
Reynand membuka matanya perlahan. Kepalanya terasa berat dan sangat pusing. Suara desingan nyamuk dan gigitan gigitan sekawanan hewan penghisap darah itu ternyata mampu menyadarkan Reynand dari ketidaksadaran nya. Reynand meringis seraya memegangi kepalanya yang sakit, dia beranjak dari atas tanah dan duduk tersandar didinding aula.
Entah sudah berapa lama dia pingsan, dan kini hari sudah malam bahkan sangat gelap. Hanya pantulan lampu taman dan juga lampu dari rumah Eyang putri yang menjadi penerangan malam itu. Dan entah kenapa tidak ada seorang pun yang membangunkan nya, padahal begitu banyak orang orang yang ada sekitaran rumah besar ini. Reynand dibiarkan begitu saja dalam penderitaan nya.
Reynand mendongak, memejamkan mata sekilas seraya menarik nafas dalam dalam. Dia membuka matanya dan memandang langit malam yang tampak kosong dan sangat gelap. Dan ini benar benar mencerminkan perasaan nya sekarang. Sesakit inikah hari hari Nara dulu??? yang selalu dia abaikan dan dia acuhkan ditengah tengah kesakitan yang mendera.
Reynand tersenyum miris, pandangan matanya kosong. Jika benar sesakit ini maka akan dia terima. Dia ingin Nara sembuh dan bahagia meski kini dia yang tidak akan lagi mendapatkan cinta itu.
Tapi bagaimana bisa ada didekat Nara setiap saat, jika perasaan aneh ini selalu datang dan membuatnya ketakutan. Rasa trauma ketika melihat darah yang sangat banyak dan wajah kesakitan itu selalu menghantui Reynand setiap malam. Dan kini dia dapatkan lagi pada Anara, istrinya.
Yah, Reynand tidak tahu bagaimana menahan rasa trauma ini. Sungguh, dunia hanya tahu jika dia adalah seorang lelaki yang angkuh dan penuh kesombongan. Namun disisi lain, Reynand hanyalah seorang lelaki pengecut yang tenggelam dalam trauma masa lalunya dan semua di tutupi dengan sifat angkuh yang dia miliki.
Masih ingat benar didalam memori kepala nya, apa yang membuat tidur nya tidak lagi pernah nyenyak dan hidupnya tidak lagi terasa indah. Sepuluh tahun silam ketika dia masih menjadi pemuda tampan yang penuh dengan senyuman.
Flash back....
Sore itu seperti biasa, Reynand melajukan motor nya untuk berjalan jalan disekitaran tempat dia bersekolah SMA. Sudah setahun dia lulus dari sana, dan tahun ini dia sudah berkuliah disalah satu universitas ternama yang ada diibukota.
Setiap ada waktu luang, Reynand selalu mendatangi sebuah pondok kecil dibawah pohon pohon kemuning yang tertamam rapi dipinggir jalan. Sebuah tempat yang menjadi pertemuan nya dengan remaja cantik yang dia sebut sebagai adik kecilnya.
Namun sejak pertemuan terakhir kali dengan remaja cantik itu, Reynand tidak pernah lagi menemui nya. Bahkan Reynand juga sudah pernah mencari ke SMP tempat remaja cantik itu sekolah. Tapi nihil, pihak sekolah berkata jika remaja itu sudah pindah sekolah, tepat sehari setelah Reynand menolongnya.
Dan hanya seperti inilah yang Reynand lakukan, berkeliling keliling berharap remaja cantik itu bisa muncul dan menjumpainya. Reynand sama sekali tidak tahu siapa gadis itu, bahkan namanya saja dia tidak tahu, karena dia berfikir jika mereka akan bertemu lagi karena saat itu Reynand sudah ditunggu oleh kakeknya. Tapi kenyataan nya, sampai hari ini Reynand kehilangan jejaknya. Remaja cantik yang menjadi penarik hati.
Setelah puas berkeliling, Reynand memutuskan untuk kerumah paman nya, sudah sangat lama dia tidak bertemu dengan paman nya itu. Adik dari ayah Reynand, lebih tepatnya......kembaran ayahnya.
Reynand memakirkan motornya tepat didepan rumah besar paman nya. Rumah itu selalu terlihat sepi dan suram, terkadang dia selalu takut untuk menjenguk pamannya, entah karena apa, tapi pamannya itu memiliki sifat yang sedikit aneh. Dia suka bermain dengan hal hal diluar nalar, seperti eksperimen dengan binatang binatang yang dia jadikan alat percobaan. Pamannya adalah seorang ilmuan, sangat jauh melenceng dari silsilah keluarga ayahnya yang semua adalah pengusaha. Tapi beberapa tahun terakhir dia tidak lagi bekerja, Reynand juga tidak tahu kenapa.
Sebenarnya kakek Reynand tidak memperbolehkan Reynand untuk datang sendiri kerumah ini, jika ingin datang, Reynand pasti selalu bersama nya. Tapi hari ini, Reynand memutuskan untuk datang sendiri, lagi pula hanya sebentar. Jadi, tidak masalah bukan???
