
Reynand mematung dihadapan seorang wanita yang masih nampak terpejam dengan berbagai peralatan medis ditubuhnya. Wajahnya begitu pucat, bahkan hidung nya masih dipasangi alat bantu pernafasan.
Reynand mengerjapkan matanya dan menelan air liur nya yang terasa begitu mencekat. Rasa sakit yang dialami Nara seolah mampu dia rasakan sendiri.
Tapi sekarang, dia cukup bahagia, karena telah bisa melakukan sesuatu yang berguna untuk Nara. Meskipun kini dia yang harus terluka dan merasakan sakit itu. Tapi, sedikitpun Reynand tidak pernah menyesal.
Mata Reynand memandang surat bersampul kuning yang sejak tadi dia genggam. Ada rasa tidak rela, ada rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan melihat surat ini. Apalagi melihat Nara. Berpisah dengan Nara adalah kesakitan yang teramat dalam dari setiap masalah yang dihadapi nya. Tapi membiarkan Nara tetap berada disisinya saat ini juga bukan hal yang baik.
Nara meminta berpisah, Nara sudah tidak ingin lagi berada disisinya. Nara sudah menyerah, dan itu membuat Reynand benar benar lemah.
Reynand meletakkan surat itu diatas meja, dan dia meraih sebuah kursi yang ada disana. Menghempaskan tubuhnya yang terasa sakit luar dan dalam.
Mata Reynand berkaca kaca memandang Nara yang masih terpejam seakan tidak ingin lagi memandang nya. Sungguh, Reynand sangat merindukan senyum wanita ini. Tapi sekarang, apa itu mungkin untuk bisa dia dapatkan lagi, setelah dia memutuskan untuk melepaskan Nara dari penjara cinta nya selama ini.
"Nara......" panggil Reynand begitu lirih. Dia meraih tangan pucat Nara dan menggenggam nya dengan lembut
"Apa semua yang aku terima belum cukup untuk menebus kesalahan ku padamu?" tanya Reynand. Dia tertunduk seraya mencium tangan Nara dengan penuh perasaan
"Aku sudah kehilangan semua nya. Semuanya Nara. Tidak ada lagi yang tersisa dihidupku selain nyawa ditubuh ini" ungkap Reynand terasa begitu pedih
"Nara...."
Reynand memandang Nara dengan air mata yang lagi lagi menetes diwajah tampan nya. Ada segudang luka yang tidak bisa dijelaskan bagaimana sakitnya. Dia ingin bertahan, tapi Nara lebih memilih untuk menyerah
"Jika satu nyawa yang aku punya ini bisa aku berikan padamu, maka akan aku berikan. Aku tahu kesalahan ku begitu besar. Aku sudah menyakitimu luar dan dalam, aku memang brengsek. Dan aku memang pantas mendapatkan semua ini"
"Nara, adik kecilku yang cantik...."
Reynand tersenyum dengan pedih seraya mengusap kepala Nara, dia menggeleng dan tertunduk kembali. Sungguh dia tidak bisa menahan perasaan ini. Berbagai emosi begitu membuncah dihati nya
"Jika semua kehancuran ku ini bisa membuat mu merasa puas. Aku tidak apa. Aku tidak apa apa menerima nya. Tapi satu hal yang harus kamu tahu, jika sejak dulu, sejak sebelas tahun yang lalu, di oktober waktu itu, aku sudah jatuh cinta pada seorang remaja cantik yang begitu takut aku tinggal sendirian"
Reynand memandang Nara dengan lekat dan kembali mencium punggung tangan Nara
"Sejak saat itu, hingga kini, hanya kamu Nara. Hanya kamu yang aku damba, hanya kamu yang aku tunggu untuk menjadi istriku"
"Jika kamu bisa menerima ku kembali, maka akan aku ceritakan semua nya. Semua kisah panjang tentang pencarianku, tentang kisah ku bersama Cleo dan tentang sulitnya aku saat ini"
Reynand mengulum bibirnya dan menggeleng dengan pelan. Sakit sekali rasanya mengungkapkan apa yang seharus nya diungkapkan sejak dulu
"Aku begitu bodoh sudah menyianyiakan mu, aku begitu bodoh tidak pernah sadar jika kamu adalah adik kecil yang selalu aku cari. Aku benar benar bodoh, dan sekarang kamu sudah membenciku, kamu memilih untuk pergi dan tidak lagi mencintaiku. Sakit Nara, sakit sekali...." Reynand kembali terisak dengan nafas yang terasa sesak.
