
Malam ini Reynand sudah berada dirumah sakit. Sepulang dari perusahaan dan membereskan sedikit masalah yang terjadi, dia kembali menjenguk Nara yang masih terbaring dan belum juga sadarkan diri. Padahal dokter yang menangani nya berkata jika Nara seharusnya memang sudah sadar, karena kondisi nya sudah mulai stabil meski belum bisa dikatakan membaik. Tapi sampai detik ini, Nara masih betah memejamkan matanya seolah begitu enggan untuk bangun kembali. Apa Nara memang sudah menyerah dan tidak ingin lagi melihat nya???
Reynand tertunduk dengan pandangan getir. Sama sekali dia tidak ada berkata apapun sejak tadi. Bibirnya seolah terbungkam. Namun hatinya begitu bergemuruh hebat melihat keadaan Nara yang seperti ini. Ada harapan dan rasa takut yang begitu besar didalam hatinya untuk Nara dan kehidupan nya dimasa yang akan datang.
Reynand tahu dia sudah begitu bersalah pada Nara, tapi tidak bisakah dia mengulang semua nya kembali dengan kondisi dan suasana yang lebih baik??
Pertengkaran nya dengan Cleo siang tadi membuat hatinya juga semakin tidak menentu. Rasanya beban yang dia rasakan membuat emosinya menjadi tidak stabil.
Selama ini hubungan nya dengan Cleo memang selalu baik baik saja, dan tidak ada hal dari diri Cleo yang membuat nya marah ataupun membenci gadis itu. Tapi sekarang, dia merasa jika dia harus memilih salah satu diantara mereka.
Anara dan Cleo... Dua wanita yang tanpa sengaja hadir dikehidupan nya. Cleo kekasih nya, sedangkan Anara adalah istrinya dan juga gadis yang selama ini dia cari cari keberadaan nya. Tentu sekarang dia lebih memilih Anara. Bukan karena rasa bersalah nya saja, tapi dia tahu dan sadar, jika Anara Polie sudah mampu membuat nya mengerti dan menyadari tentang rasa cinta yang sesungguhnya. Rasa yang telah dia simpan selama sebelas tahun ini.
Reynand terkesiap saat tiba tiba pintu diketuk oleh seseorang. Dia beranjak dan berjalan kearah pintu. Dia tahu jika itu bukan dokter, karena baru beberapa menit yang lalu dokter memeriksa keadaan Nara.
Reynand membuka pintu dengan wajah datar yang terlihat begitu kusut. Dia mendapati Guntur datang dengan wajah yang sedikit panik.
"Tuan...." panggil Guntur
"Ada apa?" tanya Reynand
"Tuan besar menunggu anda dirumah" kata Guntur
Reynand terdiam. Berfikir apa yang diinginkan oleh ayahnya itu. Apa ini masalah dana perusahaan yang sudah dia keluarkan? Apa sebegitu perhitungan nya orang itu padanya sekarang.
"Malam ini juga tuan" kata Guntur lagi saat melihat Reynand hanya terdiam dengan pandangan kosong nya.
Reynand menghela nafas nya perlahan. Dia menoleh dan memandang Nara yang masih tenang dalam ketidak sadaran nya. Lalu kembali lagi pada Guntur yang masih memandang nya dengan lekat.
"Apa kamu sudah membebaskan Arya?" tanya Reynand dan Guntur langsung mengangguk
"Sudah tuan. Sore tadi Arya sudah bebas. Hanya masalah perusahaan Polie yang belum menemukan titik terang" jawab Guntur
Reynand hanya mengangguk. Dia menoleh sebentar kearah Nara lalu kemudian menutup pintu ruangan itu. Dia harus segera pergi dan menyelesaikan masalah nya dengan tuan Abas Adiputra, ayahnya. Reynand tahu jika pria tua itu pasti akan murka karena dia yang sudah banyak menghabiskan dana perusahaan tanpa persetujuan darinya. Tapi, apa boleh buat, dia yang sudah menghancurkan maka dia juga yang harus mempertanggung jawab kan perbuatan nya.
Dan benar saja, ketika tiba dirumah utama. Tuan Abas sudah duduk disofa dengan wajah yang sangat tajam. Dia langsung berdiri saat Reynand masuk dan mendekat kearah nya.
"Apa kamu memang ingin membuat perusahaan bangkrut ha?" bentak tuan Abas begitu menggelegar memenuhi seluruh ruangan itu. Kemarahan begitu terasa membara dihatinya, apalagi melihat Reynand yang hanya diam dengan wajah datar nya.
Mama Reynand bersama Zelina langsung berlari keluar memandangi Reynand dan tuan Abas dari jauh. Wajah mereka menyiratkan kekhawatiran yang begitu mendalam. Keluarga ini memang sudah hancur sejak kematian tuan Bagasyaksa empat tahun yang lalu.
