
Lagi lagi hanya detak jantung Bima dilayar monitor yang terdengar menemani kesepian Gendis didalam ruangan itu. Dia masih betah duduk dan memandang wajah Bima yang masih terpejam dengan alat bantu pernapasan dihidung nya. Hati Gendis benar benar sedih melihat ini.
Gendis masih betah menggenggam tangan Bima yang masih terasa dingin. Mengusap nya dengan lembut dan terkadang mengecup nya penuh harapan. Harapan agar Bima segera bangun dan sadar kembali.
"Bim...." panggil Gendis seraya mengusap wajah pucat Bima perlahan.
"Udah seminggu kamu tidur. Kenapa belum bangun juga."
"Aku rindu Bim... iya.. aku sadar kalau aku rindu kamu selama seminggu ini. Kamu ada, tapi seperti gak ada" ungkapan Gendis terasa terdengar begitu perih. Seminggu menantikan kesadaran Bima sudah cukup membuat semangat nya menghilang. Hatinya selalu takut dan risau jika Bima akan benar benar pergi dari kehidupan nya.
"Kamu bangun ya. Jangan tidur terus. Kamu gak kasian sama eyang putri? Dia nungguin kamu bangun setiap hari. Dia sedih Bim lihat kamu begini."
"Dan..... aku juga sedih. Aku ingin kamu cepat bangun. Aku ingin lihat tawa kamu lagi, aku ingin lihat wajah nyebelin kamu lagi Bim. Aku mau kamu bangun" Gendis kembali menenggelamkan wajahnya dilengan Bima. Menangis sedih disana, dia takut, dan dia benar benar takut.
Kenapa tidak David saja yang terbaring disini. Kenapa harus Bima?? Kenapa harus lelaki baik ini???
"Aku rindu kamu Bim" gumam Gendis
"Rindu banget"
Setiap hari, bahkan setiap saat ketika ada bersama Bima, Gendis selalu membisikkan kata kata permohonan untuk lelaki ini. Kata kata pengharapan agar Bima lekas sadar dan bisa bersama dia lagi. Namun sampai saat ini, Bima sama sekali tidak ingin bangun. Apa dia begitu betah dalam tidur nya.
Gendis mendongak dan memandang Bima kembali.
"Bima... ayo bangun. Aku menunggu kamu. Aku sudah janji kan untuk menuruti semua keinginan kamu. Maka dari itu kamu bangun ya" pinta Gendis seraya mengusap air matanya.
"Cukup dia yang buat aku kecewa Bim. Jangan lagi kamu" pinta Gendis.
Hingga tiba tiba Gendis terkesiap saat pintu ruangan terbuka.
"Gendis" panggil seseorang. Gendis menoleh, dan ternyata Nara yang masuk dengan senyum hangat nya.
Dengan cepat Gendis mengusap air matanya dan tersenyum memandang Nara. Wanita cantik yang menjadi alasan dia bisa bertemu dengan Bima. Ya, karena wanita ini lah yang membuat Bima sampai melakukan hal nekad dan hampir membahayakan nyawanya. Dan sekarang Nara datang, apa dengan kedatangan Nara Bima bisa sadar?
Gendis langsung beranjak dari atas kursi dan membiarkan Nara mendekat kearah Bima. Gendis memperhatikan Nara dengan lekat. Sungguh tidak ada cacat cela sedikit pun pada dirinya. Cantik luar dalam, pantas saja jika Bima begitu mengagumi nya.
"Bagaimana keadaan nya?" pertanyaan Nara membuat Gendis sedikit terkesiap.
"Masih begitu saja nona, belum ada perubahan sama sekali" jawab Gendis, dengan suaranya yang terdengar begitu serak.
Dan dapat Gendis lihat jika kini Nara yang mendekat kearah Bima, duduk dikursi yang dia duduki tadi. Gendis mundur beberapa langkah dan membiarkan Nara melihat keadaan Bima.
"Bima.... kamu pernah bilang jika aku harus bahagia kan, aku masih ingat dengan semua perkataan kamu, aku masih ingat dengan semua kata kata pujangga kamu yang selalu bisa membuat aku kuat dalam menjalani hidupku waktu itu." ungkap Nara.
Gendis tertegun mendengar perkataan Nara. Kenapa hatinya menjadi terusik begini?
"Aku sudah bahagia sekarang. Tapi kebahagiaan ku belum lengkap jika melihat kamu seperti ini" kata Nara lagi. Matanya masih memandang lekat wajah Bima yang pucat. Dan itu tidak lepas dari pandangan mata Gendis yang sejak tadi memperhatikan nya.
__ADS_1
Dan entah kenapa, mendengar ungkapan Nara, hati Gendis terasa teriris dan sedih. Ada apa? Kenapa begini?
"Bangunlah Bim. Kami semua menunggu kamu bangun. Aku ingin melihat kamu bahagia, agar aku juga bahagia" ucap Nara
Nara mendekatkan wajah nya kewajah Bima, dan dia terlihat membisikkan sesuatu ditelinga Bima. Entah apa, Gendis tidak tahu, tapi yang jelas, sudut hatinya benar benar merasa tercuil melihat itu.
Gendis tidak sanggup, dia memilih untuk menunggu diluar saja. Pemandangan ini entah kenapa membuat Gendis merasa tidak enak dan gelisah. Apalagi dia tahu jika Nara adalah orang yang paling dikagumi oleh Bima.
Tidak, Gendis sungguh tidak sanggup untuk berlama lama disini.
