Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan

Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan
Kebenaran Yang Terungkap


__ADS_3

Nara memandang nanar tumpukan dokumen yang ada dimeja kerja nya. Tangan nya masih betah mengusap sebuah kalung kecil yang tersemat indah dilehernya yang jenjang. Diluar gerimis masih turun, lagi lagi oktober kali ini langit selalu mendung. Meski tidak lagi menyiksa dengan rasa dingin nya, namun tetap saja Nara masih belum menemukan kebahagiaan dibalik setiap bulir air yang menetes. Entah kapan pelangi akan bersemai dengan indah, ingin berharap, tapi apa lagi yang diharapkan.


Ingin melupa, tapi setiap detik waktu yang berganti selalu mengingatkan Nara pada objek yang menjadi pemeran utama dalam cerita hidupnya.


Masih terngiang sampai detik ini, dimana malam itu Nara melihat Zelina berdiri mematung memandang nya dari meja kasir. Entah apa yang terjadi sampai Zelina bisa bekerja disana, tapi perkataan Cleo juga langsung terngiang ditelinga nya, jika saat ini keadaan Reynand begitu terpuruk.


Terpuruk karena perasaan nya??? Atau terpuruk karena masalah yang dibuat oleh Cleo???


Nara menarik nafas nya dalam dalam, dia tidak ingin tahu, tapi kenapa hatinya begitu penasaran. Nara bahkan sudah mencari diinternet tentang kecelakaan yang menimpa Reynand beberapa bulan yang lalu. Dan memang benar Reynand mengalami kecelakaan yang cukup hebat saat itu, bahkan berita nya cukup menghebohkan seluruh kota ini. Tapi... kenapa Arya dan Bima tidak ada yang ingin memberi tahunya????


Pintu yang terbuka membuat Nara sedikit terkesiap. Arya masuk dengan beberapa dokumen lagi diwajahnya.


"Nara, kamu memang mau membuat ku lembur setiap malam" ucap Arya seraya meletakkan dokumen yang dia bawa keatas meja Nara. Kepala Arya menggeleng lemas melihat pekerjaan Nara yang masih terbengkalai dan belum ada dikerjakan nya sama sekali. Padahal hari sudah cukup siang saat ini.


Nara hanya diam dan menghela nafasnya saja. Membuat Arya juga ikut menghela nafas dengan jengah.


"Sudahlah, lebih baik kita kerumah sakit sekarang. Hari ini jadwal kontrol mu kan" ujar Arya


"Aku sudah sehat Yo, apa itu masih perlu?" tanya Nara


"Tentu saja, kau harus sehat agar tidak membuat perjuangan orang itu sia sia" ungkap Arya seraya membereskan meja Nara.


"Bima?" tanya Nara


Arya langsung terdiam dan tertegun, namun sedetik kemudian dia menggeleng dengan pelan. Arya lupa jika Nara hanya tahu jika Bima lah yang mendapatkan ginjal untuk nya, bukan Reynand.


"Sudah lah, ayo. Kenapa kamu cerewet sekali" ujar Arya yang langsung beranjak dan meninggalkan Nara yang terdiam. Jika membahas tentang ini Arya pasti terus menghindar. Entah apa yang disembunyikan oleh lelaki berambut gondrong itu. Tapi sudah dua hari ini, entah kenapa Nara merasa ada yang berbeda dengan Arya. Dia lebih banyak diam seperti ada sebuah beban yang dia simpan. Apa karena dia sudah lelah bekerja karena lembur setiap malam????


...


Dua jam kemudian, akhirnya mereka tiba dirumah sakit, tempat dimana setiap bulan nya Nara datang untuk mengontrol ginjal barunya.


Dia ditangani oleh dokter Sebastian sampai saat ini. Ginjal baru Nara masih dalam tahap penyesuaian dengan tubuh nya, namun selama beberapa bulan ini semua berjalan dengan baik dan tidak ada keluhan apapun. Hanya saja Nara masih belum terlalu boleh lelah dan juga masih tetap menjaga pola makan nya.


Nara dan Arya berjalan menuju lift untuk naik kelantai atas dimana ruangan dokter Sebastian berada. Namun tiba tiba ponsel Nara bergetar, dia berjalan seraya meraih ponselnya dari dalam tas dan melihat jika itu adalah pesan dari Bimantara.


"Siapa?' tanya Arya


"Bimantara" jawab Nara


Arya mendengus senyum


"Masih saja belum berhenti, kamu tidak kasihan melihatnya Nara?" tanya Arya seraya mereka masuk kedalam lift.

