Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan

Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan
Harus Ikhlas


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu...


Waktu terasa begitu cepat untuk sebuah kebahagiaan, tapi begitu lama untuk seseorang yang sedang patah hati seperti Arya. Tidak terasa sudah hampir lima bulan kepergian Zelina, tapi rasanya masih baru kemarin mimpi buruk itu menyapanya. Mimpi buruk yang selalu menghantui hari hari Arya Bagaskara.


Jika Zelina masih ada, mungkin sekarang mereka sedang merajut kebahagiaan bersama sama. Pasti sekarang mereka tengah menikmati masa masa pengantin baru dan membentuk keluarga yang bahagia. Tapi nyatanya, semua hanya tinggal impian yang terpaksa harus ikut terkubur bersama jasadnya didalam tanah.


Arya tersenyum tipis melihat foto Zelina yang selalu dia pandangi setiap harinya. Foto yang akan menjadi pengobat rindunya yang tidak berujung.


Rasanya cepat sekali kamu pergi Ze....


Luka itu bukan semakin pulih, tapi semakin bertambah...


Bukan tidak ikhlas. Arya sudah merelakan kepergian nya. Tapi sungguh, hatinya masih terasa sakit jika mengingat dia. Rasa cinta dan rindu yang begitu besar tentu tidak bisa di abaikan begitu saja. Apalagi merindukan seseorang yang sudah tidak ada, itu sungguh menyakitkan.


tok tok tok


Suara ketukan pintu diruang kerja nya membuat perhatian Arya teralihkan. Dan ternyata Nina yang masuk dengan membawa beberapa dokumen ditangan nya.


"Tuan maaf, ada yang perlu anda tanda tangani" ucap Nina seraya menyerahkan dokumen itu diatas meja Arya. Meja bekas kerja Nara dulunya. Karena sekarang Arya sudah menempati ruangan presdir utama.


Arya hanya mengangguk dan langsung meraih dokumen itu tanpa berkata apapun. Sedangkan Nina hanya bisa terdiam pasrah. Semenjak kekasih nya meninggal, Arya menjadi pendiam dan tidak lagi banyak berbicara. Dia hanya berbicara seperlunya saja. Bahkan lebih terkesan dingin sekarang.


Tidak ada lagi Arya yang sering mengganggu nya seperti dulu, tidak ada lagi Arya yang sering bercanda dengan karyawan yang lain. Dan tidak ada lagi Arya yang cerewet seperti biasa.


Nina rindu suasana perusahaan yang hangat. Sekarang, semua berubah seakan ikut merasakan patah hati Arya.


Nina keluar dari ruangan itu, meninggalkan Arya sendiri lagi. Matanya fokus pada pekerjaan, meski terkadang otak nya menolak untuk bekerja. Tapi setidaknya dengan bekerja dengan keras, dia bisa melupakan sedikit tentang kesedihan nya pada Zelina.


Pintu kembali terbuka, dan Arya mengabaikan nya. Mungkin Nina yang masih memerlukan sesuatu, fikirnya. Namun ternyata bukan, karena yang datang adalah Nara.


"Aryo" panggil Nara


Arya langsung menoleh dan memandang Nara. Dia berjalan dengan begitu kesulitan dengan perut besar nya itu. Ditangan nya juga membawa sesuatu.


"Oh ya ampun... pinggang ku" gumam Nara yang langsung duduk di sofa dan bersandar disana. Dia terlihat lucu dengan perut yang begitu besar. Bahkan bertimbal balik dengan tubuhnya itu.


Arya menghela nafas dan langsung beranjak dari meja kerja nya menuju Nara.

__ADS_1


"Kenapa kamu kemari lagi?" tanya Arya seraya duduk disamping Nara.


Nara mendengus memandang Arya.


"Aku datang dua hari yang lalu, dan sekarang kau malah bertanya kenapa" gerutu Nara, terdengar begitu kesal. Dia memang sering datang menemui Arya. Sungguh, meskipun Nara dan keluarga Adiputra juga kehilangan Zelina, tapi Arya pasti juga merasakan lebih dari itu. Bahkan dia sudah tidak mau lagi datang kerumah utama, dia bilang jika dia belum siap untuk masuk kerumah itu lagi. Jika ingin bertemu dengan mama dan tuan Abas, Arya hanya datang keperusahaan Adidaksa saja.


"Perutmu sudah besar Nara. Kamu tidak takut melahirkan di jalan" tanya Arya


Nara mengusap perutnya yang memang tinggal menunggu hari untuk melahirkan.


"Mereka merindukan uncle nya" jawab Nara.


Arya memandang Nara dengan helaan nafas berat dan dia langsung bersandar disandaran sofa.


"Kamu membuatku seperti seseorang yang sangat menyedihkan" ucap Arya. Nada bicaranya terdengar datar dan dingin.


Nara langsung bersandar dibahu Arya, membuat Arya langsung menoleh kearahnya.


"Aku berkata jujur Yo. Anak anak ku memang merindukan mu. Mereka merindukan uncle nya yang hangat seperti dulu dan juga merindukan senyum uncle nya yang menyebalkan itu" ucap Nara. Dan bisa dia rasakan jika helaan nafas Arya terasa begitu berat.


