
Sore itu, dijalanan yang selalu menjadi kenangan manis tersendiri untuk Nara dan Reynand. Jalanan yang sudah sedikit berubah sejak dua belas tahun yang lalu. Dimana dulu hanya jalanan berbatu, kini sudah berganti dengan jalanan beraspal yang begitu mulus.
Jalanan kecil yang merupakan tempat pertama kali mereka bertemu, di oktober dua belas tahun yang lalu. Disaat Nara masih menjadi remaja SMP yang sangat cantik dan Reynand seorang pemuda tampan yang penuh dengan senyuman.
Sudah sangat lama, dan bagi sebagian orang tentu tidak ada hal yang bisa dikenang dijalanan dekat sekolah SMP yang sekarang sudah mulai megah berdiri.
Dimana pohon kemuning masih berjejer rapi menghiasi pinggir jalan yang terasa usang. Namun bagi Nara dan Reynand, tempat itu adalah tempat bersejarah bagi mereka. Tempat yang tidak akan bisa mereka lupakan untuk seumur hidup.
Nara dan Reynand kini hanya berjalan kaki menyusuri jalanan yang mulai sepi disore itu. Sembari mengenang masa masa manis yang hanya terjadi sekejap, namun selalu tersimpan dimemori.
"Aku masih ingat, saat adik kecil ku itu menangis ketakutan dan memandang ku dengan begitu memelas" ungkap Reynand.
Nara mendengus senyum dan menunduk memperhatikan langkah kakinya.
"Wajahnya yang takut sungguh menggemaskan. Apalagi ketika dia melarang ku untuk pergi" tambah Reynand lagi.
"Adik kecil yang cantik, namun terlihat cengeng saat itu. Sekarang adik kecil itu sudah berubah, berubah menjadi wanita cantik yang sangat anggun dan mempesona" puji Reynand seraya memandang Nara.
Nara menoleh kearah Reynand sekilas dan menggeleng pelan, kembali memandang kedepan dimana pohon kemuning tempatĀ mereka berteduh dulu sudah tidak jauh lagi.
"Dua belas tahun yang lalu, bukan waktu yang sebentar Rey. Semua nya sudah berubah, baik tempat ini dan kita. Semua tidak lagi sama." jawab Nara
"Hmm... kamu benar. Bahkan cinta ku juga sudah berubah tidak lagi seperti dulu" sahut Reynand.
Nara langsung menoleh pada Reynand
"Semakin hari, cintaku selalu bertambah. Dan tentu saja itu tidak sama seperti dulu. Karena sekarang rasanya aku benar benar mencintaimu Nara. Bahkan tidak bisa dihitung seberapa dalam nya perasaan ku saat ini" ungkap Reynand. Matanya memandang Nara dengan lekat.
Namun Nara malah mendengus senyum dan menggeleng pelan.
"Apa itu sebuah rayuan?" tanya Nara dengan senyum lucunya.
Reynand juga tersenyum
"Aku tidak pandai merayu. Dan aku bukan seorang perayu. Mungkin terdengar seperti seorang pujangga, tapi memang begitu lah kenyataan nya" jawab Reynand.
Nara langsung mengangguk.
"Ya, wajah kamu memang sudah selalu datar sejak dulu. Namun yang berbeda, dulu kamu masih pemuda tampan yang penuh senyuman. Jika sekarang, kamu sudah berubah menjadi lelaki angkuh yang sediki sombong" goda Nara.
Reynand langsung tertawa kecil mendengar itu.
"Itu tuntutan profesi sayang" ucap Reynand seraya mencubit gemas hidung Nara.
Nara tersenyum dan memalingkan wajahnya yang sedikit merona. Panggilan sayang dari Reynand masih selalu membuat nya salah tingkah.
"Lagi pula, dulu kita belum ada beban sama sekali. Yang kita fikirkan hanyalah tentang sekolah dan bermain. Tidak seperti saat kita sudah dewasa dan beranjak tua seperti ini. Banyak tanggung jawab yang harus kita pikul. Bukankah begitu???" tanya Reynand.
Nara langsung mengangguk setuju.
"Ya, kamu benar. Terkadang, jika bisa memutar waktu aku ingin sekali berbalik ke zaman itu. Zaman dimana aku tidak sendiri seperti ini" gumam Nara dengan helaan nafas yang berat.
Reynand tersenyum seraya meraih tangan Nara dan menggenggam nya dengan lembut. Kini mereka berjalan dengan bergandengan tangan menuju sebuah saung yang masih tetap ada dibawah pohon kemuning itu.
