
Pesta pernikahan benar benar mewah dan sangat sakral karena juga diselingi oleh berbagai rangkaian upacara adat dari eyang putri. Tuan Renggono nampak bahagia sekali dihari itu. Hari yang sudah dia nantikan sejak lama. Melihat putri semata wayangnya menikah dengan lelaki yang dia cinta.
Ratusan tamu yang hadir dari siang hingga malam hari cukup membuat mereka semua sibuk dan kelelahan. Namun tidak pelak, mereka benar benar sangat bahagia.
Nara dan Reynand berada disana juga sampai malam, bahkan mereka juga menyambut para tamu yang hadir bersama Reyza dan juga Naina. Karena memang, semua tamu yang hadir juga kebanyakan adalah relasi bisnis mereka.
Bercengkrama hangat, bercanda riang, dan tertawa bahagia. Semua terjalin dihari itu setelah dua Minggu yang lalu mereka semua dikejutkan dengan kabar mengerihkan tentang kecelakaan pesawat yang akan ditumpangi Reynand.
Tapi hari ini, semua ketakutan dan kecemasan itu sudah hilang dan berganti dengan kabar bahagia dari pernikahan Gendis dan Bima.
Pesta berjalan tidak sampai malam hari, hanya sebatas jam sembilan saja. Para tamu juga sudah banyak yang pulang. Tapi sebagian masih ada didepan gedung untuk mengiringi kepergian Bima dan Gendis yang akan pulang kerumah Bima.
Ya, lagi lagi entah acara apa yang ada diluar, tapi sebuah mobil pengantin sudah terparkir indah disana untuk membawa Bima dan Gendis pulang.
Tuan Renggono yang mengiringi langkah mereka ke mobil, dan tentu saja ini lagi lagi menjadi sebuah momen yang cukup haru. Bahkan Gendis kembali meneteskan air mata nya.
Tidak tahu kenapa, padahal besok juga dia masih bisa bertemu dengan ayah nya. Hanya saja, rasa nya sudah berbeda. Kini dia pergi bukan untuk berlibur atau untuk sekolah, melainkan pergi untuk ikut dengan suami nya.
"Jaga Putri ku dengan baik. Bahagiakan dia dan jangan pernah sakiti dia. Jika kau tidak lagi menyukai nya, kembalikan dia padaku dalam keadaan baik" ujar tuan Renggono saat Bima mencium punggung tangan nya.
"Saya berjanji akan selalu menjaga dan mencintai Gendis ayah" jawab Bima dengan keyakinan di dalam hatinya.
Tuan Renggono mengusap bahu Bima sejenak. Dan setelah itu dia menoleh pada Gendis. Bukan lagi mencium, tapi Gendis sudah memeluk ayah nya dan menangis terisak disana.
"Harus jadi istri yang baik ya nak. Berbahagialah, restu ayah selalu mengiringi langkah mu" ucap tuan Renggono.
"Terimakasih ayah. Gendis sayang ayah" jawab Gendis
Tuan Renggono mengusap kepala Gendis dengan penuh sayang, dia juga mencium dahi Gendis cukup lama. Mata nya terlihat berkaca-kaca, karena kini, waktunya dia untuk melepaskan putri kesayangannya pada lelaki lain.
Semua orang yang ada disana, nampak begitu terharu...
Bima dan Gendis melambaikan tangan nya pada semua orang yang ada disana sebelum mereka masuk kedalam mobil pengantin.
Dan setelah itu, mobil pengantin itu langsung pergi menuju rumah Bima dimana eyang putri dan keluarga nya sudah menunggu.
Mereka pergi dengan di iringi oleh puluhan mobil pengarak. Cukup ramai memang, tapi itu membuat kesan tersendiri.
Tuan Renggono melambaikan tangan nya seraya mengusap air mata haru yang jatuh membasahi wajah tua nya.
Akhirnya ..
Putri tercintanya bisa merasakan kebahagiaan seperti gadis yang lain, setelah mengalami rasa sakit yang hampir membuatnya menyerah.
...
Didalam mobil, Gendis beberapa kali mengusap air matanya. Tidak ada Isak tangis yang terdengar, hanya saja dia tidak bisa menahan air mata itu untuk tidak jatuh dan membasahi wajahnya. Rasa sedih, rasa haru, dan semua nya, terasa begitu bercampur aduk didalam hatinya saat ini.
