
Reynand memandang lekat kearah Bimantara yang juga terperangah dengan kehadiran Reynand. Pandangan mata mereka bertabrakan saling memandang dengan perasaan yang tidak menentu. Pasal nya mereka sama sama tidak menyangka kenapa bisa mereka ada disini, dan yang lebih parah adalah...kenapa karena Nara?
Suara kesakitan Nara membuyarkan pandangan Reynand dari Bimantara. Dia langsung merangkul lengan Nara dengan mengusap tengkuk istrinya. Namun Bimantara juga ikut mendekat dan mengusap lengan Nara yang masih memegangi perut nya.
"Jangan sentuh istriku" sergah Reynand yang langsung menepis tangan Bimantara.
Bimantara begitu terkejut mendengar kata istri yang keluar dari mulut Reynand. Apa maksudnya ini?
"Istri" gumam Bimantara memandang bingung pada Reynand yang masih mengurus Nara.
Arya dan Eyang putri hanya diam dan memandangi kedua lelaki ini. Sepertinya ini akan menjadi hal yang sedikit rumit nantinya.
Bimantara menoleh pada Eyang putri yang tampak mengangguk. Seolah membenarkan apa yang baru saja dia dengar. Bimantara baru tiba sore ini, dia berniat untuk menjenguk Nara yang dia antarkan ketempat ini hampir dua minggu yang lalu. Dia belum sempat menjenguk Nara karena perusahaan yang sedikit ada masalah karena ulah Reynand waktu itu. Dan dia malah tidak menyangka jika ternyata Reynand dan Nara sudah menikah. Tapi...sejak kapan???
Waktu itu dia tidak sengaja bertemu dengan Arya disebuah halte bis. Arya ingin menjenguk Nara dirumah sakit, dan karena itu Bimantara ikut mengantarnya. Dan dia malah dibuat terkejut dengan keadaan Nara yang melemah apalagi ketika mengetahui tentang penyakitnya.
Nara meminta nya untuk membawa dia pergi dengan alasan ingin mencari suasana baru setelah perusahaan nya bangkrut.
Karena tidak tahu harus membawa kemana, Bimantara akhirnya membawa Nara kerumah Eyang putri, neneknya.
"Muntahkan semua, jangan ditahan" ujar Eyang putri pada Nara.
Nara terlihat benar benar sudah sangat lemah, dari mulai makanan yang dikonsumsi Nara hari ini hingga cairan kehitaman yang begitu pekat keluar dari mulutnya. Tubuh nya bergetar dan begitu dingin, Reynand yang terus mengusap tengkuk nya begitu sedih melihat Nara yang seperti ini. Apalagi wajah Nara begitu pucat dengan keringat dingin yang mengalir deras.
Nara tidak bisa berbuat apapun saat Reynand yang menolong nya, bahkan untuk berbicara saja dia sudah tidak sanggup lagi. Rasa sakit diperut, tenggorokan dan dipinggang nya terasa begitu menggigit membuat nya benar benar tidak berdaya. Selama hampir dua minggu dia menjalani pengobatan ini, dan selalu seperti ini yang dia rasakan setiap meminum ramuan dari Eyang putri
"Nara" Reynand terlihat panik saat tubuh Nara terkulai lemah dan jatuh merosot kelantai, namun tidak sampai jatuh karena Reynand yang segera menahan tubuh kurus nan layu itu.
Mata Nara terpejam dengan helaan nafas yang terasa berat. Kepala nya masih Reynand sandarkan kedada nya. Tangan Reynand mengusap wajah pucat yang sudah basah dengan keringat. Reynand benar benar tidak tega melihat Nara yang seperti ini. Dan yang lebih membuat nya hancur adalah kenapa baru sekarang dia datang dan melihat kesakitan Nara? Kenapa tidak dari dulu? Kenapa tidak sejak Nara masih mencintainya.
