
Arya terduduk disamping Zelina dan memandangi keadaan sekitar. Baru saja tuan Agas pergi bersama Reynand dan juga Guntur entah kemana. Kini mereka hanya ditinggalkan berdua disebuah ruangan kecil yang begitu pengap. Bahkan Arya sudah merasa sesak nafas didalam sini. Dia memandangi Zelina dengan begitu khawatir, sepertinya gadis ini sudah lemas, ditambah lagi mulutnya yang disumpal dengan kain. Tua bangka itu benar benar kurang ajar. Bisa bisanya dia memperlakukan keponakan nya sendiri seperti ini.
Arya memandang keluar dimana ada celah kecil seperti lubang didinding itu, seperti sengaja dijadikan sebagai tempat untuk keluar masuk udara. Memang keterlaluan, mereka sudah seperti binatang diletakkan ditempat ini. Diluar sepertinya tidak ada siapapun, apa mereka semua pergi bersama tua bangka itu dan juga Reynand. Entah Arya tidak perduli.
Arya sedang berfikir, bagaimana caranya mereka bisa keluar dari dalam sini. Jika berada terlalu lama Arya takut jika Zelina tidak akan bisa bertahan lama.
"Ze.... Zelina" panggil Arya.
Zelina yang tersandar didinding membuka matanya perlahan dan menoleh dengan lemah kearah Arya. Dia benar benar sudah lemas. Bahkan keringat sudah membanjiri wajahnya yang pucat. Sungguh berada disini membuatnya kesulitan untuk bernafas.
"Bertahanlah sebentar lagi" ujar Arya.
Namun Zelina langsung menggeleng lemah.
"Kamu pasti bisa, sekarang bantu aku ambilkan pisau disebalik jaketku, agar kita bisa keluar dari dalam sini" pinta Arya seraya mencoba berlutut dihadapan Zelina.
Zelina memandang Arya dengan sendu.
"Ayo cepat, kau tidak takut terjadi sesuatu pada Reynand" tanya Arya
Zelina terdiam sesaat, namun sedetik kemudian dia mengangguk pelan dan berusaha untuk memutar tubuhnya. Tangan nya yang terikat membuat nya begitu kesusahan untuk menjangkau jaket Arya, apalagi pisau nya. Bahkan Arya nampak bergerak gerak untuk mempermudah Zelina.
Namun tiba tiba dia sedikit terkesiap saat Zelina tanpa sengaja malah meraba sesuatu yang begitu sensitif.
"Aaahhh Ze.... jangan yang itu. Itu benda tumpul. Keatas lagi" seru Arya dengan mata yang terpejam. Sialan memang, disaat seperti ini adik kecil nya malah bereaksi hanya karena diraba sedikit.
Zelina memejamkan matanya, wajah pucatnya merona mendengar perkataan Arya. Dia tidak nampak karena membelakangi.
Hingga akhirnya, dia bisa meraih pisau itu dengan perlahan.
"Hati hati, tajam" ujar Arya yang langsung terdiam saat Zelina menarik pisau itu dengan pelan.
Arya membalikkan tubuhnya dan meraih pisau dari tangan Zelina. Dia mulai membuka ikatan ditangan Zelina dengan susah payah. Namun karena menggunakan pisau ikatan itu bisa dengan mudah terbuka.
Zelina langsung membuka sumpalan dimulut nya, hingga dia bisa bernafas dengan lega sekarang.
"Ayo cepat sebelum mereka kembali" ujar Arya
Zelina mengangguk dan dengan cepat dia memotong tali yang mengikat kakinya. Dan selanjutnya mengarah pada Arya. Tangan nya bergetar, antara takut dan juga lemas. Hingga semua ikatan ditagan dan dikaki Arya terlepas, Zelina langsung memeluk Arya dengan erat. Membuat lelaki itu mematung sejenak namun segera membalas pelukan Zelina.
"Aku takut kak, aku takut....." kata Zelina yang mulai menangis lagi.
