
Akhirnya, siang itu juga Nara dan Reynand pulang kembali ke Jakarta bersama Arya. Seharusnya siang ini mereka sudah tiba, namun karena drama yang dibuat oleh Bima, terpaksa mereka harus menunda terlebih dulu.
Nara hanya diam disepanjang jalan, sembari sesekali dia mengecek ponsel nya. Perjalanan masih cukup jauh, sekitar tiga jam lagi.
Reynand masih sibuk mengecek email yang masuk kedalam iPad nya. Baru dua hari tidak masuk, tapi pekerjaan sudah menumpuk.
Sedangkan Arya masih fokus pada kemudinya. Dia cukup repot hari ini dibuat Bimantara. Untung saja prosesnya tidak sampai kepolisi, jika tidak, nama baik rekan bisnis Nara itu pasti akan tercoreng.
Nara tersandar dikursi nya, pinggang nya sudah terasa pegal. Entah kenapa sejak memiliki ginjal satu, kesehatan nya sudah tidak seperti dulu. Baru duduk sebentar saja dia sudah lelah.
Tapi... ya meskipun begitu, dia sudah cukup bersyukur masih bisa bernafas dengan baik saat ini.
"Sini, baring lah kalau pegal" ucap Reynand tiba tiba.
Nara langsung menoleh kearah nya. Memandang Reynand yang melepaskan jaket nya dan bergeser sedikit mendekat kepintu mobil.
"Sudah lelah kan. Kemari lah, kamu bisa tidur dulu. Masih jauh lagi perjalanan kita" ujar Reynand seraya menarik lengan Nara untuk mendekat kearahnya.
"Apa tidak apa apa, aku memang mengantuk sekali" ucap Nara.
Reynand tersenyum dan mengangguk, seraya dia yang menarik Nara untuk berbaring dipangkuan nya.
"Tidak apa apa, setidak nya, kamu tidak lelah duduk terus" jawab Reynand seraya menyelimuti tubuh Nara dengan jaketnya.
Nara tersenyum dan langsung mencari tempat ternyaman dipangkuan Reynand.
Ah... ini adalah hal yang selalu bisa membuat nya bahagia. Apalagi ditambah dengan usapan lembut dari tangan Reynand dikepala nya. Membuat mata Nara semakin mengantuk saja.
Nara mulai memejamkan matanya dan menaikan kaki nya keatas kursi. Untung saja tubuh nya tidak terlalu besar dan tinggi. Hingga dia masih bisa tertidur dengan nyaman.
"Jika sudah dekat bangunkan aku ya" pinta Nara, masih dengan mata yang terpejam.
"Iya sayang, tidurlah" jawab Reynand. Seraya terus mengusap kepala Nara dengan lembut. Memperhatikan wajah cantik yang terlihat anggun mau bagaimana pun keadaan nya.
Disaat sakit saja Nara masih terlihat cantik, apalagi sekarang disaat dia memang sudah sehat. Binar wajahnya begitu indah, dan semua yang terlihat benar benar mempesona. Dan keindahan ini yang selalu bisa membuat hati Reynand jatuh cinta untuk kesekian kalinya.
Ya, Bagaimana mungkin Bimantara bisa merelakan Nara begitu saja. Jika semua yang ada pada Nara rasanya tidak bisa didapatkan dari wanita lain. Parasnya yang cantik, gayanya yang elegan dan anggun, dan juga senyum nya yang indah, benar benar begitu membuai. Ditambah dengan kebaikan hatinya yang begitu tulus, Nara seperti seorang malaikat bagi Reynand. Dan bukan hanya bagi Reynand, melainkan bagi orang orang yang juga menyukai nya.
Malam tadi..
sebenarnya Reynand tahu jika Bimantara mengintip mereka berdua dibalik dinding. Maka dari itu Reynand memanggil Nara kembali, dan dengan sengaja mengecup bibir Nara. Itu dia lakukan agar Bimantara tahu jika mereka memang saling mencintai. Dan Reynand hanya ingin Bimantara bisa merelakan Nara sepenuhnya dan tidak lagi berharap apapun. Karena bagaimana pun Nara adalah milik nya. Sejak dulu, hingga sampai habis umurnya.
Reynand juga tahu, jika Bimantara keluar rumah di dini hari tadi pasti karena hatinya yang kacau, terlihat dari pandangan nya yang memandang Nara dengan sendu, dan penuh kesal pada Reynand.
Tapi Reynand juga tidak menyangka jika Bimantara akan mengalami kejadian ini.
Untung saja dia tidak mati. Kalau Bimantara mati, bukan kah dia membawa mati cintanya untuk Nara.
Astaga ...
Reynand benar benar tidak bisa membayangkan jika itu terjadi.
