Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan

Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan
Gelang Kenangan


__ADS_3

Anara, nama yang memilki arti kuat dan sempurna, mungkin karena itu ibu Nara menyematkan nama itu dulu nya. Berharap Anara bisa menjadi wanita yang kuat dan sempurna dalam segala hal. Kuat menerjang segala tekanan hidup yang semakin lama semakin menghimpit jiwa nya.


Padahal Anara tidak sekuat itu, tubuh nya bahkan sudah menolak dan protes karena dipaksa terus menerus untuk memikul beban sendirian, dan hati nya, jangan tanyakan lagi bagaimana bentuk nya sekarang.


Sejak kecil Anara tumbuh menjadi gadis yang cantik dan ceria, kehidupan nya sempurna dan penuh kebahagiaan, hingga semua terenggut saat ayah nya meninggal karena sakit yang dia derita. Kanker ginjal. Maka Anara tidak heran dari mana dia mendapatkan sakit ini, sudah pasti dari darah keturunan, ditambah dengan pola hidupnya yang tidak sehat.


Anara masih ingat, hari itu dibulan oktober, hujan gerimis seakan tidak ingin berhenti. Anara baru pulang dari sekolah nya disalah satu sekolah menengah pertama yang menampung anak anak pejabat dan orang orang penting.


Anara sedang menunggu supir yang biasa menjemput nya didepan pagar sekolah. Payung kecil bewarna biru muda menjadi teman setia nya sore itu. Namun hingga beberapa jam menunggu, supir yang menjemput Anara tidak juga datang. Dan akhirnya Anara memutuskan untuk berjalan kaki saja sembari bermain air dijalanan, menikmati rasa sejuk tetes air hujan dan bau tanah basah yang benar benar beraroma khas


Anara remaja tidak tahu rasa sedih sedikitpun, hidup nya selalu dipenuhi oleh kasih sayang dari kedua orang tua nya. Hanya cinta yang mereka ajarkan pada Nara, bukan kebencian.


Saat bermain air yang mengalir disebuah jalanan berbatu, tiba tiba dari arah belakang dua orang datang dan mengejutkan nya. Orang orang yang berbadan besar dengan wajah sangar nya. Mereka menangkap dan membawa Nara pergi menjauh menuju sebuah mobil hitam yang terparkir dujung jalan, menyisakan payung biru muda yang tergeletak begitu saja.


Nara ketakutan, menangis dengan mulut yang dibekap erat. Namun tiba tiba, satu orang pria ambruk dengan kepala yang berdarah. Nara diturunkan dari bahu pria yang membawa nya, dan Nara dapat melihat seorang remaja memakai baju SMA berdiri tanpa takut dengan dua buah batu besar ditangan nya.


Anak remaja berwajah dingin itu bahkan berhasil memukul orang yang ingin membawa Nara pergi, pria itu jatuh bersimbah darah tepat dihadapan Nara yang mematung.


Tangan Nara langsung ditarik pergi oleh remaja itu menjauh dari sana, hingga tiba disebuah pondok kecil mereka duduk berdua dengan baju yang basah kuyup. Pondok kecil dibawah pohon kemuning yang menjadi saksi awal pertemuan Nara dengan cinta pertamanya.


"Kakak terimakasih" ucap Nara pada remaja SMA itu yang hanya mengangguk dan tersenyum tipis


"Lain kali jangan pergi sendirian lagi" ucap remaja itu sembari melepaskan jaket nya dan menyelimutkan nya ditubuh Nara


Nara langsung tersenyum dengan manis, mata nya tidak lepas dari wajah tampan pemilik mata cokelat gelap yang tajam


"Aku harus pergi" ucap remaja itu, namun Nara terlihat keberatan dan takut


"Jangan takut, mereka sudah tidak ada lagi. Sebaik nya kamu tunggu disekolah saja ya" kata nya lagi


"Bagaimana jika orang itu masih ada, tidak akan ada yang menolongku lagi" ucap Nara dengan mata yang memerah menahan tangis


Remaja itu mengusap kepala Nara dengan lembut, dia mengeluarkan sesuatu dari dalam tas nya. Sebuah gelang perak polos, dan ada ukiran nama nya ditengah