Pamannya sudah menikah, tapi sampai saat ini belum juga memiliki anak. Jadi terkadang dia meminta Reynand untuk menjenguk nya agar rasa sepinya dapat berkurang.
Tidak ada siapapun dirumah ini, paman Reynand hanya tinggal berdua bersama istrinya. Padahal rumah mereka cukup besar, namun sama sekali pamannya tidak menginginkan ada orang lain yang menganggu kehidupan mereka. Akibatnya rumah ini menjadi seperti rumah tidak berpenghuni.
__ADS_1
"Paman!!!" teriak Reynand seraya menggedor gedor pintu yang sudah tampak tidak terawat.
"Paman!!! Bibi!!!" teriak Reynand lagi. Dia mendorong pintu besar itu dan langsung masuk kedalam rumah. Seperti biasa aroma tidak sedap langsung menguar dihidung nya. Hal yang sudah sering dia temui jika datang kerumah ini. Reynand sudah tidak merasa aneh lagi.
Reynand masuk kedalam rumah dan memandangi rumah itu, mungkin sudah ada enam bulan dia tidak datang kerumah ini.
"Paman, bibi!!! Rey datang!!!" teriak Reynand lagi. Namun tidak ada juga jawaban.
"Kemana mereka" gumam Reynand
Akhirnya Reynand memilih untuk mengitari rumah itu. Dia berjalan menuju arah belakang rumah, dimana disana terdapat beberapa hewan peliharaan paman nya. Seperti beberapa ekor kuda, dan juga seekor macam tutul. Hal yang Reynand sukai adalah bermain dengan macan tutul yang sudah jinak itu.
Namun saat tiba dibelakang, matanya memicing, memandang heran kandang kuda yang sudah tampak kosong dan terbuka pintu kandang nya. Begitu pula dengan kandang macan tutul itu. Reynand berjalan menyusuri daerah sekitaran kandang yang sudah tidak terawat lagi. Dia benar benar bingung, kemana semua hewan hewan ini?? Apa sudah dijual???
Namun tiba tiba langkah kaki nya terhenti saat mendengar sebuah ringisan dan jeritan kesakitan yang terdengar memilukan. Seketika bulu kuduk Reynand langsung meremang. Dia menoleh kesana kemari mencari dimana suara itu berasal. Seperti suara seorang wanita????
Langkah kaki Reynand mulai kembali melangkah, begitu pelan karena dia tidak ingin membuat suara sedikitpun. Dia memasang telinga nya dengan tajam. Dan semakin jauh dia berjalan, semakin terdengar kuat pula jeritan kesakitan itu.
Jantung Reynang berdetak dengan kuat, bahkan degup nya bisa dia dengar sendiri. Hari sudah senja hingga cahaya matahari sudah meredup dan sekarang hanya tinggal remang jingga saja, membuat suasana terasa benar benar mencekam.
Reynand terus melangkah, dan sepertinya dia mengenal kemana kakinya melangkah. Kesebuah kolam kolam ikan milik paman nya yang sudah terbengkalai. Bahkan semak sudah tinggi menutupi kolam itu.
Jantung Reynand semakin bergemuruh, bahkan nafasnya terasa tersengal sangking dia takut dan gugup. Ada sebuah pohon besar disana, Reynand berdiri disebalik pohon itu. Dia menarik nafasnya terlebih dahulu sebelum menyiapkan hatinya untuk melihat apa yang sebenar nya terjadi disana. Suara kesakitan itu masih terdengar, bahkan sangat lirih dan menyakitkan.
Reynand mulai membalikkan tubuhnya, memiringkan sedikit kepalanya dan mengintip dari sebalik batang pohon besar yang tertutupi oleh sedikit semak.
Dan.... mata Reynand langsung terbelalak lebar dengan jantung yang terasa dihantam oleh sesuatu. Pemandangan yang begitu mengerihkan ada didepan matanya sekarang. Bahkan dia langsung jatuh dan terduduk karena kakinya yang tiba tiba lemas melihat pemandangan mengerihkan itu. Membuat seorang pria yang sedang memegang sebuah pedang tampak menyelis kearahnya. Wajah pria itu begitu menyeramkan karena sudah dipenuhi dengan percikan darah. Dan yang lebih membuat Reynand tegang dan takut adalah hewan hewan yang tergantung terbalik tanpa kepala dan darah yang mengucur memenuhi kolam dibawah nya, hingga kini kolam itu sudah seperti kolam darah.
Dan yang lebih parah adalah, bibi nya juga ikut digantung terbalik dengan luka disekujur tubuhnya. Wajah memelasnya, wajah kesakitan nya, dan wajah pucat pasih yang sudah tidak berdaya membuat Reynand tidak bisa berkata apa apa lagi.
"Reynand..... kamu datang nak" sapa paman Reynand dengan senyum yang menyeringai dan begitu mengerihkan.
Reynand menggeleng dan memundurkan langkah saat paman nya berjalan mendekat kearah Reynand yang memucat dan benar benar syok melihat ini.
