
Arya tersandar lemas didinding rumah sakit. Wajahnya pucat dan benar benar terpukul. Rambut panjangnya sudah kusut tidak lagi rapi. Bahkan jas dan kemeja yang dia kenakan sudah penuh dengan bercak darah. Didalam ruangan sana sudah hampir satu jam dokter yang menangani Zelina belum juga keluar. Dan itu membuat mereka semua nampak begitu khawatir dan cemas. Apalagi ketika hanya perawat dan suster yang nampak mondar mandir membawa beberapa kantung darah masuk keruangan Zelina, sungguh rasanya benar benar tidak bisa di ungkapkan dengan kata kata.
Mama dan Nara bahkan masih menangis dalam dekapan Reynand yang juga nampak begitu terpukul.
Zelina sedang bertaruh nyawa antara hidup dan mati didalam sana.
Tadi, setelah melakukan fitting baju pengantin, Zelina pamit untuk pergi mencari makanan yang memang ada didepan butik. Cake vanila kesukaan nya.
Mama dan Nara sudah melarang dan berkata jika dia bisa meminta karyawan Vale saja yang membelikan nya, namun Zelina begitu keras kepala untuk tetap pergi.
Dia berkata, jika dia ingin menyambut Arya didepan butik. Dan ya, dia memang menyambut Arya, tapi penyambutan yang dia lakukan membuat Arya terasa tidak bernyawa melihatnya yang sudah terkapar tidak berdaya dengan darah yang begitu banyak.
Bahkan sejak membawa Zelina kerumah sakit, sampai saat ini Arya tidak ada mengeluarkan sepatah katapun. Reynand yang biasanya cerewet dan sensitif juga nampak begitu terpukul. Dia masih menenangkan Nara dan mamanya yang sejak tadi tidak berhenti menangis.
Sedangkan tuan Abas, dia masih dalam perjalanan menuju kerumah sakit. Dan Guntur masih sibuk mengurus orang yang sudah menabrak Zelina.
Beberapa kali Arya menoleh kearah pintu. Wajahnya benar benar tidak lagi bisa berekspresi. Hanya rona pucat, dan matanya yang nampak berair.
Dia benar benar lemas dan tidak bertenaga sekarang, apalagi saat melihat Zelina yang terluka begitu parah.
Arya menggeleng dan langsung jatuh terduduk didinding rumah sakit itu, meraup wajahnya dengan kasar seiring dengan matanya yang semakin berair.
Dia takut, dia sangat takut jika terjadi sesuatu pada gadisnya.
Tidak...
Arya tidak ingin itu terjadi...
Ya Tuhan...
Tolong, tolong selamatkan Zelina nya. Tolong selamatkan calon istrinya.
Zelina kebahagiaan Arya, bagaimana mungkin Arya bisa hidup tanpa dia nanti??
Wajah penuh darah, kepala yang terluka parah, namun masih bisa menorehkan senyum lemah nya. Sungguh, jika mengingat itu, Arya benar benar lemah.
"Kuat Ze... aku mohon kuat untuk ku" gumam Arya terus menerus.
ceklek
Pintu ruangan Zelina terbuka, Arya dan semua orang yang ada disana langsung berdiri dan mendekat kearah dokter yang keluar dengan wajah lelah nya.
"Dokter bagaimana keadaan nya?" tanya Reynand langsung, bahkan Arya benar benar tidak bisa untuk bertanya lagi sekarang.
"Keadaan nona muda cukup lemah tuan. Kepala nya terluka begitu parah, dia juga mengalami pendarahan hebat diotaknya"
Lemas, sungguh lemas jantung Arya mendengar itu.
Bahkan mama dan Nara semakin tidak bisa menahan perasaan mereka sekarang.
"Tapi dia ingin bertemu dengan tuan Arya saat ini" ungkap dokter wanita itu lagi.
Reynand memandang Arya yang nampak hancur, dia menepuk sekilas bahu Arya yang nampak tidak berdaya.