"Ini untuk kamu" kata remaja itu


Nara memandang nya bingung, namun dia langsung mengambil nya dari tangan remaja itu


"Itu gelang kesayanganku. Hari ini aku memberikan nya padamu. Jaga baik baik, besok jika ada waktu aku akan kesini lagi menemui mu" kata remaja itu yang beranjak dari duduk nya, kepala Nara mendongak menatap wajah yang sangat tampan itu


Dia ingin pergi, namun Nara langsung menarik lengan nya, membuat remaja itu kembali menoleh pada Nara yang juga melepaskan sesuatu dari leher nya dan menyerahkan nya pada remaja itu


"Ini juga kalung kesayangan ku. Kakak simpan ya, suatu saat aku akan membalas kebaikan kakak" ucap Nara begitu polos. Remaja itu langsung mengangguk dan tersenyum sembari menerima nya

__ADS_1


"Membalas dengan apa?" tanya remaja itu


Nara tampak terdiam dan memikirkan sesuatu, dan tidak lama kemudian dia langsung tersenyum dengan riang


"Kalau sudah dewasa nanti aku akan mencari kakak, aku akan menikah dengan kakak sebagai rasa terima kasihku" jawab Nara. Remaja itu langsung tertawa kecil dan mengacak gemas pucuk kepala Nara


"Baiklah, aku akan mengingat perkataan mu ini adik kecil" sahut remaja itu. Dia kembali mengusap kepala Nara dan bergegas pergi dari sana. Bahkan Nara masih memandang remaja itu hingga dia pergi dan menghilang diujung persimpangan jalan.


Nara memandang gelang perak ditangan nya, bertuliskan nama


"Reynand"


....


Pandangan mata Nara memburam saat buliran air terbendung seakan ingin tumpah membasahi wajah pucat nya. Dia masih memandang gelang perak yang dia genggam. Gelang yang kemanapun selalu dia bawa, gelang dari seorang pria yang pernah menyelamatkan hidup Nara. Dan sekarang pria itu telah menjadi suami nya. Ya, Nara sudah menepati janji nya untuk mencari Reynand dan menikah dengan nya.


Sebelas tahun yang lalu, dioktober yang sama. Dimusim hujan yang sama, telah dia labuhkan hati dan keyakinan nya untuk lelaki itu, lalu bagaimana mungkin dia bisa pergi begitu saja setelah sekian lama dia memendam perasaan nya.


Meski Reynand melupakan itu, namun Nara tidak akan pernah melupakan nya.


"Nara" panggil Arya tiba tiba. Nara yang sedang duduk melamun diatas sofa memandang keluar jendela ruangannya hanya menoleh pelan pada Arya yang entah sejak kapan masuk kedalam ruangan itu


"Kamu masih menyimpannya?" tanya Arya melihat gelang perak ditangan Nara


"Untuk apa kamu masih menyimpan gelang itu, bahkan Reynand sudah melupakan nya." ucap Arya begitu kesal. Dalam hidup Nara hanya ada Reynand, Reynand dan Reynand. Entah sampai kapan Nara akan begini


"Tidak apa apa, aku juga tidak berharap dia masih mengingat itu" jawab Nara. Ya, karena jika Reynand mengingat nya pasti dia tidak akan terima, Reynand pasti akan mengungkit kebaikan nya dulu, dan Nara tidak ingin itu terjadi.


"Terserah padamu saja" dengus Arya


Nara hanya tersenyum tipis dan kembali memandang langit diatas sana yang masih menangis dan belum berhenti.


"Lalu apa yang akan kita lakukan dengan ayah tiri kamu. Apa kamu akan memberikan keuntungan perusahaan demi untuk membayar bunga bunga hutang itu?" tanya Arya lagi


"Apa boleh buat, tidak ada cara lain" jawab Nara terdengar begitu berat, tapi memang hanya itu. Mungkin untuk beberapa tahun ini dia hanya akan menjadi mesin pencetak uang saja bagi tua bangka itu


"Jika saja Reynand tidak membatalkan kerja sama itu, pasti keuntungan dari sana bisa dibuat untuk menutupi hutang perusahaan" gumam Arya terdengar kesal


