
Oktober telah berganti, namun kenapa dipergantian bulan ini terasa begitu sulit untuk semua orang. Bahkan musim hujan sudah mulai berganti dengan musim panas. Seperti pagi ini, cuaca begitu cerah, namun tidak dengan seorang lelaki yang datang dengan wajah kusut nya keperusahaan Adidaksa.
Reynand, berjalan dengan tergesa menuju keperusahaan nya. Dia datang terlambat dan hari sudah menjelang siang karena dia harus mengurus mama nya yang tiba tiba drop, entah kenapa, tapi mungkin karena fikiran nya yang tidak lagi tenang. Apalagi setelah melihat pertengkaran nya dan tuan Abas malam tadi. Semuanya kacau dan tidak terkendali, membuat Reynand benar benar pusing. Dia bahkan belum sempat melihat keadaan Nara dirumah sakit. Reynand harus menyelesaikan masalah nya terlebih dahulu diperusahaan. Dia ingin mencari tahu tentang surat perjanjian nya dengan kakek nya dulu. Semua berkas asli itu ada dibrankas perusahaan bersama dengan aset aset penting lain nya. Hanya dia yang tahu kode sandi brankas itu, dan seharusnya semua aman, tapi apakah begitu????
Pintu langsung dibuka oleh Reynand dengan kasar. Wajahnya begitu kusut dan semakin dingin, bahkan dia mengabaikan sapaan sekretaris nya.
Namun mata Reynand sedikit memicing dan dia terhenti diambang pintu ketika melihat tuan Abas yang kini telah duduk dikursi kebanggaannya. Pria paruh baya itu ditemani oleh Guntur yang sedang memegang beberapa berkas ditangan nya. Wajah mereka tampak sedikit bereaksi melihat kemunculan Reynand yang masuk dengan tiba tiba.
"Apa kamu tidak tahu lagi caranya mengetuk pintu tuan Reynand?" ucap tuan Abas pada Reynand. Wajah tua nya terlihat begitu angkuh, dan bahkan Reynand lupa kapan terakhir kalinya dia melihat wajah teduh ayahnya, mungkin sekitar empat tahun lalu dimana tuan Bagasyaksa masih hidup.
"Apa anda sudah mengambil alih tempat itu tanpa izin dari ku tuan Abas?" tanya Reynand memandang tajam tuan Abas dan Guntur. Dia berjalan mendekat kearah mereka dengan langkah pelan namun pasti.
Tuan Abas tersenyum sinis. Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam laci meja, dan benda itu membuat Reynand terkesiap dan membelalakan matanya.
"Kalian....bagaimana bisa" ucapnya terperangah melihat berkas berkas perusahaan yang sudah ada ditangan tuan Abas. Dan baru Reynand sadari jika yang ada ditangan Guntur juga semua nya adalah aset aset penting milik keluarga Adiputra. Padahal kode sandi brankas sudah dia ubah menggunakan teknologi yang cukup canggih, tapi kenapa bisa mereka membukanya?????
"Kamu mau mencurangi ku dengan mengganti kode sandi nya ha? Apa kamu lupa jika sejak dulu kode brangkas itu juga memerlukan sidik jari ku?" tanya tuan Abas dengan senyum sinis nya.
Reynand menggeleng tidak percaya, dia merubah sandi itu karena dia curiga jika ayah nya dan Guntur memang bekerja sama untuk merebut dan mengacaukan semua nya. Dan lihat sekarang, semua nya terjadi. Padahal tuan Bagasyaksa sudah meminta Reynand untuk menjaga perusahaan dengan baik. Namun kenyataan nya dia masih saja tidak bisa. Apalagi ahli waris masih atas nama tuan Abas. Dan sampai sekarang, Reynand juga tidak tahu kenapa kakek nya meminta Reynand yang mengurus perusahaan dan menjaga aset aset penting itu, padahal tuan Abas juga anak nya. Tapi memang, sejak kepergian tuan besar Bagasyaksa, tuan Abas memang jauh berubah. Dia sudah seperti orang lain, bukan lagi seperti ayah yang menjadi pedoman bagi Reynand.
"Mulai sekarang, kamu tidak punya hak lagi atas perusahaan ini. Kamu sudah lihat, semua nya adalah atas namaku. Dan seluruh saham ini juga sudah atas namaku." desis tuan Abas
Reynand mengepalkan tangan nya dan memandang benci orang tua yang dia sebut sebagai papa itu.