Rasanya masih terasa asing dan begitu mengejutkan setelah semua yang terjadi.
"Kenapa menangis?" tanya Bima. Seraya dia yang langsung meraih tangan Gendis dan menggenggam nya dengan lembut.
Gendis tersenyum dan menggeleng seraya mengusap kembali wajahnya.
"Kamu sedih berpisah dengan ayah?" tanya Bima lagi
__ADS_1
Gendis langsung tertunduk dan mengangguk pelan.
"Tidak tahu kenapa, tapi memang sedih. Karena biasanya aku pergi untuk sekolah, tapi sekarang pergi untuk hidup bersama orang lain" jawab Gendis.
Bima tersenyum dengan tangan yang semakin mengeratkan genggaman tangan nya.
"Jangan bersedih, kita masih bisa pulang kerumah ayah. Tidak jauh kan, hanya satu jam juga" ucap Bima.
"Tapi boleh kan jika sesekali menginap dirumah ayah. Aku tidak tega membiarkan dia sendirian." pinta Gendis. Wajahnya terlihat sendu, namun ketika Bima mengangguk, senyum langsung tergambar di wajah cantiknya.
"Kapapun kamu mau sayang. Aku tidak akan melarang. Bahkan jika aku sedang keluar kota, kamu juga akan aku titipkan pada ayah" jawab Bima
"Benarkah, kapanpun aku mau?" tanya Gendis dengan senyum yang semakin melebar.
"Iya..." jawab Bima
Gendis langsung merangkul lengan Bima dan merebahkan kepala nya dibahu suami nya itu. Membuat Bima tersenyum dan mengusap kepala Gendis dengan penuh sayang.
"Terimakasih, aku beruntung menikah denganmu" ucap Gendis
"Terimakasih nya nanti saja. Didalam kamar" bisik Bima.
Gendis langsung melebarkan matanya mendengar itu. Bahkan dia langsung menjauhkan diri nya dari Bima. Membuat Bima terkekeh geli, apalagi ketika melihat wajah Gendis yang merona dibalik riasan nya.
Supir yang membawa mereka hanya pura pura tidak mendengar dan terus memandang kedepan tanpa berani melirik.
...
Satu jam kemudian, mereka sudah tiba didepan rumah Bima. Terlihat eyang putri bersama dengan Lolita sudah berdiri untuk menyambut mereka. Juga dikelilingi oleh beberapa orang tua dan juga para pelayan yang membawa sesuatu di tangan mereka.
Gendis turun dari dalam mobil dibantu oleh dua orang pelayan, karena memang, gaun pengantin nya sungguh sulit untuk dibawa gerak.
Mereka berjalan masuk menuju rumah, dan langsung disambut dengan lemparan kelopak bunga dan juga beberapa taburan seperti untuk tepung tawar pengantin.
Sungguh, Gendis hanya bisa pasrah dengan perlakuan ini. Sejak sebelum mereka menikah, sudah entah apa saja yang harus dia lakukan. Eyang putri memang penuh dengan aturan.
Bima dan Gendis berdiri tepat dihadapan eyang putri dan para orang tua yang lain nya.
Seorang pria paruh baya langsung membacakan sebuah doa seraya melakukan prosesi tepung tawar pada mereka.
Menaburkan sesuatu dan juga memercikkan air kearah mereka masing masing. Dan itu bergantian dengan eyang putri.
"Selamat datang dirumah baru kamu. Semoga kamu bisa betah dan menjadi istri yang baik untuk cucu ku" ujar eyang putri.
Gendis tersenyum dan mengangguk seraya mencium punggung tangan eyang putri. Dan lagi lagi, eyang putri meletakan tangannya di atas kepala Gendis seraya membisikkan sebuah doa disana. Entah apa, Gendis tidak tahu.
Dan setelah pada Gendis, kini bergantian pada Bima.
"Jadi suami yang baik dan bertanggung jawab. Bimbing istri kamu dengan baik. Jangan lupa berdoa untuk memulai semua nya" ujar eyang putri
"Baik eyang" jawab Bima seraya mencium punggung tangan nya. Dan eyang putri juga mengusap lembut pundak kokoh cucu semata wayang nya itu.