"Sudah, tidak apa apa. Sudah ada aku dan Reynand. Sekarang kita keluar ya, jangan takut lagi" ujar Arya seraya melepaskan pelukan Zelina dan menangkup kedua pipi gadis itu.
"Harus kuat ya, kita bantu Reynand, Nara juga pasti sudah datang bersama polisi." ujar Arya.
Zelina hanya mengangguk saja.
Arya tersenyum dan menghapus air mata Zelina dengan lembut. Dia tahu Zelina benar benar ketakutan sekarang, tapi untuk berdiam diri disini itu tidak akan mungkin. Lebih baik dia mencari cara untuk keluar dari sini.
Arya melepaskan Zelina dan memandang kearah pintu. Sialnya pintu ini dikunci dari luar. Jadi tidak bisa dibuka dari dalam. Dia kembali menoleh kearah lain, dimana ada sebuah jendela, namun bukan jendela. Itu seperti tempat untuk cahaya masuk yang dialas dengan kaca. Arya terdiam, menilik nya dengan ragu. Tapi tidak ada cara lain untuk keluar dari tempat itu selain dari sana. Mungkin jika kacanya dipecahkan mereka bisa keluar dari sana, tempat nya cukup besar, hingga muat untuk tubuh mereka.
Arya beranjak dan mendekati dinding itu. Sedikit berjinjit dan mengintip keluar. Tidak ada siapa siapa, dan diluar sangat gelap, seperti disebuah perbukitan hampa. Sepertinya akan aman jika keluar dari sini. Tidak ada pilihan lain selain memecahkan kaca ini.
Arya membuka jaketnya dan melilitkan jaket itu ditangan nya. Mudah mudahan kaca ini tidak begitu tebal, batinnya.
__ADS_1
"Kak, mau apa?" tanya Zelina memandang Arya yang ingin berbuat nekad.
"Mundur Ze... Kita bisa keluar lewat sini" ujar Arya.
"Tapi kaca itu tebal kak" ucap Zelina begitu takut dan cemas.
"Aku akan mencoba. Ini sudah tua, mudah mudahan bisa" ucap Arya yang mundur beberapa langkah dan mengambil ancang ancang.
Dia menarik nafasnya dalam dalam, dengan sedikit melangkah dan melompat Arya meninju kaca itu dengan kuat hingga..
Pranggg.......
Zelina langsung menutup mata dan telinga nya saat kaca itu pecah berserakan, bahkan beberapa bagian nya langsung terhempas kearah mereka.
Udara dingin dan rinyai hujan langsung masuk kedalam sana. Namun Arya masih harus membersihkan sisa sisa kaca yang ada didinding. Dia menjinjit dan kembali memukul kaca kaca itu hingga bersih agar tidak melukai saat mereka keluar nanti. Wajahnya meringis menahan sakit karena goresan goresan tajam yang sudah melukai tangan nya meski sudah dia lapisi dengan jaket.
"Kak sudah, tangan kakak bisa terluka" pinta Zelina dengan suara yang gemetar.
Aryo mundur perlahan dan melepaskan jaket nya, memandang Zelina yang nampak ketakutan.
"Sekarang kita bisa keluar. Ayo aku bantu" ajak Arya yang langsung menarik tangan Zelina.
Zelina terlihat ragu, namun keyakinan Arya membuat nya harus mencoba.
"Turun lah perlahan, sepertinya dibawah agak licin karena hujan" ujar Arya. Dia mengangkat tubuh Zelina dan membantu gadis itu untuk keluar melewati celah berkaca itu. Zelina meringis saat sisa sisa kaca menyayat kulit nya, namun mereka memang harus keluar dari sini.
"Berpeganglah yang kuat Ze" seru Arya saat sudah berhasil membuat separuh tubuh Zelina keluar. Zelina mengangguk dan langsung melompat turun. Tubuhnya terhempas keatas batu karena memang begitu licin. Bahkan dia langsung disambut dengan hujan yang benar benar mengguyur dengan deras.
