My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Nasehat Sahabat


__ADS_3

''Apa ini?''


Armand terkejut ketika dua buah benda mirip amplop di lemparkan kepadanya. Dia mendongak menatap si pelaku.


Rio menyilangkan tangan di dada dengan menatap kesal pria didepannya


''Undangan pernikahanku untukmu dan orang tuamu,'' ketusnya.


''Kau beserta keluargamu harus datang ke acara akadku. Bagaimanapun juga, ini terjadi karena ulahmu,'' kata Rio masih dengan tatapan yang sama.


''Tapi kau suka 'kan?'' goda Armand. Sebisa mungkin dia berusaha menahan tawanya agar tidak meledak.


Wajah pria bermata sipit itu, semakin keruh saja, setelah mendengar godaan itu. Jika tidak mengingat pria ini, sahabat terbaiknya. Mungkin dia sudah mengahajarnya sedari kemarin.


Peristiwa pengkhianatan beberapa tahun lalu, sudah mengubah banyak tentang Rio. Selain, kebenciannya yang berlebihan terhadap perempuan. Laki-laki itu juga memiliki arogansi yang cukup tinggi. Dia tidak suka ada orang yang terlalu ikut campur dengan hidupnya, terutama soal pasangan.


''Kau masih marah padaku, Yo?'' tanya Armand.


Dia beranjak dari meja kerjanya lalu duduk disamping sahabatnya.


''Percayalah! Dia wanita berbeda dari para wanita yang pernah kau temui.'' Armand menepuk pelan pundak Rio.


Rio menghela nafas berat untuk melepas kegundahan yang ada dalam hatinya. ''Aku juga merasa seperti itu. Hanya saja, aku tidak yakin, apa aku bisa menjalani rumah tangga dengan orang yang baru aku kenal? Sedangkan Katty, wanita yang sudah bersamaku selama dua tahun saja, berani selingkuh. Apalagi ini?''


Armand paham betul, jika sahabatnya masih memiliki trauma untuk memulai sebuah hubungan. Dia menjadi saksi, bagaimana terpuruknya sang sahabat kala itu. Hampir setiap malam, dia menghabiskan waktunya di Bar. Hanya untuk menenggak minuman laknat sampai tak sadarkan diri. Hingga berakhir dengan rancauan penuh umpatan dan makian yang di tujukan kepada mantan tunangannya.


''Itu artinya, kau sudah tertarik dengannya?'' tebak Armand.


Rio mengedikkan bahunya saja, ''Entahlah.''


''Yang penting sekarang, jalani saja dengan baik. Bersikap baiklah padanya, Yo. Jangan terlalu cuek apalagi kasar padanya,'' nasehat Armand.

__ADS_1


Rio hanya diam saja, terkesan tak peduli. Tapi, Armand yakin sahabatnya itu mendengar perkataannya dengan jelas.


''Kau sudah berjanji 'kan sama Mami? Apa kau ingin mengecewakannya?'' Armand terus mempengaruhi pikirannya.


Dengan terus mengingatkan akan janji Rio pada ibunya waktu itu.


...----------------...


''Nih, buat kalian.'' Reva menyerahkan tiga buah undangan pada ketiga wanita yang sedang berkumpul.


''Wuih, loe jadi kawin?'' Dania memekik saat menerima benda itu.


Orang-orang yang ada di ruangan itu mendekat karena mendengar suara lantang dari Dania.


''Nya, loe kok lama-lama mirip si Wina, ya. Mentang-mentang kalian berdua saudara ipar,'' celetuk Renita yang kebetulan juga berada disana.


Hari itu, dia mengunjungi suaminya di kantor. Mumpung si Vello lagi diculik omanya. Renita memanfaatkan kesempatan ini untuk berkumpul dengan ketiga cs-nya dengan nyaman.


''Cuma mereka bertiga doang, nih. Yang di kasih undangan,'' sindir Siska yang masih berada disana, diangguki karyawan yang lain.


''Ini acara akad nikah gue, Mbak. Dilangsungkan di rumah gue yang di kampung. Kalau kalian mau? Gue mau ngasih. Tapi ongkos di tanggung sendiri,'' jawab Reva dengan entengnya.


Mereka semua terdiam, jika untuk itu mereka akan berfikir seribu kali. Karena mereka semua kebanyakan anak rantau, ada juga ibu rumah tangga dengan kebutuhan yang seabrek.


'' Tapi, tenang... Di kampung cuma buat akad doang, kok. Setelah itu, cuma syukuran kecil-kecilan. Sesuai permintaan kedua orang tua gue. Makanya, gue cuma ngasih undangan ke para Sultan ini.'' Reva menunjuk ketiga cs-nya, ''Pestanya tetap diadakan disini. Jadi, gue undang pas resepsi aja, ya, kalian.''


''Siplah, pokok undang kita,'' kata Siska lagi.


''Eh, Va. Calon loe yang kemarin berantem sama loe di depan lobby itu bukan?'' tanya Melly tetangga kubikelnya, memastikan.


''Kalian berdua masih sering berantem?'' tanya Renita.

__ADS_1


''Masih, kemarin malah jadi tontonan gratis buat kita.'' Wina bersuara setelah sedaritadi hanya menjadi pendengar.


''Mirip berantemnya anak kecil lagi. Habis berantem akur lagi,'' sambung Dania, ''Asal loe tahu, Ren. Si Doni kemarin kek cemburu gitu, pas lihat Reva sama calonnya.''


''Masa, sih?'' tanya Renita tak percaya.


Pasalnya dia tahu, bagaimana sikap Doni pada sahabatnya selama ini, terlalu cuek terkesan tak peduli dengan apapun yang dilakukan Reva.


''Halah, lagu lama itu,'' ujar Siska.


Sama halnya dengan Reva, dia juga tidak percaya mendengarnya. Jika, memang iya, kenapa kemarin-kemarin, sewaktu dia masih mengerjarnya. Laki-laki itu, terkesan dingin padanya.


Sekarang, ketika dia akan menjadi milik orang lain. Dia malah menunjukkan kecemburuannya.


'Apa Doni sudah ada rasa sama gue?'


''Jangan baper, Va! Ingat calon.'' Wina memperingati sahabatnya.


''Benar, tuh. Apa yang dibilang sama, si Wina. Apalagi do'i pernah di khianati sama tunangannya dulu. Loe mesti hati-hati, Va. Kalau bisa, loe harus bisa menyembuhkan rasa traumanya,'' timpal Renita.


''Jangan bilang, loe masih ada rasa sama si Doni?'' selidik Dania


''Eh, ng-nggak kok,'' sangkal Reva, dia gelagapan sendiri dibuatnya.


Tak dapat di pungkiri, rasa itu masih ada. Dan kini, dia sedang berusaha untuk membuang jauh-jauh perasaan itu.


...----------------...


Maaf ya, jika kata-katanya bikin pusing. Otak sama tangan lagi tidak sinkron.


Jangan lupa dukungannya ya, sebar bunga kalian sebanyak-banyaknya. Biar wangi novel ini bisa di cium banyak orang

__ADS_1


See you next part., babay...


__ADS_2