Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan

Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan
Semanis Madeleine


__ADS_3

Pagi itu mata Nara terasa begitu berat untuk terbuka. Tapi mau tidak mau dia harus tetap bangun, karena dia ingat, Reynand masih ada dirumah ini. Ya, malam tadi setelah makan malam Reynand langsung masuk kedalam kamar dan mengerjakan pekerjaan kantor nya. Lelaki itu terlihat begitu sibuk, dan mungkin saja dia memang sedang tidak ingin pergi kemanapun.


Tidak ada drama pertengkaran apapun yang terjadi malam tadi, Nara juga tidak tahu apa yang membuat otak lelaki itu sedikit bisa berjalan dengan baik. Meskipun wajah nya tetap datar dan dingin, tapi Nara cukup bersyukur karena Reynand tidak membuat tubuhnya sakit lagi. Karena tidak disakiti pun saat ini Nara benar benar sudah merasakan kesakitan yang begitu menyiksa.


Nara beranjak dari tempat tidur, duduk sebentar untuk mencoba meregangkan otot ototnya yang terasa kaku. Jam baru menunjukan pukul enam pagi, namun cuaca diluar rumah sepertinya sedikit lebih cerah dari semalam. Nara menarik nafas nya dalam dalam, sembari mengucap syukur dalam hati karena pagi ini dia masih diberi kesempatan untuk bernafas dan memandang indahnya dunia yang begitu menyakitkan.


Nara meminum air yang memang telah disediakan nya diatas meja, menelan satu butir pil penahan sakit agar dia tidak lagi menunjukkan kesakitan nya didepan Reynand pagi ini. Setelah itu dia langsung kekamar mandi untuk membersihkan wajah dan mengganti baju nya.


Sementara dikamar Reynand, lelaki itu masih bergelung dalam selimut. Malam tadi dia tidur cukup larut. Banyak sekali perkerjaan kantor yang harus diselesaikan nya. Ada beberapa masalah yang entah datang dari mana dan itu yang membuat nya lebih fokus pada pekerjaan dari pada untuk Nara.


Namun disaat dia masih ingin tidur lebih lama, bau masakan yang begitu harum membuat hidung nya terganggu. Reynand mulai membuka matanya perlahan, mengendus aroma kue yang begitu harum. Dia tahu aroma ini. Nara memang sering membuatnya. Kue favorite Reynand, Madeleine. Wanita itu memang selalu mengingat apa yang disukai Reynand, hingga terkadang Reynand tidak bisa untuk mengabaikan nya.


Mau tidak mau, Reynand bangun dari atas tempat tidur, jam juga sudah hampir pukul tujuh. Dan dia harus segera berangkat keperusahaan.


Sembari berjalan, mata tajam itu melirik setumpuk pakaian kantor yang telah disediakan oleh Nara. Dengan begitu rapi dan lengkap diatas meja dismping tempat tidur nya. Entah kapan dia menyiapkan, tapi dia memang selalu siaga, sungguh pelayan yang baik, batin Reynand.


Setelah mandi dan bersiap, Reynand langsung keluar kamar menuju dapur rumah mereka. Rumah yang menjadi saksi bisu pernikahan dia dan Nara.


Lagi lagi Reynand hanya berdiri diambang pintu, memandangi Nara yang masih sibuk mengangkat kue nya dari dalam oven.


Matanya sedikit mengernyit memandangi penampilan Nara yang hanya memakai dress putih sebatas lutut, rambut panjang nya dia biarkan tergerai dan hanya disepit sedikit dengan penjepit rambut. Namun meskipun begitu, Reynand tahu dan bisa melihat, jika tubuh Nara memang lebih banyak menyusut dan sangat kurus, apa dia sakit?


Reynand langsung menggeleng, apa perdulinya. Bukankah jika Nara mati maka masalah hidupnya akan berkurang satu?


Jika Nara mati?


Apa dia senang?


"Rey, kamu sudah siap. Ayo sarapan" ajak Nara tiba tiba.


Reynand tampak sedikit terkesiap mendengar suara Nara. Dia langsung menghela nafas pelan dan beranjak untuk duduk dikursinya. Sungguh pemikiran bodoh apa tadi, membuat mood nya memburuk saja.