Reynand menangis begitu pilu dan tertahan. Dia benar benar tidak bisa menahan perasaan nya. Semua masalah hidup nya dan masalah hatinya benar benar membuat seorang Reynand yang angkuh dan sombong kini benar benar tidak berdaya.
Hanya ada isak tangis Reynand dan suara detak jantung Nara didalam ruangan itu. Semuanya bersatu bagai membentuk melodi yang begitu menyayat hati. Rasa sedih, sesal, sakit, dan cinta, semua nya bersatu dengan begitu kuat hingga membentuk gumpalan perasaan yang tidak bisa dijelaskan dan teruraikan.
__ADS_1
Lama Reynand menangis hingga rasanya dia tidak bisa lagi untuk berkata kata. Namun untuk terakhir kalinya, Reynand menarik nafasnya dalam dalam dan kembali memandang wajah Nara
"Hari ini....
"Di januari ini, aku memenuhi permintaan mu. Aku ingin kamu menjemput kebahagiaan mu sendiri. Aku hanya berharap kamu bisa bahagia Nara. Kamu bahagia dengan apa yang telah aku berikan" ucap Reynand yang lagi lagi terdengar begitu pedih
"Bukan aku menyerah,,, aku tidak pernah menyerah untuk memperjuangkan mu. Aku hanya memberimu waktu untuk berfikir dan menenangkan diri. Kebahagiaan mu adalah kebahagiaan ku"
"Jika kamu mendengar, maka kamu ingat perkataan ku ini Nara" ucap Reynand yang kini menggenggam tangan Nara begitu kuat seolah dia menyalurkan perasaan nya pada Nara yang masih memilih terpejam
Reynand memandang Nara dengan lekat
"Meskipun aku tidak lagi ada disampingmu, ketahuilah, cinta ku akan terus bersamamu dimana pun kamu berada. Sejak sebelas tahun yang lalu, hingga kamu tua nanti"
"Hari ini, aku...........melepaskanmu"
"Kamu bisa pergi, pergi mencari kebahagiaanmu. Maafkan aku yang sudah menyakitimu selama ini"
"Aku, mencintaimu Anara. Sangat mencintaimu"
Untuk yang terakhir kali, Reynand mencium dahi Nara dengan lembut dan begitu lama. Sangat dalam dan penuh perasaan, hingga air mata yang tidak bisa dibendung nya jatuh membasahi wajah Anara.
Reynand beranjak, memandang Nara untuk yang terakhir kali. Sungguh demi apapun, dia benar benar tidak sanggup. Tapi ini permintaan Nara dan demi kebaikan nya. Maka Reynand harus bisa.
Reynand berpaling dan berbalik arah, meninggalkan Nara dengan air mata yang terus berjatuhan. Sakit ... sakit sekali!
...
Sedang didalam ruangan, Nara membuka mata dengan air mata yang langsung mengalir deras diwajahnya. Dia dengar, dia mendengar semua ungkapan isi hati Reynand. Rasanya sakit, ingin dia rengkuh dan dia dekap lelaki yang sangat dia rindui dan dia cintai itu. Tapi semua sudah usai. Kisah mereka telah berakhir.
Kenapa sesakit ini? Kenapa lebih sakit dari pada Reynand yang menyakitinya dulu??? Kenapa melepaskan Reynand harus seperti ini. Seharusnya Reynand tidak usah mencintainya, seharus nya Reynand terus membencinya, bukan malah meninggalkan kata kata cinta sebelum dia memutuskan untuk pergi.
"Nara...." Arya langsung mendekat kearah Nara. Dan dia langsung memeluk Nara yang menangis begitu pilu, bahkan baru kali ini dia melihat Nara begitu menumpahkan tangisan nya. Apa sesakit ini yang mereka rasakan????
