Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan

Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan
Kekesalan Arya


__ADS_3

Pagi pagi sekali Reynand dan Nara sudah berada didalam mobil menuju kota dimana tempat pertama kali mereka bertemu. Jarak kota itu dari ibu kota cukup jauh, memakan waktu sekitar tiga jam. Jadi Reynand dan Nara memutuskan untuk pergi pagi agar mereka bisa memiliki waktu yang lama untuk mencari tahu sesuatu dirumah kakek Reynand dan juga .... paman nya.


Lagi lagi mereka ditemani oleh Arya, karena Arya tidak akan membiarkan Nara dan Reynand kelelahan. Meskipun Reynand sudah bisa menyetir mobil namun tentu saja, keadaan nya masih belum begitu pulih.


Suasana pagi itu masih begitu sejuk dan segar, apalagi setelah lepas dari daerah ibukota yang dipenuhi oleh polusi. Cuaca hari itu juga cukup cerah, dan tentu saja itu mendukung perjalanan mereka hari ini. Selama diperjalanan, Reynand tidak melupakan pekerjaan nya, mata dan tangan nya masih begitu fokus pada ipad yang dia bawa dari rumah. Bekerja dari jauh untuk perusahaan Polie dan juga memantau perkembangan proyek mereka. Jangan sampai tua bangka itu bisa berbuat sesuatu yang merugikan mereka. Jika itu benar paman Agas, maka Reynand tidak terlalu cemas masalah proyek, karena pasti Guntur bisa memanipulasi keadaan. Tapi jika itu ayahnya, itu cukup membuat Reynand khawatir.


Sedangkan Nara masih asik memandangi jalanan yang kini sudah memasuki kota dimana rumah lama nya berada. Sesekali bibirnya tersenyum memandangi jalan yang pernah dia lalui saat dulu. Sudah lama sekali Nara tidak pernah kembali kesini. Mungkin sejak ibunya menikah lagi dengan tuan Baskoro. Ah, waktu begitu cepat berlalu. Tempat ini adalah tempat yang begitu banyak menyimpan kenangan indah dalam hidup Nara. Kenangan bersama ayah dan ibunya, dan juga kenangan bersama cinta masa kecilnya.


Rindu sekali rasanya, andai waktu bisa diputar. Nara ingin sekali membuat keadaan menjadi lebih baik. Tapi...takdir berbicara lain. Dia memang sudah harus ditempah untuk menjadi wanita yang kuat dan tangguh.


"Hei..." tepukan dibahu Nara membuat nya langsung tersentak terkejut. Nara langsung menoleh kearah Reynand yang tersenyum memandang nya. Senyum yang pertama kali dia dapat ditempat ini.


"Apa kamu merindukan masa masa itu?" tanya Reynand.


Nara mendengus senyum dan mengangguk.


"Tempat ini adalah tempat yang menyimpan sejuta kenangan indah untuk ku. Tentu aku merindukan semua nya" jawab Nara.


"Setelah kita menyelidiki semuanya. Kita akan mengunjungi setiap tempat yang ingin kamu datangi" ucap Reynand.


"Benarkah?" tanya Nara. Wajahnya tampak begitu bahagia.


Reynand langsung mengangguk dengan cepat.


"Aku juga merindukan tempat ini. Merindukan semuanya. Ini adalah tempat yang paling bersejarah dalam hidupku" gumam Reynand.


Arya yang sedang fokus mengemudi, sesekali melirik kebelakang. Dia berfikir jika sepertinya kedua orang itu sedang bernostalgia bersama.


"Aku tahu. Tapi... apa kamu yakin akan kerumah pamanmu Rey? Bagaimana jika..." perkataan Nara langsung terhenti karena dia begitu ragu untuk melanjutkan nya.


"Tidak apa apa. Sudah lama berlalu, semoga aku sudah melupakan nya. Lagi pula Guntur berkata jika hari ini tua bangka itu sedang disibukkan dengan pertemuan bersama pengacara kakek dulu. Jadi kita akan aman" jawab Reynand seraya tersenyum dengan tenang. Meski didalam hatinya ada banyak keraguan untuk masuk kembali kedalam rumah itu. Karena bagaimanapun dirumah itu dia pernah mengalami hal yang begitu menyeramkan. Bahkan rasa trauma itu masih membekas begitu kuat hingga sekarang, Reynand bahkan tidak bisa membayangkan jika dia melihat tempat itu lagi. Tapi... itu memang harus dia lakukan untuk mencari tahu yang sebenarnya, jika yang ada bersama mereka kini tuan Abas, atau tuan Agas. Jika rumah itu pernah didatangi, maka benar jika tuan Agas lah yang ada bersama mereka. Tapi jika rumah itu masih kosong, maka ayahnya lah yang memang sudah berkhianat.


"Jadi kearah mana yang harus didahului?" tanya Arya dari depan saat mereka berada disebuah persimpangan jalan.


