My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Sindiran Halus


__ADS_3

Pagi harinya, Renita disibukkan dengan kegiatan membereskan rumah. Merapikan mainan anaknya berserakan dimana-mana, agar lebih sedap di pandang mata. Begitulah, kebiasaan wanita itu, jika sedang berada di rumah, tidak bisa diam. Meski, hanya bersih-bersih sekitaran rumah.


Sedangkan, Armand sendiri sudah stay di teras rumah dengan layar lipat di depannya. Dia harus mengecek beberapa laporan yang di kirim oleh sekretarisnya.


''Ren, mana kopiku?'' tanya Armand setengah berteriak dari tempat duduknya.


''Memang kamu minta kopi, Mas?'' tanya Renita balik.


''Tidak,'' jawabnya singkat.


Renita memutar bola matanya malas. ''Kalau tidak, kenapa bilang begitu?''


''Kode, Sayang....''


''Nanti, nanggung ini.'' Renita kembali melanjutkan acara bersih-bersihnya.


''Asaalamau'alaikum....''


Renita kembali menghentikan pekerjaannya, dia menyorot tidak suka pada orang yang pagi-pagi sudah bertamu ke rumahnya.


''Walaikumsalam,'' jawab Armand, ''Eh, bude, mari silahkan duduk.'' Armand menyambut ramah kedatangan istri dari kakak ayah mertuanya.


Ratna datang bersama putrinya, Nesa. Mereka ingin memastikan, kebenaran kabar yang mereka dengar kemarin. Kalau keponakannya kemari membawa seorang bayi yang di sebut 'anak.'


Nesa menatap penuh damba pada laki-laki yang tengah sibuk dengan layar lipatnya. Meskipun raut wajahnya, terkesan cuek. Tapi, tak menghilangkan aura ketampanannya.


''Kapan datang?'' tanya Ratna berbasa-basi.


''Kemarin, Bude,'' jawab Armand singkat. Dia berusaha menunjukkan keramahannya, meski sang istri nampak menunjukkan reaksi yang berbeda.


''Ren, kamu gak ingin menyalami budemu ini?'' tegur Ratna yang melihat keponakannya masih asik dengan pekerjaannya. Seolah kedatangannya tak pernah ada.


''Oh, iya, Bude.'' Renita menunjukkan senyum penuh kepalsuan.


''Haduh, itu bola matanya hampir copot. Sangking asiknya memandangi milik orang.''


Renita bukan tidak menyadari, jika sepupunya mengagumi suaminya. Sadar sangat sadar, dia membiarkan saja. Malas rasanya berbasa-basi dengan dua wanita ini. Tapi, semakin di biarkan sepupunya ini semakin menjadi. Yang terang-terangan menunjukkan kekagumannya.


Nesa gelagapan sendiri ketika mendengar sindiran halus itu. Dia segera mengalihkan pandangannya ke arah lain.


''Bude, mau apa? Pagi-pagi sudah kemari. Memang gak masak?'' tanya Renita.

__ADS_1


''Eh, sudah dong, Ren. Iya, 'kan, Nes?'' Ratna menyenggol lengan putrinya untuk meminta persetujuan.


''I-iya, tadi aku ikut bantu ibu, jadi cepat selesai,'' kata Nesa dengan nada di buat sehalus mungkin.


Renita menaikkan sebelah alisnya. 'Ada apa dengan wanita ini? Kenapa nada bicaranya di buat-buat seperti itu, mau menggoda laki gue? Hadapi dulu nih, Istrinya. Orang gak waras seperti Mita aja gue lawan. Apalagi modelan menye-menye kek dia gue telen.' batin Renita dengan menahan dongkol di hatinya.


''Terus ngapain pagi-pagi sudah kesini?'' tanya Renita dengan ketus, ''Mau jadi wartawan dadakan?''


''Ren,'' Armand memperingati istrinya.


''Diem! Lanjut kerja. Ini urusanku,'' sahutnya tak kalah ketus.


Armand mengunci mulutnya rapat-rapat. Dia tidak ingin ikut terkena imbas amukan banteng betinanya. Bisa berakibat fatal untuk nasib kebanggaannya.


''Renita, kita mau nyapa kamu. Masa nggak boleh. Lama nggak ketemu, 'kan?'' Nesa mendekati sepupunya, seolah menunjukkan hubungan keduanya sangatlah dekat.


Padahal, mereka tak pernah akrab. Nesa yang selalu iri terhadap Renita yang selalu lebih unggul darinya, membuat wanita itu meng-klaim, Renita sebagai saingannya dalam hal apapun.


Renita memutar bola matanya malas.


Hehehe...


''Ya ampun, anak mama bangun sendiri.'' Renita menyambut riang putranya yang tengah merangkak ke arahnya.