"Nyonya?" Reynand mendongak kearah Eyang putri yang masih menuangkan segelas air didalam cawan. Siapapun yang melihat jelas tahu jika lelaki ini sedang begitu khawatir akan keadaan istrinya. Tapi tidak dengan Arya. Arya tidak akan pernah mengiba melihat Reynand, bahkan jika bukan karena Eyang putri dan Bimantara, dia sudah ingin mengusir Reynand dari sini dan sebelum itu dia ingin sekali menghajar wajah angkuh dan sombong itu. Penyesalan Reynand sudah sangat terlambat. Dulu Nara sudah selalu menjatuhkan harga dirinya demi untuk mencari cinta Reynand, dan ketika kini Nara sudah memilih pergi, Reynand baru datang dan mengemis kembali cinta itu. Menjijikkan.
__ADS_1
"Berikan ini padanya" ujar Eyang putri yang menyerahkan secawan air itu pada Reynand.
Reynand langsung menyambar cawan itu dan mendekatkan nya kebibir pucat Nara.
"Nara, minum" ucap Reynand. Dan dengan lemah Nara membuka sedikit bibirnya, merasakan air yang begitu dingin itu mengalir membasahi kerongkongan nya yang kering dan pedih. Setelah meminum beberapa teguk, dia merasa jauh lebih baik. Nafasnya sudah mulai beraturan meski pinggang nya masih begitu nyeri.
Namun saat membuka mata dengan pelan, pemandangan pertama yang terlihat adalah wajah cemas Reynand. Nara memandang sayu pada wajah tampan itu. Wajah tampan yang terlihat kacau dengan bulu bulu halus yang sudah tumbuh dirahang tegas nya. Tatapan mata tajam itu sekarang terlihat penuh beban dan kehancuran, tidak lagi sama dengan tatapan Reynand yang selalu dia dapatkan dulu, tatapan tajam dan penuh kebencian. Rahang tegas itu kini sudah menyusut, mengurus dan tidak lagi setegar dulu. Apa Reynand benar benar sudah menemukan kehancurannya???
Nara mengerjap perlahan, mulai berusaha beranjak dari dada bidang yang dulu sangat dia inginkan. Namun sekarang rasanya sudah tidak lagi sama.
"Yo" panggil Nara begitu lemah
Arya segera mendekat kearah Nara dan membantu Nara untuk menjauh dari rangkulan Reynand. Dia mendudukan Nara dikursi rodanya, wajah Nara masih begitu pucat dan dia tahu jika Nara tengah menahan kesakitan nya saat ini
"Aku ingin masuk" ucap Nara
Arya mengangguk dan mulai ingin mendorong kursi roda Nara, namun Reynand langsung menghentikan nya.
"Yo" dia kembali memanggil Arya
"Menyingkirlah tuan" kata Arya begitu dingin. Reynand mematung, bahkan tangan nya menggantung diudara memandang nanar dan sedih Nara yang masih tidak ingin dia dekati. Sebenci itukah dia sekarang??
Dan tentu, hal itu membuat Bimantara yang sedari tadi hanya diam dan memperhatikan mereka tampak bingung dengan suasana ini. Reynand bilang jika Nara istrinya, tapi kenapa Nara malah terlihat enggan dengan Reynand. Apa yang sebenar nya terjadi??
Tepukan dibahu nya membuat Bimantara langsung terkesiap. Dia menoleh kearah Eyang putri yang sudah berlalu menyusul Arya yang membawa Nara.
Kini tinggallah Bimantara dan Reynand berdua diaula kecil itu.
Reynand langsung terduduk dengan lemas disebuah kursi rotan yang ada disana. Dia meraup kasar wajah kusutnya yang semakin kusut. Tidak tahu bagaimana caranya untuk merebut hati Nara kembali, jika untuk dekat saja sudah begitu sulit. Tapi tentu, dia tidak akan menyerah. Nara masih istrinya, dan dia harus bisa mendapatkan kembali maaf dan cinta dari Nara. Apalagi sekarang dia tahu jika Bimantara lah yang telah membawa Nara kemari. Dan tentu, itu bukan hal yang bagus. Perkataan Eyang putri siang tadi mulai terngiang kembali tentang seseorang yang akan merebut hati Nara. Takut???? Tentu saja, apalagi Reynand tahu sejak dulu Bimantara memang sudah jatuh hati pada Anara.