Mata Gendis mulai berair seiring dengan langkah kaki nya yang mulai melangkah untuk keluar. Padahal dia yakin jika dia belum memiliki perasaan apapun pada Bima. Tapi ketika melihat kedekatan Nara dan Bima, kenapa hatinya sesakit ini???
Tangan Gendis meraih handle pintu dan membuka nya, namun saat ingin melangkah keluar, tiba tiba seruan Nara membuat Gendis kembali menoleh.
"Gendis.... Bima sadar" seru Nara pada Gendis.
Gendis mematung mendengar itu, Bima sadar??? Benarkah???
Air mata seketika langsung menetes diwajah nya, namun dia sama sekali tidak melangkah, melainkan menepi saat eyang putri dan Naina yang mendengar seruan Nara langsung menerobos masuk dan mendekat kearah Bima.
"Bima kamu sudah sadar Bim" seru Naina terlihat begitu bahagia. Bahkan eyang putri sampai menangis haru. Nara langsung beranjak dan memencet tombol pemanggil dokter.
Gendis menggeleng tidak percaya melihat ini. Bima sadar, dan itu karena Nara???
Air mata semakin deras membanjiri wajah Gendis, dia membalikkan tubuhnya dan melangkah keluar dari ruangan itu. Dia bahagia melihat Bima yang sudah sadar, sangat bahagia. Tapi kenapa hatinya terasa sakit juga?
Gendis terduduk dikursi tunggu didepan ruangan Bima. Dia menangis tertahan dan begitu sesak. Kenapa seperti ini, kenapa hatinya bisa sesedih ini?
Gendis tersenyum getir dengan air mata yang semakin membanjiri wajah cantik nya.
Dua bulan lebih mereka bersama. Tidak adakah sedikit saja kesan atau ingatan mendalam yang bima rasakan padanya?
Tawa itu, senyum hangat nya, ciuman nya, dan permintaan nya untuk menikah dengan Gendis, apa semua itu hanya lelucon saja???
Gendis menggeleng dan tertunduk seraya mengusap air matanya. Dia berusaha untuk menahan isak tangis nya, apalagi ketika dokter yang menangani Bima sudah tiba.
Gendis hanya memandang nanar dokter dan perawat itu masuk kedalam ruangan Bima. Namun untuk melihat, rasanya Gendis belum mampu. Entah kenapa hatinya begitu perih. Bahkan terasa sama perih nya ketika dia dikhianati oleh David.
Apakah ini cinta?
Entahlah...
Tapi yang jelas, kehadiran Bima mampu membuat Gendis melupakan David.
Namun sayang nya, kehadiran Gendis tidak mampu membuat Bima merindu seperti yang dia rasakan.
...
__ADS_1
Lama Gendis duduk terdiam dikursi tunggu itu. Hingga dokter dan perawat keluar lagi dari ruangan Bima.
"Bagaimana keadaan Bima dokter?" tanya Gendis langsung
Dokter lelaki paruh baya itu tersenyum dan mengangguk.
"Sudah jauh lebih baik nona, untung saja dia bisa sadar dengan cepat. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Hanya saja kondisi nya yang masih begitu lemah dan masih memerlukan perawatan yang baik" jawab dokter itu.
Gendis langsung tersenyum mendengar itu.
"Terimakasih dokter" jawab Gendis langsung
"Sama sama nona. Saya permisi" pamit dokter itu.
Gendis hanya mengangguk saja dan membiarkan dokter itu pergi dari hadapan nya. Sementara Gendis kembali memandang kearah ruangan Bima yang masih tertutup rapat.
Gendis menghela nafas nya sejenak, dan kembali memalingkan wajahnya. Bima sudah sadar dan sudah baik baik saja. Lebih baik dia pergi kan, hatinya benar benar merasa tidak enak sekarang.
Namun saat baru ingin melangkah, lagi lagi suara Nara membuat langkah Gendis terhenti.
"Gendis" panggil Nara.
Gendis kembali mengusap air matanya. Dan menoleh ke arah Nara.
"Mau kemana?" tanya Nara yang berjalan mendekat kearah Gendis.
"Mau keluar nona" jawab Gendis seraya mencoba untuk tersenyum pada Nara. Meski sebenarnya terasa begitu sulit.
"Kenapa pergi, Bima mencari kamu" ucap Nara
Gendis terdiam.
Nara tersenyum dan mengusap bahu Gendis.
"Ayo temui dia, bukan kah seminggu ini kamu selalu menunggu nya bangun" ujar Nara lagi.
"Tapi..." Gendis terlihat ragu.
"Dia mencari seseorang yang selalu menemani ketidaksadaran nya, seseorang yang membuat dia bertahan untuk tetap hidup" ucap Nara
Gendis tertegun mendengar itu.
"Gendis, saat dia membuka mata, nama kamu yang dia sebut. Dan sekarang dia sedang menunggu kamu didalam. Ayo." ajak Nara lagi.
Mata Gendis kembali berair mendengar itu.
"Jangan berfikiran yang tidak tidak, kebahagiaan nya adalah kamu. Dan dia bertahan juga pasti untuk kamu" ucap Nara lagi.
__ADS_1
Gendis langsung tersenyum dan segera beranjak masuk kedalam ruangan Bima, bahkan dia sedikit berlari masuk kedalam ruangan itu. Tidak lagi dia perdulikan eyang putri dan Naina yang ingin keluar.
Dia sudah ingin bertemu dengan Bima.