Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan

Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan
Kisah Dibalik Hujan


__ADS_3

Hari sudah cukup larut, dan langit juga sudah mulai mendung. Mungkin sebentar lagi hujan akan turun. Zelina merapatkan jaket yang dia kenakan dan menoleh kesana kemari memperhatikan sekitar nya. Dia benci malam seperti ini, tapi setiap hari harus waktu ini yang dia lewati agar bisa melanjutkan kehidupan nya. Ya, kehidupan yang terkadang membuat dia benar benar lelah dan ingin menyerah. Tapi sekarang, tumpuan hidup kakak dan mama nya hanya ada apa dia.


Zelina duduk dihalte seperti biasa, menunggu bus ataupun taksi malam yang lewat. Berharap malam ini taksi akan cepat lewat dan dia bisa mengistirahatkan tubuh dan fikiran nya yang sudah sangat lelah.


Tapi, hari sudah sangat larut, bagaimana mungkin akan ada kendaraan yang lewat dijam seperti ini. Ini hari libur, dan Zelina juga mengambil lembur demi mendapatkan uang lebih.


Zelina menghela nafas nya dengan berat, seberat beban hidup yang dia rasakan sekarang. Tidak pernah terbayangkan jika kehidupan nya yang penuh dengan kemewahan dulu akan berakhir menyedihkan seperti ini. Dulu dia adalah gadis manja yang hanya tahu bermain dan menghabiskan uang yang dikirim oleh orang tuanya. Tapi sekarang, kehidupan seolah roda yang berputar dengan cepat. Menghempaskan kebahagiaan menjadi penderitaan yang seakan membuat nya ingin menangis setiap malam.


Keadaan ibunya yang kurang sehat, ditambah dengan kakaknya yang juga tidak lagi sesehat dulu, bahkan sekarang kakak kebanggaan nya sudah tidak lagi ingin pergi kemanapun. Dia hanya pergi jika untuk terapi dan kerumah sakit untuk memeriksakan diri. Reynand... kakaknya itu masih begitu terpuruk dengan luka yang dia terima.


Zelina tertunduk sedih, apa penderitaan mereka bisa berakhir??? Dia sudah lelah, dia tidak sekuat ini untuk bisa terus bertahan dan menjadi penopang keluarga nya.


Tanpa terasa air mata langsung menetes diwajah nya, namun dengan cepat Zelina langsung menghapus nya. Tidak, dia tidak boleh menangis. Dia harus kuat, jika dia juga lemah, bagaimana dengan mereka???


Zelina memandang sekeliling nya. Hari sudah sepi, hanya ada pengendara mobil yang berseliweran dimalam itu. Lebih baik dia berjalan kaki saja dulu, dari pada berdiam diri ditempat ini yang semakin malam semakin rawan.


Namun saat berdiri dan ingin berjalan, tiba tiba sebuah sepeda motor langsung berhenti dihadapan nya, membuat Zelina langsung terlonjak kaget.


Dia memandang takut pada orang itu, dia tahu orang ini pasti seorang lelaki. Penampilan nya terlihat seram karena memakai jaket kulit dan juga helm.


Zelina ingin berlalu dari hadapan orang itu, namun seruannya membuat langkah Zelina kembali terhenti. Dia langsung menoleh kembali kearah lelaki itu seraya memeluk tas nya dengan erat.


"Hei, kenapa ketakutan begitu. Ayo aku antar" ucap lelaki itu.


Zelina langsung melebarkan matanya saat lelaki itu membuka helm yang dia kenakan.


"Tuan Asisten?" gumam Zelina.


Arya tersenyum sinis melihat wajah lega Zelina, apa gadis ini takut???


"Kamu kira aku penjahat sampai ketakutan begitu" ungkap Arya.


Zelina mendengus dan memandang kesal pada Arya.


"Saya fikir memang penjahat. Liat saja penampilan tuan yang seperti itu. Membuat takut saja" gerutu Zelina.


Arya terkekeh lucu melihat wajah kesal itu.


"Sudah lah, ayo naik. Hujan sudah mulai turun" ajak Arya lagi


Zelina memandang nya dengan ragu, dia tidak enak sebenarnya.