"Apa begini caramu membalas semua yang sudah aku lakukan?" geram Reynand. Dan melihat kemarahan diwajah Reynand, tuan Abas menjadi tertawa kecil. Dia menyimpan kembali semua berkas berkas nya kedalam laci, lalu menoleh kembali kearah Reynand.
"Aku tidak perduli, itu memang sudah tugas mu. Bukan kah kamu yang memang ditugaskan untuk memajukan perusahaan, dan kini aku memang hanya tinggal menikmati hasil nya" jawab tuan Abas begitu enteng nya. Reynand benar benar tidak bisa menahan emosi nya mendengar perkataan pria tua itu
"Ah ya, jika kamu masih ingin memiliki pekerjaan, kamu masih bisa bekerja diperusahaan ini. Lowongan office boy masih ada yang menunggumu" ucap tuan Abas begitu menghina
"Kurang ajar" umpat Reynand yang langsung berjalan dengan cepat dan penuh emosi kearah tuan Abas, namun dengan segera Guntur menghalangi nya
"Pergilah tuan, jika anda berani maka anda bisa dikenakan sanksi" ucap Guntur yang menarik lengan Reynand dengan kuat
"Kamu juga berani mengkhianati ku. Padahal kamu adalah orang pilihan kakek" geram Reynand pada Guntur yang masih menahan lengan nya
"Saya tidak pernah berkhianat" jawab nya dengan cepat
Reynand memberontak kuat hingga cengkraman tangan Guntur langsung terlepas. Dia ingin menghajar wajah Guntur, namun Guntur dapat menghindar dengan cepat
"Memang brengsek, kalian memang brengsek. Aku tidak terima, aku akan menuntut ini. Tidak perduli bahwa kamu adalah ayahku" ancam Reynand dengan nafas yang menggebu, bahkan wajahnya begitu memerah memendam emosi yang begitu mendalam. Namun tuan Abas masih terlihat tenang dan memandang nya dengan remeh
__ADS_1
"Apa yang mau kamu tuntut. Harta? Aset? Atau jabatan. Semua tidak akan berguna, orang orang hanya tahu jika kamu adalah pekerja, bukan pemilik!!!" seru Tuan Abas begitu sinis. Senyum kemenangan langsung terpancar diwajahnya membuat Reynand semakin emsoi
Dia langsung menendang meja tuan Abas dengan kuat hingga semua barang barang yang ada diatas meja langsung jatuh berhamburan. Reynand tidak terima ini, benar benar tidak terima. Kenapa ayahnya benar benar tega dan menjadi serakah seperti ini???
Dia ingin menghajar kembali wajah tua itu, namun tiba tiba beberapa bodyguard Adidaksa masuk kedalam dengan cepat dan segera memegang kedua lengan Reynand dengan kuat
"Lepaskan aku brengsek!!!" teriak Reynand begitu kuat. Dia mencoba memberontak, namun cengkraman dilengan nya begitu kuat membuat nya tidak berkutik
"Kamu ingat ini anak muda. Sudah cukup perjuangan mu untuk perusahaan ini. Tenaga mu tidak lagi diperlukan. Dan memang aku akui, semua aset yang seharus nya menjadi milikmu, telah aku bekukan dan aku alihkan atas namaku. Itu karena persyaratan mu belum cukup, jadi lebih baik kamu mencari pekerjaan lain saja" ungkap tuan Abas
"Kamu, kamu memang ayah bajingan. Kamu bahkan ingin menghancurkan perusaahan yang telah susah payah dibangun kakek. Apa kamu tidak waras ha!!!" teriak Reynand begitu menggebu. Namun tuan Abas malah kembali terkekeh
"Apa perduli ku" sahutnya dengan enteng. Dan sungguh demi apapun, Reynand benar benar ingin menghajar dan menghancurkan wajah tua itu. Kenapa ayah nya bisa seperti ini, apa yang salah? Apa yang terjadi? Ini bukan ayahnya, ayahnya tidak seperti ini.
"Usir dia dan jangan biarkan dia masuk keperusahaan ini lagi" kata tuan Abas dengan kejam nya
Mata Reynand melebar sempurna, memandang wajah tua itu dengan kebencian yang mendalam.