Meski dia kesal, tapi sama sekali dia tidak ingin hal itu terjadi. Reynand ingin Bimantara juga bahagia. Karena bagaimana pun, lelaki itu sudah pernah berjasa dalam kehidupan nya dan Nara.
Dari kursi kemudi..
Arya hanya melirik Reynand dari kaca mobil. Melihat Reynand yang masih betah memandangi Nara dan mengusap lembut kepala nya.
Arya tersenyum tipis melihat ini. Jika saja sejak dulu mereka menjalin hubungan yang baik. Mungkin tidak akan ada yang tersakiti. Baik itu Nara, maupun Bimantara sekarang.
Tapi mau bagaimana lagi, semua sudah ada jalan nya masing masing. Bagaimana pun perlakuan Reynand pada nya dulu, Arya bisa melihat jika cinta Nara memang hanya untuk Reynand. Meski Bimantara datang dan menawarkan sejuta cinta untuk nya. Tapi jika yang ada dihati sudah cinta lama, mau bagaimana pun manis nya Bimantara, tetap saja tidak akan pernah terlihat oleh Nara. Yang cinta nya sudah dia berikan pada Reynand seluruh nya.
Miris sekali percintaan mereka memang...
Bahkan Arya juga tahu, jika Bima keluar rumah pasti karena Nara dan Reynand. Lelaki itu ingin mencari ketenangan, namu malah masalah lagi yang dia dapat.
Semoga saja dia tidak menjadi gila, apalagi ditambah dengan harus bertanggung jawab untuk mengurus gadis misterius itu.
..
Sore harinya...
__ADS_1
Saat Reynand, Nara dan Arya sudah sampai dirumah untuk beristirahat dan bersantai.
Dirumah sakit Bimantara masih harus menyelesaikan masalah nya.
Seperti yang dikatakan oleh Arya, kini Bima memang sedang bingung.
Dia duduk dan memandangi gadis yang masih tertidur diatas ranjang nya.
Kaki kanan gadis itu sudah dibalut dengan perban. Lengan nya lecet-lecet dan penuh luka. Sepertinya dia memang jatuh terhempas dan terseret cukup jauh.
Wajah gadis ini cukup cantik, rambutnya pirang dan juga memiliki hidung bangir yang cukup mancung. Apa dia keruturan orang luar?
Entah lah mungkin saja.
Bahkan Bimantara masih tidak menyangka jika orang yang dia tabrak malam tadi adalah seorang gadis muda. Bagaimana bisa gadis seperti ini membawa motor gede ditengah malam buta seperti itu. Apa gadis ini juga sedang patah hati sama seperti dia??
Bimantara menghela nafasnya dengan berat. Ini semakin menambah beban hidupnya saja.
Jika gadis ini bangun, Bima akan bernegosiasi. Semoga saja dia mau.
Hingga tidak lama kemudian, gadis ini mulai bangun dari tidurnya. Matanya mulai bergerak dan Bimantara hanya memandangi nya saja.
Dan ketika gadis itu telah membuka matanya, mata mereka langsung bertabrakan dan saling memandang dengan lekat.
Alis gadis itu mengernyit memandang Bima.
"Siapa kamu?" tanya gadis itu. Suara nya masih serak, namun terdengar lembut.
Dia memandangi Bima dengan lekat, dan juga melirik kepelipis Bima yang masih tertempel perban.
"Aku Bimantara. Orang yang sudah menabrak mu malam tadi. Maafkan aku, karena kelalaian ku kamu menjadi seperti ini." jawab Bima. Wajahnya datar, dan karena salah, dia memang sudah seharusnya meminta maaf bukan.
Gadis itu tidak bereaksi. Wajah nya juga datar saja. Dia hanya menghela nafas pelan dan melirik kearah kaki nya yang ada dibalik selimut.
"Apa kamu akan bertanggung jawab?" tanya gadis itu.
Bima langsung mengangguk.
Gadis itu mendengus senyum, namun terkesan sinis.
"Orang orang yang datang sebelum kamu pasti sudah memberi tahumu apa yang aku mau bukan" ujar gadis itu.
"Apa tidak sebaiknya kamu pulang kerumah. Jika kamu tetap disini, bukankah akan semakin menambah masalah. Bagaimana jika keluarga mu mencari mu?" tanya Bima
"Kamu bilang ingin bertanggung-jawab. Kenapa harus berdalih?" tanya gadis itu.
Bima menghela nafas dan menyandarkan punggung nya disandaran kursi. Kepala nya masih pusing.
"Aku bukan berdalih. Hanya saja jika kamu tidak mengabari mereka, apa mereka tidak berfikir jika aku menculikmu dan menyembunyikan mu ditempat ini. Siapa kamu dan dari mana asalmu saja aku tidak tahu" ungkap Bima.