"Sejak kapan kalian menikah?" suara Bimantara langsung membuyarkan lamunan Reynand. Dia melirik sekilas kearah Bimantara yang berdiri disamping nya dengan wajah yang begitu datar
__ADS_1
"Untuk apa kau tahu" dengus Reynand
Bimantara tersenyum sinis dan melipat tangan nya didepan dada. Memandang Reynand yang memandang datar kearah taman belakang rumah Eyang putri. Penampilan tuan Adiputra ini benar benar jauh berubah saat terakhir kali mereka bertemu. Tidak ada lagi tuan muda yang penuh dengan pesona, yang ada hanyalah seorang Reynand yang menyedihkan.
"Apa karena aku mencoba mendekati Nara maka kau mengganggu perusahaan kecilku?" tanya Bimantara lagi
"Sudah aku kembalikan kerugian mu" sahut Reynand dengan cepat. Bimantara tertawa kecil dan menggeleng. Menghela nafasnya perlahan dan kembali memandang Reynand
"Yah, aku tidak lagi mempermasalahkan hal itu meski kau cukup membuat ku ketar ketir. Tapi yang aku tidak menyangka adalah jika tuan angkuh ini bisa memiliki istri dibalik layar. Bukankah semua orang tahu jika nona Cleo adalah pasangan mu, tapi kenapa malah Nara yang menjadi korbannya?" gumam Bimantara memandang benci pada Reynand
"Bukan urusan mu" jawab Reynand tanpa ingin memandang Bimantara. Jangan sampai dia meluapkan emosinya pada lelaki ini, jika tidak maka dia akan benar benar diusir oleh Eyang putri.
"Sekarang menjadi urusanku. Melihat sikap Nara sekarang, aku tahu jika dia sudah tidak lagi menginginkanmu. Sudah terbukti jika kau memang bukan suami yang bertanggung jawab. Kau membiarkan Nara menderita sendirian, bahkan aku tahu jika kau juga yang telah menghancurkan perusahaan nya bukan" ungkap Bimantara dengan sinis
Reynand langsung memandang Bimantara dengan tajam
"Meski status mu masih suaminya, tapi jika kau masih berani menyakitinya maka aku tidak akan tinggal diam. Dia ada ditempatku sekarang" kata Bimantara begitu tajam
"Aku akan membawanya pergi, jangan coba coba menyentuhnya" Reynand langsung berdiri dihadapan Bimantara yang memandang nya dengan remeh
"Membawa pergi" gumam nya dengan sinis bahkan terkesan merendah. Dia memandang Reynand dari ujung kaki hingga ujung rambut dan kembali menggeleng iba
"Sikap sombongmu sudah mendarah daging ternyata. Apa lagi yang kau punya. Kau sudah didepak dari Adidaksa dan seluruh aset mu sudah dibekukan. Apa kau akan membiarkan Nara mati begitu saja?" tanya Bimantara
Reynand terdiam mematung, nafasnya mulai bergemuruh. Tangan nya mengepal dengan kuat. Meski perkataan Bimantara menyakitkan, namun sungguh, apa yang dikatakan nya memang benar. Semua orang tahu jika Reynand Adiputra sekarang hanyalah seorang lelaki terbuang yang menyedihkan. Didepak dari perusahaan nya sendiri dan diblacklist dari perusahaan lain.
"Jika kau tidak sanggup membuat Nara bahagia, maka jangan lagi mengganggu nya" Bimantara menepuk bahu Reynand sekilas dan langsung pergi meninggalkan tempat itu. Membiarkan Reynand sendiri dalam fikiran yang semakin kacau tidak menentu, bahkan.....semakin hancur.
bonus visual Reynand Adiputra
__ADS_1