Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan

Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan
Ternyata Tuan Abas


__ADS_3

Semak belukar yang menjulang tinggi dan suasana yang sudah mulai gelap membuat keadaan disekitar tempat itu menjadi sangat menyeramkan. Ditambah dengan sebuah pohon besar yang menjulang menutupi langit senja itu semakin menambah kesan was was dan takut untuk mereka.


Genggaman tangan Reynand semakin kuat pada tangan Nara, bahkan tanpa sadar Reynand membuat Nara meringis sakit. Karena sungguh, dia bukan lagi menggenggam, namun mencengkram.


Arya berjalan lebih kedepan untuk menyibakkan semak menuju kekolam yang merupakan tempat terberat bagi Reynand. Meski Arya takut, namun dia berusaha untuk mengesampingkan rasa takut nya, apalagi ketika melihat Reynand yang sudah seperti orang gila. Wajahnya benar benar pucat, sudah seperti hantu ditengan hutan seperti ini.


Dan memang benar, Reynand sudah benar benar lemas sekarang. Bayangan hewan dan wanita yang tergantung dengan luka disekujur tubuh mereka langsung terngiang di kepala nya. Suara jeritan kesakitan sejak tadi juga sudah menghantui fikiran Reynand. Membuat nya takut dan tidak berdaya. Bahkan dia tidak sadar jika dia sudah menyakiti Nara sekarang.


"Hei, kau pasti bisa. Lawan rasa takutmu Rey" bisik Nara seraya mengusap lengan Reynand. Bahkan kemeja yang Reynand pakai sudah basah dengan keringat.


"Nara....aku..." perkataan Reynand langsung terhenti saat tiba tiba dia jatuh terduduk dan memegangi kepala nya yang begitu sakit.


Nara langsung panik melihat itu.


"Rey...!" seru Nara yang ikut berlutut diatas rerumputan tinggi itu, memegangi tangan Reynand yang sedang menjambak rambutnya dengan kuat.


"Hei.... jangan begini. Sadarlah. Kamu harus lawan rasa trauma mu Rey" ucap Nara begitu panik.


Nafas Reynand begitu memburu, bahkan terasa sangat sesak. Wajah yang tadinya memucat kini memerah. Dia meringis dan terus menjambaki rambutnya untuk mengurangi rasa sakit dikepala nya ini.


"Reynand, demi papa mu, demi keluarga kalian. Kamu harus kuat" kata Nara lagi.


Reynand masih diam dan hanya mencoba melawan rasa sakit nya yang tidak bisa dijelaskan. Arya langsung mendekat kearah mereka. Dia juga mulai panik melihat Reynand yang kesakitan seperti ini. Namun jika hanya diam seperti ini menunggu Reynand, hari akan semakin gelap dan mereka akan terjebak ditempat menyeramkan seperti ini. Tidak... tidak... Arya tidak mau.


"Nara, kamu tenangkan dulu dia. Aku yang akan melihat kesana" ujar Arya.


Nara langsung mengangguk dengan wajah cemasnya. Kolam itu memang sudah tidak jauh lagi, bahkan mereka sudah berada ditepian nya. Hanya karena semak yang tinggi, jadi tidak nampak memandang kedepan.


"Arya..." panggil Reynand dengan nafas yang tersengal


Mendengar panggilan dari Reynand Arya langsung membalikkan tubuhnya.


"Disebelah kiri kolam..... uuhhh....ada... ada tempat ... kamu, kamu bisa memeriksa nya ..." ucap Reynand begitu terbata, bahkan dia langsung berteriak dengan kuat setelah berkata seperti itu. Nara sudah benar benar panik dan cemas.


"Aaarrrgghhh" Reynand semakin tertunduk dengan rasa sakit yang benar benar menggigit. Karena demi apapun mendatangi tempat ini lagi adalah sebuah neraka baginya.


Tanpa berfikir panjang Arya kembali berjalan, meski langkah nya ragu dan bergetar.


"Yo, hati hati" seru Nara pada Arya, seraya memegangi lengan Reynand.


Arya hanya mengangguk saja dan meneruskan langkah nya. Bibirnya terus bergumam tidak menentu disela sela langkah kaki nya yang meragu dan takut.


Sementara Nara kembali menenangkan Reynand yang semakin tidak terkendali. Apa ini keputusan yang salah telah membawa Reynand kemari?