__ADS_1
"Pergilah, beri dia kekuatan" pinta Reynand.
Arya hanya diam dan langsung masuk kedalam ruangan itu, dimana semua perawat dan dokter yang menangani Zelina langsung keluar dan hanya menyisakan seorang dokter untuk menjaga keadaan Zelina.
Lagi, hati Arya terasa remuk dan dan hancur berkeping keping melihat keadaan Zelina yang begitu menyedihkan. Semua selang dan alat bantu pernafasan sudah terpasang diseluruh tubuhnya. Bahkan bercak darah dipakaian yang belum sempat diganti terasa membuat Arya mengambang dan tidak bisa untuk berkata apapun.
Ini Zelina nya kan???
Kenapa seperti ini???
Semua ini terasa seperti mimpi buruk untuk nya.
Arya berjalan mendekat dengan langkah kaki yang terasa begitu lunglai, lemas dan tidak bertenaga.
Tolong, siapapun. Bangunkan dia dari mimpi buruk ini. Hatinya sungguh tidak sanggup melihat orang yang dia cinta menjadi seperti ini.
"Ze...." suara Arya terasa begitu tercekat dikerongkongan. Hatinya benar benar mencelos melihat Zelina yang begitu lemah seperti ini. Zelina yang biasa ceria, cerewet dan juga selalu tersenyum, kini sudah tidak ada lagi.
Mata Zelina perlahan terbuka, sangat lemah dan cukup sayu.
"Kak..." ucap nya, hanya terdengar seperti bisikan. Arya mencoba tersenyum meski air mata juga ikut mengalir membasahi wajahnya. Dia duduk dikursi dan meraih tangan Zelina yang terasa lemah dan sangat dingin.
"Jangan menangis" pinta Zelina
Arya tersenyum dan menggeleng, seraya dia yang mencium tangan Zelina dengan lembut.
"Kamu harus kuat sayang. Sebentar lagi kita menikah, kamu kuat ya" pinta Arya. Dan sungguh dia benar benar tidak sanggup seperti ini. Ya tuhan...
Zelina tersenyum lemah memandang Arya, wajahnya sangat pucat, bahkan sudah seperti tidak di aliri darah sedikitpun.
Dia tersenyum dan mengusap wajah pucat itu dengan lembut.
"Ya, kamu cantik sayang, cantik sekali" bisik Arya. Dengan sekuat tenaga dia menahan agar tidak menangis lagi. Meski sungguh, rasanya sangat sakit.
"Jangan sedih, kakak sayang Ze kan?" tanya Zelina
Arya mengangguk dengan cepat
"Sayang Ze... sayang sekali" jawab Arya, suara isak tangis nya mulai terdengar, apalagi ketika dia bisa merasa jika nafas Zelina yang mulai tersendat sendat.
"Jika begitu, kakak harus kuat ya... jangan menangis" pinta Zelina
Arya menggeleng dan langsung menyembunyikan wajahnya dibalik pundak Zelina. Menyembunyikan tangisan kepedihan nya, hingga bahu nya saja yang kini bergetar hebat menahan tangisnya.
Zelina tersenyum lemah, tangan nya yang berada dalam genggaman Arya sejak tadi berusaha sekuat mungkin untuk membalas genggaman tangan itu. Rasa sakit yang dia rasakan sudah seperti ingin mencabut seluruh nyawanya.
"Terimakasih .... sudah memberikan kebahagiaan dalam hidup Ze, Ze.... beruntung bisa bertemu kakak" ucap Zelina begitu lemah, matanya memadang nanar langit langit ruangan itu. Setitik air mata jatuh disudut matanya.
"Sayang" Arya mendongak dan menggeleng memandang Zelina. Tangan nya bergetar mengusap wajah Zelina, meski air matanya sendiri tidak dapat terbendung lagi.
"Kakak harus bahagia" pinta Zelina, suara nya sudah semakin melemah.
