My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Kisah Dania 8: Apa Cinta Sebodoh ini?


__ADS_3

manusia yang paling


Paling memuja kamu


Manusia yang paling mengerti kamu


Ku manusia yang paling


Paling mencintaimu


Manusia yang paling terima kamu


Hoo...


Ku terima


Walau kamu seringkali oh menggila


Walau kamu slalu saja nakal lagi


Ku tak apa


Bila kamu bohong lagi ku tak apa


Aku tahu kamu pasti balik lagi


Memang cinta ya sebodoh ini


Ku manusia paling naif


Percaya cinta sejati


Manusia yang gila tanpa dicinta kamu


Hoo...


Ku terima


Walau kamu seringkali oh menggila


Walau kamu selalu saja nakal lagi


Tertangkap lagi


Ku tak apa


Bila kamu bohong lagi ku tak apa


Aku tahu kamu pasti balik lagi


Memang cinta ya sebodoh ini


Memang cinta ya sebodoh ini


Memang cinta ya sebodoh... ini...


Memang cinta ya sebodoh... ini... (****)


...----------------...


Jari-jemari Dania menari lincah diatas papan ketiknya sembari mendengar lagu yang sengaja dia putar di laptopnya. Begitulah kebiasaan gadis itu, setiap kali suntuk dengan para kertas yang lumayan memusingkan. Dia akan menyegarkan pikiran dengan mendengar lagu kesukaannya.


"Psstt.... Psstt, Dania," panggil Doni dengan suara lirih.


"Apa?" jawab Dania tanpa mengalihkan pandangan dari layar di depannya.


"Gue dengar loe tunangan sama si Devan."


Sontak, Dania langsung menatap tajam pria itu. Pasalnya, dia merahasiakan ini pada semua orang di kantor. Yang mengetahui hanyalah orang-orang terdekat saja. Itupun atas kesepakatan bersama Devan.

__ADS_1


"Loe tau darimana?" tanya gadis itu dengan tatapan penuh intimidasi.


"Doni gitu loh," ucap pria itu dengan jumawa.


"Awas itu mulut sampai ember. Siap-siap gue robek."


"Gak nyangka, kalem-kalem omongannya sadis," batin Doni bergidik ngeri mendengar ancaman itu.


Dia akui, Dania yang paling pendiam diantara ketiga sahabatnya yang lain.


Pria itu mendudukkan tubuhnya di kursi yang ada di depan Dania. Dia mulai kepo sekaligus penasaran, bagaimana ceritanya si gadis aneh ini bisa sampai bertunangan dengan sahabatnya yang lebih pantas disebut Gunung Es itu. Dia ingin menggali informasi sedetail dan sedalam-dalamnya.


"Gimana ceritanya, Nya?"


"Kepo."


Doni mengerucutkan bibirnya sebal mirip anak perawan yang lagi ngambek dengan pasangannya.


"Aku cuma pengen tau, Nya. Aku penasaran. Ceritain, dong," rengeknya


Dania menghela nafas frustasi. Kedatangan pria ini semakin membuat kepalanya berdenyut. Dia mengasingkan diri kemari untuk mencari ketenangan, sebab dilantai tempatnya bekerja terlalu berisik.


"Tanya sendiri ke orangnya. Situ sahabat karibnya, 'kan?"


"Percuma gak bakal di jawab. Modelan Devan kan begitu, kek gak paham aja."


"Ya udah, kalau sama gue juga sama. Gak bakal gue jawab."


Doni hanya berdecak sebal.


"Loe kok mau, sih? Sama laki modelan dia."


Dania mengedikkan bahunya acuh, baginya pekerjaan lebih penting daripada meladeni pria ini.


"Mending sama gue, Nya."


"Ogah!'' sahut Dania cepat.


"Gue takut di PHP sama loe."


"Ora mungkin." Doni membela diri.


"Gak mungkin apanya. Noh, si Reva buktinya."


Seketika wajah Doni berubah murung. Entah sadar entah tidak, pria itu diam-diam menyesali perbuatannya dulu.


"Balik sana! Gue mau fokus ngerjain ini. Berkas ini nanti sore mesti ada di meja Pak Boss. Loe tau sendiri 'kan si Bos, gimana? Gue ogah kena amukan dia. Sana! Hus-hus-hus," usir Dania dengan menggerakkan tangannya seperti mengusir ayam.


Tanpa mengucapkan sepatah katapun, pemuda itu berlalu begitu saja dari hadapan Dania.


"Tunangan loe lagi berduaan sama cewek di ruangannya," ucapnya sebelum pergi.


