
Pagi pagi sekali Nara sudah bangun dari tidurnya. Dia tidur didalam kamar Reynand malam tadi. Tidak diranjangnya melainkan diatas lantai yang hanya berlapiskan karpet bulu tipis. Nara tidak bisa meninggalkan Reynand malam tadi, demam pria itu sangat tinggi, bahkan dia mengigau beberapa kali. Entah apa yang telah terjadi pada pria itu, tapi Nara tahu jika sudah begini Reynand pasti sedang mengalami masalah.
Dan karena malam tadi dia tidak bisa beristirahat dengan baik, pagi ini tubuhnya yang demam dan terasa begitu sakit. Nara duduk dikursi meja makan dengan wajah lemas dan pucat. Pagi ini untuk yang kesekian kalinya dia berdarah lagi. Setiap buang air kecil jika tubuhnya drop, Nara pasti mengeluarkan darah. Dan itu membuatnya benar benar lemas. Sudah dua butir pil dari dokter Sebastian yang dia minum, dan hanya bisa mengurangi rasa sakitnya sedikit, namun rasa lemas dan suhu tubuhnya yang meningkat membuat Nara seperti tidak berdaya.
Jika sudah seperti ini Nara tidak tahu sampai kapan dia akan bertahan, rasanya sakit sekali. Serasa seluruh organ didalam tubuhnya telah membusuk dan membuatnya tidak berdaya.
Nara mendongakkan kepala melihat Reynand yang sudah ada didapur. Dia sudah mengenakan kemeja nya dan terlihat begitu rapi.
"Kamu mau berangkat?" tanya Nara. Dia langsung beranjak dan membiarkan Reynand duduk dikursinya. Wajah Reynand sudah tidak sepucat semalam, mungkin dia sudah lebih baik
Nara menuangkan teh hijau kedalam gelas Reynand dan menyerahkan nya pada lelaki itu.
"Apa masih demam?" tanya Nara lagi. Namun Reynand hanya menggeleng pelan dan mulai menikmati tehnya. Dia sedikit terkejut ketika bangun pagi tadi. Tubuhnya sudah terasa lebih baik. Bahkan dia melihat jika luka ditangan nya sudah diobati dengan begitu rapi. Dan dia tahu pasti Nara yang telah mengobatinya. Apa dia separah itu hingga tidak sadar diobati oleh Nara?
Nara menyerahkan sepiring roti bakar yang telah diolesi nya saus kacang Almond pada Reynand. Dengan senyum tipis, dan duduk dihadapan Reynand. Sebisa mungkin dia menahan rasa sakit dipinggang nya, karena sungguh saat ini rasa sakit ini begitu menyiksa.
"Aku hanya membuat ini, makanlah sedikit, setelah itu kamu bisa meminum obatmu" ucap Nara
"Tidak usah sok perduli" jawab Reynand begitu ketus. Namun Nara hanya tersenyum dan menggeleng pelan.
"Tidak ada salahnya perduli pada suamiku sendiri." jawab Nara
Reynand memandang Nara dengan perasaan kesal. Namun dia sedikit bereaksi ketika melihat wajah Nara yang begitu pucat meski sudah dia tutup dengan sedikit riasan. Dahinya juga berkeringat, apa dia sakit? Ah, apa perdulinya.
"Malam nanti apa kamu datang keacara ulangtahun perusahaan tuan Bimantara?" tanya Nara
"Bukan urusanmu" sahut Reynand
Nara terdiam dan menarik nafasnya dengan pelan. Reynand memang begitu enggan untuk berbincang dengan nya, seharusnya Nara tahu itu. Bagaimana jika dia ingin bertanya yang lain, tentang luka ditangan itu misalnya. Jangan harap Reynand akan memberitahunya. Ya, Nara tidak sepenting itu didalam hidup Reynand.
"Malam nanti jika tidak hujan, mungkin aku akan pergi bersama Arya." ucap Nara memberitahu Reynand. Namun laki laki itu hanya diam dan begitu acuh, membuat Nara lagi lagi harus menahan hatinya.
"Lanjutkan lah sarapanmu, aku masuk dulu. Aku juga harus pergi keperusahaan. Obatnya jangan lupa diminum ya" kata Nara seraya menunjuk dua butir obat yang telah dia sediakan disebuah piring kecil.
Nara beranjak dari duduknya dengan begitu hati hati dan berusaha menahan agar wajahnya tidak meringis menahan sakit. Namun meskipun begitu, tentu rasa sakit yang teramat menggigit tidak bisa dia tutupi dengan baik.
Nara berjalan meninggalkan dapur, dia sungguh ingin berbaring sebentar dikamarnya. Rasanya sakit sekali, dan Nara tidak bisa bertahan lebih lama untuk menemani Reynand seperti biasa.
Reynand menatap punggung Nara yang menghilang dibalik pintu. Ada perasaan tidak menentu melihat wajah pucat itu. Dia tahu Nara memang sedang tidak baik baik saja, tapi perasaan lain membuatnya tidak ingin lebih memperhatikan wanita itu. Ya, meskipun dia seharusnya berterimakasih karena Nara telah mengurus nya malam tadi, tapi bukankah itu memang tugasnya, tugas seorang istri.