"Kita kerumah kakek dulu. Sebelah kiri Yo" ujar Reynand.


Arya langsung mengangguk dan memutar setir mobil nya. Dan tidak lama hanya sekitar lima belas menit mereka sudah berada didepan sebuah rumah besar yang cukup mewah tapi sudah mulai usang.


Mereka semua turun dari dalam mobil dan langsung disambut oleh seorang pria paruh baya yang datang tergopoh gopoh dari arah samping rumah mewah itu.


"Tuan muda, selamat datang. Kenapa sudah lama sekali tidak pernah paman lihat" tanya pria itu.


Reynand tersenyum tipis memandang pria itu. Pria yang pernah bekerja untuk kakek nya dulu, dan sekarang dia dipercaya untuk menjaga rumah ini oleh Guntur.


"Saya cukup sibuk paman. Apa semua baik baik saja?" tanya Reynand.


Pria itu langsung mengangguk dengan cepat.


"Baik baik saja tuan muda. Hanya saja beberapa waktu lalu tuan Abas datang bersama seorang wanita kerumah ini. Tidak lama, hanya sebentar" ungkap pria itu.

__ADS_1


"Kerumah ini, mau apa dia?" tanya Reynand langsung.


Nara dan Arya masih diam seraya mengamati keadaan sekitar


"Paman tidak tahu tuan. Hanya saja dia meminta kunci kamar tuan besar, katanya dia ingin mengambil barang" jawab pria itu.


Reynand menghela nafasnya dengan berat dan langsung mengangguk pelan.


"Yasudah tidak apa apa. Sekarang saya mau masuk dulu paman" ujar Reynand


"Baik tuan, ini kunci kunci rumah nya" kata pria itu seraya menyerahkan segerombol kunci pada Reynand. Reynand langsung mengangguk dan melemparkan kunci itu pada Arya, membuat pria berambut gondrong itu terkesiap kaget dan menggerutu kesal.


"Tuan datang bersama siapa?" tanya pria itu seraya memandang kearah Nara dan Arya.


"Saya...." belum lagi Nara selesai menjawab, Reynand sudah langsung memotongnya.


"Istri saya paman" jawab Reynand.


Tentu saja perkataan Reynand membuat Nara dan Arya langsung membelalakkan mata mereka. Arya bahkan langsung mencibir Reynand tanpa suara. Istri dari mana, mantan istri iya.


"Wahhh cantik sekali. Tuan besar pasti begitu bahagia mendapatkan cucu menantu secantik nona ini. Selamat datang dirumah tuan besar nona" ucap pria itu seraya membungkukkan sedikit tubuhnya dihadapan Nara.


Nara langsung tersenyum getir mendengar itu, dia menoleh kearah Reynand yang tampak berwajah santai dan malah memandangi rumah kakek nya. Menyebalkan memang.


"Terimakasih paman" jawab Nara akhirnya.


"Yasudah, tuan dan nona masuk saja dulu. Nanti paman mau carikan minuman dan makanan untuk kalian beristirahat" ujar pria itu.


"Ya, yang banyak ya paman. Saya benar benar haus dan lapar, belum sarapan" pinta Arya tanpa malu membuat pria itu tertawa lucu dan segera mengangguk.


"Baik, saya pamit dulu" pamit nya yang langsung pergi meninggalkan mereka.


"Kamu ini kebiasaan deh Yo, gak malu banget" gerutu Nara.


"Lah memang aku lapar. Hari juga udah mulai siang. Bekerja itu perlu energi dan tenaga. Kalau tidak makan mana bisa semangat. Memangnya seperti kamu yang sudah diberi kata kata manis langsung kenyang" cibir Arya. Nara langsung mendengus kesal mendengar itu, dia bahkan langsung menampar lengan Arya dengan kesal.


Sedangkan Reynand yang masih mengamati sekeliling nya langsung menoleh pada Arya.


"Berisik sekali kamu ini. Sudah kita masuk saja" ajak Reynand seraya meraih tangan Nara dan menarik nya untuk masuk kedalam rumah itu. Arya yang melihat itu langsung mendengus gerah. Lama lama dia bisa diabetes berada bersama dua orang ini setiap hari.


Setelah Arya membuka pintu besar itu mereka bertiga langsung masuk kedalam rumah. Rumah besar yang cukup mewah. Bahkan Nara bisa tahu jika didalam sini juga semua barang barang nya bukan dari kualitas biasa. Rumah ini bersih, semua barang barang nya sudah ditutupi kain putih agar tidak terkena debu. Meski sudah usang, namun nampak nya setiap hari ada yang membersihkan nya.


"Kita langsung kekamar kakek saja ya" ajak Reynand yang tidak ingin lagi mengundur waktu. Dia ingin tahu apa yang diambil tua bangka itu dikamar kakek nya. Tapi Reynand tidak terlalu khawatir, karena hanya dia yang tahu kode dan tempat penyimpanan harta berharga milik kakek nya.


