Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan

Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan
Zevanno dan Zevanya


__ADS_3

Arya panik melihat air ketuban Nara yang semakin banyak keluar, dia membantu memapah Nara kaluar dari ruangan nya. Seharusnya jadwal operasi Nara masih seminggu lagi, tapi entah kenapa malah sekarang air ketuban itu sudah pecah.


"Auh sakit sekali Yo" keluh Nara. Tangan nya masih mencengkram tangan Arya dengan kuat.


"Iya, kita kemobil. Kamu kuat jalan kan, aku tidak sanggup menggendong mu" tanya Arya


Nara hanya mengangguk dengan wajah yang meringis kesakitan.


Dan saat keluar dari ruangan ternyata bertepatan dengan kedatangan Reynand juga. Reynand langsung berlari mendekati Arya dan Nara dengan panik. Begitu pula dengan Nina yang ada disana.


"Sayang kenapa?" tanya Reynand yang langsung mengambil alih Nara dari Arya


"Sepertinya dia mau melahirkan tuan. Bawa kerumah sakit" ujar Arya


"Astaga... kan masih seminggu lagi" ucap Reynand yang langsung memapah Nara dibantu oleh Arya.


"Rey.... dia sudah mau lahir sekarang" sahut Nara


Reynand hanya meringis dan membawa Nara masuk kedalam lift


"Kamu urus perusahaan" ujar Arya pada Nina


"Baik tuan" jawab Nina. Wajahnya juga nampak panik. Dan begitu pula dengan semua karyawan Polie yang berpapasan dengan mereka dilobi.


Arya dengan sigap langsung membukakan pintu mobil untuk Nara dan Reynand. Dan setelah itu dia langsung berlari masuk ke kursi kemudinya. Melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi membelah jalanan ibu kota yang cukup padat siang itu.


"Ahhhh Rey,,,, sakittt!!!" rintih Nara yang wajahnya mulai memucat. Kontraksi yang dia rasakan semakin lama semakin menjadi.


"Sabar sayang... sebentar lagi"


Reynand terus mengusap perut Nara dengan lembut.


Beberapa kali Nara terlihat menarik nafas nya dengan cepat, karena sungguh rasanya benar benar sakit. Tangan nya masih menggenggam tangan Reynand dengan kuat, sedangkan kini Reynand sedang menghubungi pihak rumah sakit dan juga mama nya.


"Uuuhhh ....." Nara semakin mengeluh. Keringat semakin deras dan wajahnya yang semakin pucat, membuat Reynand dan Arya benar benar panik dan cemas.


"Lebih cepat Yo" seru Reynand.


Arya hanya diam, namun matanya terus fokus pada jalanan didepan nya. Jangan sampai mereka celaka karena panik dengan keadaan Nara.


"Sabar ya sayang, sebentar lagi. Kamu harus kuat" pinta Reynand. Suaranya sudah terdengar bergetar katakutan sekarang. Apalagi melihat Nara yang kesakitan seperti ini. Dia sungguh tidak tega.


Nara tidak lagi berkata apapun, dia hanya meringis kesakitan dan mencengkram tangan Reynand dengan kuat, beberapa kali tubuhnya menggeliat menahan sakit diperut nya. Sungguh, rasanya sangat sakit hingga membuat dia benar benar lemas sekarang.

__ADS_1


"Sayang.... kamu kuat" pinta Reynand dengan mata yang berkaca kaca.


Nara mengangguk dan mencoba tersenyum.


"Aku kuat, kamu temani aku" pinta Nara. Nafasnya terlihat tersengal sengal.


"Iya, aku temani kamu. Pasti" jawab Reynand dengan cepat. Dia mengusap wajah Nara dan kembali mengusap perut Nara yang memang sudah terlihat begitu kebawah.


Hingga tidak lama kemudian, mereka sudah tiba dirumah sakit. Perawat sudah menyiapkan tandu untuk Nara. Dan Nara memang langsung dibawa ke ruang operasi yang memang sudah disediakan oleh dokter Sandra.


Tubuh Nara lemah, dan posisi bayinya juga tidak baik untuk melahirkan normal. Jadi mereka sudah memutuskan untuk melakukan operasi caesar pada Nara dan kedua anak nya.


Arya terduduk dikursi didepan ruangan Nara. Wajahnya memucat. Rasa trauma dengan rumah sakit benar benar membuat dia tidak berdaya. Dulu orang tuanya, Zelina nya dan sekarang Nara.


Ya tuhan...


Tolong selamatkan Nara dan anak anak nya. Arya sudah tidak memiliki sisa tenaga lagi jika harus kehilangan.


Sementara beberapa waktu kemudian didalam ruang operasi. Nara sudah dibaringkan disana dan sudah menjalankan serangkaian prosedur sebelum melakukan operasi ini. Dokter Sandra dan beberapa rekan dokter nya sudah mulai menjalankan operasi dimulai dengan mereka yang berdoa bersama. Berharap kelancaran untuk proses persalinan Nara. Kelahiran penerus keluarga Adiputra.


Nara sudah tidak lagi merasakan apapun, dia hanya lemas setelah disuntik bius tadi. Namun Reynand yang terlihat memucat. Jantung nya berdenyut ngilu saat melihat berbagai pisau bedah itu menyayat perut nara.


Bahkan matanya sudah berkaca kaca sekarang.