Seorang pelayan yang sejak tadi memegang dua buah cawan langsung menyerahkan nya pada eyang putri.
Eyang putri menyerahkan satu pada Bima, dan satu lagi pada Gendis.
__ADS_1
"Minum dan habiskan" ujar eyang putri.
Gendis melirik Bima sekilas. Dan kembali melirik air minum nya. Baunya terasa menyengat, seperti jamu.
Mungkinkah ini jamu.
Tapi jamu apa??
Gendis ingin menolak, tapi ketika melihat pandangan eyang putri dia jadi takut. Dan akhirnya mau tidak mau Gendis langsung meminum jamu itu dengan menahan nafas. Rasanya aneh, kelat dan juga sedikit asam. Sangat sulit untuk mengungkapkan nya.
Lolita yang sejak tadi memandang mereka terlihat tersenyum simpul. Dan Bima tahu jamu apa ini sebenarnya.
"Pergilah beristirahat" kata eyang putri lagi.
"Terimakasih eyang" jawab Gendis.
"Selamat datang dirumah Bima Gendis. Hati hati dengan Bima ya. Dia sedikit buas jika didalam kamar" goda Lolita saat Bima membawa Gendis berjalan didepan nya.
"Kamu membuat nya takut Loli" sahut Bima
Lolita tertawa geli mendengar itu.
"Semangat" gumam nya dengan senyum yang menggoda.
Gendis sampai menunduk malu mendengar itu. Tidak tahu kah mereka jika saat ini jantung nya memang sudah bergemuruh hebat.
Meski hal itu bukan lagi suatu hal yang tabu, tapi tetap saja ini adalah yang pertama kali untuk dia.
Bima membawa Gendis menuju kamar nya di lantai atas.
Mereka menaiki tangga dengan perlahan lahan karena gaun Gendis yang memang berat dan panjang. Sedari tadi tangan itu tidak lepas saling menggenggam satu sama lain.
Entah kenapa semakin mendekati kamar, hawa ditubuh mereka sama sama meningkat dan terasa panas. Bukan panas karena gerah, tapi serasa ada sesuatu yang bergejolak didalam tubuh masing masing.
Nafas Bima bahkan sudah terasa bergemuruh.
Entah jamu apa yang diberikan oleh eyang, tapi dia tahu, perasaan ini pasti karena ramuan itu.
Saat tiba didepan pintu kamar, mereka langsung saling pandang dengan hasrat yang mulai keluar. Apalagi ketika Bima membuka pintu kamar nya. Kamar yang menampakkan kamar pengantin yang sudah dihias dengan begitu indah. Bahkan lampunya juga meredup dan temaram. Aroma membuai langsung menguar dihidung mereka.
Wajah Gendis sudah merona bahkan hanya dengan membayangkan apa yang akan terjadi malam ini.
Bima membawanya masuk, dan ketika masuk kedalam, aura aneh itu semakin menguat.
"Gendis" panggil Bima. Suara nya sudah terdengar begitu berat
"Izinkan aku memiliki mu malam ini" pinta Bima
Gendis mengangguk pelan dan tersenyum tipis. Nafasnya juga sudah terasa berat. Aneh sekali...
Bima tersenyum dan langsung mendekatkan wajahnya pada wajah Gendis. Mencium bibir itu dengan hangat dan sekilas
"Terimakasih sudah menjadi istri ku. Semoga kita bisa selalu saling mencintai dalam suka dan duka. Aku mencintaimu" bisik Bima
"Aku juga mencintai kamu" balas Gendis, dan hanya terdengar seperti gumaman saja, namun terasa begitu menggoda ditelinga Bima.
__ADS_1
Hingga akhirnya, dimalam itu, menjadi malam pertama bagi mereka berdua untuk memulai semua nya. Memulai kehidupan baru yang lebih menantang dan penuh dengan ujian.
Meski pertemuan mereka hanya sebentar, meski rasa cinta mereka juga baru seumur jagung, namun mereka berharap, rasa yang datang tiba tiba ini bisa bertahan hingga selama nya, sampai mereka menua bersama.