Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan

Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan
Berbahagialah Nara


__ADS_3

Masih dimalam yang panjang, dimana suasana pesta yang semakin malam semakin meriah dan begitu sayang untuk dilewatkan. Lantunan musik romantis masih mengalun merdu, ditambah dengan suara dari para artis ternama yang mengiringi acara malam itu.


Aula gedung tempat pesta itu kini sudah sedikit lengang, namun bukan lengan dari para tamu, melainkan lengang dibagian tengah karena sebentar lagi acara pemotongan kue dan pesta dansa akan digelar.


Ya, kue dengan tinggi dua meter itu berdiri dengan megah, kue bewarna putih gold yang terlihat begitu mewah dan elegan. Dibeberapa sisi lagi lagi ada hiasan seperti bunga mawar. Membuat semua terlihat lebih indah dan menakjubkan.


Malam ini para tamu sudah berkumpul ditempat duduk masing masing. Sejak siang tadi setelah akad selesai, para tamu tidak berhenti berdatangan. Bahkan sangat banyak yang datang, mungkin Reynand dan tuan Abas mengundang ribuan tamu untuk acara yang bersifat terbuka ini. Nara bahkan sampai lelah untuk menyambut tamu yang ingin mengucapkan selamat untuk mereka.


Para tamu terbagi atas dua kubu malam ini. Kubu para senior dan kubu para rekan rekan bisnis Reynand yang masih sebaya dengan nya.


Ya, disisi meja dekat tuan Abas, saat ini dia masih begitu asik berbincang bersama tuan Renggono yang baru sempat hadir malam ini.


Sedangkan disisi sebelah kanan, ada Reyza dan Naina yang juga sudah hadir. Mereka berkumpul bersama Bima dan Gendis, dan juga Arya bersama Zelina tentunya. Tawa dan gelak canda mereka sejak tadi tidak berhenti, seolah mereka juga begitu bahagia dan menikmati pesta malam ini.


Sedangkan kedua pasang pengantin belum ada keluar, mungkin sebentar lagi. Dan itulah yang sedang ditunggu oleh mereka.


"Ternyata dunia memang begitu sempit, saya tidak menyangka jika gadis yang tuan tabrak adalah putri tuan Renggono, dan sekarang sepertinya tuan mengambil kesempatan dalam kesempitan" ledek Arya pada Bima. Membuat yang lain tertawa.


"Enak saja kau ndrong, siapa yang tahu. Aku juga tidak tahu jika tidak melihat CEO agensi itu datang ke perusahaan Dopindo" sahut Bima.


"Sudahlah, yang terpenting sekarang Bima tidak merasa sendirian datang keacara ini" kata Reyza pula.


"Hmmm... aku bahkan takut kamu tidak ingat jalan pulang lagi setelah ini Bim" ledek Naina pula.


Tawa Arya dan Gendis langsung pecah mendengar itu.


"Haiiihhh mbak, mas. Kalian memang suka sekali melihat penderitaan ku" kata Bima dengan wajah pasrah nya. Sudah dia duga, malam ini bukan hanya menyaksikan wanita idaman nya menikah, namun dia juga akan mendapatkan ledekan dari orang orang ini.


"Bukan suka Bim, tapi lebih tepat nya ke prihatin" sahut Reyza dengan tawa lucunya.


Bima langsung mendengus gerah mendengar itu.


"Untung saja Gendis mau menemani" kata Naina lagi, dan kini dia menoleh pada Gendis yang nampak anggun dengan gaun pesta nya yang bewarna merah.


"Yah, saya juga tidak tega membiarkan Bima menangis disini mbak" jawab Gendis seraya melirik Bima dengan pandangan meledek nya.


Bima langsung menarik hidung Gendis dengan gemas


"Keterlaluan" dengus Bima. Gendis hanya mencebikkan bibirnya dan memandang Bima dengan kesal. Sementara yang lain nampak tersenyum simpul melihat kedekatan mereka.


"Sepertinya anda sudah begitu berani tuan. Tidak takut dengan ayahnya. Sedari tadi melirik kemeja kita" sindir Arya.

__ADS_1


Bima langsung melirik kearah tuan Renggono diseberang sana yang masih asik berbincang dengan tuan Abas.


"Sudah diberi lampu hijau, jadi aman" jawab Bima begitu sombong.


"Jangan sombong dulu kamu, di izinkan bukan berarti kamu bisa seenak nya membawa anak gadis orang keluar. Kamu mau eyang putri mengamuk lagi" ujar Naina


"Enggak mbak, aku juga tahu diri kok. Lagian mau bawa kemana juga. Gendisnya mana mau. Ini juga karena dia terpaksa" jawab Bima dengan helaan nafas yang panjang.


Gendis dan yang lain langsung tertawa mendengar itu.


"Tapi kalian cocok kok" sahut Reyza.


"Bisalah langsung menikah setelah ini" tambah Arya pula, namun dengan senyum menyebalkan nya.


Bima dan Gendis langsung saling pandang canggung.


"Lah kenapa malah lihat lihatan begitu" kata Arya seraya terkekeh geli. Zelina langsung mencubit perut Arya dengan gemas. Kekasih nya ini memang suka sekali menggoda orang orang, Zelina benar benar heran melihat nya.


"Suka banget godain orang" bisik Zelina. Sedari tadi dia hanya diam, karena dia masih begitu fokus dan tidak sabar menunggu Nara dan Reynand keluar.