Arya langsung keluar menyusul Zelina, dia juga sedikit terpeleset saat ingin menginjakkan kakinya diatas batu itu. Sepertinnya villa ini memang berada dipuncak bukit. Terbukti dengan mereka yang langsung menjumpai perbukitan terjal disini.
"Dimana jalan keluar nya" gumam Arya begitu bingung. Dia harus bisa menemukan Nara dan Bimantara sekarang. Reynand dan Guntur pasti berada dalam bahaya.
"Seingatku kita kearah sana saja" ajak Zelina.
Arya menoleh kebagian kiri dari tempat mereka dan mengangguk pelan.
Malam ini benar benar menakutkan bagi mereka. Berkutat dalam sebuah misi berbahaya yang mempertaruhkan nyawa dan tenaga. Arya dan Zelina saling berpegangan tangan karena jalanan yang gelap dan licin. Tidak ada apapun yang bisa mereka gunakan sebagai penerangan. Ponsel Arya tertinggal didalam mobil. Jalanan yang gelap dan licin membuat mereka benar benar kepayahan. Apalagi mereka juga harus menghindari orang orang yang berjaga disekitar vila itu. Untung saja hujan mengguyur dengan deras, hingga keberadaan mereka sedikit tertutupi.
....
Sementara ditempat Reynand...
Dia berdiri berhadapan dengan paman nya, mereka saling memandang dengan tajam dan dalam. Ditengah tengah mereka ada sebuah meja kecil dimana diatas nya sudah berjejer rapi surat surat pengalihan aset dan harta yang tersimpan.
Guntur berlutut dengan lemas tidak jauh dari tempat mereka. Memandangi Reynand dengan hati yang berat. Apa Reynand akan benar benar menyerahkan semua nya????? Bahkan sedikitpun Reynand belum tahu seperti apa bentuk dan besar nya aset itu.
"Cepat tanda tangani, atau adikmu yang akan jadi korban nya" ucap tuan Agas
Reynand hanya diam, dan memandangi surat yang ada ditas meja. Dia juga tahu jika dia menandatangani surat surat ini, maka masalah akan semakin rumit. Reynand hanya ingin memperulur waktu sampai Bimantara datang bersama pihak kepolisian. Namun sialnya entah kapan mereka tiba, dan yang membuat Reynand heran adalah, kenapa sejak tadi dia tidak melihat ibu Cleo????
"Cepat!!! Apa yang kau tunggu" sentak tuan Agas.
Reynand memandang nya dengan datar dan kembali menoleh kearah surat surat itu. Dia meraih pena yang ada diatas meja dan mulai membuka dokumen surat pertama. Membuat Guntur memejamkan matanya dan menundukkan kepala. Apa semua yang telah dia jaga selama ini akan sia sia???
Namun tiba tiba dua orang anak buah tuan Agas datang dengan sedikit panik.
__ADS_1
"Tuan.... nona Zelina dan temannya berhasil kabur" ucap seorang dari mereka.
Reynand langsung tersenyum tipis mendengar itu, Arya memang bisa diandalkan. Semoga saja dia bisa membawa Zelina pergi jauh dari vila ini, atau sepaling tidak bertemu dengan Nara dan Bimantara.
"Kurang ajar, kalian yang harus menjadi penggantinya nanti" geram tuan Agas.
Reynand melirik Guntur sekilas. Ingin melawan namun dia sadar dengan kekuatan nya yang tidak kuat. Dia hanya akan mati sia sia. Apalagi melihat beberapa orang anak buah paman nya didalam ruangan ini. Hanya akan menjadi bangkai saja jika mereka melawan.
"Apa yang kau lihat, cepat tanda tangani itu, atau kau akan melihat Guntur yang mati disini" ucap tuan Agas seraya mengeluarkan pisau dari balik jaket nya.
Reynand memejamkan matanya sekilas, bayangan kekejaman paman nya terngiang kembali. Sialan memang.