__ADS_1


"Aku tidak ingin memberi harapan apapun, dia lelaki baik pantas mendapatkan seseorang yang lebih dariku" jawab Nara seraya menegakkan kepalanya dan melangkah masuk kedalam lift, namun saat membalikkan tubuh nya Nara langsung mematung dengan mata terperangah ketika melihat seseorang yang duduk dikursi roda baru saja keluar dari lift yang ada disebelah mereka.


Wajahnya pucat, lesu dan layu. Meski orang itu memakai masker yang menutupi wajahnya, dan tidak memandang kearah Nara, tapi Nara tahu, Nara mengenalnya, dia .....


"Reynand" gumam Nara


Arya yang ternyata juga melihatnya, sama seperti Nara, dia terdiam dan tidak bisa berkata apapun. Mata mereka masih mengarah keluar lift, hingga lift itu kembali tertutup membuat mereka berdua langsung mengerjapkan mata dan mengembalikan kesadaran mereka masing masing.


Arya tidak menyangka jika ternyata apa yang dikatakan oleh Zelina memang benar, Reynand masih hidup, tapi sudah seperti orang mati yang tidak memiliki sinar kehidupan lagi.


Entah apa yang mereka lakukan disini? Tapi tadi Arya bisa melihat jika Zelina lah yang membawa Reynand. Zelina dan Reynand tidak melihat kearah mereka, karena sudah masuk kedalam lift. Tapi meski sekilas, Arya dan Nara bisa melihat bagaimana keadaan Reynand saat ini. Sangat menyedihkan.


Arya menoleh kearah Nara, dimana Nara masih mematung dengan mata yang berkaca kaca. Hatinya begitu sakit melihat Reynand yang seperti ini.


Ya, Nara benar benar tidak menyangka jika Reynand akan semenyedihkan ini. Apa karena ini yang membuat Reynand tidak menepati perkataan nya. Perkataan sebelum dia pergi, jika dia tidak akan menyerah untuk memperjuangkan cinta nya. Tapi kenyataan nya, Reynand malah seperti ini. Nara benar benar sedih melihat nya. Tidak munafik, bagaimana pun rasa sakit yang pernah Nara terima dari Reynand, tapi melihat Reynand yang seperti itu, kenapa hatinya begitu sakit???? Apa cinta dihatinya masih begitu besar? Atau karena dia hanya iba?


"Nara...." suara Arya membuat Nara terkesiap dan mengerjapkan matanya hingga bulir air mata yang sejak tadi menggenang langsung jatuh dan membasahi wajah cantik Nara.


Arya menghela nafasnya, sepertinya, Nara harus tahu semua nya hari ini. Bagaimana pun jahatnya Reynand, tapi Arya juga tidak bisa menutupi terus menerus kebaikan yang sudah lelaki itu lakukan. Dan lagi, dia juga harus membuktikan semua perkataan Zelina. Dokter Sebastian pasti mengetahui sesuatu.


"Kita keluar" ajak Arya


Nara mengangguk dan segera menghapus air matanya. Mereka melangkah keluar, namun Nara hanya diam dengan wajah sendu dan sedihnya. Dia masih terbayang bayang akan keadaan Reynand tadi.


"Nara..." panggil Arya lagi. Saat ini mereka sudah berada didepan ruangan dokter Sebastian.


"Hari ini kamu harus tahu, jika ginjal yang kamu dapatkan adalah dari Reynand, bukan Bimantara" ungkap Arya


Nara tertegun, jantung nya terasa berdenyut nyeri mendengar ini.


"Kita masuk, kita akan tahu yang sebenarnya dari dokter Sebastian" ujar Arya yang langsung masuk kedalam ruangan dokter Sebastian setelah dia mengetuk pintu itu terlebih dahulu.


Sungguh, Nara tidak bisa berkata apapun. Benarkah yang dikatakan oleh Arya???


...


Nara dan Arya duduk didepan meja dokter Sebastian. Dokter Sebastian baru saja memeriksa kembali keadaan ginjal Nara. Dia cukup bersyukur jika gadis muda yang dulu datang dengan harapan hidup yang kecil, kini sudah sehat dan pulih kembali.


Senyum dokter Sebastian sudah dapat Nara pahami jika keadaan nya memang sudah membaik sekarang, tapi bukan itu lagi yang dia tunggu, melainkan semua kebenaran yang selama ini tidak diketahui nya.


"Nona Nara, seperti yang bisa kita lihat, ginjal ini memang cocok dengan tubuh anda. Tidak ada yang perlu dirisaukan lagi, hanya saja anda tetap harus menjaga pola makan agar kesehatan anda tidak terganggu" ujar dokter Sebastian seraya menyerahkan berkas pemeriksaan Nara hari ini.