Didalam kamar, Nara langsung merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Rasa sakit semakin tidak bisa dia tahan. Air matanya bahkan keluar dengan sendirinya karena menahan rasa sakit yang begitu menggigit. Dia meringkuk dengan tubuh yang bergetar, tangannya saling menggenggam erat. Bibirnya mengatup dengan rapat bahkan giginya saling menggeletak karena berusaha menahan rasa sakit ini sekuat mungkin
"Eughh" lenguh nya yang tidak bisa lagi menahan
"Sakit....."lirih Nara
__ADS_1
Nafas nya benar benar tersengal bahkan terasa terputus putus, keringat dingin sudah mengucur membasahi wajah dan tubuhnya. Sungguh demi apapun rasa nya dia ingin meminta tolong Reynand, tapi apa lelaki itu akan perduli?
Beberapa kali Nara memutar tubuhnya mencari posisi yang bisa membuat nya sedikit bisa lebih baik, namun percuma, rasa sakit itu benar benar membuat nya terasa ingin mati. Bahkan dapat dia rasakan jika saat ini sesuatu sudah luruh dan keluar dari daerah kewanitaan nya. Darah. Ya, dia berdarah lagi.
Nara terkulai lemas, bibirnya menggeletak begitu pucat bahkan nyaris membiru. Matanya mulai meredup dan tertutup dengan lemah. Rasa sakit itu membuat nyawa Nara serasa berada diambang batas kesadaran nya, dan dia pingsan, tidak sadarkan diri karena tidak sanggup menahan rasa sakit itu.
Diluar kamar, Reynand sudah selesai dengan sarapan nya. Bahkan dia sudah meminum obat yang disediakan Nara. Dia sudah harus pergi ke perusahaan. Tubuhnya sudah lebih baik, dan dia tidak bisa jika tidak pergi keperusahaan. Bisa bisa kejadian nya akan lebih parah dari semalam.
Saat melewati kamar Nara, kaki Reynand terhenti. Dia memandang kamar itu dengan perasaan aneh. Ada rasa ingin masuk dan melihat Nara. Tapi untuk apa?
Dan akhirnya Reynand mengabaikan perasaaannya dan memilih pergi meninggalkan rumah itu, dan Nara yang sekarat didalam kamarnya.
....
Gemerlap lampu dan suara musik menggema disebuah gedung megah yang ada ditengah kota. Sebuah acara pesta besar diadakan disana. Ratusan tamu undangan sudah memenuhi aula gedung yang telah dihias dengan begitu mewah. Acara ulangtahun salah satu perusahaan besar yang mengundang seluruh petinggi perusahaan, termasuk juga perusahaan Polie.
Malam itu, hari memang tidak hujan, tapi cuaca begitu mendung dan dingin. Anara sudah berada didalam mobil bersama Arya untuk menghadiri pesta ulangtahun perusahaan Bimantara.
Matanya memandang jalanan malam itu yang selalu saja ramai, tidak pernah sepi seperti tidak pernah kenal lelah. Selalu ada saja ratusan bahkan ribuan kendaraan yang bergantian melewati jalan itu.
Wajah cantik nya begitu datar, bibir merah yang terlihat seksi jika dipandang, gaun merah yang juga menutupi tubuh kurus nya, namun tidak akan nampak jelas, karena seorang Anara Polie memang mempunyai wajah yang sangat cantik dan juga pembawaan nya yang begitu anggun. Sehingga meski tubuhnya begitu kurus dan melemah, namun orang yang tidak tahu tidak akan pernah menyangka jika seorang Anara Polie sedang sekarat saat ini.
"Anara, jika kamu kurang sehat seharusnya kamu tidak datang malam ini. Cuaca cukup dingin" kata Arya yang sedang fokus pada kemudinya
"Hanya tuan Bima yang masih berbaik hati pada perusahaan kita Yo. Aku hanya menghargai itu" jawab Nara
"Disana juga pasti ada suami kamu" gumam Arya
Nara terdiam dan mengangguk
"Aku tahu" jawab Nara
Dia sudah menyiapkan hatinya. Karena dia tahu jika Reynand sudah pasti pergi bersama Cleo. Nara hanya menghormati undangan Bimantara, karena saat ini hanya perusahaan nya yang masih menanamkan saham cukup banyak diperusahaan Polie, dan semoga saja Reynand tidak akan mempengaruhi nya nanti. Karena jika Bimantara juga mencabut semua dana diperusahaan Polie, maka hancurlah sudah. Sekarang saja semua terasa begitu mencekik, dan entah bagaimana jadi nya jika Bimantara juga meninggalkan nya.
Mobil mereka berhenti tepat didepan gedung megah milik Bimantara. Ratusan tamu sudah banyak yang hadir dan tentu semua nya terlihat begitu mewah dan elegan.
Nara turun perlahan dari mobil dibantu oleh Arya. Tubuhnya masih begitu lemah, namun dia tetap memaksakan diri untuk datang.