Dengan begitu lembut dan telaten Nara menyiapkan sarapan Reynand pagi itu. Dia menyerahkan sepiring cake Madelaine buatan nya pada Reynand. Cake yang berbentuk seperti cangkang kerang yang dia buat dari adonan tepung kacang almond dan diberi sedikit irisan kulit jeruk lemon membuat aroma nya terasa begitu segar dan harum. Tidak lupa juga segelas teh hijau yang melengkapi sarapan mereka pagi ini.


Setelah selesai dengan Reynand, Nara langsung duduk dihadapan lelaki itu. Reynand hanya diam dan tidak ingin berkata apapun, dan itu sedikit membuat Nara heran. Sejak semalam lelaki ini memang agak berbeda, apa dia sedang ada masalah batin Nara.


Nara memperhatikan Reynand dengan begitu serius, lelaki itu tampak begitu menikmati sarapan nya, dan tentu saja membuat Nara langsung tersenyum dengan indah. Suami nya akan sangat tampan jika sedang diam seperti ini. Ah, andai saja mereka menjalani hubungan pernikahan yang sehat, saling mencintai dan saling menghargai satu sama lain, mungkin Nara bisa menjadi wanita yang paling bahagia didunia ini. Tidak ada yang Nara harapkan selain cinta Reynand didunia ini, tapi kenapa begitu sulit untuk meraih itu?


Cinta Reynand sama seperti ribuan bintang diatas langit, indah tapi begitu jauh. Ingin direngkuh, tapi begitu sakit untuk mencapainya.


"Apa tidak ada hal lain yang bisa kamu lihat selain wajahku?" tanya Reynand tiba tiba membuat Nara sedikit terkesiap kaget. Namun dia langsung tersenyum dan menggeleng pelan


"Selagi aku masih bisa melihatnya, maka tidak akan ada hal lain yang lebih indah dari wajah mu" jawab Nara


Reynand tersenyum sinis


"Menjijikkan" dengus nya yang kembali menikmati teh nya. Tidak lama, setelah memakan beberapa potong kue itu, Reynand segera meraih tisu dan mengusap mulut nya. Dan Nara tahu jika sudah seperti itu maka Reynand sudah akan pergi


"Ah Rey, tunggu sebentar" kata Nara yang tiba tiba beranjak dari duduk nya dan sedikit berlari kearah lemari penyimpanan barang

__ADS_1


"Aku tidak punya waktu" jawab Reynand dengan ketus yang segera beranjak dan mengabaikan Nara yang masih sibuk didekat meja oven memasukkan kue itu kedalam sana


"Sebentar saja, kue ini banyak, aku tidak akan sanggup menghabiskan nya. Kamu bisa membawa nya untuk cemilan siang nanti" ucap Nara tanpa melihat Reynand yang sudah pergi dari sana dan mengacuhkan nya.


Setelah selesai Nara langsung berbalik badan dan mendapati ruang makan yang kosong, namun tidak putus asa dia kembali berlari keluar rumah mengejar Reynand yang baru tiba digarasi. Tidak ingin melewatkan kue nya, dia sudah susah payah membuat ini, terserah Reynand akan memakan nya atau tidak, Nara tetap membawakan nya. Berharap rasa manis dari Madeleine ini bisa membuat Reynand merasakan manis nya cinta Nara untuk dia.


Nafas Nara sedikit tersengal dengan wajah yang memucat, berlari dari dapur keteras rumah sudah membuat dia begitu lelah, jangan sampai dia pingsan setelah ini. Nara berhenti sebentar didepan pintu, mengambil nafas yang terasa hilang, lalu kembali berlari menuju Reynand yang sudah masuk kedalam mobilnya.


"Rey, tunggu" seru Nara menahan pintu mobil yang akan ditutup Reynand


"Apa?" tanya Reynand kesal


"Kue mu" kata Nara yang langsung meletakkan kue itu kedashboard mobil Reynand. Mata Reynand langsung mendelik kesal, namun Nara tidak perduli, dia hanya tersenyum manis menatap Reynand.


"Hati hati dijalan" ucap Nara sembari menutup pintu mobil Reynand dengan cepat. Jangan sampai lelaki itu memakinya hanya karena ini.