"Aku ingin bahagia bersama kamu, aku hanya mau kamu" kata Arya yang semakin menangis terisak.
__ADS_1
Zelina tersenyum lemah dan berusaha untuk mengatur nafasnya yang mulai sesak.
"Ze.... pengen dipeluk.. kak" pinta Zelina
Arya mengangguk dan langsung beranjak mendekat kearah Zelina. Meraih tubuh lemah itu dengan lembut dan memeluk nya dengan hangat.
Bahkan Arya menciumi seluruh wajah Ze yang semakin pucat dan mendingin.
Dia tidak ingin ini terjadi, tapi kenapa rasanya Zelina memang akan pergi meninggalkan nya. Kenapa ya Tuhan????
Arya sungguh belum siap....
"Jangan menangis" bisik Zelina
"Tidak sayang" jawab Arya, masih mendekap tubuh itu dengan perasaan yang begitu hancur.
"Ze sayang kakak" bisik Zelina lagi
"Aku juga sayang kamu Ze, sayang sekali" balas Arya. Dia mencium dahi Zelina dengan sangat lama dan begitu dalam. Memandang mata Zelina yang mulai meredup dan mulai kehilangan binar indahnya.
"Ze tidur ya" bisik Zelina lagi
Arya tersenyum dan mengangguk, tangan nya mengusap wajah Zelina dengan lembut. Zelina memandang Arya dengan pandangan yang lemah, bahkan sebelum dia memejamkan matanya, dia masih sempat memberikan senyum indahnya untuk Arya.
Senyum yang tidak akan pernah lagi Arya lihat untuk selamanya.
Arya kembali menangis saat Zelina memejamkan matanya seiring dengan bunyi detak jantung Zelina yang terdengar nyaring dimonitor.
"Ze...... " lirih Arya. Dia kembali mencium dahi Zelina begitu lama, sangat lama dan begitu dalam, seiring dengan air mata kesedihan yang tidak bisa lagi dia bendung. Ciuman terakhir untuk kekasih hatinya nya, ciuman terakhir untuk melepas kepergian nya yang begitu cepat.
Arya langsung mundur kebelakang, saat dokter mulai mengambil tindakan darurat untuk memompa jantung Zelina. Dan bersamaan dengan Reynand dan yang lain masuk kedalam sana.
Mereka semua menangis, meraung dan memanggil nama Zelina.
Tapi Arya, entah kenapa dia merasa jika Zelina memang sudah pergi dan tidak akan kembali lagi. Dia pergi secepat ini, bahkan pergi dengan meninggalkan sejuta luka yang pasti tidak akan pernah bisa terobati.
Ya Tuhan...
Apa ini mimpi buruk???
Kenapa secepat ini? Kenapa harus sekarang?
Tidak bisakah dia merasakan kebahagiaan bersama Zelina nya lebih lama lagi?
Mereka menikah hanya tinggal hitungan hari. Tapi kenapa Kau ambil Zelina secepat ini?
Ya Tuhan...
Sungguh Arya belum siap. Bisakah semua ini hanya sebuah mimpi buruk, dan ketika dia bangun, Zelina masih ada dihadapan nya lagi.
"Nona Zelina sudah tidak bisa tertolong lagi tuan, nyonya"
Perkataan dokter itu, bagai sebuah belati yang menusuk rongga dada semua orang yang ada disana. Mama langsung jatuh pingsan dalam dekapan tuan Abas, mereka begitu terpukul melihat putri tersayang nya telah pergi. Sementara Reynand dan Nara menangis dengan perasaan yang begitu hancur dan tidak berbentuk lagi.
__ADS_1
Arya langsung jatuh terkulai diatas lantai dengan jiwa yang juga ikut pergi. Hati dan jiwanya yang benar benar dibawa pergi oleh Zelina, hingga kini dia merasa sudah tidak lagi memiliki apapun. Kosong, hampa dan..... hancur.