"Cepatlah, aku tidak menawar untuk kedua kali" kata Arya lagi


Zelina mendengus, namun dia segera naik keatas motor Arya. Hujan sudah mulai turun, dan dia takut jika menunggu taksi yang tidak akan datang datang.


"Pegangan, aku tidak tanggung jawab jika kamu jatuh" kata Arya seraya menghidupkan mesin motor besarnya. Namun sebelum Zelina menjawab, Arya sudah melajukan motornya dengan cepat membuat Zelina terkesiap dan langsung memeluk tubuh Arya dengan kuat.


Deg


"Tuan....jangan laju laju, aku takut!!!!" teriak Zelina begitu kuat dan semakin mengeratkan pelukan nya pada Arya.


Entah kenapa jantung Arya malah berdegup dengan kencang, sama seperti jantung Zelina. Namun yang membedakan nya adalah alasan jantung itu berdegup.


Jika Zelina karena takut, maka Arya karena pelukan dari gadis muda ini.


Arya mendengus senyum melihat ketakutan Zelina, bukan nya mengurangi laju motornya dia malah menambah kecepatan, membuat Zelina semakin takut dan memeluk nya dengan erat.


"Pejamkan saja matamu , jangan fikirkan apapun. Anggap saja uji nyali. Hujan sudah semakin deras" seru Arya dari balik helm nya.


Zelina langsung memejamkan matanya dan merebahkan kepala nya dibahu Arya, memeluk perut lelaki itu dengan erat, membuat jantung Arya semakin bergemuruh tidak menentu. Sialan, kenapa jadi begini batin nya.


Sedangkan Zelina, mana dia tahu. Dia hanya mencoba melawan takut nya saat ini. Semoga saja dia tidak mati malam ini karena kegilaan Arya. Jika mereka mati maka Zelina akan menggentayangi Arya kemana pun dia pergi.

__ADS_1


Namun tiba tiba hujan mengguyur begitu deras dan sangat lebat. Bahkan tetesan air nya begitu besar membuat pemandangan menjadi buram. Arya langsung memelankan laju motornya dan menepi disebuah ruko yang sudah tutup. Tidak akan sanggup mereka menembus hujan sederas ini.


Zelina membuka matanya dan langsung turun dari atas motor. Pakaian mereka sudah basah kuyup karena hujan deras yang tiba tiba mengguyur.


"Aiisshh tidak sempat juga" gumam Arya seraya membuka helm nya dan menyibakkan sedikit rambutnya yang terikat.


"Untung saja tidak jatuh, tuan sudah seperti pembalap saja. Tidak tahu jantung saya hampir lepas" gerutu Zelina seraya mengibaskan pakaian nya yang basah.


"Aku hanya ingin kita cepat sampai." sahut Arya.


"Buktinya tidak juga sampai" kata Zelina lagi.


Arya hanya mendengus dan segera menepi kesudut toko. Begitu pula dengan Zelina. Mereka berdua berdiri memandangi hujan yang sudah membuat pemandangan menjadi putih dan berkabut. Saling memeluk tubuh masing masing karena dingin yang begitu menggigit.


"Deras sekali hujannya" gumam Zelina dengan pandangan getir.


Angin berhembus cukup kencang, bahkan kilat dan petir beberapa kali terlihat menyambar dan bergemuruh membuat Zelina sesekali memejamkan matanya.


Arya memandang Zelina yang terlihat begitu menggigil kedinginan. Dia kasihan melihat gadis ini. Wajahnya lelah dan sekarang harus terjebak hujan disini.


Duaarrrrr


"Aaaargghhhhh!!!!!" teriak Zelina begitu kuat.


Arya langsung mematung saat tiba tiba tubuh nya dipeluk erat oleh Zelina yang nampak ketakutan, bahkan tubuhnya bergetar antara dingin dan takut.


"Hei kenapa?" tanya Arya seraya mengusap ragu bahu Zelina.


"Takut" gumam Zelina yang masih menyembunyikan wajahnya di dada Arya. Petir masih menyambar dengan kuat dan tentu itu semakin membuat Zelina semakin ketakutan.


