Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan

Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan
Hal Yang Manis


__ADS_3

Nara tersenyum memandangi sebuah lukisan indah yang kini terpajang didinding rumah nya. Lukisan bunga Anyelir yang baru saja dikirim oleh seorang kurir kerumahnya sore ini. Dan bukan hanya lukisan nya saja, namun juga seikat bunga anyelir bewarna merah juga sudah ada di genggaman tangan Nara.


Dia meletakkan bunga Anyelir itu kedalam sebuah vas kaca yang ada ditas meja. Tepat dibawah lukisan nya. Reynand, lagi lagi lelaki itu memberikan hal hal manis yang selalu bisa membuat Nara tersenyum. Entah sejak kapan dia melukis lukisan ini, yang jelas lukisan ini pasti membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikan nya. Nara memang tidak tahu tentang seni, tapi melihat lukisan yang dibuat oleh Reynand, dia bisa tahu jika ini bukan karya yang sederhana, melainkan sangat menakjubkan.


Bunga Anyelir berbagai warna dia padu padankan dengan gadrasi warna yang memukau. Bunga anyelir yang melambangkan cinta yang setia, kasih sayang yang murni, kesetiaan dan pastinya keyakinan yang dalam.


Semoga saja cinta mereka seperti itu nantinya. Setelah berbagai kesakitan yang pernah Nara terima, kini Reynand mengganti nya dengan hal hal manis setiap hari.


Sejak dulu hingga sekarang, hanya Reynand dan cuma Reynand.


Cinta memang sebodoh itu. Tidak memakai akal dan fikiran, melainkan dengan hati yang paling dalam. Hingga bagaimana mungkin bisa tergantikan jika satu nama sudah ada dihati.


....


Dan begitu pula dengan Diandra Gendis Ayu. Sudah hampir sebulan berada dirumah eyang putri, namun dia masih saja belum bisa melupakan rasa sakitnya atas pengkhianatan yang dia terima dari David. Kekecewaan itu begitu besar. David adalah cinta pertama nya, dan keyakinan nya sudah penuh untuk hidup bersama David dulunya. Namun nyatanya, ketika harapan itu sudah didepan mata, David malah menghancurkan nya begitu saja.


Beberapa waktu lalu, ayah nya datang menemui Gendis kerumah eyang putri. Dan bukan nya membawa pulang, namun ayahnya malah meminta Gendis untuk disini dulu sampai dia sembuh. David masih terus mencari keberadaan Gendis. Bahkan dia sudah menyebar orang orang nya untuk mencari tahu dimana Gendis berada.


Benar benar keras kepala, entah apa lagi yang diinginkan oleh David. Meski Gendis cinta, tapi rasa kecewa nya sudah cukup besar. Mungkin jika itu kesalahan lain, Gendis masih bisa menerima. Tapi ini adalah sebuah pengkhianatan, dan bahkan terjadi dihadapan matanya sendiri saat David mencumbu wanita lain.


Tidak, Gendis tidak bisa terima. Dia sudah menyerah!


"Gendis" panggilan seseorang membuat Gendis terkesiap.


Dia yang sedang duduk di sebuah gazebo, langsung menoleh kebelakang dan memandang Bima yang baru datang. Sudah tiga hari pria ini pergi ke Jakarta untuk mengurus perusahaan nya. Dan kini dia datang lagi kemari.


Gendis tersenyum tipis melihat Bima.


"Kamu kemari lagi, aku kira kamu tidak akan pulang lagi" ucap Gendis.


Bima langsung mendengus mendengar itu. Dia langsung duduk disamping Gendis. Dan menyerahkan sesuatu pada Gendis.


"Dari ayahmu" kata Bima


Gendis memandang kotak kue itu, dan dia langsung mendengus senyum seraya meraih nya.

__ADS_1


"Apple pie" gumam Gendis sambil membuka kotak kue nya, dan aroma apple pie langsung menguar dengan lembut dihidung mereka.


"Kamu bertemu dengan ayah?" tanya Gendis.


Bima langsung mengangguk seraya menyandar didinding Gazebo. Wajahnya terlihat lelah, bahkan dia belum membersihkan dirinya sama sekali. Kemeja biru nya masih terlihat kusut.