"Rey" panggil Nara


"Nara... aku... aku takut" ucap Reynand


Nara langsung meraih tangan Reynand dan menarik tubuh lelaki itu kedalam pelukan nya. Hingga Reynand langsung memeluk Nara dengan erat. Bahkan Nara bisa merasakan tubuh Reynand yang benar benar bergetar dan basah dengan keringat.

__ADS_1


"Ayo lawan, kamu pasti bisa. Kalau kita seperti ini terus bagaimana kita bisa menemukan papa kamu" ujar Nara.


"Aku tahu... sebentar Nara. Biarkan seperti ini dulu" ucap Reynand yang benar benar masih melawan rasa takut nya.


Nara terdiam dan mengusap punggung Reynand dengan lembut.


"Demi aku, kamu bilang ingin membahagiakan aku kan. Jika kamu lemah seperti ini, bagaimana kamu bisa menepati janji mu itu" perkataan Nara membuat Reynand memejamkan matanya dengan kuat.


Tangan nya semakin memeluk tubuh Nara dengan kuat, hingga akhirnya dia melepaskan pelukan itu dan memandang Nara dengan wajah lemas nya. Namun binar mata yang tadinya penuh trauma dan takut kini mulai bercahaya.


"Aku... aku pasti akan membahagiakan mu" ucap Reynand berusaha untuk tersenyum.


"Aku tahu kamu pasti bisa" balas Nara seraya menggenggam tangan Reynand.


Hingga tiba tiba....


"Aaaaaarrggghh"


Suara teriakan Arya membuat Nara dan Reynand begitu terkejut.


"Aryo" gumam Nara kembali panik.


"Kita lihat" ajak Reynand yang langsung berdiri dengan begitu berat. Kakinya masih bergetar, namun dia juga takut terjadi sesuatu pada asisten Nara itu.


Mereka bahkan berlari ditengah semak sembari berpegangan tangan dan melangkahi semak yang menjulang tinggi. Rasa sakit akibat sayatan duri duri tajam dikaki bahkan tidak lagi Nara rasakan, dia sudah takut terjadi sesuatu pada Arya.


"Arya kamu dimana????" teriak Nara memanggil Arya. Mata nya sama sekali tidak mendapati dimana keberadaan Arya. Namun tiba tiba karena tidak melihat jalan, kakinya hampir tergilincir kedalam kolam yang tertutup rumput. namun beruntung nya Reynand dengan cepat menarik Nara ditengah kesakitan nya.


"Nara hati hati" ucap Reynand


Nara yang kini sudah masuk kedalam dekapan Reynand langsung menghela nafas lega.


"Jalan nya tidak nampak" jawab Nara seraya melepaskan dekapan Reynand dan kembali berjalan mengitari kolam mencari dimana Arya.


"Aryo!!!!" teriak Nara lagi.


"Nara disini!!!" suara Arya terdengar dari sisi kolam disebalik rerumputan.


"Dia ditempat itu, ayo" ajak Reynand seraya melangkah kan kakinya menuju sisi kiri kolam dimana disana terdapat sebuah tempat penyimpanan barang bekas yang sudah tertutupi semak.


Tangan Reynand tidak melepaskan tangan Nara sejak tadi. Rasa sakit semakin menjalar dikepala nya, hingga sekarang bahkan dia merasa ada sesuatu yang keluar dari hidung nya. Reynand mengusap nya dengan cepat, hari mulai gelap dan Nara yang masih fokus pada jalan didepan mereka membuat nya tidak sadar jika Reynand, sudah berdarah.


"Hei... disini ada orang" seru Arya kembali


Nara dan Reynand langsung mendekat kearah Arya.


Beberapa kali Reyanand menggelengkan kepala nya dengan kuat, dia sangat berharap, kesadaran nya bisa terjaga, sampai mereka keluar dari rumah terkutuk ini.


"Siapa Yo?" tanya Nara

__ADS_1


"Tidak tahu, entah masih hidup entah tidak. Dia diikat didalam sana" jawab Arya. Wajahnya bahkan masih memucat dan kakinya juga bergetar.


"Jadi kenapa kamu teriak tadi?" tanya Nara seraya mengarahkan ponsel nya kedalam ruangan yang begitu gelap itu.


"Aku terkejut melihat orang ini" jawab Arya.


"Keterlaluan" gerutu Nara. Dia sudah takut jika telah terjadi sesuatu pada Arya tadi.


