Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan

Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan
Mengganti Kenangan


__ADS_3

Cukup lama perjalanan dari rumah eyang putri ke Jakarta. Mungkin memakan waktu hampir enam jam dengan mobil. Dan setelah berangkat dari pagi tadi, sore ini Bima dan Gendis baru tiba di ibu kota. Tidak banyak yang mereka bicarakan disepanjang jalan. Mereka hanya diam dengan fikiran mereka masing masing.


Gendis sebenarnya belum siap untuk bertemu dengan David lagi. Karena sudah dapat dia pastikan jika lelaki itu pasti akan terus mendatangi nya. Gendis paham benar bagaimana sifat David yang memang tidak akan menyerah begitu saja sebelum kedok nya terbongkar.


Bima menoleh kearah Gendis yang nampak melamun dan memandang kearah luar jendela.


"Aku harus mengantarmu kemana?" tanya Bima.


Gendis sedikit terkesiap, dan dia langsung menoleh pada Bima.


"Kerumah ayah saja" jawab Gendis.


"Baiklah, kamu bisa mengatakan alamatnya padaku. Dan jangan lagi banyak melamun, aku takut tuan Renggono akan memarahiku nanti" ujar Bima.


Gendis langsung mendengus mendengar itu.


"Aku tidak semanja itu pada ayah. Lagipula dia cukup perduli padamu, bagaimana mungkin dia akan memarahimu" sahut Gendis.


Bima terkekeh sejenak seraya memandang Gendis. Tuan Renggono memang sangat berterima kasih pada Bima karena sudah mau menemani Gendis dan menjaga nya selama dirumah eyang putri. Hingga sekarang dia sudah jauh lebih baik. Meski harus mengalami insiden yang tidak terduga terlebih dahulu.


"Bima" panggil Gendis


"Hmm" gumam Bima yang masih fokus menyetir


"Terimakasih karena sudah mau menemani dan menjagaku selama dirumah eyang putri" ucap Gendis.


Bima mendengus senyum dan mengangguk.


"Ya, itu memang sudah tugas ku. Lagi pula kamu cidera juga karena aku" jawab Bima.


Gendis tersenyum dan mengangguk.


"Jangan lagi mabuk mabukkan karena patah hati. Aku takut rumah eyang putri akan penuh dengan orang orang yang cidera karena mu nanti" ujar Gendis.

__ADS_1


Bima kembali tertawa mendengar itu.


"Tidak akan, aku pastikan kamu adalah orang pertama dan terakhir yang membuat ku repot" sahut Bima. Dan kali ini Gendis yang tertawa. Bahkan Bima langsung menoleh kearah nya, dia sangat menyukai tawa itu.


"Sebagai rasa ucapan terimakasih, aku akan membuat kan apple pie lagi untuk mu nanti" kata Gendis.


"Boleh, tapi aku harap kamu membuat lebih banyak, aku rasa aku menyukai kue buatan mu itu" jawab Bima.


"Tentu saja" sahut Gendis.


Mereka saling tersenyum dan saling pandang sejenak hingga beberapa detik. Dan setelah itu mobil yang Bima kendarai sudah memasuki area rumah mewah yang cukup besar dan luas.


Bahkan Bima sampai dibuat takjub dengan pemandangan ini. Tuan Renggono adalah pemilik perusahaan besar terbaik kedua setelah Adidaksa, jadi wajar saja jika dia memiliki rumah yang mewah dan besar seperti ini. Jika rumah tuan Renggono sebesar ini, lalu bagaimana dengan rumah Reynand ya?


Dan yang lebih membuat nya berdecak kagum adalah semua kekayaan dan kemewahan ini pasti akan jatuh semua ketangan Gendis. Putri semata wayang nya. Pantas saja David begitu menggilai Gendis dan tidak ingin melepaskan nya. Sudah pasti karena harta ini, Bima yakin itu.


Beberapa penjaga gerbang besar itu langsung membukakan pintu gerbang saat Gendis membuka kaca jendela mobil dan menampakkan wajahnya. Hingga Bima bisa dengan mudah memasukkan mobilnya kedalam kawasan rumah mewah itu.


"Kamu tidak turun dulu Bim?" tanya Gendis saat melihat Bima yang hanya diam saja dan memandangi rumah nya.


"Sepertinya tidak. Lain kali saja aku akan mampir. Lagi pula tuan Renggono juga tidak dirumah bukan" jawab Gendis.