__ADS_1
"Pa....paman... kenapa paman melakukan ini!!!" teriak Reynand dengan suara yang terdengar begitu bergetar. Dia benar benar takut sekarang. Dia terus memundurkan tubuhnya untuk menjauh, namun sialnya dia sudah benar benar lemas
"Kenapa??? Karena paman suka. Lagipula ini eksprimen paman terakhir. Kata orang mandi darah bisa membuat kulit menjadi lebih kencang dan awet muda. Dan kebetulan kamu kemari, maka kamu harus mencoba nya" ujar paman Reynand seraya masih membawa pedang yang berlumuran darah itu
Reynand menggeleng kuat, paman nya memang sudah gila dan psikopat. Seharusnya Reynand tidak kemari hari ini jika tahu akan seperti ini jadinya
"Ayo kemari anak paman" ajak paman Reynand
Reynand menggeleng kuat dengan wajah yang sudah memucat, dia kembali memandang bibinya yang sudah lemas tidak berdaya dengan wajah yang bagai mayat hidup namun masih meringis dan merintih. Sekuat tenaga Reynand mencoba bangun, namun tiba tiba sebuah pedang langsung menancap disebelah nya, membuat Reynand mematung dengan jantung yang hampir lepas. Dia memperhatikan pedang berdarah itu dengan ngeri. Dan tiba tiba, tangan nya dicekal kuat oleh seseorang hingga membuat nya lagi lagi terkejut setengah mati.
"Tidak....lepas!!!" teriak Reynand sekuat tenaga nya. Namun paman Reynand sudah mencengkram lengan Reynand dengan kuat. Dia menarik lengan Reynand hingga pemuda itu langsung berdiri dengan kaki yang bergetar
"Paman..jangan!!!" teriak Reynand seraya terus memukul dan memberontak. Tapi entah kenapa tenaga pamannya cukup kuat, atau mungkin Reynand yang sudah lemas???
"Diam dan menurutlah nak" ucap paman Reynand
Reynand masih terus memberontak, namun tiba tiba tubuhnya malah didorong masuk kedalam kolam darah itu oleh paman nya.
Reynand terkejut dan langsung memejamkan matanya. Seketika tubuhnya langsung terendam dilinangan air kolam yang sudah bercampur dengan darah. Dan tentu saja tubuhnya sudah bewarna merah sekarang. Bau amis, anyir dan karat benar benar membuat Reynand ingin muntah dan pingsan. Reynand mencoba untuk keluar, namun ketika membuka mata, pemandangan yang dia lihat adalah wajah kesakitan bibinya yang memandang nya dengan pedih dan begitu pilu, karena dia memang berada tepat dihadapan wanita itu
Mata Reynand seketika berkaca kaca, sungguh dia tidak sanggup melihat semua ini. Serasa mimpi yang paling buruk dalam hidup nya. Tubuh Reynand bergetar hebat, jantung nya berdenyut dengan ngilu. Tidak ada siapapun disini yang bisa menolongnya dari kegilaan paman nya ini. Dan Reynand benar benar takut sekarang, apalagi mendengar tertawaan paman nya yang begitu mengerihkan
"Bermainlah dulu Rey. Bukankah enak mandi didalam kolam darah" ucap paman Reynand, seraya memainkan pedangnya lagi dan menyayatkan pedang itu ditubuh bibinya. Sungguh Reynand begitu takut, apalagi melihat wajah kesakitan itu yang semakin lama semakin tidak lagi bersuara.
"Paman tolong jangan" lirih Reynand dengan suara bergetar dan air mata yang keluar. Dia benar benar lemas dan tidak sanggup untuk naik keatas. Tanah nya begitu licin, juga tubuhnya yang sudah lemas tidak berdaya. Ya, siapa yang akan sanggup jika ada dikeadaan yang mengerihkan seperti ini.
Namun disaat saat dia mulai tidak terkendali suara kakek nya terdengar menggelegar disana
"Agas....!!!!"
Flashback off
Sejak saat itu, Reynand benar benar tidak berani lagi melihat darah yang begitu banyak. Dia benar benar takut dan trauma. Kejadian itu adalah kejadian yang mengerihkan dalam sejarah hidupnya. Bahkan karena kejadian itu kakek dan ayahnya membawa Reynand kepsikiater dan Reynand juga sempat direhabilitasi selama setahun untuk menyehatkan kembali mental nya yang sempat down dan tertekan. Bahkan karena itu pula Reynand tidak lagi tinggal bersama orang tuanya, dia tinggal bersama kakek nya untuk beberapa tahun. Dan setelah kakek nya meninggal, baru lah Reynand kembali pada orang tuanya. Wajah tuan Abas dan tuan Agas yang begitu mirip membuat Reynand sempat takut. Namun seiring berjalan nya waktu, rasa trauma dengan wajah itu bisa dia atasi. Namun dengan darah dan wajah kesakitan itu, Reynand benar benar trauma. Dan sialnya sekarang dia malah harus bisa menghadapi nya.
__ADS_1
Ini adalah ujian terberat nya lagi.
Nara.... semoga kamu bisa sembuh dan bahagia lagi... Harap Reynand.