Reynand mengarahkan senter ponsel nya kearah dalam ruangan, dan matanya langsung melebar sempurna saat melihat orang itu tersandar tidak berdaya dengan tangan dan kaki yang terikat. Begitu pula dengan Nara.


Seorang pria tua yang sangat dekil, kurus dan tinggal tulang membuat air langsung menggenang dimata Reynand. Meski sudah sangat jauh berbeda dan nyaris tidak dikenali. Namun Reynand tahu jika pria ini adalah...... ayahnya.


"Papa" gumam Reynand yang langsung berlari mendekati pria itu yang memang tidak lain adalah tuan Abas.


Reynand langsung membuka tali ditangan nya yang tinggal tulang. Nara dan Arya langsung mendekat kearah Reynand dan mendekat kearah tuan Abas yang sudah tidak lagi sadarkan diri, atau bahkan sudah mati????


Reynand langsung mengecek denyut nadi ditangan tuan Abas, dan dia masih bisa bernafas lega, karena papanya masih hidup meski denyut nadinya sudah sangat lemah.


"Ini... ini tuan Abas??" tanya Nara begitu tidak percaya.


"Ya, ini papa. Aku masih mengenalinya" jawab Reynand seraya membuka tali dikaki tuan Abas.


Nara menggeleng tidak percaya melihat ini. Ternyata orang yang mereka sekap selama bertahun tahun adalah tuan Abas yang sesungguhnya. Ya Tuhan, kenapa mereka tega sekali.


Arya langsung mendekat kearah Reynand untuk membantunya memapah tuan Abas yang sudah tidak lagi berdaya. Meski tubuhnya sudah ringan, namun Arya tahu jika Reynand tidak akan sanggup sendirian.


Reynand memejamkan matanya sejenak seraya memapah ayahnya keluar, dia benar benar merutuki kebodohan nya yang tidak pernah menyadari hal ini. Dan Reynand, dia benar benar membenci orang orang itu. Lihat saja nanti, dia akan menuntut balas pada mereka yang telah berani membuat dia dan keluarga nya seperti ini, bahkan lebih sakit dari yang dia rasakan sekarang.


Ditengah kesakitan dan ketakutan karena trauma nya, hati Reynand juga ikut sakit melihat keadaan ayahnya yang seperti ini. Sangat menyedihkan. Paman nya benar benar sudah keterlaluan.


Mereka memapah tuan Abas keluar dari rumah itu. Hari sudah gelap, Nara berjalan lebih dulu untuk menyinari jalan mereka. Sedangkan Arya berjalan perlahan mengikuti langkah kaki Reynand yang tertatih dan cukup lunglai. Bukan karena keberatan, namun karena kesadaran yang mulai memudar.


"Hei tuan, anda masih sanggup bukan?" tanya Arya pada Reynand. Saat ini mereka sudah hampir tiba didepan pintu rumah.


Nara langsung membalikkan tubuhnya dan memandang kearah Reynand.


"Ya Tuhan Rey, kamu berdarah" Nara kembali panik melihat darah yang keluar dari hidung Reynand, apalagi wajah lelaki itu sudah semakin pucat.


"Sedikit lagi, ayo" ajak Reynand yang tidak mengindahkan ucapan Nara. Dia benar benar sudah tidak kuat lagi untuk bertahan lebih lama. Bahkan dia berjalan dengan langkah yang begitu berat.


Nara dan Arya sudah cemas melihatnya. Namun lebih baik mereka melanjutkan langkah mereka kedalam mobil.


Nara dengan cepat membukakan pintu mobil hingga Arya dan Reynand langsung memasukkan tuan Abas kedalam mobil itu, dan disusul Reynand yang juga masuk dan duduk disamping ayahnya.


Sementara Nara duduk disamping Arya yang mulai melajukan mobil mereka meninggalkan tempat itu.


"Rey, kamu baik baik aja kan??" tanya Nara memandang Reynand dibelakang. Namun sama sekali tidak ada jawaban dari Reynand. Matanya sudah terpejam, bahkan darah terus mengalir dari hidung nya.


"Rey" panggil Nara yang mulai panik. Namun ternyata Reynand memang sudah tidak lagi sadarkan diri. Rasa sakit dikepala akibat trauma membuat dia tidak bisa bertahan lagi.

__ADS_1


__ADS_2