"Jawab Reynand!!" seru tuan Abas lagi
Reynand berdecih sinis memandang wajah ayah nya
"Apa papa sudah begitu perhitungan padaku sekarang?" tanya Reynand masih dengan nada datar dan terkesan dingin
__ADS_1
"Kamu terlalu sombong dan angkuh. Apa kamu kira dengan kamu yang menjalankan perusahaan kamu bisa seenak nya memakai dana perusahaan sesuka hatimu?" tanya tuan Abas memandang tajam Reynand
"Apa anda lupa jika perusahaan berdiri karena kerja keras ku selama beberapa tahun ini, tuan Abas yang terhormat" balas Reynand tidak mau kalah
Mereka saling pandang dengan tatapan mata yang begitu tajam, membuat suasana dirumah itu semakin mencekam dan membuat jantung Zelina dan mamanya semakin bergemuruh. Bahkan Guntur yang ada disana hanya bisa diam tanpa berani untuk ikut campur. Dia sudah menduga akan begini jadi nya.
"Apa kamu juga lupa jika perusahaan adalah milikku. Kamu hanya pekerja disana Reynand" ucap tuan Abas
"Anda selalu menganggapku sebagai alat untuk isi rekening mu" desis Reynand. Tuan Abas langsung tertawa sinis mendengar nya
"Memang begitu kenyataan nya. Apa yang mau kamu pungkiri" jawab tuan Abas begitu meremeh membuat Reynand merasa begitu murka
"Jangan merasa angkuh lagi. Sekarang kakek mu itu sudah tidak ada lagi. Dan dia tidak akan bisa lagi membela mu. Kamu hanya perlu menjalankan perusahaan dengan baik, tapi kenyataan nya kamu malah menghabiskan dana perusahaan yang begitu besar" kata tuan Abas
"Jangan bawa bawa kakek ku" kata Reynad berusaha menahan emosinya
"Kenapa, kamu takut bukan. Sekarang kamu kembalikan uang yang sudah kamu pakai. Aku tidak mau tahu" kata tuan Abas
"Aku tidak mau" jawab Reynand lagi
"Kamu sudah berani padaku?" geram tuan Abas yang berjalan mendekat kearah kearah Reynand
Reynand memandang lekat wajah tuan Abas. Wajah tua yang sudah tidak ada lagi kehangatan didalam nya. Terkadang Reynand berfikir, kenapa ayahnya bisa berubah secepat ini. Apa semua karena harta? Atau apa?
Tuan Abas kembali tersenyum sinis. Senyum yang tampak begitu mengerihkan dipandangan orang orang yang melihatnya.
"Saham katamu? Saham yang mana ha?" tanya tuan Abas begitu angkuh dan meremeh
"Saham yang kakek mu janjikan itu?" tanya tuan Abas lagi. Reynand masih memandang nya dengan datar, namun sungguh hatinya begitu bergemuruh saat ini
"Apa kamu lupa jika kakek mu itu sudah tiada sebelum kalian membubuhi tanda tangan diatas materai. Aku bahkan tidak ada menjumpai sedikitpun jejak mu disana" ucap Tuan Abas begitu tajam
Reynand tampak sedikit terkesiap mendengar nya
"Apa, tidak mungkin. Jelas jelas aku sudah menandatangi itu!!" seru Reynand tidak terima, namun tuan Abas terkekeh kecil dan menoleh pada Guntur yang langsung menundukkan pandangan nya
"Guntur, jelaskan" ujar tuan Abas pada Guntur. Reynand langsung menoleh pada Guntur. Memandang nya dengan tajam pada Guntur yang ada disana, dia yang menjadi saksi atas pengalihan separuh saham Adidaksa empat tahun lalu.
"Benar tuan, yang anda tanda tangani bukan surat pengalihan atas separuh saham itu, melainkan surat kuasa untuk anda mengurus perusahaan sampai batas waktu yang ditentukan oleh tuan besar sendiri" ungkapan Guntur sungguh membuat Reynand membelalakan matanya. Dia menggeleng tidak percaya atas apa yang didengar nya ini.
"Tidak, tidak mungkin. Guntur, kamu tahu sendiri jika kakek memang menyerahkan surat itu padaku. Kenapa kamu malah berkata seperti itu. Bahkan papa juga tahu jika kakek menyerahkan saham itu padaku. Jangan mencoba coba menipuku!!!" teriak Reynand tidak terima. Dia sehat, dan dia tidak dalam keadaan mabuk waktu itu, mereka semua ada disana saat tuan Bagasyaksa memberikan separuh saham pada Reynand. Tapi kenapa sekarang mereka malah seperti lupa ingatan begini.
Tuan Abas tertawa sinis memandang Reynand yang sudah kelimpungan dan kebingungan. Dia menoleh pada Guntur yang memberikan beberapa berkas pada Reynand.
Reynand merebut berkas itu dengan kasar, dan lagi lagi mata nya terbuka lebar dengan rahang yang mengeras sempurna. Dia menggeleng pelan dan langsung mencampakan berkas berkas itu keatas lantai.