"Kamu memang iblis berbentuk manusia" umpat Reynand, namun tuan Abas hanya santai dan mengibaskan tangan pada kedua bodyguard nya untuk membawa Reynand keluar. Bahkan bukan lagi membawa, melainkan menyeret Reynand yang mencoba memberontak
"Lepaskan brengsek!!" teriak Reynand saat mereka membawa Reynand keluar dari ruangan itu. Bahkan semua karyawan terutama petinggi perusahaan yang ada dilantai itu begitu terkejut melihat Reynand diseret paksa seperti itu. Kenapa tuan muda mereka diperlakukan seperti itu? Apa yang telah terjadi sebenar nya? Apa dia melakukan kesalahan, bukan kah selama ini dia bekerja dengan penuh kesempurnaan? Semua pertanyaan langsung menguar diotak bawahan Reynand.
"Maaf tuan muda, kami hanya menjalankan perintah" ucap salah seorang dari bodyguard itu
Nafas Reynand menggebu, dia memandang tajam kedua orang itu dan langsung berlalu keluar dari perusahaan. Dia harus bisa mengontrol emosi nya, jika tidak, maka dia yang akan dibuat malu oleh satu perusahaan karena seorang Reynand Adiputra yang terkenal angkuh dan berkuasa diseret paksa dari perusahaan yang telah dibesarkan nya sendiri. Benar benar memalukan.
Reynand berjalan keluar dari perusahaan itu dengan wajah kusut dan penampilan yang acak acakan, membuat semua karyawan yang memandang nya begitu heran. Reynand yang penuh dengan kesempurnaan hari ini terlihat begitu kusut dan emosi, bahkan tidak ada satupun dari mereka yang berani menegur pria itu. Tapi tidak akan lama lagi, mereka pasti akan mendengar kabar yang mengejutkan, jika presdir mereka telah didepak dari perusahaan nya sendiri, bahkan yang melakukan itu adalah orang tua nya sendiri.
Reynand masuk kedalam mobilnya, dan membanting pintu mobil itu dengan kuat. Melajukan mobilnya dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Tidak ada tujuan, kepala nya benar benar penuh dengan apa yang telah terjadi. Bisa bisanya dia didepak dari perusahaan nya sendiri, dan itu dilakukan oleh dua pengkhianat brengsek itu. Sungguh Reynand benar benar tidak habis fikir.
"Kalian akan aku balas nanti. Jangan fikir jika aku tidak ada disana aku akan menjadi gelandangan" geram nya begitu penuh dendam. Dia tidak memperdulikan bisa bekerja lagi atau tidak disana, dia hanya tidak terima jika ayah nya dan juga Guntur begitu tega mengkhianati perjuangan nya selama ini. Ya, Reynand benar benar tidak menyangka.
Reynand memutar kemudi nya menuju rumah sakit tempat Nara dirawat. Namun ditengah perjalanan, ponsel nya berbunyi. Tidak cukup sekali, namun berkali kali.
Dia menoleh kesal pada ponsel yang ada didashboard mobil. Melirik siapa yang menelpon nya dengan begitu berisik. Nama Cleo tertera disana, dan Reynand segera mengangkat panggilan itu dengan wajah kesal. Namun dia lebih kesal lagi saat Cleo mengucapkan sesuatu padanya
"Apa kamu sudah begitu sibuk hingga tidak ingin lagi mengangkat panggilan ku tuan Reynand?" tanya Cleo dari ujung sana
"Ada apa?" tanya Reynand yang malas untuk berdebat kembali, kepala nya terasa begitu ingin pecah saat ini
"Tidak ada, aku hanya ingin bilang, jika aku menyudahi hubungan kita" jawab Cleo
__ADS_1
dan
Ciiiitttttt
Reynand langsung mengerem mendadak mobil nya, hingga ban mobil itu langsung berputar dan bergesek nyaring dijalanan aspal siang itu. Suara klakson mobil pengendara yang lain saling bersahutan nyaring karena kesal dengan Reynand yang tidak tahu aturan.
"Apa katamu?" tanya Reynand dengan jantung yang kembali bergemuruh
"Sebelum kamu mengakhiri hubungan kita. Lebih baik aku yang mengakhirinya. Terimakasih untuk tiga tahun ini. Dan terimakasih untuk semua pengkhianatan mu" ucap Cleo yang langsung mematikan panggilan itu.
