Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan

Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan
Terasa Patah Dan Perih


__ADS_3

Dua minggu berlalu seperti biasa, tanpa ada waktu yang terlewatkan dan terlupakan. Hujan dan panas silih berganti menghiasi pergantian hari yang terasa lama dan berat. Hiruk pikuk kota Jakarta yang biasanya terasa ramai dan menyesakkan, kini hanya seperti kota mati yang tidak lagi terasa ramai bagi seorang Reynand Adiputra. Jika biasanya dia hidup dengan dipenuhi oleh kehormatan dan pandangan tunduk semua orang, maka kini dia seperti hidup seorang diri dan kembali mencari jati diri.


Setelah berhasil menjual seluruh aset ibunya beberapa waktu lalu, Reynand akhirnya bisa kembali membuka perusahaan Anara. Awalnya dia cukup ragu, namun berkat bantuan Mahendra, semua bisa teratasi. Meski hanya separuh dari karyawan Anara yang masih ingin bekerja dan membangun kembali perusahaan ini. Dan itupun hanya karyawan yang memiliki dedikasi tinggi diperusahaan yang juga merupakan orang orang terpercaya Anara.


Perusahaan baru berjalan beberapa hari dan Reynand cukup sibuk dua minggu ini. Dia masih harus mencari investor investor yang ingin menanamkan modal saham mereka. Tentu nya sangat tidak mudah, namun karena dia pernah mempunyai prestasi dan nama baik, maka semua berjalan dengan lancar. Meski dia harus berusaha untuk bisa memanipulasi keadaan.


Dan ditengah tengah kesibukan nya membangun perusahaan, Reynand juga mencari informasi tentang darah dan ginjal untuk Nara. Dia cukup terbantu karena Mahendra masih ingin membantu nya. Reynand berharap Nara bisa sembuh dan sehat kembali. Meski sulit namun dia tetap akan berusaha semampunya.


Dan sabtu sore ini, Reynand memutuskan untuk melihat Anara dirumah Eyang putri. Dua minggu tidak bertemu membuat Reynand begitu merindukan istrinya itu. Meski Nara tidak, namun Reynand tetap akan datang. Nara masih istrinya, dan dia tidak ingin posisi nya direbut oleh Bimantara. Lagipula dia harus mengetahui perkembangan kesehatan Nara. Semoga pengobatan Eyang putri bisa sedikit menghambat laju kanker nya.


....


Sementara dirumah Eyang putri...


Saat ini Nara sedang duduk bersama Arya ditaman belakang rumah. Hari sudah gelap, namun Nara malah meminta untuk duduk disini seraya memandangi bintang dilangit malam. Hari cukup cerah malam ini, tidak seperti malam kemarin yang hujan sepanjang malam membuat tubuh Nara menggigil kedinginan. Ramuan Eyang putri cukup membantu nya, meski tidak menghilangkan rasa sakit, namun cukup membuat nya tidak kedinginan dan demam lagi.


"Nara....ini sudah malam, nanti kamu bisa masuk angin" ucap Arya seraya menyelimuti tubuh Nara dengan selimut yang baru saja dia ambil


"Aku ingin mencari angin Yo" jawab Nara


"Angin dicari. Suka sekali memang mencari penyakit. Sudah tahu badan seperti ini, masih saja menyiksa diri" gerutu Arya


Nara tersenyum tipis dan menoleh pada Arya yang duduk disamping nya, Arya terlihat merapatkan jaket yang dia kenakan


"Kenapa kamu jadi cerewet sekali sih" tanya Nara


Arya menyelis sekelabat kearah Nara


"Bagaimana enggak cerewet, kamu itu kalau dikasih tahu gak pernah mau dengerin. Keras kepala sekali" jawab Arya


"Aku bosan dikamar" ucap Nara seraya memandang kedepan lagi, namun tiba tiba dia malah terpandang kesaung yang ada disamping kandang sapi. Yah, dia jadi teringat Reynand lagi. Biasanya lelaki itu selalu duduk didepan sana dan memperhatikan rumah Eyang putri tanpa bosan. Tapi...sudah dua minggu ini Reynand tidak datang, apa dia sudah menyerah???