"Ya, pagi tadi sebelum kemari aku meeting dulu dengan dia. Dan ketika aku bilang jika aku akan pulang dia malah menitipkan ini untukmu" jawab Bima.


Gendis langsung mengangguk dan langsung mencomot satu apple pie itu. Rasa manis dan lembut langsung lumer didalam mulut nya. Sudah lama sekali dia tidak merasakan kue favorite nya ini.


Gendis menyodorkan kue itu pada Bima, namun Bima malah menggeleng.


"Kamu tidak mau?" tanya Gendis


"Aku kurang menyukai manis" jawab Bima


"Ini tidak manis, cobalah dulu" ujar Gendis lagi.


Bima melirik potongan kue ditangan Gendis dan kembali memandang Gendis dengan lekat.


Gendis mendengus, dia kembali memakan kue nya dan meletakkan kotak makanan itu dihadapan Bima.


"Aku juga tidak suka manis, dan ayah tahu itu. Tapi ini bukan seperti apple pie yang biasa" ungkap Gendis.


"Benarkah?" tanya Bima dan Gendis langsung mengangguk.


Karena penasaran, Bima langsung mencomot satu dan memakan nya.


Dia tertegun sejenak saat kue itu lumer didalam mulutnya.


"Enak kan" tanya Gendis.


Bima langsung mengangguk dan tersenyum, ternyata ekspektasi nya telah salah.


"Ini benar benar pas, bagaimana mungkin ada apple pie yang hambar seperti ini" ucap nya seraya terus menikmati kue itu.

__ADS_1


"Bukan hambar, tapi ini memang tidak memakai gula dan susu. Hanya rasa manis dari apel nya. Aku sudah sering membuat nya dirumah" sahut Gendis.


"Kamu bisa membuat ini?" tanya Bima tidak percaya. Bahkan dia memandang Gendis dengan raut wajah yang aneh.


"Kamu meremehkanku" sahut Gendis.


Bima tersenyum sinis dan menggeleng.


"Aku mengenalmu sebagai gadis yang hidup diluaran. Bagaimana mungkin kamu bisa memasak" remeh Bima.


Dan ingin sekali Gendis memukul wajahnya itu. Benar benar menyebalkan. Mereka sudah memutuskan untuk berteman, tapi tetap saja setiap bertemu pasti ada saja pedebatan yang mereka lakukan. Yah, meskipun dengan kedatangan Bima membuat Gendis merasa lebih baik dan sedikit melupakan David.


"Aku itu tinggal sendiri di New york. Dan tentu saja aku bisa melakukan apapun. Apa kamu kira aku ini gadis manja yang tidak bisa apa apa. Kalau kamu mau aku bisa membuat kan nya untuk mu. Aku yakin rasanya bahkan lebih enak dari pada ini" ucap Gendis.


"Bagaimana jika tidak enak?" remeh Bima lagi.


Gendis langsung berdecak dan melengos kesal memandang Bima.


Bima langsung tertawa melihat wajah kesal itu.


"Baiklah baiklah, aku percaya. Kamu harus membuatkan nya untuk ku nanti. Besok pagi aku akan membawa mu kekebun buah apel eyang. Kamu bisa memilih apel yang kamu inginkan disana nanti. Sepertinya saat ini sedang musim panen" ujar Gendis.


"Eyang juga punya kebun apel?" tanya Gendis


Bima langsung mengangguk


"Eyang apa yang tidak punya. Semua dia punya, hanya buah hati saja yang dia tidak punya" jawab Bima.


"Kalau tidak punya buah hati, lalu kamu itu berasal dari mana" sahut Gendis.


Bima kembali tertawa, dan tanpa sadar dia memang sudah bisa dengan mudah tertawa sekarang.


"Iya ya, aku lupa jika aku adalah cucunya" jawab Bima.


Gendis langsung menggeleng gerah dan kembali memakan apple pie nya. Hidup disini tidak buruk sebenarnya. Eyang putri yang baik, Bima yang mau membantunya meskipun menyebalkan, dan yang pasti suasana rumah dan desa ini yang bisa membuat Gendis tenang.

__ADS_1


Jika sudah tidak lagi berada disini, Gendis pasti akan merindukan tempat ini nanti nya.


__ADS_2