Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan

Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan
Keputusan Nara


__ADS_3

Seminggu berlalu begitu cepat, dan tidak terasa hari juga terlewati dengan begitu saja. Bahkan kini, tahun juga sudah berganti. Januari ini, masih dipenuhi dengan musim penghujan. Musim yang benar benar sangat Nara benci. Bukan membenci takdir hujan yang memang harus turun dan membasahi bumi, melainkan dia membenci dirinya sendiri yang tidak bisa menahan rasa dingin setiap kali hujan datang.


Nara memandang keluar jendela, tubuhnya terbungkus dengan selimut tebal. Sejak pagi hujan masih belum mereda, tidak tahu kenapa. Seharusnya sudah memasuki musim panas, tapi yang terjadi malah hujan diawal tahun yang tiada ingin berhenti.


Meski terkadang, Nara menyukai waktu sehabis hujan, karena sesekali pelangi pasti datang dan melengkung indah diatas langit rumah tua tempat tinggal nya saat ini.


Terkadang Nara berfikir, bukankah hidupnya sudah terlalu banyak menanggung derita dan air mata, bahkan darah juga sudah selalu dia tumpahkan. Tapi bisakah dia seperti langit? Yang setelah hujan maka timbul pelangi. Bisakah dia seperti itu, yang setelah dia bersedih, kebahagiaan akan datang dikehidupan nya.


Ah, Nara terlalu berharap. Jangankan untuk bahagia, dia bisa bertahan hidup sampai detik ini saja sudah suatu keajaiban. Padahal dia hanya ingin cepat kembali dan bertemu dengan orang tuanya agar tidak lagi menyusahkan orang orang disekelilingnya, tapi.... kenapa Tuhan masih belum mencabut nyawanya??? Berapa lama Nara harus bertahan lagi, berapa lama Nara harus menanggung beban dihati ini yang semakin lama semakin menekannya??


Bersama Reynand, dia selalu merasakan kesakitan. Tapi setelah tidak bersama Reynand, kenapa rasa sakit itu tetap masih ada?? Meski dengan rasa sakit yang berbeda. Dulu, dia tersakiti karena sikap Reynand yang kejam dan tidak pernah melihatnya. Tapi sekarang, dia sakit melihat Reynand yang belum juga menyerah dan melepaskan nya. Meski Nara tidak tahu apa yang dilakukannya disana, tapi Nara tahu jika Reynand memang tulus dan telah menyesal dengan apa yang pernah dilakukan nya dulu. Namun meskipun begitu, tetap saja, Nara tidak bisa kembali padanya. Rasa kecewa dan penyakit yang dia derita telah membunuh hati Nara untuk mengharapkan sebuah kebahagiaan.


Tok tok tok


Suara pintu yang terketuk membuat lamunan Nara buyar. Dia langsung menoleh kearah pintu, dan ternyata Arya yang datang. Dia membawa kursi roda Nara.


"Keluar yuk" ajak Arya


"Mau apa?" tanya Nara


"Minum teh diruang tengah, Eyang putri udah buat api unggun ditempat pembakaran nya" jawab Arya


"Males Yo" ucap Nara


"Kenapa, Bima juga baru dateng, kalau dikamar terus kamu pusing nanti" ujar Arya


"Aku gak enak nyusahin mereka terus. Aku malu. Aku bahkan bukan siapa siapa, tapi mereka terlalu baik" ungkap Nara. Dia memang benar benar merasa tidak enak dengan Eyang putri dan Bimantara. Dia hanya orang asing, namun mereka malah memperlakukan nya begitu baik, bahkan Eyang putri dengan tulus merawat dia yang penyakitan ini.


Arya tersenyum, dia duduk disamping Nara dan mengusap bahunya. Gadis yang sudah seperti adiknya sendiri. Bahkan lebih dari itu.


"Gak semua orang didunia ini jahat. Kamu masih dikelilingi orang orang baik. Dan kamu harus bersyukur. Kamu kehilangan semuanya, tapi Tuhan ganti dengan yang lain. Jangan sia siakan kebaikan mereka, lagi pula, aku juga kerja disini, jadi kita kan gak cuma numpang" ungkap Arya


Nara tersenyum dan mengangguk, namun matanya nampak berair


"Terimakasih, kamu masih mau menemani aku disaat saat seperti ini. Padahal kamu bisa pergi dan cari kehidupan yang lebih baik" Nara memandang Arya yang tersenyum dan menggeleng


"Sejak orang tuaku meninggal, kamu gantinya rumah untuk aku Nara. Aku gak akan pergi selama kamu masih ada. Aku akan terus jaga dan menemani kamu sampai kamu dapetin orang yang layak buat kamu bahagia" ungkap Arya


Mendengar itu Nara langsung meneteskan airmata nya. Padahal dia sudah sering menangis, tapi entah kenapa air mata itu selalu saja ada dan mudah sekali keluar