"Memang begitu Ze, kamu tidak tahu saja kelakuan kekasihmu ini. Entah kenapa kamu bisa mau dengan orang seperti dia" kini Bima yang gantian membalas Arya.


"Nama nya cinta, ya kan yank" ucap Arya pada Zelina, tanpa malu pada Reyza dan Naina.


Dan suara tawa dari semua orang langsung keluar melihat wajah kesal Arya.


Arya langsung memandang Zelina dengan wajah pura pura sedih nya seraya meraih tangan Zelina, namun Zelina malah terbahak melihat wajah itu.


"Udah ah, bercandaan mulu. Gak malu sama tuan Reyza dan nona Naina" kata Zelina yang ingin menarik tangan nya, namun tetap ditahan oleh Arya.


"Tenang aja Ze... sudah biasa kami. Bahkan melihat kalian yang sedang dalam masa masa begini buat kami jadi ingat masa lalu, ya kan sayang" ungkap Reyza seraya menoleh pada Naina dan mengusap wajah nya dengan lembut.


"Ya, tentu saja" jawab Naina dengan senyum nya yang manis.


"Huh... suka sekali membuat orang iri" gumam Bima dengan wajah pasrah nya. Gendis hanya melirik kedua pasangan didepan nya ini dengan canggung.


Mereka terlihat manis dan saling menyayangi. Baik Arya maupun Reyza. Ah, seandainya saja kisah cinta nya tidak buruk, mungkin dia juga tidak akan sedih melihat orang yang saling menyayangi seperti ini. Dia juga pasti bisa merasakan nya, namun kisah cinta nya malah terlalu menyedihkan.


Namun tiba tiba fokus mereka langsung teralihkan saat tiba tiba kelopak bunga mawar langsung berjatuhan ditas karpet merah tempat pengantin akan berlalu.


Pintu ruangan besar itu juga mulai terbuka dan menampakkan dua orang pengantin yang sangat memukau. Yang lagi lagi bisa membuat semua mata terperangah kagum melihat mereka.

__ADS_1


"Wah... cantik sekali" gumam Naina dan Zelina.


"Benar benar pasangan yang serasi" gumam Gendis pula.


Bagaimana tidak, penampilan Nara dan Reynand sudah seperti raja dan ratu. Ditambah dengan senyum mereka yang sama sama sangat bersinar, membuat mereka terlihat begitu indah. Benar benar pasangan yang begitu sempurna dipandangan mata semua orang.


Gaun balon Nara yang terseret indah menyapu kelopak mawar yang berjatuhan dibawah kaki nya, bahu yang terbuka dengan bulu bulu halus yang menghiasi bahu mulus itu terlihat menambah kesan anggun dan cantik, apalagi dengan kalung berlian yang ada dilehernya, serta mahkota indah diatas kepala Nara. Sangat sangat membuat penampilan Nara sangat jauh berbeda. Dia sangat anggun, cantik, lembut dan tentunya memukau.


Sungguh, dia adalah pasangan yang serasi untuk tuan muda Adiputra yang juga tidak kalah tampan malam ini. Bahkan senyum yang biasa tidak pernah mereka lihat, kini bisa mereka nikmati.


Senyum Nara langsung mengembang sempurna saat dia berjalan didepan meja Arya dan yang lain nya.


"Kak Nara cantik banget" gumam Zelina dengan wajah yang benar benar berbinar.


Sungguh, semua orang bahkan memandang nya dengan penuh kekaguman.


Bima bahkan tersenyum tipis melihat kecantikan Nara yang begitu memukau malam ini. Mereka memang terlihat begitu serasi.


Dan Bima, Bima hanya mampu menjadi pengagum nya saja dulu, dan hanya seperti angin lalu yang pernah membuat Nara dingin sebentar, namun setelah itu terlupakan.


Tapi meskipun begitu, dia juga begitu bahagia melihat Nara yang akhirnya juga bisa bahagia dengan cintanya. Setelah kesakitan yang selama ini dia rasakan. Dan sekarang Nara sudah bisa menjemput kebahagiaan nya.


Bima sudah rela,


dan dia sudah mengikhlaskan hatinya untuk melihat Nara bahagia.


Tidak ada kata iri atau sakit hati melihat Nara menggandeng lengan Reynand yang nampak gagah saat ini. Yang ada hanyalah harapan dan doanya, berharap agar Nara bisa selalu bahagia bersama cintanya. Dan Bima... ya, dia berharap jika dia juga akan bisa menemukan kebahagiaan nya sendiri suatu saat nanti.


Berbahagialah Nara...


"Apa kamu sedih?"


Tiba tiba perkataan Gendis langsung membuat Bima terkesiap. Dia langsung menoleh kearah Gendis yang ternyata sejak tadi bukan memperhatikan Nara dan Reynand seperti yang lain, melainkan dia lebih fokus pada Bima yang terlihat terdiam dengan wajah yang tidak bisa di artikan.


Bima tersenyum dan menggeleng, dia menoleh pada Nara dan Reynand sekilas, namun kembali lagi memandang pada Gendis.


"Aku bahagia melihat dia bahagia" gumam Bima sangat pelan, dan hanya Gendis lah yang mendengar.


"Kamu yakin?" tanya Gendis. Entah kenapa hatinya tersentuh dengan pemandangan ini.


Bima mengangguk yakin.

__ADS_1


"Dia telah menemukan kebahagiaan nya, dan aku yakin, jika aku juga pasti bisa menemukan kebahagiaanku sendiri" jawab Bima.


__ADS_2