"Tidak apa apa, ada aku temanmu disini" ujar Arya seraya membalas pelukan Zelina. Awalnya terlihat ragu, namun lama kelamaan dia juga iba melihat Zelina.


Arya membawa Zelina duduk disebuah kursi kayu yang sudah mulai lapuk namun masih bisa menopang tubuh mereka berdua.


"Mama..... Ze takut" gumam Zelina terus menerus.


"Hei... tidak apa apa, petir nya sudah mereda" ucap Arya seraya mengusap lengan Zelina. Cengkraman dilengan nya begitu kuat, membuat Arya langsung menoleh pada Zelina yang masih memeluk lengan nya.


"Apa kamu begitu takut? Atau memang sengaja ingin memeluk ku?" pertanyaan Arya langsung membuat Zelina terkesiap. Dia langsung mendongak dan memandang wajah Arya yang tersenyum penuh arti dan melirik kearah lengan nya yang dia rangkul dengan erat.


Zelina langsung melepaskan rangkulan nya. Wajah takut nya merona sekarang, kenapa dia kelepasan? Tapi dia benar benar takut tadi.


"Ma....maaf tuan" gumam Zelina tertunduk seraya mengusap wajahnya yang basah karena air hujan dan juga air mata


"Yah, untuk malam ini aku maafkan, karena kamu yang takut. Tapi jika tidak, mungkin aku sudah meminta pertanggung jawaban" ucap Arya


"Pertanggung jawaban?" tanya Zelina


"Ya, kamu sudah berani menyentuh tubuh berharga ku" ucap Arya begitu angkuh


Zelina langsung mendengus jengah mendengarnya. Sungguh ingin sekali dia jambak rambut panjang Arya ini.


"Saya tidak akan memeluk jika tidak reflek" jawab Zelina begitu kesal, namun Arya malah terbahak melihat wajah kesal itu.


Zelina kembali memandang kejalanan dimana hujan masih turun dengan deras.


"Mama pasti khawatir sekarang" gumam Zelina begitu sedih.


"Kamu kan bisa mengabari nya" ujar Arya.


Namun Zelina langsung menggeleng dengan lemah.


"Ponsel saya kehabisan daya tuan" ungkap Zelina.

__ADS_1


"Kamu bisa memakai ponsel ku" ujar Arya.


Namun Zelina malah tersenyum dan menggeleng.


"Tidak bisa juga, saya tidak ingat nomor mama" jawab Zelina.


"Nomor kakak kamu?" tanya Arya lagi.


"Kak Rey tidak memakai ponsel lagi" jawab Zelina.


"Bagaimana bisa?" gumam Arya namun Zelina hanya diam memandang nanar kearah jalanan. Pandangan mata yang begitu hampa dan penuh dengan beban yang mendalam. Sungguh, Arya benar benar semakin penasaran dengan kehidupan mereka sekarang.


"Apa berita kecelakaan beberapa bulan lalu yang menimpa tuan Reynand memang benar?" tanya Arya mencoba mengorek informasi.


"Ya, beritanya cukup viral dan semua orang pasti tahu" jawab Zelina.


"Apa dia baik baik saja? Banyak berita yang beredar jika dia telah....." perkataan Arya langsung terhenti karena dia tidak tega melanjutkan perkataan nya, apalagi melihat wajah sedih Zelina.


"Kak Rey masih hidup, tapi.... sebagian jiwanya yang mati" ungkap Zelina tertunduk pedih.


Arya langsung mengernyit mendengar itu.


"Maksud kamu?" tanya Arya tidak mengerti.


"Dia hidup tapi seperti tidak ingin hidup lagi. Dia ada, tapi hati dan jiwanya tidak ada disini" jawab Zelina.


"Jika ditanya, dia hanya menjawab, jika ini adalah karma yang sedang dia terima" ucapan Zelina membuat Arya tertegun dan ikut menunduk.


"Karma pada Nara?" gumam Arya.


Namun Zelina langsung mendengus senyum dan menggeleng.


"Entah karma seperti apa yang dimaksud. Saya memang tidak tahu apa yang sudah dilakukan oleh kak Rey dulunya pada kak Nara. Tapi melihat dia yang sekarang, rasanya benar benar tidak sepadan dengan apa yang telah dia lakukan" ungkap Zelina.