"Gak usah dipandangi saung itu. Orang nya udah mati" sergah Arya terdengar begitu ketus


Nara sedikit terkesiap dan menggeleng


"Ngakunya nyesel, tapi cuma segitu doang. Dasar mulut besar. Kamu jangan mau balikan sama dia lagi. Aku gak setuju. Udah cukup kamu tersiksa dan kehilangan semuanya karena dia" ujar Arya


Nara kembali tersenyum dan memandang keatas langit, dimana bintang cukup banyak disana. Sangat indah dengan pola pola yang beraturan.


"Aku tidak memikirkan itu, aku bahkan enggak tahu bisa sembuh atau enggak" jawab Nara begitu tenang, namun cukup menyedihkan ditelinga Arya


"Kamu pasti sembuh Nara, yakinlah" pinta Arya namun Nara langsung menggeleng. Harapan nya sudah pupus, semangatnya juga tidak ada lagi. Jika dulu dia bertahan hidup untuk Reynand, untuk memperjuangkan cinta lelaki itu, maka sekarang apa lagi????


"Kamu mau ninggalin aku sendiri?" tanya Arya begitu sedih

__ADS_1


Nara menoleh kearah nya dan tersenyum memandang Arya. Lelaki baik yang selalu setia menemani nya meski Nara sudah meminta nya pergi dan mencari pekerjaan lain. Namun Arya menolak dan malah rela bekerja dirumah Eyang putri


"Kamu gak sendiri Yo, kamu masih punya umur panjang, jalan hidup kamu masih panjang" jawab Nara


Namun Arya menggeleng dan menghela nafasnya


"Gak ada yang bisa nerima aku seperti kamu. Sejak dulu kamu saudaraku, dan sampai kapanpun aku akan tetap bersamamu" ungkap Arya begitu dalam


"Yo..." lirih Nara


Arya mengusap bahu Nara dibalik selimut


"Kamu harus semangat, Tuhan benci orang yang mudah putus asa, kamu pasti bahagia suatu hari nanti"ujar Arya


"Benar" sahut seseorang, membuat Nara dan Arya langsung menoleh kearah belakang.


Bimantara datang dengan senyum teduh nya seperti biasa. Nara mengernyit memandang lelaki ini, sudah seminggu lebih dia tidak datang dan baru datang hari ini. Apa dia ingin mengunjungi nenek nya??


"Jangan bersedih terus, alam akan ikut menangis jika kamu bersedih" kata Bimantara


Nara hanya tersenyum tipis menanggapi nya, sedangkan Arya yang tampak mendengus gerah


"Anda baru datang tapi sudah menebarkan kata kata manis tuan" ucap Arya. Bimantara langsung tertawa dan duduk disamping Nara. Dan kini Nara diapit oleh kedua lelaki itu. Lelaki baik yang hadir dalam kehidupan nya yang terasa begitu sulit seperti ini. Bukankah dia seharusnya bersyukur??


"Tergantung siapa yang membutuhkan nya tuan" jawab Nara


"Benar, jika anda menawarkan pada orang yang sedang diabetes, itu pasti salah tempat" sahut Arya pula, bahkan dia langsung tertawa melihat wajah Bimantara yang mencebik kesal


"Kamu ini kenapa tidak bisa menghibur hati orang sedikit. Keramas sana" usir Bimantara


"Kenapa keramas, anda kira saya kuntilanak, keramas malam malam" sahut Arya. Ya, sepertinya sebentar lagi perdebatan akan dimulai. Entah kenapa Arya dan Bimantara mempunyai otak yang sefrekuensi, terkadang Nara pusing jika mereka sudah berkumpul


"Memang kamu kuntilanak, kuntilanak berbelalai panjang" ucap Bimantara begitu lugas membuat Arya tampak melebarkan matanya, dan Nara... bahkan dia langsung memandang Bimantara dengan aneh, tentu Nara sudah tahu dan sudah pernah melihat bagaimana bentuk belalai yang disebutkan Bimantara itu. Astaga, otaknya jadi mengingat itu