"Ya, mungkin ayah masih diperusahaan" sahut Gendis.


"Aku tidak enak jika hanya berdua tanpa dia" ucap Bima.


Gendis tertegun mendengar itu. Namun beberapa detik kemudian dia langsung tersenyum dan mengangguk.


"Jika begitu, terimakasih banyak" ucap Gendis.


Bima mengangguk


"Jangan sungkan, bukan kah kita teman" kata Bima

__ADS_1


Gendis tertawa kecil dan mengangguk seraya membuka sabuk pengaman nya.


"Aku turun dulu" pamit Gendis.


"Ya" jawab Bima.


Bima hanya memperhatikan Gendis yang turun dari mobil, dia tersenyum dan mengangguk saat gadis itu tersenyum ketika hendak menutup pintu mobilnya. Dan di saat Gendis sudah berdiri diteras rumah, barulah Bima melajukan mobil nya meninggalkan rumah itu, diiringi dengan lambaian tangan Gendis.


Ya, sudah berakhir cerita mereka dirumah eyang putri. Dua bulan lama nya mereka bersama. Berbagi kisah yang kadang membuat mereka tertawa dan terkadang membuat mereka saling berdebat. Tawa dan keceriaan mereka masing masing tanpa sadar telah membuat sebuah kenangan yang tidak akan bisa mereka lupakan. Kenangan yang tanpa terasa bisa membuat luka dihati mereka masing masing mulai membaik.


..


Gendis menghela nafasnya dan berjalan masuk kedalam rumah setelah mobil Bima pergi dari rumah nya. Rumah yang sangat jarang sekali dia tinggali. Namun cukup banyak kenangan bersama ayah dan ibunya dulu ketika dia masih kecil.


Gendis hanya tersenyum saja saat semua pelayan yang ada dirumah itu menyapa nya dengan hangat. Dia lelah, dan dia ingin beristirahat sekarang. Perjalanan jauh membuat seluruh tubuhnya menjadi pegal. Apalagi kaki nya yang baru saja pulih, sekarang terasa berdenyut lagi. Jadi dia memutuskan untuk pergi kekamar nya dan beristirahat.


Didalam kamar bahkan Gendis langsung menghempaskan tubuhnya disofa seraya membuka jaket dan sepatunya. Namun tiba tiba matanya malah terpandang kesebuah foto yang ada diatas meja disebelah tempat tidur.


Foto dia bersama David setahun yang lalu saat lelaki itu mengunjungi nya ke New york.


Gendis kembali menghela nafasnya dengan berat, dia langsung berjalan kearah tepat tidur dan duduk disana seraya tangan nya yang meraih foto David.


Gendis tersenyum begitu miris melihat foto ini. Foto yang terlihat jika mereka memang saling mecintai. Tapi kenyataan nya, David tega mengkhianati cinta mereka. Hubungan yang sudah terjalin selama dua tahun lama nya ternyata tidak cukup mampu membuat ikatan cinta mereka kuat. Padahal selama ini David tidak pernah menyakiti hatinya, bahkan untuk sekedar meminta hal hal aneh pun dia tidak pernah. Lelaki itu terlihat begitu mencintai Gendis. Tapi kenapa itu hanya topeng?


Entah lah...


Mungkin hubungan jarak jauh membuat iman David goyah, apalagi dia dikenal sebagai pemilik model model cantik dinegara ini. Sudah pasti setiap hari godaan pasti begitu besar untuk nya.


"Sekarang semua sudah berakhir. Aku tidak mau lagi mengingatmu" gumam Gendis, Dia berjalan kearah lemari dan mengambil sebuah kotak besar. Dimana kotak itu berisi barang barang pemberian David semua. Gendis membawanya keluar dan menyerahkan nya pada seorang pelayan yang lewat.


"Tolong bakar semua nya bi" ujar Gendis.


Kenangan pahit itu harus diganti. Jangan diingat lagi. Cukup sudah dia menangisi kemalangan nya yang batal menikah. Yang seharusnya diselenggarakan dua hari lagi. Tapi kini semua hanya tinggal kenangan. Dan Gendis sudah harus melupakan nya. Cukup sudah dua bulan waktu untuk menenangkan diri. Dan sekarang dia sudah harus memulai harinya yang lebih baik lagi, dan dengan kenangan yang baru.

__ADS_1


Tapi..... apakah semudah itu???


__ADS_2