"Kamu yakin akan baik baik saja?" tanya Arya. Dia benar benar khawatir melihat Nara. Meski Nara terlihat baik baik saja, namun hanya Arya yang tahu bagaimana kondisi nya. Bahkan hari ini Nara tidak masuk kantor, dan sudah pasti terjadi sesuatu padanya.
"Aku baik baik saja. Ayo masuk, pestanya sudah dimulai" ajak Nara. Dia langsung merangkul lengan Arya untuk menjaga keseimbangan tubuh nya, semoga saja pinggang nya tidak mengulah lagi malam ini.
"Jika seperti ini orang akan mengira kita adalah pasangan suami istri" bisik Arya
Nara langsung tersenyum mendengar nya
__ADS_1
"Tidak apa apa, Reynand hanya percaya padamu. Jika aku menggandeng pria lain, maka besok aku akan tinggal nama" jawab Nara
"Cih, aku rasa dia tidak akan perduli. Lihat saja dia menggandeng siapa nanti. Jika dia pergi bersama Cloe, maka kamu juga harus membuatnya cemburu" bisik Arya pula
Mereka berjalan masuk kedalam setelah saling menunjukkan undangan pada penjaga didepan
Sesekali Nara tersenyum dan mengangguk menyambut sapaan beberapa petinggi perusahaan yang mengenalnya. Dan tentu saja semua orang mengenal nya, kepala direktur di perusahaan Polie. Salah satu perusahaan yang cukup besar meski hampir bangkrut.
"Dia tidak akan cemburu, dia hanya marah" jawab Nara
"Apa bedanya" dengus Arya
Nara hanya diam dan tidak ingin menanggapi nya. Jelas saja berbeda antara marah dan cemburu. Cemburu itu karena dia cinta, tapi marah, karena dia menganggap Nara berani kurang ajar mempermainkan dia.
Nara tersenyum dengan indah saat memasuki gedung megah itu. Berjalan diatas karpet merah yang seolah menyambut kedatangan nya. Gaun merah panjang yang bertabur mutiara swarovski dibeberapa bagian tampak berkilau dengan indah, seolah perpaduan yang sempurna dengan dirinya malam ini. Rambut hitam yang dia curly menambah kesan anggun dan tegas nya. Membuat setiap mata memandang kagum seorang Anara Polie yang memang terkenal anggun dan penuh kekuasaan, meski sebenar nya itu hanyalah topeng dari seorang Anara yang sesungguhnya sangat rapuh dan tidak sekuat itu.
Nara dan Arya berjalan menuju tempat dimana Bima berada. Sejak tadi pandangan Bimantara tidak lepas dari sosok anggun itu. Bimantara, lelaki berusia tiga puluh tahun yang memang sudah jatuh pada pesona Anara sejak dulu, namun sama sekali tidak pernah dilihat oleh gadis itu. Dan itu yang membuat Bimantara sangat menghargai Anara karena menganggap gadis itu memiliki kelas dan pilihan yang tinggi, padahal dia tidak tahu jika sesungguh nya pemilik Anara adalah seorang lelaki angkuh yang tidak tertandingi.
"Tuan Bima, selamat untuk acara nya" ucap Nara dengan senyum yang begitu manis
Bimantara membalas jabatan tangan itu, meski dia sedikit heran, kenapa tangan Anara sangat dingin?
"Terimakasih sudah menyempatkan diri untuk datang nona" sahut Bimantara
Anara hanya tersenyum dan mengangguk saja
"Ayo silahkan duduk, meja anda ada disini" ajak tuan Bima
"Sepertinya memang sudah disiapkan" kata Anara
Bima sedikit tertawa mendengar nya
"Tentu, silahkan" ajak Bimantara lagi
Anara dan Arya langsung duduk dimeja yang memang telah disediakan untuk mereka, tepat disebelah meja Bima dan... Reynand.
"Nona, bagaimana keadaan perusahaan, apa masih bisa terkendali? Saya sangat menyesalkan berita yang beredar mengenai perusahaan Polie" ucap Bimantara
"Semua nya masih berjalan dengan baik tuan" jawab Anara
Suasana yang tadinya sedikit riuh, sedikit melengang sekarang. Bahkan perkataan Bimantara pada Anara langsung terputus saat terdengar bisik bisik yang mengatakan jika tuan Adiputra sudah tiba disana.
Anara terdiam, dia tidak ingin melihat, tapi mata nya tidak bisa dikendalikan. Dia juga menoleh kearah pintu masuk, dimana seorang pria berjalan dengan begitu gagah dan penuh dengan pesona melewati karpet merah yang begitu kontras dengan penampilan nya. Wajah tampan dan dingin nya begitu penuh pesona dan wibawa, sungguh kharisma seorang Reynand Adiputra memang tidak ada yang bisa menandingi.
Nara begitu jatuh cinta melihat itu, tapi yang membuat nya sakit adalah, dia digandeng oleh seorang wanita cantik dengan begitu mesra. Cleo.
__ADS_1