Didalam mobil Reynand tampak mendengus kesal, jika tidak karena hari yang sudah siang, sudah dia beri pelajaran Nara. Berani berani nya membuat nya kesal pagi ini. Tanpa mengatakan apapun dia langsung memundurkan mobil nya dan melaju keluar rumah itu meninggalkan Nara yang langsung terduduk diatas lantai. Pinggang nya begitu sakit akibat berlari larian tadi, rasanya nyeri sekali hingga Nara belum mampu untuk bangun.


Mata Nara memejam sembari mengusap pinggang nya dengan kuat, berharap rasa sakit itu mereda. Sungguh, hanya ingin membuat Reynand senang kenapa harus selalu merasakan sakit?


"Nara, ya Tuhan, kamu kenapa?" tanya seseorang yang baru saja datang. Nara langsung menoleh kearah nya, ternyata Arya, bahkan Nara sampai tidak menyadari kedatangan lelaki berambut gondrong ini.


Arya langsung membantu Nara berdiri dan memapahnya duduk dikursi didepan teras itu


"Sakit lagi?" tanya Arya, dan Nara hanya mengangguk lemah. Wajah nya begitu pucat bahkan mata Nara sampai berkaca kaca menahan sakitnya.


"Kita kerumah sakit ya" ajak Arya yang tidak tega melihat Nara kesakitan


"Nara" panggil Arya


"Enggak apa apa Yo, kamu bisa tolong ambilkan aku air minum aja didalam dengan obat diatas lemari es ku" pinta Nara. Dan mau tidak mau Arya hanya mengangguk pasrah. Nara memang keras kepala, jika tidak hampir mati maka dia tidak akan pernah mau dibawa kerumah sakit.


Pagi itu Nara tidak pergi keperusahaan, dia hanya dirumah karena tubuhnya yang tidak bisa diajak kerja sama, dia baru keperusahaan disaat hari sudah lewat tengah hari, itu juga karena harus mengadakan meeting bersama klien nya.


....


Sementara diperusahaan Adidaksa.....


Reynand duduk didepan meja nya dengan pandangan yang begitu serius menghadap komputer. Mata tajam nya yang tertutup kaca mata baca membuat penampilan nya terkesan serius, dan disaat saat seperti ini jangan sampai ada orang yang menganggu nya sedikitpun. Lelaki dengan sifat angkuh dan arogan ini tidak akan menolelir siapapun yang berani mengganggu nya diwaktu jam kerja. Termasuk adik nya sendiri.


Sudah satu jam Zelina duduk disofa yang tersedia didalam ruangan Reynand. Dia hanya bisa diam dan memperhatikan kakak nya dengan wajah bosan dan kesal. Tapi untuk menganggu, Zelina tidak akan berani. Dia tahu siapa Reynand, meski tidak hidup bersama beberapa tahun terakhir, tapi sikap Reynand dia sudah hafal.


Karena pegal dan bosan, Zelina merebahkan tubuh nya diatas sofa, berharap kakak nya akan melihat nya sebentar. tapi kenyataan nya, Reynand masih tetap mengacuhkannya. Mungkin jika matanya memiliki engsel, mata itu sudah akan lepas dari tempat nya karena tidak berpindah pindah tempat sedari tadi. Hanya bola matanya yang bergerak sedikit mengikuti arah bacaan nya.


Entah sudah yang keberapa ratus kali Zelina menghela nafasnya, dia memiringkan tubuhnya dan menghadap kelemari buku Reynand. Memperhatikan lemari itu dengan lekat, bukan, bukan lemari nya, melainkan sebuah kotak makanan bewarna biru muda.


Mata Zelina mengernyit, melirik Reynand sekilas. Apa kakak nya itu membawa bekal? Tapi dari mana.


Karena penasaran, dengan begitu perlahan Zelina beranjak dan duduk disofa dengan benar. Dia melirik kembali kearah Reynand yang masih fokus pada komputer nya. Dan kali ini dia berharap agar Reynand tetap mengabaikan nya, karena Zelina begitu penasaran dengan kotak bekal biru muda itu.

__ADS_1


Dengan perlahan Zelina berjalan kearah lemari, sesekali matanya melirik Reynand. Dia tersenyum senang karena Reynand tidak menyadari apa yang akan dilakukan nya.


Zelina meraih kotak makanan itu, menilik bentuk nya yang manis, seperti milik wanita. Dia langsung membuka penutup nya dan aroma wangi kue langsung menguar begitu harum membuat perut Zelina seketika meronta.