"Kamu tidak perlu tahu. Setelah aku sembuh, aku akan pergi tanpa menimbulkan masalah apapun" jawab gadis itu.
Bima memandang nya dengan lekat. Kenapa gadis ini keras kepala sekali.
Apa dia sedang bertengkar dengan keluarganya?
Atau dia sedang ada masalah lain sehingga tidak ingin keluarga nya tahu?
Atau mungkin dia tidak mempunyai keluarga hingga dia bisa berkeliaran ditengah malam buta dengan motor itu.
"Jangan melihat ku seperti penjahat begitu. Kamu hanya perlu bertanggung jawab padaku. Bukan pada keluarga ku" ucapan gadis itu membuat Bima kembali menghela nafas dan mengangguk.
"Baiklah, terserah kamu saja. Yang terpenting jika kamu sudah sehat, kamu sudah harus pergi tanpa meninggalkan jejak apapun. Hidupku sudah penuh dengan masalah, jangan kamu tambahi lagi" ujar Bima.
Gadis itu mendengus
"Ya, maka dari itu kamu mabuk mabukan dijalan dan hampir membunuh ku" sahut nya.
"Bukan hanya aku, tapi kamu juga bukan. Untuk apa seorang gadis berkeliaran ditengah malam dengan motor seperti itu. Sudah seperti preman jalanan saja" balas Bimantara.
"Bukan urusan mu" sergah gadis itu.
__ADS_1
"Dan bukan urusan mu juga jika kenapa aku mabuk mabukan" balas Bima tidak mau kalah.
Yah, sepertinya ini awal yang buruk. Bukan nya menjalin pertemanan diawal pertemuan, mereka malah sudah saling berdebat.
Apa Bima yang memang selalu suka berdebat?
Atau gadis ini yang memang menjengkelkan.
"Kata dokter besok kau baru bisa pulang. Untuk sekarang keadaan mu masih cukup lemah" kata Bima lagi.
"Aku tahu" jawab gadis itu.
Bima sungguh benar benar kesal melihat gadis ini. Dia tahu dia yang salah, tapi tidak bisakah gadis ini bermulut manis atau tersenyum sedikit. Sejak tadi jika bukan wajah datar yang Bima dapatkan, pasti wajah sinis nya.
"Siapa namamu?" tanya Bima lagi.
Gadis itu langsung menoleh pada Bima.
"Jika kamu tidak ingin memberi tahuku, maka bagaimana aku bisa memanggil mu" sahut Bima lagi.
"Gendis" jawab gadis itu.
"Gendis???" gumam Bima.
Serasa tidak percaya. Wajah gadis ini blasteran. Bahkan dia memiliki mata cokelat muda yang begitu indah. Khas orang barat, tapi kenapa nama nya Gendis???
"Kamu menipuku?" tanya Bima.
Gadis itu menyelis kesal.
"Tidak percaya yasudah" sahut nya.
Bima mendengus gerah.
"Wajah blasteran, nama indo sekali" remeh Bima seraya beranjak dari kursinya.
Gendis terlihat mengeram memandang Bima. Bahkan rasanya dia ingin sekali menghajar wajah datar yang menyebalkan itu.
"Jangan banyak bergerak jika kamu memang mau sembuh. Jika tidak, aku tidak akan mau menolong mu" ujar Bima.
"Coba saja jika kamu tidak mau menolong. Aku akan melaporkan mu ke polisi. Namamu dan perusahaan Bimantara pasti hancur. Dan jangan harap tuan Reyza aksara bisa menolong mu" seru Gendis.
Bima yang sudah berjalan hampir diambang pintu langsung menoleh pada Gendis.
"Kamu tahu perusahaan ku?" tanya Bima
Gendis tersenyum sinis
"Semua tentang mu aku tahu. Maka jangan macam macam padaku" jawab Gendis.
"Kamu mengancam ku" geram Bima
"Aku hanya berkata yang sebenarnya" jawab Gendis dengan acuh.
Bima memandang kesal pada gadis itu. Baru sehari tapi sudah cukup mampu mempermainkan emosinya. Bagaimana jika mereka bertemu setiap hari nanti.
Astaga...
Tidak bisa Bima bayangkan akan seperti apa jadinya..
Bima langsung melengos dan segera berjalan keluar dari ruangan Gendis. Berlama lama bersama gadis itu membuat kepala nya bertambah sakit saja.
Tapi tunggu dulu...
Dari mana Gendis tahu jika dia adalah pemilik perusahaan Bimantara??
Apa dari Reyza?
Bima langsung mengendikan bahunya. Reyza pasti sudah memberi tahu gadis itu semua nya. Sekarang hanya tinggal menyiapkan hati dan mentalnya untuk menghadapi gadis itu.
Ah... kenapa hidupnya sesial ini???
__ADS_1