"Perlakuan nya membuat Nara tersiksa selama dua tahun. Tidak ada yang tahu selain aku. Reynand yang dulu begitu tega mengkhianati bahkan mengabaikan rasa sakit Nara. Mengabaikan cinta dan pengorbanan yang Nara beri. Bahkan bukan hanya cinta yang Nara berikan, namun juga darah yang dia sumbangkan pada Cleo setiap bulan nya" ungkap Arya


Zelina tertegun mendengar itu. Nara sampai mengorbankan darah nya pada Cleo???


Tapi dia juga tidak tega melihat kakaknya yang sekarang. Dia dan Arya berada didua kubu yang berbeda. Mereka pasti akan membela orang yang mereka sayangi walau tidak tahu bagaimana keadaan yang sesungguhnya. Dan malam ini semua harus terungkap.


"Apa semua rasa sakit yang diterima kak Nara belum terbayar dengan apa yang sudah diterima oleh kak Rey?" Zelina kini memandang Arya dengan lekat. Ada secarik luka dan rasa sedih diwajah cantik nya.


"Saya rasa kak Rey sudah cukup menerima karma nya selama ini. Dia sudah kehilangan semua nya. Tidak ada lagi yang tersisa. Tidak ada kak, sekarang yang dia punya hanya seonggok tubuh yang tidak lagi mempunyai ruh. Karena jiwa dan hatinya sudah dia berikan semua pada kak Nara" ungkap Zelina.


"Apa yang diberikan oleh kak Rey belum cukup untuk membalas rasa sakit kak Nara?" tanya Zelina lagi


"Apa maksud kamu?" tanya Arya


"Kak Rey melarang saya berbicara ini pada siapapun. Tapi sungguh, saya tidak bisa jika dia selalu disalahkan disaat dia sudah melakukan semua yang dia mampu. Bahkan dia hampir mati karena itu" ungkap Zelina. Dan ini membuat Arya semakin penasaran.


"Biaya ginjal yang didapat untuk kak Nara bukan hal yang murah. Tuan bahkan tahu jika kak Rey sudah didepak dari perusahaan Adidaksa bukan. Dia tidak memiliki apapun selain pakaian ditubuhnya. Semua aset dan tabungan dibekukan oleh papa. Dan tuan tahu apa yang dilakukan oleh kak Rey untuk mendapatkan uang demi menebus ginjal itu?" tanya Zelina begitu lekat. Bahkan matanya sudah berkaca kaca sekarang.


"Dia menjual ginjal nya sendiri tuan, dia menjual ginjal nya demi kak Nara. Dia ingin merasakan sakit yang dirasakan oleh kak Nara selama ini. Apa itu belum cukup membalas semua nya???"


Arya mematung mendengar ini.


"Bahkan seluruh aset yang mama punya sudah dijual demi untuk menghidupkan kembali perusahaan kak Nara, dan mengembalikan semua yang sudah dihancurkan kak Rey. Kami... kami sudah melakukan semua yang kami bisa untuk menebus kesalahan kak Rey tuan. Apa itu belum cukup juga???"


Zelina langsung menangis terisak begitu pilu, sedangkan Arya terdiam dengan hati yang tidak lagi bisa dijabarkan bagaimana rasanya.


"Kak Rey sudah cukup menderita dan mendapat karma nya. Dia didepak dari perusahaan yang dia bangun dengan susah payah, dikhianati oleh papa, dikhianati oleh Cleo. Semua penderitaan sudah dia terima. Dan saya rasa itu sudah cukup untuk membalas rasa sakit kak Nara bukan" kata Zelina lagi. Dia seolah ingin meluahkan semua rasa sedih nya pada Arya tentang keadaan kakaknya.


"Tapi satu yang harus kalian tahu, jika rasa sakit dan sedih nya adalah kak Nara itu sendiri. Sejak dulu, sejak dia remaja, hanya kak Nara yang dia cintai. Hanya kak Nara yang dia mau. Tapi sekarang..... dia sudah kehilangan semuanya. Semuanya tuan"

__ADS_1


Ungkapan Zelina membuat Arya tidak bisa lagi berkata apa apa.


__ADS_2