
Malam pesta telah berakhir, dan kini waktunya untuk kembali kerumah masing masing. Meninggalkan sejuta kenangan yang akan tersimpan dimemori. Entah itu sedih ataupun bahagia, yang jelas, ada rasa bahagia yang dirasakan malam ini ditengah tengah pedihnya hati yang mendamba.
Itulah yang di alami oleh Gendis, sejak awal datang kepesta pernikahan mewah ini, hatinya sudah merasa tercuil. Bagaimana tidak, jika seharusnya saat ini dia juga sudah menikah dan dengan pernikahan yang mewah juga tentu nya. Namun semua hanya tinggal angan dan harapan yang pernah terlukis dihatinya. Dan yang menjadi kenyataan nya ternyata begitu menyakitkan. Seseorang yang pernah dia harapkan untuk menjadi pelabuhan hatinya malah berkhianat dan menghancurkan semua impian nya.
Sekarang semua tinggal impian dan angan yang telah hancur, bahkan untuk berharap lagi, Gendis sudah takut.
Trauma??
Entahlah, dia tidak tahu. Tapi untuk memulai kembali, rasanya dia masih begitu ragu.
"Kenapa melamun seperti itu?" tanya Bima tiba tiba yang langsung membuat lamunan Gendis buyar dan berantakan.
Saat ini mereka sudah berada diperjalanan untuk pulang kerumah Gendis, hari sudah cukup larut, bahkan sudah lewat tengah malam.
Gendis tersenyum tipis dan menggeleng pelan.
"Sepertinya bukan aku yang sedih malam ini, tapi kamu" tuding Bima.
Gendis langsung menoleh kearah Bima dan memandang nya dengan lekat.
"Kamu ingat dia lagi?" tanya Bima.
Gendis terdiam dan kembali memandang nanar kedepan. Dia terlihat menghela nafasnya dengan berat.
"Aku hanya terkenang nasib ku yang begitu buruk" jawab Gendis
Bima langsung mendengus senyum mendengar itu.
"Kamu masih menyesali dia yang mengkhianati kamu?" tanya Bima lagi
"Tidak juga, hanya saja aku tidak menyangka jika nasib percintaan ku akan seperti ini. Seharusnya kami sudah menikah saat ini seperti nona Nara, tapi nyatanya malah gagal" jawab Gendis dengan senyum getirnya.
"Itu berarti dia bukan jodohmu" sahut Bima.
"Kamu percaya jodoh?" tanya Gendis seraya memandang Bima kembali.
Bima mengangguk pelan dengan mata yang masih fokus pada kemudi nya.
"Setiap orang diciptakan oleh Tuhan pasti memiliki jodoh. Kita boleh berencana dan berharap pada siapa kita berjodoh, tapi kembali lagi, jika semua sudah Dia yang mengatur" jawab Bima
Gendis terdiam dan tertunduk sejenak.
"Percayalah, jika Tuhan pasti akan menggantikan dia dengan yang lebih baik untuk mu" ujar Bima. Gendis langsung memandang Bima dengan lekat.
"Jangan lagi menyesali perpisahan kalian, semua hanya sia sia saja. Apalagi jika kamu masih menangisi dia, itu sangat tidak pantas" ucap Bima
Gendis mendengus senyum dan menggeleng.
__ADS_1
"Aku tidak menyesali perpisahan ini. Aku hanya menyesali pertemuan kami. Yang entah kenapa aku bisa bertemu dengan dia dan malah jatuh cinta dengan lelaki seperti itu" ungkap Gendis
Dan kini Bima yang terlihat tertawa kecil.
"Anggap saja sebagai pelajaran hidup. Jika tidak begitu, kamu tidak akan pernah bertemu dengan ku kan" sahut Bima.
Gendis mendengus senyum dan mengangguk.
"Ya, kamu benar. Aku tidak akan bertemu dengan lelaki menyebalkan sepertimu, yang ternyata juga sama dengan ku, sedang patah hati" ledek Gendis
Bima menoleh kearah Gendis dengan tawa kecil nya.
"Tapi dengan begitu kita bisa saling menghargai. Ya sepaling tidak bisa saling melengkapi. Aku menolong mu dari lelaki itu, dan kamu menolongku malam ini agar tidak menjadi lelaki yang menyedihkan diacara pesta itu" sahut Bima.
Dan entah kenapa Gendis yang tadinya bersedih kini malah tertawa mendengar ungkapan itu. Lucu sekali memang, mereka ada karena untuk melengkapi patah hati mereka masing masing.
Bahkan mereka sudah terlihat seperti pasangan kekasih tadi, dimana orang terawa, mereka juga tertawa, dimana orang berdansa dan berangkulan mesra, mereka juga begitu. Sama sama menutupi luka hati masing masing. Lucu sekali.
"Dan aku rasa ayah pasti akan menikahkan kita jika melihat kita begitu dekat seperti tadi" ungkap Gendis dengan tawanya.
Bima kembali terkekeh mendengar itu.
"Apa kamu keberatan untuk menikah dengan ku?" tanya Bima
Gendis terdiam mendengar itu, dia memandang Bima dengan lekat.
"Apa kamu mau menikahiku?" tanya Gendis pula.