"Waah Madeleine" gumam nya begitu takjub. Sudah lama sekali dia tidak memakan kue ini. Bau nya yang manis dan harum begitu menggoda


"Apa yang kamu lakukan disitu?" suara Reynand langsung membuat Zelina terlonjak kaget, dia bahkan hampir menjatuhkan kue itu jika tidak segera memeluk tempat nya


"Kakak" gumam Zelina meringis takut melihat wajah Reynand yang menatap nya dengan pandangan datar. Apalagi saat mata tajam itu melirik kotak makanan yang dia pegang. Apa Reynand akan marah?


"Mmm ma maaf, Ze cuma penasaran sama kotak ini" kata Zelina dengan senyum canggung nya. Dia langsung menutup kembali kotak makanan itu karena begitu takut melihat Reynand. Entah sejak kapan kakak nya itu terlihat begitu menyeramkan, bahkan empat tahun yang lalu Reynand tidak seseram ini


Reynand mendengus dan kembali menatap komputer nya, membuat Zelina langsung menghela nafas pelan dan menatap sedih kotak makanan itu. Ingin meminta tapi tidak berani


"Jika kamu mau kamu bisa memakan nya" kata Reynand tanpa menatap wajah Zelina yang langsung berubah senang


"Benarkah?" tanya nya lagi, dan Reynand hanya mengangguk kecil


Zelina langsung bersorak riang tanpa suara, dia membawa kotak makanan itu kembali kesofa, duduk disana dan mencicipi satu kue.


Ummmhh


Rasanya benar benar sangat enak, lembut, ringan dan manis, bau kacang almond membuat aroma nya begitu khas. Satu saja tentu tidak cukup, dua kue, tiga kue, empat kue. Zelina masih menikmatinya dengan begitu nikmat membuat Reynand yang berada dimeja nya melirik Zelina yang tampak begitu menikmati makanan nya. Dan kini hanya tinggal dua butir lagi. Ada rasa tidak rela membiarkan Zelina menghabiskan kue itu, padahal tadi Reynand berniat membuang nya, tapi kenapa melihat Zelina makan dia jadi ingin lagi?


Zelina yang tanpa sadar ingin mengambil lagi kue didalam kotak, namun suara Reynand langsung mengejutkan nya


"Kamu akan menghabiskan semuanya?" tanya Reynand


Zelina langsung terkesiap dan menatap kotak makanan itu, dimana kue nya hanya tinggal dua butir lagi


Zelina melirik Reynand dengan canggung, dia bahkan tersenyum dengan getir dengan mulut yang masih penuh.


"Ze kira kakak enggak ingin lagi, kue ini enak banget" kata Zelina yang beranjak dari sofa dan berjalan kearah Reynand. Dia meletakkan kotak makanan itu dihadapan Reynand yang melirik nya dengan sinis


"Sejak kapan kamu jadi rakus seperti ini?" dengus Reynand


Zelina mengerucutkan bibir nya sekilas dan meminum air minum milik Reynand membuat pria itu tampak melebarkan matanya melihat kelakuan Zelina


"Jangan marah, hanya air minum. Cepatlah kakak habiskan, Ze enggak bisa berhenti ingin memakan nya kalau masih ada disitu" kata Zelina cepat


Reynand mendengus dan langsung mengambil satu dan memakan nya sekaligus, rasa manis kue ini memang enak dan pas, membuat rasa kesal dihatinya sedikit terobati


"Dapat kue ini dari mana? Dari pacar kakak?" tanya Zelina. Namun pertanyaan Zelina membuat Reynand sedikit tersedak membuat Zelina langsung tertawa


"Kenalin dong sama Ze, apa orang yang kakak cari dulu?" tanya Zelina lagi. Reynand terdiam, seketika hatinya terasa tersentuh sesuatu.


Reynand mendehem dan menatap kesal Zelina. Dia meraih kotak makanan itu dan memberikan nya dengan kasar pada Zelina


"Bawa pergi jauh, jangan ganggu aku" kata Reynand dengan kesal

__ADS_1


Zelina langsung memandang nya dengan heran, kenapa jadi marah lagi? Apa pertanyaan nya salah?


__ADS_2