Nara hanya mengangguk pelan, dia memandang nanar berkas itu. Namun Arya yang kini memandang dokter Sebastian dengan lekat.

__ADS_1


"Dokter" panggil Arya. Setelah satu jam dia menahan diri untuk tidak bertanya dan membiarkan dokter Sebastian memeriksa keadaan Nara terlebih dahulu.


Dokter Sebastian langsung menoleh pada Arya dengan senyum teduhnya.


"Apa benar ginjal yang Nara dapatkan adalah dari tuan Adiputra?" tanya Arya langsung tanpa berbasa basi.


Dokter Sebastian mendengus senyum dan mengangguk.


"Benar" jawab dokter Sebastian tanpa ragu.


Nara menggigit bibirnya dengan kelu. Kenapa fikiran nya selama ini malah menganggap Bimantara? Kenapa dia tidak pernah berfikir jika Reynand yang telah mengusahakan ini???


"Lalu apa benar tuan Adiputra menjual ginjal nya sendiri untuk menebus ginjal Nara?" tanya Arya


deg


deg


deg


Nara terperangah, matanya melebar memandang Arya tidak percaya.


"A...Aryo" gumam Nara dengan debaran jantung yang tidak menentu. Matanya mulai berair, dia menggeleng pelan. Tidak, semoga tidak benar semuanya. Reynand tidak mungkin melakukan itu.


"Dokter tolong jawab pertanyaan saya" kata Arya lagi setelah dokter Sebastian hanya diam dan tidak ingin menjawab. Dan sebenarnya Arya tahu jika melihat ekspresi dokter Sebastian yang seperti ini. Sudah dua hari sejak Arya mendengar ungkapan Zelina, dia memikirkan semua ini, dan ini saatnya dia tahu apa yang terjadi.


Nara masih terdiam, bibirnya bahkan bergetar menahan tangis saat ini. Dia sungguh berharap jika yang dikatakan Arya barusan tidak benar.


Dokter Sebastian menarik nafasnya dalam dalam. Sebenarnya dia sudah berjanji untuk merahasiakan ini dari siapapun. Reynand meminta nya untuk tutup mulut. Tapi sepertinya Arya dan Nara adalah dua orang terdekat tuan muda itu. Lagi pula dokter Sebastian tahu jika saat ini kondisi Reynand juga sedang terpuruk. Biar kebaikan yang dia lakukan bisa sedikit membantu keterpurukan nya.


"Dokter..." panggil Arya lagi. Dia benar benar tidak sabar ingin mendengar langsung dari mulut dokter Sebastian.


"Apa semua itu benar?" tanya Arya lagi


Dokter Sebastian menghela nafasnya sejenak dan mengangguk


"Ya benar" jawab dokter Sebastian


Nara langsung tersandar lemas dikursi nya, air mata langsung menetes dengan deras diwajah cantik nya yang memucat. Dia menggeleng sedih dan sakit. Kenapa Reynand bisa senekad itu??? kenapa Reynand sampai sebegitu keras berjuang???? Seharusnya Reynand tetap membencinya, seharusnya Reynand pergi dengan membawa kebencian, bukan nya meninggalkan kebaikan seperti ini.


"Tebusan ginjal nona Nara sangat besar. Biaya yang diperlukan juga tidak sedikit ditambah dengan biaya operasi. Saya tidak tahu kenapa tuan Reynand memilih menjual ginjal nya demi untuk menebus ginjal itu. Saya tidak bisa menolak ketika dia memaksa saya untuk melakukan nya" ungkap dokter Sebastian


Nara tertunduk dan menangkup wajahnya yang sungguh tidak bisa menahan isak tangis nya sekarang.

__ADS_1


"Kenapa dia begitu bodoh" gumam Nara yang terisak begitu pilu dan sakit. Nara tidak suka mendengar ini. Dia lebih memilih mati dari pada harus membuat Reynand merasakan kesakitan nya. Nara lebih baik mati jika dia hidup tapi masih tetap merasakan kesakitan dan beban dihati seperti ini. Kenapa Reynand begitu bodoh, kenapa Reynand bertindak sesuka hatinya seperti ini?? Kenapa Reynand lagi lagi menambah beban dihatinya????


"Nara..." Arya langsung mengusap bahu Nara yang sudah tidak bisa menahan tangis nya sekarang. Apalagi mereka baru saja melihat Reynand tadi. Keadaan nya cukup menyedihkan, dan sungguh Nara benar benar tidak sanggup dengan semua yang dia terima. Kenapa mereka berpisah namun tetap masih merasakan kesakitan ini??? Kenapa cinta mereka seperti ini????


__ADS_2