Bima langsung menggeleng kan kepala nya dan kembali fokus pada kemudinya.
Sedangkan Gendis terlihat mengusap air mata yang entah kenapa malah mengalir disudut matanya.
"Lelucon yang tidak lucu" gumam Gendis.
"Takdir tidak ada yang tahu" sahut Bima
"Entahlah" jawab Gendis.
Mereka terdiam dengan fikiran masing masing, namun tiba tiba Bima mengernyit, saat melihat beberapa mobil dibelakang mereka yang terlihat begitu mencurigakan.
"Apa orang orang ayahmu masih mengikuti kita?" tanya Bima pada Gendis.
Gendis langsung menoleh kebelakang, dan dahinya terlihat berkerut memandang mobil yang ada dibelakang mereka.
"Sepertinya itu bukan mobil orang orang ayah Bim" ucap Gendis.
Malam ini mereka memang dikawal oleh orang suruhan tuan Renggono, tapi kenapa sekarang satu mobil itu tidak ada. Dan sudah berganti dengan mobil lain????
__ADS_1
Bima langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, namun mobil yang ada dibelakang mereka juga melajukan kecepatan nya, hingga kini mereka terlibat aksi saling kejar kejaran dijalanan yang sudah mulai lengang itu.
"Hubungi ayah mu, dan suruh orang orang nya untuk kemari, seperti nya ini adalah orang orang David" ujar Bima
Gendis yang mendengar itu langsung terlihat panik. Dan dengan cepat pula dia langsung mengeluarkan ponsel dari dalam tas nya.
"Bagaimana kamu bisa tahu?" tanya Gendis seraya menghubungi ayahnya.
"Aku tidak merasa punya musuh, dan sudah jelas ini pasti ulah David. Bahkan orang orang ayah kamu juga sudah tidak terlihat lagi" jawab Bima yang fokus pada kemudinya. Jantung nya berpacu dengan cepat secepat laju mobilnya malam itu.
Gendis langsung memberi tahukan pada ayahnya jika mereka sedang diikuti oleh orang yang tidak dikenal, bahkan dia sudah panik saat Bima mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan yang begitu tinggi. Jarak rumah nya masih jauh lagi, dan hari juga sudah cukup larut.
Hingga tiba tiba...
ciiiiiittttttttttt
brakkkk
Gendis langsung memejamkan matanya saat mobil mereka berputar karena menabrak salah satu mobil yang tiba tiba menghadang mereka. Untung saja Bima dengan cepat menginjak rem, hingga mobil itu bermanufer dijalanan yang kosong. Namun tetap saja, kepala Gendis bahkan sudah terhantuk dashboard mobil dan Bima sudah berdarah pelipisnya karena terhantuk setir kemudi dengan kuat.
"Kamu tidak apa apa?" tanya Bima saat mobil sudah berhenti berputar, dan terhenti tepat dipadang semak. Untung saja tidak masuk kedalam rawa.
Gendis menggeleng dengan ringisan diwajahnya karena kepala nya yang terasa pusing. Namun dia terkejut saat melihat pelipis Bima yang berdarah.
"Tapi kamu berdarah Bim" seru Gendis begitu panik.
Bima menggeleng dan tersenyum tipis seraya melepas sabuk pengaman nya.
"Tidak apa apa, tunggu disini sampai bantuan datang. Jangan keluar dari mobil apapun yang terjadi" ujar Bima
"Tapi Bim, bahaya" seru Gendis saat Bima malah keluar dari dalam mobil dan meninggalkan nya sendiri.
"Ya Tuhan, Bima" Gendis benar benar panik sekarang. Dia memandangi keadaan sekeliling nya dimana area itu sangat sepi. Bahkan tidak ada pengendara yang lewat sama sekali. Kenapa bisa seperti ini??
Gendis kembali memandang Bima yang berdiri didepan mobil mereka, dan nampak orang yang menabrak mobil mereka tadi keluar dari dalam mobil. Ada tiga orang berbadan besar yang keluar dari sana, dan itu cukup membuat Gendis begitu takut dan cemas.
"Mau apa kalian?" tanya Bima seraya mengusap sedikit matanya yang tertetesi darah dari pelipisnya yang terluka.
"Serahkan gadis itu pada kami" jawab pria berbadan besar itu.
"Siapa yang menyuruh kalian?" tanya Bima lagi.
"Jangan banyak omong, serahkan dia, atau kau tidak selamat malam ini" ancam mereka.
Bima menggeleng pelan seraya mendengus sinis. Menyerahkan Gendis atau tidak, dia sama sama tidak akan selamat. Lalu apa yang harus dia lakukan sekarang?
Malam yang cukup sial..
__ADS_1
"Aaaaaahh Bima .... tolong!!!!" teriakan Gendis membuat Bima langsung menoleh kearah nya. Matanya melebar saat ternyata Gendis sudah dikeluarkan dari dalam mobil oleh beberapa orang.
"Tidak jangan sentuh dia!!" teriak Bima yang langsung ingin mengejar Gendis yang dibawa pergi. Namun langkah nya terhenti saat tiga orang dihadapan nya langsung menghadang nya dan menghajar Bima tanpa ampun.