Arya mengusap airmata Nara


"Jangan bersedih, kamu harus kuat. Kamu harus sembuh" pinta Arya


Dan Nara hanya tersenyum saja menanggapinya. Ingin bilang mana mungkin dia bisa sembuh pada Arya saja Nara tidak sanggup lagi. Dia tahu bagaimana rajinnya Arya dirumah Eyang putri untuk bekerja dan membalas kebaikan wanita tua itu yang sudah begitu baik menampung mereka. Dia tidak ingin membuat Arya bersedih, lelaki baik ini sudah sangat baik dan berjasa dalam hidup Nara


"Sekarang kita keluar ya, gak enak sama mereka" ujar Arya


Dan lagi lagi Nara hanya mengangguk saja. Dia hanya diam saat Arya mengangkat tubuhnya dan meletakkan nya keatas kursi roda


"Lama lama kamu makin ringan seperti kapas" ucap Arya seraya membenarkan selimut ditubuh Nara


"Biar kamu gak keberatan angkat aku kemana mana" jawab Nara


Arya terkekeh dan langsung mendorong kursi roda itu


"Iya juga, coba kalau kamu masih gemuk kayak dulu, gak sanggup aku. Mending angkat karung beras" jawab Arya

__ADS_1


"Memang aku dulu gemuk?" tanya Nara


"Iya, sebelum kenal sama tuan angkuh itu, badan kamu kan bulat" jawab Arya


"Sembarangan aja" dengus Nara terdengar tidak suka. Arya kembali tertawa mendengar itu.


Dan dapat Nara lihat diruang tengah Bimantara dan Eyang putri sudah duduk berdua seraya meminum teh mereka.


"Hai Nara, gimana kabar kamu?" tanya Bimantara yang langsung menyapa Nara dan membantu Nara duduk disofa


"Seperti yang kamu lihat. Kamu baru tiba?" tanya Nara seraya membenarkan posisi duduk nya agar lebih nyaman, untuk duduk saja dia sudah tidak lagi bisa nyaman, pinggang nya benar benar sudah tidak berbentuk lagi rasanya.


"Yah, hujan sepanjang hari, selagi besok libur, jadi aku memutuskan untuk kemari" jawab Bimantara, dia menuangkan teh hangat kedalam gelas untuk Nara


"Karena ada tujuan mu. Jika tidak, kamu bahkan gak pernah pulang sampai dua bulan. Dasar cucu durhaka" dengus Eyang putri yang duduk dikursi goyang nya


Bimantara tertawa seraya menyerahkan gelas yang berisi teh hijau itu pada Nara.


"Maaf Eyang, biasanya Bima sibuk. Dua bulan ini pekerjaan memang tidak terlalu banyak" jawab Bimantara


Arya yang sedang mengunyah pisang goreng nya tampak menyelis kearah Bima, dan bergumam sesuatu seperti....


"Modus"


Bimantara nampak mendelikkan matanya dengan kesal. Arya suka sekali menjatuhkan harga dirinya dihadapan Nara. Bagaimana jika Nara mendengar


Sedangkan Nara, kini masih memandang teh hijau ditangan nya dengan perasaan getir. Yah, apapun itu, meski orang nya sudah lebih dua minggu tidak pernah datang lagi, tapi tetap saja semua nya selalu mengingatkan tentang dia. Reynand dan teh hijau kesukaan nya.


"Hei, kenapa melamun?" tanya Bimantara yang sedikit membuat Nara terkesiap kaget


"Masih panas" dalih Nara


"Mau aku tiupin" tawar Bima


"Bimaaa" panggil Eyang putri


Bimantara langsung menggaruk pelipis nya dengan canggung, Eyang putri memang tidak bisa menyenangkan sedikit hatinya


Arya langsung mendengus tawa melihat wajah kesal Bima, sedangkan Nara hanya diam dan acuh, karena dia tidak tahu ada apa dengan mereka


"Eyang gak mau tidur siang" tawar Bima pada Eyang putri yang masih duduk tenang diperapian


"Tidur siang gundulmu, kamu gak liat ini udah jam berapa" sahut Eyang putri


Bima langsung memandang jam dinding yang mengantung, dan memang ternyata sudah pukul lima sore. Dia kembali tertawa dan menoleh kearah Nara yang tersenyum melihat nya


"Gak bisa lagi lihat jam, lihat nya cuma istri orang. Jadi mata pun ikut oleng" gumam Arya


"Yo, kamu mau aku botakin ya. Nyahut aja" dengus Bima terlihat kesal, namun Arya hanya mengendik acuh. menggoda Bima cukup menyenangkan, apalagi dia yang begitu terlihat menyukai Nara, namun Nara yang acuh saja dan tidak merespon apapun. Sungguh lucu.


