My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Kisah Devania 11: Amarah


__ADS_3

Devan memperhatikan intens gerak-gerik sekretarisnya. Dia sengaja memanggil Dania ke ruangannya untuk menata berkas sesuai tanggalnya. Semakin diamati penampilan gadis itu semakin mirip Sandra. Mulai dari pakaian, riasan dan gaya rambut semua mirip sahabatnya. Hanya saja, bentuk tubuh wanita itu pendek mungil, sedangkan Sandra lebih tinggi berisi.


''Apa maksudmu berdandan seperti ini?" tanya Devan yang sudah berada di belakang sekretarisnya.


Karena terkejut, Dania hampir menjatuhkan tumpukan map dalam dekapannya.


"Bapak ngagetin aja, untung jantung saya sehat," kata Dania melanjutkan kembali pekerjaannya.


"Jawab aku, Dania! Apa motif mu berdandan seperti ini," tanya Devan penuh kegeraman.


"Memangnya kenapa?"


"Semakin diteliti semakin mirip dengan penampilan Sandra."


''Mentang-mentang ngabisin waktu berhari-hari sama itu cewek sampai nyamain penampilan orang," gumam Dania.


"Kenapa kamu meniru penampilannya?"


"Tidak ada alasan, saya hanya bosan, Pak Devan." Wanita itu menunjukkan senyum termanisnya meski terpaksa.


"Segera selesaikan semuanya. Jangan lupa yang atas juga," titah Devan sebelum kembali ke tempatnya.


Dania menganga tidak percaya. Dia hanya bisa meneguk ludah kasar menatap lemari yang menjulang tinggi di depannya.


...----------------...


Dania meluruskan kakinya di rerumputan sebuah taman yang terletak tak jauh dari lingkungan kantor. Tak dapat di pungkiri kakinya terasa pegal akibat ulah sang atasan, yang entah ada apa dengan pria itu. Mendadak memperlakukan Dania seperti rakyat pribumi yang di pekerjakan paksa oleh para penjajah.


Hari ini, adalah hari paling sial bagi Dania. Wanita itu diminta mengerjakan pekerjaan yang begitu membagongkan di luar pekerjaannya sebagai sekretaris.


Setelah menyelesaikan menata berkas yang mengharuskan Dania memanjat tangga, Devan masih menyuruhnya mengerjakan pekerjaan lain seperti mengepel ruangan yang jelas-jelas terlihat bersih dan rapi. Di suruh mengantar berkas penting ke lantai paling atas gedung itu dengan menggunakan tangga. Jika Dania menolak, Devan mengancam akan memberi sanksi berupa SP1 dengan dalih melanggar perintah atasan.


"Dasar Atasan Kamp**t! Kaki gue sampai lecet begini," makinya.


"Itu orang lagi PMS apa gimana, sih? Niat banget nyiksa gue." Dania menggerutu kesal sembari memijit kasar betisnya.


Sesekali, juga mengelap keringat yang menetes di pelipisnya menggunakan punggung tangannya.


"Gue sumpahin! Loe bucin sama gue, Devan. Melebihi bucinnya gue ke elo."


"Heran, salah apa gue ke dia. Perasaan gue gak ngusik dia, kerja juga udah bener. DEVAN KAM-''


"Nih, minum."


Umpatannya terhenti ketika sebuah tangan kekar menyodorkan sebotol minuman dingin ke hadapannya.


Dania mendongak untuk melihat si pemilik tangan itu.


"Kak Andrew."


Andrew hanya membalas dengan senyum manisnya.


"Minum biar hatimu adem. Gak marah-marah mulu." Andrew menegaskan pemberiannya agar Dania menerimanya.


"Makasih."


Dania langsung menenggak minuman itu hingga tersisa setengahnya.


"Kamu kenapa?"


"Pengen makan orang." Dania menjawab dengan kejudesannya.


"Kamu sebel sama siapa?''


"Atasan."

__ADS_1


"Kenapa?''


" Udahlah, Kak. Gak usah bahas manusia satu itu kalau gak pengen Kak Andrew gue jadiin pelampiasan," sungutnya.


"Oke, gak lagi."


"Kakak ngapain disini?"


"Gak sengaja lewat mau nyari makan siang malah gak sengaja lihat kamu. Ya udah, aku samperin. Taunya yang disamperin lagi marah-marah mirip...." Andrew memiringkan jari telunjuknya di area dahinya.


"Maksud kakak gue gila," teriak Dania dengan kesal.


"Kamu sendiri ya, yang ngomong," elak Andrew.


"Ih, ngeselin banget, sih jadi orang." Dania memukuli lengan Andrew bertubi-tubi.


"Ampun, Nia, ampun."


"Bodo!"


Plash!


"Awwwsshh, panas, Nia," desisnya.


"Yuk, cari makan. Katanya rasa lapar bisa membuat seseorang mudah emosi. Kamu lapar, 'kan?''


Dania mengangguk dengan wajah cemberutnya.