"Apa kau ingin melihat hal yang sama lagi anak muda" tuan Agas berbicara dengan nada yang begitu mengerihkan ditelinga Reynand. Dia bahkan sudah berjalan mendekati Guntur dan berlutut dihadapan asisten setia itu.
"Aku sudah mencoba nya tadi, dan jika aku mencoba sekali lagi, mungkin dia akan mati karena kehabisan darah." gumam tuan Agas
Jantung Reynand mulai bergemuruh
"Apa kau kira aku tidak bisa berbuat apa apa walaupun adikmu itu sudah kabur hmm" ucap nya lagi
Sebuah sayatan kembali digoreskan diwajah Guntur membuat lelaki itu langsung meringis kesakitan.
"Jangan sentuh dia, aku akan menandatangi ini. Menjauh kau dari sana" seru Reynand. Meski sudah berusaha menahan, namun nada suara nya juga masih terdengar bergetar.
Tuan Agas tersenyum sinis
"Tanda tangani sekarang atau....."
"Berhenti!!!" seruan beberapa orang membuat mereka terkesiap.
Mata tuan Agas langsung melebar saat melihat beberapa polisi sudah datang ketempat itu bersama Bimantara dan juga Arya. Reynand tertunduk dengan nafas lega.
Dia menggeram, dan tanpa berfikir panjang Reynand langsung berlari menerjang tuan Agas dengan kuat. Meski kakinya sakit, sungguh dia memang sudah ingin menghajar tua bangka ini.
Tuan Agas langsung terpental menjauh, membuat pisau nya juga ikut terpental. Reynand langsung meraih pisau itu dengan nafas yang memburu. Jika tuan Agas mempunyai jiwa psikopat, maka Reynand juga bisa.
"Kau memang iblis paman. Aku tidak tahu apa masalah mu dengan kakek tapi kau membuat kami semua menderita" geram Reynand seraya berjalan mendekat kearah tuan Agas.
Sementara pihak kepolisian bersama Bimantara menangkap anak buah tuan Agas yang mencoba melarikan diri. Arya berlari mendekat kearah Guntur untuk menolong nya.
Tuan Agas terkekeh sinis memandang Reynand, dia ingin bangkit namun Reynand kembali menendang tubuhnya. Tidak perduli dia siapa sekarang. Tidak ada lagi hubungan keponakan dan paman saat ini. Reynand benar benar membenci orang ini.
"Apa kau akan diam saja jika hidupmu selalu dibeda bedakan oleh ayahmu?" tanya tuan Agas tiba tiba
"Apa kau akan diam saja jika keinginan mu selalu ditentang?" ucap nya lagi
Reynand masih diam dan memandang tajam paman nya. Pisau berdarah masih dia pegang dengan erat.
"Apa kau akan diam saja jika kau selalu diasingkan hanya karena berbeda???" tanya tuan Agas lagi. Suara nya terdengar menggeram sekarang. Sepertinya luka dihatinya benar benar dalam.
"Hanya karena aku nakal dan tidak seperti ayahmu yang penurut, dia selalu mengurungku ditempat gelap itu. Hanya karena aku tidak suka keramaian dia selalu mengasingkan ku ditempat sepi. Dia selalu membanggakan ayahmu didepan semua orang, tapi tidak pernah melihat sedikit padaku yang berbeda. Apa begitu kasih sayang nya??? Aku iri kau tahu, aku sangat iri. Bahkan aku ingin menikahi wanita yang aku cintai saja dia selalu menentang dan mengabaikan. Dan dengan teganya dia malah menikahkan wanita itu pada ayahmu" ungkap tuan Agas begitu lirih. Namun sedetik kemudian dia tertawa begitu pedih.
Reynand terdiam, tangan nya mengepal erat. Menikahkan wanita yang dia cintai untuk ayahnya?? Apa yang paman nya maksud itu adalah ibunya????
"Lebih kejam mana, dia atau aku?" tanya tuan Agas memandang Reynand yang masih mematung.
__ADS_1