"Wah, kalau bicara suka jujur sekali, apa tuan tidak tahu kalau ada anak kecil disini" sahut Arya


Bimantara langsung menoleh pada Nara dan tersenyum lucu memandang wajah cantik yang masih memandang nya dengan aneh itu


"Nara kamu bilang anak kecil Yo??? Bahkan dia yang lebih dewasa dari kita. Aku yakin otaknya yang sedang sakit langsung konek tadi" goda Bimantara


Nara langsung mendengus dan mencubit lengan Bimantara dengan kesal membuat Bimantara langsung tertawa terbahak bahak begitu pula dengan Arya. Lucu sekali mereka melihat wajah kesal Nara yang memerah


"Sembarangan" dengus Nara kesal. Dia langsung memalingkan wajah nya dan mengerucutkan bibirnya sekilas, membuat Bimantara benar benar gemas. Ah, jika Nara bukan istri orang, sudah dia peluk gadis ini.


"Aku berkata jujur kan, kenapa jadi marah" tanya Bimantara masih dengan senyum lucu nya

__ADS_1


"Dia bukan marah tuan, dia hanya malu. Lihat wajahnya memerah" goda Arya pula. Kini Nara langsung menyelis kesal pada Arya. Arya langsung memainkan alisnya memandang Nara, membuat Nara semakin bertambah kesal saja


Bimantara kembali terkekeh seraya membenarkan selimut yang sedikit merosot dibahu Nara.


"Waah seperti nya tuan mempunyai bakat terpendam" gumam Arya yang mulai lagi


"Bakat terpendam apa" tanya Bimantara


"Bakat terpendam menjadi pebinor" bisik Arya yang sedikit mendekat kearah Bimantara namun dia berbisik dibelakang kepala Nara, jelas saja Nara mendengar nya


"Jika itu tidak dosa, aku sudah melakukan nya sejak kemarin" balas Bimantara pula


Nara menarik nafasnya dalam dalam dan mengeluarkan nya dengan kesal. Kedua lelaki ini memang menyebalkan. Tadi belalai panjang, sekarang pebinor. Ada ada saja memang bahasa nya.


"Gas terus tuan, kalau sudah dapat baru bertaubat" bisik Arya lagi


"Aryoo" gumam Nara memandang dengan kesal


Arya dan Bima langsung tertawa kembali melihat itu


"Wah dia mendengar" gumam Arya yang langsung memalingkan wajahnya seraya mengusap rambut panjangnya


"Sudah jangan marah, kami bercanda. Kalau kamu marah, malam akan cepat pagi nanti" ujar Bimantara yang kembali membenarkan selimut Nara


"Seperti nya otak kalian yang sedang sakit" sahut Nara


Bimantara tersenyum dan mengangguk


"Mungkin juga, apalagi setelah mendengar bunga teratai sudah memiliki danau sendiri. Rasanya benar benar sakit" jawab Bimantara


Arya langsung mendengus mendengar kata kata picisan itu. Bimantara memang rajanya


Nara tersenyum dan menggeleng


"Masih banyak bunga yang lebih harum dan indah yang bisa kamu petik" ucap Nara


"Yang lain memang indah, tapi yang ini lebih menarik" jawab Bimantara


"Mulai lagiiii modusnya" sahut Arya dari samping mereka


Bimantara dan Nara langsung terkekeh mendengar itu. Arya selalu kesal jika mendengar Bimantara merayu Nara. Itu terdengar menjijikkan katanya. Tapi dia juga senang jika Nara dekat dengan Bimantara.


Tawa Nara malam itu membuat Bimantara dan Arya sangat bahagia. Meski terlihat dipaksa dan hanya lebih banyak tersenyum, namun sudah cukup untuk mereka.


Dan tanpa mereka sadari, sejak tadi seseorang memandang mereka dengan hati yang terasa patah dan......perih.

__ADS_1


__ADS_2