat kesal.
Bima tersenyum gemas memandang wajah Gendis yang seperti itu.
"Apa kamu cemburu?" goda Bima
Gendis langsung mendengus kesal.
"Tidak... aku hanya penasaran" sahut Gendis
__ADS_1
Bima terkekeh kecil melihat Gendis.
"Jangan tertawa. Perutmu sakit lagi nanti" ucap Gendis dengan begitu ketus.
"Wajahmu lucu jika sedang kesal begitu" jawab Bima
"Cepatlah katakan padaku. Aku tidak ingin memendam rasa penasaran ini Bim" ujar Gendis lagi.
"Bukan apa apa" jawab Bima
"Kamu ingin menutupi nya dari ku?" tuding Gendis. Namun Bima segera menggeleng.
"Kamu tidak serius untuk menikah dengan ku kan" ucap Gendis lagi. Dan entah kenapa matanya malah berair sekarang.
Bima tersenyum dan meraih tangan Gendis, namun Gendis menepisnya dan memalingkan wajahnya dari Bima.
"Kenapa jadi sensitif sekali hmm?" tanya Bima dengan lembut.
Namun Gendis masih saja diam. Dia kesal dan benar benar kesal, mungkin inilah yang dirasakan oleh Reynand selama ini. Dia pasti merasa tidak enak jika melihat kedekatan Nara dan Bima. Dan sekarang, Gendis yang merasakan nya. Apalagi dia pernah dikhianati oleh orang yang paling dia percayai, bagaimana mungkin hatinya tidak gelisah.
"Gendis..." panggil Bima saat Gendis hanya diam saja.
Namun Gendis tetap diam.
Bima menghela nafasnya sejenak dan memandang wajah kesal Gendis yang seperti ingin menangis.
Bima beranjak perlahan seraya sedikit meringis saat melakukan pergerakan, karena luka nya yang terasa nyeri. Dan itu membuat Gendis langsung menoleh pada Bima.
Bima tersenyum dan meraih tangan Gendis kembali.
"Bagaimana aku bisa diam jika kamu seperti itu" jawab Bima.
Gendis memalingkan wajahnya dan membiarkan tangan nya digenggam Bima.
"Kamu tahu kan jika aku sudah pernah dikhianati. Rasa sakit itu masih ada dan begitu berbekas. Tidak mudah sebenarnya bagiku untuk memulai hubungan baru lagi. Tapi bersama kamu, entah kenapa aku dengan cepat mengucapkan kata 'iya'. Dan jika kamu hanya mempermainkan aku, maka apakah aku masih berhak untuk berharap jika masih ada lelaki yang serius pada ku?" ungkap Gendis, dengan air mata yang semakin ingin menggenang keluar.
Bima tersenyum dan semakin mengeratkan genggaman tangan nya.
"Aku tahu rasanya patah hati itu seperti apa. Jadi aku tidak mungkin mempermainkan hati kamu Gendis" ucap Bima.
Gendis tertunduk, seraya mengusap air mata yang mulai menetes kembali. Entah kenapa bersama Bima dia benar benar menjadi gadis yang begitu cengeng.
"Kamu mau tahu apa yang dikatakan Nara padaku?" tanya Bima
Gendis kembali memandang Bima dengan lekat.
"Dia berkata, jika ada setangkai bunga mawar layu yang membutuhkan tempat untuk tumbuh. Dan jika tempat itu tidak ada, maka dia bisa layu dan mati" ucap Bima
Gendis mengernyit mendengar perkataan Bima.
Apa maksud nya itu?
__ADS_1
"Kamu..." ucap Bima, seraya memandang Gendis dengan tatapan yang begitu dalam.
"Aku?" gumam Gendis
Bima mengangguk dan tersenyum.
"Ya, kamu bunga mawar itu Gendis. Bunga mawar yang terlihat indah dan kuat dari luar, namun begitu rapuh jika tidak mendapatkan tempat yang baik. Dan tempat itu adalah aku. Itu adalah kata kata yang dibisikkan Nara padaku." ungkap Bima
Gendis kembali tertegun.
"Kamu membutuhkan aku untuk tumbuh dan memulihkan hatimu yang layu, dan aku membutuhkan kamu untuk menghiasi hati ku yang kosong. Bukan kah kita memang sudah ditakdirkan untuk bersama?" tanya Bima dengan senyum simpul nya.
Gendis langsung memalingkan wajahnya yang memerah. Membuat Bima semakin tersenyum.
"Jangan berfikiran yang buruk lagi tentang aku dan Nara. Aku memang pernah menginginkan dia untuk hidupku, tapi itu dulu ketika dia belum memiliki Reynand. Aku memang mengagumi nya dan jatuh hati padanya, tapi aku sadar dia bukan untuk ku. Dan sekarang, aku sudah menemukan kembali apa yang seharusnya menjadi milikku" ungkapan Bima membuat Gendis tidak bisa berkata apa apa.
"Gendis... tanpa sadar, kebersamaan kita sudah membuat kita sama sama melupakan kesedihan kita bukan?" ucap Bima
Gendis memandang Bima dengan perasaan yang aneh.
"Aku tidak tahu bagaimana mengungkapkan nya, tapi sungguh, kamu begitu cepat merebut hatiku dari semua hal yang pernah aku berikan untuk orang lain" ucap Bima
"Aku sudah jatuh hati padamu Gendis. Dan mungkin, ini cinta..." kata Bima lgi.
Gendis langsung mendengus senyum dan memalingkan wajahnya. Dan entah kenapa wajahnya serasa memanas mendengar ungkapan hati Bima.
"Jangan marah lagi, kamu alasan aku untuk tetap hidup selain eyang. Tidak ada yang lain" ujar Bima
Gendis mengangguk pelan, seraya tangan nya yang membalas genggaman tangan Bima.
"Jika begitu jangan lagi membuat ku kesal" pinta Gendis.
Bima tersenyum dan mengangguk.
"Ayo tersenyum dulu" pinta Bima
"Tidak mau" jawab Gendis.
"Ayolah, senyum kamu membuat rasa sakit ini berkurang Gendis" pinta Bima dengan wajah memelas nya, dan itu membuat Gendis tidak tahan untuk tidak tersenyum.
"Cantik" puji Bima.
"Kamu memang perayu yang handal" sahut Gendis yang kembali memalingkan wajah nya yang semakin merona.
Bima tersenyum memandang Gendis. Gadis cantik yang telah berhasil merebut segala perhatian nya dari Anara. Gadis cantik yang setiap hari selalu dia dengar suara nya disaat dia berada dialam bawah sadarnya. Ya, gadis cantik yang akan Bima perjuangkan untuk meraih kebahagiaan bersama sama.
..
'Bangunlah Bim... Ada bunga mawar layu yang begitu membutuhkan kamu untuk tempat dia tumbuh. Gantikan bunga teratai yang pernah kamu semai dihati dengan bunga mawar itu. Bunga mawar yang akan menjadi kebahagiaan untuk hidup kamu.'
__ADS_1