Dania menanggapinya dengan abai. Dia berlagak tidak mendengar padahal sangat jelas di telinganya.


"Terserah lah, Nya. Kalau gue jadi loe gue bakal labrak mereka berdua."


"Minggat gak! Sebelum botol ini melayang ke muka loe." Dania sudah siap melayangkan botol kecap kaca kearah Doni.


Doni yang melihat itupun langsung ngacir ketakutan.


"Gadis gila! Kalem-kalem psycho.''


...----------------...


Dania menarik ulur nafasnya berulang kali, sebelum mengetuk pintu ruangan atasannya. Telinganya menangkap jelas canda tawa antar pria dan wanita di dalam sana.


"Pasti cewek yang kemarin lagi," batinnya.


"Dia bahkan gak pernah seceria ini sama gue padahal gue tunangannya," gumamnya.

__ADS_1


Wanita itu tersenyum miris, kala mengingat dirinya hanyalah tunangan jadi-jadian, yang mereka lakukan hanya sandiwara yang entah kapan akan berakhir.


"Mungkin, kemarin mereka sudah jadian."


Tok-tok-tok!


"Masuk," sahut dari dalam.


Dania menghembuskan nafasnya, sebelum membuka pintu. Dia harus bisa bersikap sebiasa mungkin, senatural mungkin seolah-olah tidak terpengaruh dengan keberadaan perempuan itu.


"Permisi, Pak.''


"Dania, silahkan masuk."


"Semua yang bapak perintah sudah selesai tepat pada waktunya." Dania menyerahkan map yang sedari tadi dalam dekapannya.


"Bagus, saya suka kerja cepatmu."


"Kalau begitu saya permisi." Dania menunduk hormat pada atasannya dan wanita yang duduk tak jauh dari Devan.


Kini, Dia bisa melihat dengan jelas rupa wanita yang sedari kemarin bersama dengan Devan. Perempuan anggun, cantik dan manis, pantas saja Devan tertarik dengannya, bisiknya dalam hati.


"Tunggu!"


Suara Devan menghentikan langkah Dania.


Wanita itu berbalik dengan senyum terbaiknya. Bagaimana pun, dia harus profesional tidak boleh mencampur adukkan pekerjaan dengan asmara.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?"


"Saya hanya ingin memperkenalkan dia kepadamu. Kenalkan, Sandra sahabatku sejak SMA hingga kuliah. Dan kami terpisah saat lulus sarjana."


"Gak nanya!" batin Dania jengah.


Dania mengangguk sopan, di balas hal yang serupa oleh wanita itu.


"Cantik juga tunanganmu, Van. Hebat juga kamu nyari calon," komentar wanita itu.


Dania cukup tersentak mendengarnya, darimana wanita ini mengetahui hal ini tapi dia segera mengubah ekspresi sebiasa mungkin. Seolah tidak terkejut sama sekali bahkan terkesan datar.


"Semoga kamu betah ya, bersanding dengan manusia es ini," ucap Sandra pada Dania.


Dania hanya mengangguk dengan senyum manisnya.


"Saya Dania, sekretaris Pak Devan."


"Saya harus permisi masih ada yang harus saya kerjakan, mari."


"Ya, silahkan. Lanjutkan pekerjaanmu Dania, sebelum atasanmu jadi singa,'' kelakar Sandra.


Yang mana hal itu, langsung disambut gelak tawa dari Devan. Tawa yang mampu mengiris hati Dania.


Dania menyandarkan tubuhnya pada pintu yang tertutup. Memejamkan mata berharap rasa perih di hatinya segera hilang, tanpa terasa setitik air mata menetes ke salah satu pipinya, tapi dengan segera menghapusnya sebelum ada yang melihat.


"Apa maksudmu dengan mengenalkan aku pada wanita itu? Aku ingin mengakhiri semua ini tapi kenapa seperti ada yang menahanku untuk tidak melakukannya?" Dania terus saja bermonolog dalam hatinya.


"Dania, ngapain kamu?" tanya salah seorang pegawai yang satu lantai dengannya.


"Eh, gak apa-apa, a-aku hanya ca-capek. Ya, aku hanya capek habis garap laporan banyak tadi, kepalaku sedikit pusing," alibinya.


Wanita itu hanya membulatkan bibirnya. "Istirahat dulu, baru kerja lagi. Jangan terlalu dipaksakan. Cari duit perlu tapi kesehatan nomor satu."


Dania merespon dengan senyumnya.


"Iya."


...----------------...


(****) Tata Janeeta: Cinta Sebodoh ini

__ADS_1


Sumbangan-sumbangan, gue udah ngamen lhoo, seikhlasnya aja.....


__ADS_2