"Kamu tidak sendiri sayang. Bukan kah sudah ada aku dan keluargaku. Kamu juga punya Arya yang menjadi saudara mu sejak dulu" ujar Reynand.
__ADS_1
"Aku hanya merindukan orang tuaku Rey. Kota ini kota kenang kenangan ku bersama mereka" jawab Nara.
"Sebelum kita menikah, kamu bisa membawaku ke mahkam mereka Nara" ucap Reynand.
Nara langsung memandang Reynand dengan lekat.
"Aku ingin memintamu langsung pada mereka. Meminta restu untuk menikahi putrinya yang cantik. Dan juga... untuk meminta maaf karena pernah menyakiti putri mereka" ucap Reynand
Mata Nara langsung berkaca kaca mendengar pekataan Reynand.
"Meski mereka sudah tidak ada, tapi aku yakin, mereka pasti masih bisa melihat mu dari atas sana. Mereka pasti begitu marah padaku karena tidak bisa melindungi dan menjaga kamu dengan baik. Aku harap mereka tidak mengutuk ku diatas sana karena telah menyakiti mu" ungkap Reynand tertunduk sedih. Namun Nara malah tertawa kecil seraya membalas genggaman tangan Reynand. Bahagia sekali dia Reynand mau datang kesana untuk berziarah dan juga memintanya. Meski sudah tidak ada, tapi Nara cukup bersyukur Reynand masih mau mengingat mereka.
"Mereka tidak akan marah Rey. Apalagi kamu yang masih mau mengingat mereka" ucap Nara
"Jangan begitu, aku pasti mengingat mereka. Karena mereka kamu bisa ada didunia ini. Dan aku harus berterima kasih untuk itu" jawab Reynand.
Nara mendengus senyum dan tertunduk.
"Jangan bersedih lagi, kamu harus ingat kamu punya aku sekarang. Ya, meski sebenarnya ini cukup terlambat aku berkata seperti itu" Reynand menghela nafasnya dengan berat.
"Tidak ada kata terlambat jika kamu ingin berubah" sahut Nara
"Terimakasih, aku sangat beruntung bertemu dengan mu" ucap Reynad.
Nara hanya tersenyum dan mengangguk saja. Dan tidak lama kemudian, mereka sudah tiba disaung yang berada tepat dipinggir jalan dibawah pohon kemuning. Entah kenapa saung ini masih berdiri disini. Meski penampakan dan bentuk nya sudah berbeda. Namun dia masih berdiri tegak dibawah pohon yang sama.
Bahkan Reynand langsung berjalan menuju pohon kemuning yang selalu dia datangi dulu. Memandangi batang pohon yang mulai tua dan rapuh.
"Nara lihat" pinta Reynand.
"Ada apa?" tanya Nara
"Lihat ini, tulisan nya masih ada" ucap Reynand seraya menunjuk batang pohon tua itu.
Garis bibir Nara langsung tertarik membentuk senyum yang sangat indah saat melihat sebuah ukiran yang mulai usang dibatang pohon itu. Meski sudah memudar, namun masih bisa dibaca.
'Adik kecil, 12 okt 19'
"Kamu yang membuat nya Rey?" tanya Nara
Reynand tertawa kecil dan mengangguk.
"Aku masih mengingatnya. Sehari setelah pertemuan kita aku datang lagi ketempat ini. Menunggu kamu disini. Tapi entah kenapa kamu tidak datang" jawab Reynand.
Nara terdiam
"Aku kira kamu tidak sekolah karena masih takut, tapi sampai bertahun tahun, kamu juga tidak pernah datang lagi Nara" ucap Reynand seraya memandang Nara yang kini berubah sendu.
"Bahkan aku sudah mendatangi sekolah kamu. Tapi mereka bilang kamu sudah tidak sekolah lagi ditempat itu. Kamu kemana???" tanya Reynand lagi.
Nara menghela nafas nya dengan berat. Itu adalah masa masa tersulit dalam hidupnya, dimana saat itu ayahnya masuk rumah sakit karena penyakit yang dia derita.
"Masa masa itu adalah masa tersulit Rey. Saat itu adalah saat dimana ayahku terbaring dirumah sakit." jawab Nara. Reynand langsung memandang Nara dengan sendu.
"Dia harus dirawat karena memiliki penyakit yang sama dengan ku, kanker ginjal stadium akhir. Dan saat itu aku tidak sekolah karena hanya ingin menemani ayah dirumah sakit karena kondisinya yang sudah kritis."