__ADS_1
"Kamu lihat sendiri bukan. Kamu bukan siapa siapa Reynand. Aku yang berkuasa disini. Dan kamu seharusnya tahu itu" desis tuan Abas
"Tidak mungkin, apa yang sudah kalian lakukan ha!!!!" teriak Reynand menendang meja kaca didepan nya hingga pecah tebelah dua
Zelina dan mamanya langsung berteriak dan saling memeluk ketakutan melihat suasana yang kembali memanas
"Katakan, aku sudah cukup bersabar selama ini, berani berani nya kalian mengkhianati ku!!" Reynand langsung mencengkram kerah baju tuan Abas membuat mama nya kembali berteriak
"Rey jangan nak" teriak mama, namun Reynand malah mengabaikan nya.
"Aku sudah seperti robot untuk mu selama empat tahun ini. Bisa bisa nya orang tua yang kupanggil dengan sebutan papa membuat ku sebagai alat nya. Anda benar benar luar biasa" desis Reynand begitu geram
Guntur langsung menarik lengan Reynand dengan kuat, hingga cengkraman itu langsung terlepas begitu saja. Mama segera berlari dan berdiri ditengah tengah mereka, dia begitu takut jika terjadi pertengakaran antara anak dan suami nya seperti waktu lalu.
"Sudah!!!!! tidak bisakah kalian berbicara baik baik" pinta ibu Reynand dengan nada suara yang bergetar. Wajah tua nya terlihat begitu mengiba, namun Reynand dan tuan Abas tampak tidak memperdulikan itu. Mereka hanya saling berpandangan dengan tajam
"Minggir ma, suami yang selalu mama bela ini tidak pantas lagi dihormati. Bisa bisa nya mengkhianati anak sendiri" geram Reynand
"Kamu terlalu percaya diri. Seharusnya kamu bersyukur aku masih mengizinkan mu bekerja diperusahaan itu, jika tidak, kamu sudah akan menjadi gelandangan diluar sana" desis tuan Abas. Mendengar itu Reynand semakin murka, dia ingin sekali menghajar ayahnya ini, namun Guntur dan mama nya segera menghalangi nya
"Cukup tuan, anda sudah kalah, jangan melawan lagi" kata Guntur namun tiba tiba
Buk
Satu pukulan langsung mendarat diwajah Guntur, membuat lelaki paruh baya itu langsung terhempas kelantai
"Rey, sudah nak!!!" teriak mama. Zelina yang berada diujung pintu tampak sudah menangis ketakutan. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan nya. Rumah ini sudah seperti neraka untuk nya sekarang.
"Kalian memang pengkhianat, aku tidak akan tinggal diam. Jika aku menemukan bukti kecurangan kalian, maka aku tidak akan segan segan, bahkan aku tidak akan lagi menghormatimu sebagai ayahku" kata Reynand begitu geram. Dia benar benar merasa dikhianati oleh ayahnya sendiri. Selama beberapa tahun ini, bukan hanya merasa dijadikan sebagai alat, namun juga dia telah dikhianati oleh orang terdekat nya sendiri. Reynand benar benar tidak habis fikir.
"Coba saja cari, dan sebelum kamu menemukan nya, nama mu sudah aku coret dari daftar hak waris keluarga Adiputra" ucap tuan Abas dengan senyum sinis nya. Dia langsung beranjak dari tempat nya, namun mama segera menghalangi suami nya itu. Dia memegang lengan tuan Abas dengan erat dan memandang nya dengan begitu iba
"Papa, jangan seperti itu. Reynand putra kita. Jangan bertindak kejam padanya" kata mama dengan begitu memohon. Namun tuan Abas langsung mendorong nya dengan kuat hingga mama langsung terhempas kearah Reynand yang dengan sigap menangkap nya.
"Kurang ajar" geram Reynand ingin mengejar tuan Abas, namun kembali dihalangi oleh mama
"Sudah nak, jangan lagi" kata mama yang segera beranjak dari rangkulan Reynand
Reynand memandang kepergian tuan Abas dan Guntur dengan pandangan benci dan marah yang begitu memuncak. Dia tidak menyangka jika dia akan dikhianati oleh orang terdekat nya seperti ini. Lalu apa yang sudah dia lakukan selama ini adalah sia sia??? Membangun perusahaan dengan seluruh keringat dan tenaga, tapi apa ini bayaran nya???
pranggg
Meja kaca yang sudah terbelah dua langsung remuk terkena amukan Reynand yang semakin menjadi. Dia tidak terima, dia benar benar tidak terima. Selama ini dia sudah bekerja keras, dia hanya berfikir jika dia hanya harus mengganti dana yang sudah dia pakai, tapi kenyataan nya malah lebih pahit dari itu. Ini benar benar gila, dan Reynand tidak akan terima. Dia akan mencari tahu kebenaran nya nanti.
Tapi apakah semudah itu jika dia akan terus mendapatkan kejutan kejutan besar lain nya diesok hari????
__ADS_1