Nara terlihat menghela nafas nya dengan pelan dan menoleh pada Arya


"Kamu tidak perlu memikirkan nya, biarkan ini menjadi urusanku. Pasti suatu saat nanti semua nya bisa lunas dan perusahaan tidak lagi terikat dengan mereka" ungkap Nara


"Kamu jangan terus menerus berusaha kuat Nara. Sekali saja, cobalah fikirkan untuk dirimu sendiri" kata Arya terdengar kesal

__ADS_1


"Kebahagiaan orang orang disekitarku adalah kebahagiaan untuk ku Yo" jawab Nara


"Kamu memang keras kepala" dengus Arya


"Sudah lah, jangan marah marah terus, aku akan mengucir rambut mu nanti" kata Nara menunjuk rambut Arya yang memang gondrong


"Ya, kamu memang sudah lama tidak mengucir nya, bahkan sekarang aku sudah kehilangan tukang kucir rambut pribadi karena dia hanya memikirkan suami gila nya itu" jawab Arya terdengar merajuk seperti anak kecil.


Nara langsung tertawa kecil mendengar nya. Dia menyimpan gelang perak itu kembali kedalam sakunya dan duduk mengahadap kearah Arya


"Baiklah, kemari, aku akan membuat mu menjadi cantik" ucap Nara pada Arya yang mendengus namun tetap beranjak dari duduk nya dan berpindah duduk disamping Nara


"Wajah mu pucat sekali Nara, apa kau memang menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Arya


Nara hanya diam dan meraih rambut Arya dengan lembut. Arya mengernyit saat tangan Nara yang menyentuh leher nya terasa begitu dingin. Arya langsung berbalik menghadap Nara, membuat tangan Nara langsung melepas rambut panjang Arya


"Katakan apa yang terjadi padamu" kata Arya begitu serius


Nara masih diam, namun dia segera memalingkan wajah nya, tidak ingin memandang wajah Arya yang sedang dalam mode serius


"Anara" panggil Arya sembari menarik lengan Nara yang kembali menghadap kearah nya


Mata Nara mengembun kembali dengan wajah yang begitu sendu, membuat Arya langsung menarik Nara masuk kedalam pelukan nya. Gadis yang sudah dia anggap sebagai adik nya sendiri, dan juga orang yang paling spesial dalam hidup nya.


"Nara, kamu bilang kamu menganggapku sebagai kakakmu, lalu kenapa kamu tidak mau memberitahukan rasa sakitmu hm?" tanya Arya begitu lembut. Tangan nya mengusap punggung Nara yang lemah, bahkan Arya dapat merasakan jika tubuh Nara memang menyusut dan begitu kurus. Semenderita inikah dia?


"Aku baik baik saja, aku hanya lelah" jawab Nara dengan air mata yang mulai menetes namun tanpa isak tangis


Arya melepaskan pelukan nya dan memandang kembali wajah pucat dan sayu itu, meski sudah ditutupi oleh make up, namun tetap saja wajah itu menunjukkan jika dia sedang menderita lahir dan batin


"Kamu berbohong" ucap Arya sembari menghapus air mata Nara.


Nara tersenyum dan menggeleng. Ya sejak dulu Arya memang yang paling tahu tentang dirinya, tapi sungguh, Nara sudah begitu banyak membuat beban pada lelaki ini, dan dia tidak ingin Arya juga ikut bersedih dengan keadaan nya yang sekarang.


"Bukankah kita harus kekota B?" tanya Nara berusaha mengalihkan topik pembicaraan, dan Arya tahu itu. Dia hanya mengangguk menjawab pertanyaan Nara. Kecewa, sudah pasti. Nara selalu saja membatasi ruang lingkup mereka.


Arya beranjak dari duduk nya dan memandang wajah lelah itu


"Semua nya sudah siap, kita pergi sekarang saja" ucap Arya dan Nara hanya mengangguk


Arya pergi lebih dulu namun tiba tiba langkah nya terhenti saat mendengar suara sesuatu yang terjatuh. Arya membalikkan tubuh nya dan begitu terkejut melihat Nara yang sudah tergeletak diatas lantai dengan wajah yang semakin pucat.


"Nara!"

__ADS_1


__ADS_2