__ADS_1
"Tidak lama dia berada dirumah sakit, hanya beberapa hari saja. Dia sudah tidak bisa bertahan lama, dan akhirnya memilih untuk menyerah. Ayah meninggal dan pergi meninggalkan aku dan ibu" kata Nara lagi.
Reynand mengusap bahu Nara dengan lembut.
"Aku benar benar tidak tahu. Apa setelah itu kamu pergi?" tanya Reynand.
Nara mengangguk dengan pelan, mereka berjalan menuju saung dan duduk berdua disana. Memandangi suasana sore yang sepi. Hanya dijalan raya yang ramai mobil dan motor yang lewat. Dan itu cukup jauh dari jangkauan.
"Setelah ayah meninggal, ibu membawa ku ke Jakarta. Dan aku juga bersekolah disana. Memulai kehidupan baru yang sudah terasa jauh berbeda. Apalagi sejak ibu menikah dengan tuan Baskoro" ungkap Nara.
"Aku kira tuan Baskoro memang ayah kandung mu" ucap Reynand. Dan Nara langsung menggeleng.
"Tidak, dia hanya asisten ibu waktu itu, tapi lama kelamaan mereka saling suka dan akhirnya menikah" jawab Nara
"Padahal kita satu kota. Tapi kamu tidak mencari ku. Pantas saja aku tidak pernah menemui lagi disini, ternyata kamu memang ada dikota yang sama dengan ku" ucap Reynand.
Nara tersenyum tipis dan mengangguk.
"Aku bahkan tidak tahu jika kamu ada di Jakarta juga. Yang aku tahu jika kamu tinggal disini. Dan di Jakarta aku hanya fokus pada sekolah ku. Hingga akhirnya aku tahu kamu ketika Cleo yang memperkenalkan mu padaku waktu itu" ungkap Nara lagi.
Reynand terlihat menghela nafasnya dengan berat.
"Dan bodohnya aku yang tidak menyadari jika wanita cantik itu adalah dirimu" gumam Reynand.
Nara memandang Reynand dan tersenyum tipis.
"Tidak apa apa, jika saat itu kamu menyadari jika aku adalah adik kecilmu. Bagaimana dengan Cleo, pasti semua menjadi bertambah rumit" jawab Nara.
"Tapi setidaknya aku tidak akan pernah menyakiti kamu dengan sikap buruk dan keegoisan ku Nara" ucap Reynand. Rasa penyesalan itu masih saja selalu menghantui Reynand. Meski dia sudah berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk Nara.
"Rey.... sudah lah. Yang sudah terjadi aku sudah melupakan nya. Aku tidak ingin lagi mengingat masa itu. Bukankah kamu ingin mengganti kenangan buruk itu dengan kenangan yang lebih indah??" tanya Nara.
"Aku hanya begitu menyesali apa yang terjadi" gumam Reynand.
Nara meraih tangan kekar Reynand dan menggenggam nya dengan lembut. Reynand tersenyum dan langsung membalas genggaman tangan itu.
"Dengan begitu bukankah cintamu akan semakin kuat. Aku hanya memberi kesempatan untuk yang terakhir kali. Karena aku sudah begitu malu pada Tuhan untuk meminta apapun lagi, setelah semua nya aku dapat. Umur yang panjang, dan juga cinta kamu" ungkap Nara.
Reynand semakin mengeratkan genggaman tangan nya dan memandang Nara dengan lekat.
"Tidak akan aku sia siakan lagi apa yang sudah aku dapat Nara. Cintamu dan kesembuhan mu adalah segalanya bagiku saat ini" kata Reynand begitu yakin.
"Aku ingin menebus semua kesalahan ku dengan memberikan hidupku padamu, cinta ku dan segala yang aku miliki" ucap Reynand.
"Aku hanya ingin cintamu dan kesehatan mu juga. Bukan kah sekarang kita sama. Hanya hidup dengan satu ginjal saja" ujar Nara
Reynand tersenyum dan mengangguk.
"Aku ingin selalu merasakan apa yang kamu rasa" ucap Reynand.
"Terimakasih untuk semua nya sayang" kata Reynand lagi seraya mengecup punggung tangan Nara dengan lembut.
"Terimakasih juga, karena kamu, aku masih bisa bernafas sampai detik ini" jawab Nara. Dia memandang Reynand dengan lekat dan begitu dalam. Sejak dulu hingga sekarang, Reynand adalah satu satunya alasan untuk dia hidup. Kebahagiaan dan kesedihan, semuanya ada pada Reynand.
"Kamu akan tetap hidup selama masih ada aku"
__ADS_1