"Kita hanya berdua, sejak dulu kamu selalu ada untuk ku. Menemani setiap kesakitan ku, menghibur disaat kesusahan ku, dan selalu menjaga ku. Sekarang, biarkan aku ada disamping kamu. Kita saudara bukan?" tanya Nara. Dia mendongak dan memandang wajah Arya yang tiba tiba berubah sendu sekarang.


"Lihat, bahkan mereka saja ingin menghibur uncle nya yang sedang bersedih" kata Nara lagi.


"Aku hanya sedang menata hati Nara. Kamu tahu sakitnya seperti apa bukan. Tidak ada badai yang datang, tapi tiba tiba dia pergi" ucap Arya. Tangan nya masih betah mengusap perut Nara.


"Aku tahu, kamu pasti begitu kehilangan dia. Dan bukan hanya kamu, tapi kita semua. Mama, papa dan juga Reynand. Semua kehilangan dia Yo. Tapi, Tuhan sudah berkehendak lain. Dia mengambil Zelina pasti juga untuk membuat Zelina bahagia di sana." ungkap Nara


"Umur tidak ada yang tahu. Bahkan kamu tahu, sejak dulu aku sudah ingin sekali pergi dan menyerah disaat aku sakit, dan juga disaat aku kehilangan Reynand. Tapi Tuhan tidak juga mengambil nyawaku. Tapi Zelina, dia sehat, dan dia bahagia, tapi Tuhan mengambil dia begitu cepat. Aku juga kehilangan dia. Jika bisa diganti, ingin sekali aku dan Reynand saja yang pergi waktu itu dan menggantikan Zelina agar dia tetap ada disini" ucap Nara lagi, terdengar begitu lirih. Dia benar benar kehilangan Zelina. Dia sedih melihat semua orang sedih, mama yang masih sering menangis, Reynand yang masih sering melamun mengenangkan kepergian adiknya, dan Arya yang seperti sudah tidak lagi bernyawa. Rasanya dia benar benar tidak sanggup.


Arya tertegun mendengar itu. Dia menghela nafas nya kembali.


"Harus ikhlas ya. Zelina sudah berada ditempat yang tenang sekarang. Dia tidak akan merasakan kesedihan lagi. Boleh bersedih, tapi jangan sampai menyesali kepergian nya. Kamu harus ikhlas agar dia tenang dan bahagia disana" ujar Nara seraya memandang Arya dengan lekat.


Arya tersenyum tipis dan mengangguk.


"Aku sudah ikhlas, hanya masih mencoba menerima" jawab Arya

__ADS_1


"Kamu pasti bisa. Kamu kuat Yo." kata Nara


Arya mengusap kepala Nara dengan lembut.


Kuat??


Begitukah??


Apa karena itu Tuhan memberikan nya cobaan ini. Dulu Tuhan mengambil orang tuanya sekaligus dan hanya membiarkan nya hidup bersama Nara dan keluarganya. Dan sekarang Tuhan mengambil kekasih hatinya dengan begitu cepat.


Apa itu karena dosa Arya yang begitu banyak?


Atau karena Tuhan masih ingin menguji kekuatan nya??


Tapi sungguh, Arya tidak sekuat itu. Dia tidak setangguh itu untuk merasakan kehilangan terus menerus.


"Ra..." panggil Arya pada Nara


Nara mendongak kembali dan memandang Arya


"Semua orang sudah meninggalkan aku. Dan lagi lagi, aku hanya punya kamu. Kamu juga jangan pergi meninggalkan aku ya. Meskipun kamu sudah bahagia bersama keluarga kecilmu" pinta Arya.


Nara langsung mendengus senyum mendengar itu. Namun matanya malah berkaca kaca sekarang. Dia langsung memeluk Arya dan menyembunyikan kesedihan nya. Ya, sedih sekali mendengar perkataan Arya ini.


"Aku tidak akan pergi Yo, kamu itu saudara ku satu satunya. Meskipun aku sudah menikah dan mempunyai keluarga sendiri. Kamu akan tetap bersama ku sampai kapanpun" ucap Nara


"Terimakasih, aku beruntung bertemu dengan mu" jawab Arya


"Aku yang beruntung ada kamu Yo" sahut Nara.


Ya, sejak dulu hingga sekarang. Mereka hanya berdua. Dan sudah sepantasnya untuk saling menguatkan. Dan beruntung nya Nara, jika Reynand yang biasanya posesif dan tidak membiarkan Nara pergi kemanapun. Kini semenjak Zelina tidak ada, Reynand memperbolehkan Nara untuk bertemu Arya kapanpun dia mau. Karena Reynand juga tahu, Arya pun butuh seseorang yang menemani kesedihan nya.


Tiba tiba Nara mengernyit dan langsung melepaskan pelukan nya dengan cepat, membuat Arya memandang nya dengan heran.


"Yo.... seperti ada yang mengalir" ucap Nara seraya memandangi pahanya yang mulai basah.


"Kamu ngompol?" tanya Arya yang juga memandangi kaki Nara

__ADS_1


Nara menggeleng dan langsung memegang lengan Arya dengan kuat.


"Yo... air ketuban ku pecah!!!!" teriak Nara membuat Arya langsung panik dan kebingungan.


__ADS_2