"Kamu kuat sayang, kamu kuat ya. Harus bisa untuk aku dan anak anak kita" bisik Reynand


Nara tersenyum tipis dan mengangguk. Ya, kali ini dia ingin egois, dia ingin meminta kehidupan yang lebih lama dari Tuhan. Nara tidak ingin pergi secepat ini, dia masih ingin ada untuk anak anak nya, untuk suaminya, untuk mertuanya dan juga untuk Arya.


Mereka masih dalam suasana berduka, dan semoga dengan kehadiran anak anak nya ini, rasa sakit itu bisa sedikit terobati.


Reynand menunduk dan mencium dahi Nara kembali, dia benar benar tidak sanggup melihat pisau itu mengoyak perut Nara. Rasanya dia yang merasakan sakit itu sekarang. Karena demi apapun Reynand sungguh tidak ingin melihat Nara merasakan sakit lagi. Tapi sekarang, demi melahirkan anak untuk nya, Nara harus rela merasakan rasa sakit ini.


Tidak,


Sudah cukup mereka hanya memiliki dua anak ini. Reynand tidak akan lagi membiarkan Nara hamil dan merasakan sakit. Sudah cukup dengan kedua anak kembarnya.


Reynand terus menggenggam tangan Nara dengan erat seraya didalam hati tidak henti henti nya berdoa untuk keselamatan Nara dan anak anak nya. Dia tidak ingin kehilangan lagi, rasa sakit akibat kepergian Zelina sudah membuat mereka terpuruk, dan jangan lagi ada kehilangan.


Reynand benar benar khawatir.


Hingga tidak lama kemudian, air mata Reynand langsung mengalir saat melihat seorang bayi laki laki berhasil dikeluarkan dari perut Nara. Suara tangisan bayi itu benar benar kuat menggema memenuhi ruangan itu. Dengan sigap dokter Sandra membungkusnya dengan kain dan menyerahkan nya pada Nara.


"Bayi laki laki yang sempurna" ucap dokter Sandra seraya meletakkan bayi Nara didada nya.

__ADS_1


Dan tidak lama kemudian, disusul dengan tangisan bayi perempuan yang juga tidak kalah kuat.


"Bayi perempuan yang sangat cantik tuan" seorang dokter menyerahkan bayi perempuan itu pada Reynand. Meski kaku namun Reynand mendekap bayi itu dengan hangat di dada nya.


Air mata tidak terbendung lagi dengan kehadiran dua buah hati mereka. Tangis bahagia langsung pecah menyambut kehadiran dua malaikat kecil ini. Malaikat kecil yang semoga bisa menjadi pengobat hati kesedihan semua orang.


"Terimakasih sayang, terimakasih sudah memberikan kebahagiaan yang tidak terhingga ini" ucap Reynand pada Nara


...


Mama menangis bahagia melihat kehadiran kedua cucunya ini. Tangan nya mengusap lembut bayi laki laki yang berada didalam gendongan nya sekarang. Sedangkan bayi perempuan Nara sudah berada ditangan Reynand yang duduk ditempat tidur bersama Nara.


Mereka sangat bersyukur keadaan Nara baik baik saja, begitu pula dengan kedua bayi tampan dan cantik ini. Wajah mungil nya benar benar menggemaskan.


Tuan Abas yang duduk disamping mama bahkan tidak berhenti mengusap kepala cucu lelaki pertama nya itu. Dia benar benar terlihat bahagia.


Begitu pula dengan Arya yang berada ditengah tengah mereka. Meski rasanya, tetap saja ada yang kurang. Jika ada Zelina, dia pasti akan menjadi aunty yang paling bahagia saat ini.


Ah... Arya kembali sedih jika mengenangkan itu. Apalagi ketika melihat keluarga ini. Rasa rindunya kembali mencuat dan terasa membuat dadanya sesak.


"Arya" suara mama membuat Arya terkesiap. Dia langsung memandang mama yang menatap nya dengan penuh senyum. Meski anak nya sudah tidak ada, tapi mereka masih begitu baik pada Arya.


"Kamu tidak ingin menggendong keponakan kamu ini?" tanya mama


Arya tersenyum tipis dan menggeleng


"Takut jatuh ma" jawab Arya


"Tidak akan jatuh jika kau menggendong nya dengan benar. Kemari" panggil Reynand pada Arya


Nara tersenyum dan mengangguk saat Arya malah memandang nya. Dan mau tidak mau Arya langsung mendekat pada Reynand dan Nara yang ada ditempat tidur.


Reynand menyerahkan anak nya pada Arya. Sangat kaku, bahkan Arya nampak begitu tegang meraih bayi mungil yang masih benar benar merah.


"Oh ya ampun. Ini kecil sekali" gumam Arya


Nara dan Reynand langsung tersenyum melihat Arya yang begitu canggung. Apalagi ketika melihat Arya yang tiba tiba tersenyum saat bayi mungil itu menggeliat digendongan nya, mereka sangat bersyukur. Karena sungguh, kepergian Zelina benar benar merubah sosok Arya. Mungkin karena baru beberapa bulan. Hingga Arya masih belum bisa menerima.


"Siapa nama nya nak?" tanya tuan Abas pada Nara dan Reynand


Reynand memandang Nara sejenak dan kembali memandang kedua orang tua nya.


"Zevanno Adiputra dan Zevanya Adiputra"

__ADS_1


__ADS_2