Reynand mematung, terdiam dengan fikiran yang melayang. Cleo memutuskan hubungan mereka???? Benarkah????
Reynand memejamkan matanya dengan erat dan rahang yang semakin mengeras sempurna. Apalagi ini, kenapa disaat seperti ini???
Reynand menggeram, melemparkan ponsel nya kekursi sebelah dan memukul setir mobilnya dengan kuat. Tidak, dia tidak boleh seperti ini. Bukankah dengan keputusan Cleo ini tidak akan membuat nya bersusah payah untuk meninggalkan gadis itu. Dia sudah yakin dengan hatinya untuk memilih Anara, meskipun tetap saja rasa sakit itu pasti ada, apalagi hubungan nya dengan Cleo yang juga sudah lama. Dan dialah yang telah mengkhianati perasaan mereka. Tapi mungkin ini memang yang terbaik.
Sakit, tentu saja. Tapi jika Cleo sudah meminta itu, maka Reynand hanya bisa diam. Cleo sudah mendapatkan pendonor darah yang akan menjadi pengganti Nara, dan itu sudah cukup untuk membuat hatinya tenang. Sudah cukup dua tahun ini Cleo menghabiskan darah Nara dan sekarang malah Nara yang harus berakhir dirumah sakit. Entah ini karma atau apa, semua datang secara bersamaan.
Reynand kembali melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Fikiran nya mengambang. Semua terasa seperti sesuatu yang tajam menghunus tubuhnya tanpa terlihat membuat otaknya tidak bisa berfikir dengan jernih sekarang.
Ibunya yang dirawat dirumah sakit, ayahnya yang mengkhianati semua kerja keras nya selama ini dan juga Cleo yang memutuskan hubungan mereka begitu saja. Tentu itu bukan hal yang mudah untuk seorang Reynand Adiputra. Fikiran nya buntu, tidak ada apapun yang bisa dia fikirkan sekarang selain pergi menemui Anara. Karena tanpa sadar, selama ini memang begitu lah yang dilakukan nya. Kaki nya tanpa sadar selalu melangkah pulang menuju Anara ketika dia memiliki sebuah beban yang tidak bisa dia hadapi sendiri. Dan ketika sudah melihat Nara, beban nya terasa hilang, meski dia selalu melampiaskan nya pada istri yang selalu dia abaikan itu.
Reynand melangkah dengan lunglai melewati setiap lorong dan ruang rumah sakit menuju keruangan Nara. Dia tersenyum dengan getir mengingat apa yang terjadi hari ini. Mungkin kah semua ini adalah karma yang dibalas secara instan atas perlakuan keji nya pada Nara selama ini??? Mungkin kah Tuhan begitu marah karena dia telah mengabaikan cinta istrinya sendiri??? Mungkinkah begitu hingga dia mendapatkan masalah yang bertubi tubi?
Ya, sepertinya karma memang sedang berlangsung, dan Reynand harus meminta maaf serta ampunan dari Nara. Dia berdosa, dan dia bersalah. Dia harus bisa membuang egonya dan mengakui jika dia memang telah bersalah.
Reynand membuka pintu ruangan Nara dengan cepat. Namun dia mematung melihat ruangan itu yang telah kosong. Tidak ada siapapun didalam sana. Bahkan ranjang nya telah rapi dan tidak lagi berpenghuni. Kemana Nara??? Apa dia salah kamar????
Reynand kembali menoleh kedaun pintu. Ruang melati, benar ... ini memang kamar Nara. Lalu kemana pergi nya gadis itu.
"Tuan anda mencari siapa?" tanya seorang perawat yang kebetulan lewat membuat Reynand terkesiap kaget
"Dimana pasien yang dirawat disini?" tanya Reynand. Jantung nya mulai bergemuruh dengan hebat bahkan nyaris berdenyut ngilu
"Pasien yang disini sudah keluar pagi tadi" jawab perawat itu yang segera berlalu meninggalkan Reynand seorang diri.
Reynand mematung, hatinya kembali gelisah dan resah.
Apa Anara pulang???
Tapi malam tadi dia bahkan belum sadarkan diri.
__ADS_1
Lalu kemana istrinya itu
Tidak mungkin dia juga pergi bukan????