"Kenapa marah, saya kan bicara yang bener. Salah saya dimana?" tanya Arya dengan wajah nya yang menyebalkan membuat Bimantara langsung berdecih sinis


"Jangan berisik. Kalian ini kalau sudah ngumpul ada aja tingkah nya. Buat kepalaku pusing. Mau aku suruh kalian merah susu?" ancam Eyang putri


"Tuan Bima aja Eyang, dia kan belum pernah" sahut Arya


"Kayak kamu udah pernah, nikah aja belum, apalagi merah susu" gumam Bimantara

__ADS_1


Mata Arya langsung melebar mendengarnya


"Eyang kayak nya tuan Bima udah kebelet kawin, otak nya udah ngeres" Arya langsung terkekeh melihat mata Eyang putri yang menyelis tajam kearah Bimantara.


"Ini anak memang minta dicuci otak nya" Eyang putri langsung bangun dan mendekat kearah Bimantara yang langsung menyembunyikan kepalanya dibalik punggung Nara. Nara menggeleng dan tertawa melihat Eyang putri yang nampak begitu kesal


"Sini kamu, sini" seru Eyang putri yang ingin menarik telinga Bima, namun lelaki itu semakin menyelusupkan kepala diantara sofa dan punggung Nara


"Aaahhhh ampun Eyang... bercanda doang" seru Bima


"Becanda embahmu, memang gak bisa dibilangin. Jadi anak kok ya makin aneh" seru Eyang putri seraya mencubit pinggang Bima dengan kencang membuat lelaki itu langsung menjerit kesakitan


"Sakit Eyang, ampun....aduuh" dia menggelinjang kegelian sekaligus kesakitan, membuat Arya dan Nara semakin tertawa melihat nya


"Aahhhh Nara, tolongin dong" seru Bima


Namun Nara langsung menggeleng dan malah menggeser tubuhnya, membuat Eyang putri kini bisa menangkap telinga Bimantara


"Mau apa kamu, sini"


"Aduuh sakit Eyang, udah ah, Eyang kdrt nih" sahut Bima seraya memegang telinga nya yang masih ditarik oleh Eyang putri


"Tarik terus Eyang, sampai putus, nanti tinggal ganti telinga sapi" ledek Arya membuat Bima semakin kesal


"Awas kamu Yo, aku botakin kamu nanti" sahut Bima


Namun tiba tiba, pelayan Eyang putri datang dan mengejutkan mereka. Eyang putri langsung melepaskan telinga Bima dan memandang pelayan nya yang datang dengan tergopoh


"Eyang, didepan ada tamu" ucap nya


"Siapa?" tanya Eyang putri yang mulai berjalan melewati Nara


"Tuan Reynand" jawaban pelayan itu membuat langkah kaki Eyang putri langsung terhenti.


Nara tertegun ditempatnya, sedangkan Arya dan Bima saling pandang dengan wajah kesal. Kenapa tuan angkuh itu datang lagi. Mereka kira setelah dua minggu lebih tidak datang, dia sudah menyerah.


Kini Eyang putri kembali menoleh kearah Nara yang masih terdiam ditempat duduk nya


"Nara..." panggil Eyang putri


"Saya tidak ingin menemui nya Eyang" jawab Nara dengan suara yang terdengar begitu pelan. Hatinya resah, kenapa Reynand datang lagi dan lagi. Dia sudah ingin mengakhiri semuanya, tapi kenapa Reynand malah terus maju???


"Nara, ini untuk yang terkahir kali. Jika kamu tidak ingin lagi kembali padanya, maka tegaskan pada dia. Tapi jika kamu masih ingin bersama nya, maka jangan biarkan dia terombang ambing dalam ketidak pastian mu" ujar Eyang putri begitu serius


Pandangan Nara menunduk, Arya dan Bima tidak berani bersuara, meski mereka begitu berharap Nara tidak lagi kembali pada Reynand.


Tapi semua terserah pada Nara. Bagaimana pun mereka tahu jika Nara memang pernah mencintai Reynand.


Dan memang itu yang terjadi sekarang, hati Nara kembali gundah. Tapi dia memang sudah memutuskan untuk berhenti. Dia memang mencintai Reynand, tapi untuk kembali, rasanya tidak mungkin, apalagi dengan keadaan nya yang seperti ini. Reynand hanya merasa bersalah, Nara tidak tahu seberapa besar perasaan yang dimiliki oleh lelaki itu.


"Bima, bisa tolong bawa aku kedepan" pinta Nara pada Bima yang sedikit terkejut, bukan hanya Bima melainkan Arya dan Eyang putri.


Tapi dengan permintaan Nara ini, mereka sudah tahu apa keputusan Nara untuk hubungan nya dengan Reynand.


Akhirnya, Bima membawa Nara kedepan rumah untuk menemui Reynand. Diikuti oleh Eyang putri dan juga Arya dibelakang mereka.


Dan setiba nya didepan rumah, Nara langsung tertegun melihat Reynand yang telah berdiri mematung didepan teras dengan wajah yang pucat dan memandang nya dengan senyum yang sangat berbeda.

__ADS_1


__ADS_2