''Ya udah, ayoo...," ajak Andrew dengan menarik tangan Dania.


"Awwsshh."


"Kamu kenapa?" tanya Andrew dengan raut wajah khawatir.


"Sakit, perih," rintih Dania.


"Loh, sepatuku kok di lepas?" tanya Dania saat melihat Andrew menenteng kedua sepatunya.


"Naik!" titah Andrew dengan posisi membelakangi.


"Aku jalan sendiri, Kak. Aku gak apa-apa, aku masih bi-"


"Gak menerima penolakan atau aku ci"m disini. Mumpung sedang banyak pengunjung, kita bisa jadi pasangan viral," ancam Andrew dengan senyum misteriusnya.


Dania memperhatikan sekitar, benar yang dikatakan pria itu. Banyak orang disini.


"Baiklah."


...----------------...


"Hallo, Bu...." Devan mengangkat panggilan telepon dari ibunya.


"Kamu bisa bertemu ibu, sekarang, Van? Ajak Dania sekalian. Ibu ada di butik teman ibu, mau mencari baju yang cocok untuk acara pernikahanmu."


"Kenapa mendadak sih, Bu," keluh Devan, "coba bilang dari kemarin, Devan bisa atur waktu. Takutnya, jadwalku pas padat. Untungnya, sekarang aku lagi senggang."


"Kamu selalu seperti itu kalau ibu suruh. Pokoknya kalian harus kesini sekarang. Ibu tidak menerima penolakan, titik."


Tut-tut-tut!


Devan menghela nafas. Dia segera mencari Dania, yang entah kemana perginya.


Setelah bertanya kesana-kemari, akhirnya Devan menemukan titik keberadaannya. Dia segera menyusul ke taman, tak lupa dia juga membawakan sebotol jus dingin yang sempat dibelinya tadi sebagai permintaan maaf.


"Dania." Devan mengeram kesal saat melihat wanita itu tengah berada di sandaran punggung pria lain.

__ADS_1


"Kenapa kau selalu membuat amarahku bangkit."


Dengan tergesa, pria itu segera menghampiri dua insan itu.


"Lepaskan!"


...----------------...


"Dania, kamu semakin berat. Sepertinya, bobot tubuhmu bertambah."


"Maksud Kak Andrew aku gendut," teriak Dania tepat di telinga pria itu.


"Aduh, Nia, pengang telingaku."


"Salah sendiri menyinggung pembahasan paling sensitif bagi pe-rem-pu-an," kata Dania dengan mengeja kalimat terakhirnya.


"Apa? berat badan?"


"He,em.''


Andrew berdecak, kenapa wanita begitu rumit, pikirnya.


Kedua orang itu terus saja bercanda tanpa menyadari ada sepasang mata tajam yang mengawasi mereka dari kejauhan, hingga tiba-tiba....


"Lepaskan!" Devan berteriak dengan wajah berangnya.


"Pak Devan?" Dania tak dapat menutupi rasa terkejutnya ketika melihat kehadiran atasan sekaligus tunangannya.


"Turun Kamu!" Devan menarik kasar tangan wanita itu hingga turun dari gendongan Andrew.


"Awwshh," desisnya dengan menahan perih pada kakinya.


"Jadi ini yang kamu lakukan di belakangku! Bermesraan dengan pria lain, sedangkan statusmu sendiri sudah bertunangan," teriak Devan berapi-api.


Matanya yang memerah semakin menujukkan jika emosi pria itu berada puncak tertinggi.


Dania semakin tidak mengerti dengan pria ini. Kenapa membahas masalah ini, sadarkah dia? Padahal dia sendiri tak pernah mempermasalahkan kedekatan Devan dengan wanita bernama Sandra itu. Lantas, kenapa Devan semarah ini melihatnya dekat dengan Andrew.


"Dan kau!'' Devan menunjuk wajah pria di depannya.


" Jauhi milikku!" geramnya.


Dania hanya terkekeh sinis mendengarnya, patut di acungi jempol akting seorang Devan, bahkan pria ini lebih pantas menjadi seorang aktor daripada menjadi asisten CEO.


"Kalau aku tidak mau?" tanya Andrew dengan gaya pongahnya.


"Kau!"


"Sebelum janur kuning melengkung, Dania masih milik abangnya. Jangankan kalian yang sebatas tunangan yang menikah pun bisa bercerai."


BUGH!


Andrew menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya. Dia bangkit dan melayangkan balasan pada pria itu. Alhasil, perkelahian antara pria dewasa itupun tak bisa terelakkan.


"STOP! HENTIKAN!''


Seolah tuli, dua pria itu masih melanjutkan aksi perkelahiannya. Merasa percuma, Dania nekad melerai dua pria itu.


Bugh!


"Awwww...."


''DANIA!''


...****************...

__ADS_1


Semoga kalian gak pusing ya, baca part ini. Agak belibet seperti pikiranku hehehe...


Jangan lupa ritual malam jum'at butuh suntikan kembang sama kopi buat nyari wangsit.


__ADS_2