Dia membawa putranya ke dalam gendongannya lalu memperkenalkan kepada budenya.


''Nih, Bude, Vello anakku. Ganteng, 'kan? Seganteng bapaknya.''


Armand berusaha menahan senyumnya, ketika mendengar sang istri memuji dirinya secara tidak langsung.


Sepasang ibu dan itu saling pandang. Ternyata, yang mereka dengar bukan kabar burung semata, tapi kenyataan.


''Perasaan kamu baru setengah tahun menikah ya, Ren? Kok sudah punya anak sebesar ini.'' Pertanyaan Nesa menyimpan maksud terselubung.


Bukannya mati kutu, justru Renita semakin getol menunjukkan keberadaan putranya.


''Memang iya, itu artinya suamiku jos gandos. Sekali tancap langsung jadi,'' tutur Renita dengan bangganya.


Wajah Armand sudah memerah. Bahkan, sampai ke telinganya karena menahan malu. Ketika mendengar kalimat frontal istrinya.


''Kebobolan kok bangga,'' cibir Ratna dengan mencebikkan bibirnya khas member lambe julid.

__ADS_1


''Harus dong, Bude. Setidaknya, aku tahu laki-lakinya bertanggung jawab dengan langsung menikahi aku. Daripada kumpul kebo berkali-kali. Tapi nggak tahu kapan di nikahinya.''


Nesa benar-benar tertohok mendengar sindiran sepupunya. Dia mengepalkan tangannya kuat, menyimpan kekesalan mendalam di dalam hatinya. Pasalnya, selama ini, hanya Renita yang mengetahui semua perbuatannya bersama kekasihnya.


Dia semakin kesal, ketika Renita menyeringai licik ke arahnya.


''Yang penting Nesa tidak seperti itu. Iya, 'kan, Nes?''


Nesa segera mengalihkan pandangannya kepada ibunya.


''I-iya, Bu.'' Nesa gelagapan menjawab pertanyaan itu.


'Cih, tidak tahu saja. Putrinya sendiri lebih parah dari aku.' Renita berdecih dalam hati.


''Nah, sekarang bude sudah dapat, kan? Yang bude cari. Bude boleh kok pergi dari sini. Boleh banget malah. Tuh, pagar rumah Renita terbuka lebar. Monggo....''


Ratna semakin kesal saat keponakannya mengusir dirinya secara terang-terangan di depan Armand. Niatnya, kemari ingin mempermalukan keponakannya ini, justru dia yang dibuat keki oleh mangsanya.


''Pagar rumahmu, 'kan memang tidak ada gerbangnya,'' ucap Ratna dengan ketusnya.


''Lah, makanya itu. Tidak usah repot-repot buka pintu, langsung keluar saja. Jangan lupa! Berita hari ini, di sebar luaskan ke seluruh kampung ya, Bude. Biar aku jadi artis dadakan.'' Renita semakin gencar membuat budenya kesal.


Baginya, ada kepuasan tersendiri bisa membalas wanita ini. Semalam, dia sempat mendengar cerita dari Bi Siti, tetangga belakang rumahnya. Kalau selama ini, Bude Ratna sering menyebar gosip yang tidak-tidak mengenai dirinya yang menikah mendadak pada waktu itu. Dengan teganya, Ratna mengatai dirinya wanita simpanan atasannya sampai dia hamil. Bahkan, dengan mudahnya men-judge bapak ibunya tidak becus mengurus anak sampai putrinya seperti itu.


''Ayo, Nes, kita pulang! Ibu bisa darah tinggi, lama-lama berada disini,'' kesalnya dengan menarik paksa tangan putrinya.


Nesa hanya bisa menuruti ibunya. Walau sebenarnya, dia enggan. Dia masih ingin berada di dekat Armand, mengajaknya ramah-tamah. Tapi dia tak bisa membantah, bisa-bisa dia yang kena sembur.


''Kalau darah tinggi, makan timun yang banyak, Bude,'' teriak Renita karena budenya sudah berada sedikit jauh dari tempatnya.


''Satu lagi, pacarnya suruh cepat melamar. Sebelum keterusan, bisa berabe ntar kalau kelamaan,'' lanjutnya lagi dengan nada yang sama.


Nesa langsung memberi tatapan permusuhan kepada sepupunya, kilat amarah tergambar jelas dimatanya. Tapi Renita tidak peduli, dia malah menjulurkan lidahnya untuk membalas tatapan itu.


''Babay, Aunty Nesa.'' Renita menggerakkan tangan mungil putranya, melambai ke arah mereka.


Nesa semakin kesal pada ibu satu anak itu. Senyumnya terkesan sedang mengejek dirinya.


''Ren, sudahlah! Mereka sudah pergi juga.'' Armand kembali memperingatkan istrinya.


''Mereka siapa?''

__ADS_1


__ADS_2