Nara mengangguk dan langsung berjalan mengikuti Reynand, begitu pula dengan Arya. Rumah ini cukup terang karena setiap berjalan, Reynand selalu menghidupkan lampu untuk menerangi jalan mereka. Mereka menaiki anak tangga yang menjulang kelantai dua dengan perlahan lahan.


"Tangga ini cukup tinggi, bagaimana mungkin kamar orang tua ada dilantai atas" gumam Arya yang berjalan dibelakang mereka.


"Ada lift disudut tangga, tapi sudah tidak lagi berfungsi" jawab Reynand. Arya hanya mengangguk saja dan kembali memandangi rumah itu yang semakin keatas semakin terlihat kemewahan nya. Dia cukup takjub, ternyata Reynand benar benar tuan muda yang sesungguhnya. Pantas saja dia begitu angkuh.

__ADS_1


Nara memperhatikan rumah itu dari atas seraya terus merangkul lengan Reynand yang masih sedikit kesulitan menapaki anak tangga.


Dulu dia tahu jika rumah ini adalah rumah orang terkaya pada masa nya. Bahkan ayah Nara selalu menceritakan bagaimana berkuasanya tuan besar Bagasyaksa pada masa itu. Dan tidak pernah terbayangkan jika sekarang dia bisa masuk kerumah ini secara langsung, bahkan menjadi mantan istri cucu lelaki semata wayang nya. Astaga, benar benar aneh.


Reynand membawa Nara dan Arya masuk kedalam sebuah kamar yang cukup besar. Dan lagi lagi mereka berdecak kagum melihat arsitektur kamar itu yang cukup unik. Selera orang jaman dulu memang aneh.


"Apa barang yang diambil tuan besar penting?" tanya Nara saat Reynand membuka satu persatu laci dimeja yang ada didalam kamar itu.


"Entahlah, tapi aku rasa dia tidak akan menemukan apapun disini" jawab Reynand.


"Memang apa yang harus kita cari?" tanya Arya pula yang juga mulai membuka satu persatu lemari lemari kecil yang ada disana.


"Surat kuasa dan surat perjanjian tentang perusahaan Adidaksa" jawab Reynand.


"Apa mungkin kakek mu menyimpan surat penting itu disini?" tanya Nara


Reynand mendengus senyum dan menggeleng.


"Tentu tidak, ada tempat tersendiri untuk menyimpan nya" jawab Reynand.


Arya langsung menoleh kearah Reynand dengan pandangan kesal.


"Lalu apa yang anda bongkari sejak tadi wahai tuan muda. Astaga, membuang buang waktu saja" gerutu Arya seraya memandangi Reynand yang mencari sesuatu didalam lemari kakek nya.


"Nah ketemu" seru Reynand nampak begitu senang.


"Nara lihat" Reynand langsung mendekat kearah Nara seraya membawa sebuah kotak kecil ditangan nya.


Nara mengernyit memandangi kotak itu. Seperti kotak cincin. Dan saat Reynand membukanya, memang ada dua buah cincin didalam sana. Cincin perak namun bermata berlian asli. Cantik dan indah sekali.


"Cincin??" gumam Nara.


Reynand langsung mengangguk dan mengeluarkan satu.


"Kemarikan tangan mu" pinta Reynand.


Dengan ragu Nara langsung menjulurkan tangan nya, dan langsung saja Reynand memasangkan cincin itu dijari manis Nara.


"Pas sekali" gumam Reynand dengan mata tajam yang berbinar.


Nara tersenyum dan memandangi cincin itu. Ada seperti kode dibalik cincin itu, bukan kode namun seperti bentuk bunga. Bunga.... kemuning???


"Itu cincin yang sudah aku siapakan sejak lama. Sejak aku masuk kuliah waktu itu. Cincin yang aku buat untuk menagih janjimu menikah dengan ku. Tapi bodohnya aku yang tidak menyadari jika kamu adalah gadis itu" ucap Reynand.


Nara langsung tersenyum mendengar itu. Ternyata Reynand memang masih mengingat janji nya dulu.


"Dan meskipun terlambat, aku ingin kita memakai cincin ini. Anggap saja cincin pernikahan" ucap Reynand yang juga memakai cincin nya sendiri.


"Untung saja pas" gumam Nara seraya terus memandangi cincin nya.

__ADS_1


"Aku juga tidak tahu" jawab Reynand seraya tertawa kecil.


Sedangkan Arya langsung duduk disebuah kursi dengan helaan nafas yang berat dan kesal. Jauh jauh datang kemari apa hanya untuk sebuah cincin??? Katanya ingin mencari sesuatu, namun sudah sejauh ini mereka malah bernostalgia lagi. Menyebalkan memang!!!! Dia sudah seperti menonton kisah cinta ftv saja sekarang.


__ADS_2