....
Sementara Reynand masih berusaha berjalan ditengah kesakitan nya. Sesekali dia mengusap wajahnya yang memerah. Matanya masih terus berair. Hati nya sakit dan bertambah sakit saat melihat Bimantara yang baru masuk kelobi rumah sakit itu.
Mata mereka bertabrakan beberapa detik. Saling memandang dengan lekat, namun Reynand segera beralih dan kembali melangkahkan kaki nya meninggalkan Bimantara yang mematung dan memandang kepergian Reynand.
"Ada apa dengan dia?" gumam Bimantara. Dia begitu heran melihat wajah pucat Reynand yang seperti habis menangis, bahkan wajahnya masih memerah dan sembab. Tubuhnya juga sedikit oleng seperti menahan sakit. Apa dia baik baik saja? Atau...telah terjadi sesuatu pada Nara???
Bimantara langsung berlalu masuk kedalam rumah sakit menuju keruangan Nara.
Sedangkan Reynand masuk kedalam mobil nya, dia mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan yang begitu tinggi.
__ADS_1
Pandangan mata Reynand begitu nanar, hampa dan kosong. Hatinya benar benar terluka, dia tidak ingin pergi, tapi keadaan memaksanya untuk pergi. Dia sungguh tidak ingin kehilangan Nara, tapi Nara sudah memilih untuk menyerah. Dia ingin memperjuangkan cinta Nara kembali, tapi dengan keadaan nya yang seperti ini, apa lagi yang bisa dia banggakan???
Dia sudah tidak memiliki apapun, dia sudah terbuang dari keluarga Adidaksa. Dan semuanya karena ulah ayahnya dan juga Cleo!!!!
Tiba tiba pandangan mata Reynand menajam. Mata yang tadinya sendu dan penuh beban kini berisi kebencian yang mendalam. Setumpuk dendam dan kemurkaan tiba tiba melintas dihatinya.
Semburat emosi yang tadinya penuh cinta dan penyesalan kini berubah menjadi emosi untuk menghabisi seseorang.
Reynand menggeram dan semakin mengencangkan laju mobilnya. Matanya memerah memandang fokus kedepan. Tidak perduli jalanan yang cukup ramai siang itu, Reynand langsung memutar stir mobil nya masuk kearah jalan tol. Dan tentu dia kembali menambah laju kecepatan mobilnya seperti orang yang kesetanan. Reynand akan mendatangi orang yang dulu dia panggil dengan sebutan papa itu dan juga mantan kekasih yang benar benar dia benci sekarang.
Jika dia hancur, maka mereka juga harus hancur bukan???? Ya, semua nya karena mereka, karena keserakahan mereka hingga membuat Reynand berubah menjadi iblis yang tidak punya hati dan menanggung penderitaan yang begitu menyakitkan ini.
Reynand tidak terima,Reynand tidak terima jika hanya dia yang sakit dan hancur sendirian! Reynand harus membalaskan kesakitan ini, harus!
Namun tiba tiba....
brakkkk
Mobil yang Reynand kendarai menabrak pembatas jalan dan terguling beberapa kali diatas jalanan aspal. Remuk dan hancur, bahkan darah sudah menetes diseluruh tubuhnya. Tangan Reynand terkulai lemah, matanya mulai meredup, dan disisa kesadaran nya, hanya seseorang yang dia ingat...
"Nara..........
....
Melepaskanmu adalah hal yang tidak pernah aku bayangkan
Bahkan disaat kebencian masih menyelubungi hatiku
Tapi sekarang,
Aku dipaksa untuk melepaskanmu,
melepaskan cinta yang sudah sejak lama tertanam didalam hatiku
Sakit sekali Nara..
Tapi jika kesakitan ku ini bisa membuatmu bahagia
Maka aku terima
Aku selalu berdoa,
jika diwaktu yang akan datang,
takdir kita bisa lebih indah dari pada saat ini
__ADS_1
~Aku yang bersalah.... Reynand~