My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Kisah Devania 14: Permintaan Sekar


__ADS_3

Dania berdiam diri cukup lama di tempatnya. Hatinya bimbang, apakah dia harus meninggalkan tempat ini atau tetap berada disini menunggu hingga Sekar sadar.


Ada setitik penyesalan yang menyelimutinya. Seandainya, ia tidak terbawa emosi sesaat, pasti saat ini wanita paruh baya itu masih baik-baik saja. Tapi, sudut hatinya yang lain menolak keras rasa itu. Ini bukan sepenuhnya salah dirinya, Devan juga ikut andil atas tindakannya kali ini. Pria itu tidak memberitahukan jika ibunya mempunyai riwayat penyakit seperti itu. Andai saja, dia jujur sedari awal. Dania akan menimbang-nimbang keputusannya, tidak gegabah seperti ini.


Deringan ponsel yang berada di genggamannya menyentak lamunan Dania. Dia segera mengangkat pangilan itu tanpa melihat identitas si pemanggil.


"Hallo.''


"Dania, pulang sekarang!" Pekikan keras dari sang abang berhasil membuat telinganya berdengung sampai Dania harus menjauhkan benda itu.


''Ada apa, Bang? Gak usah marah-marah, aku lagi gak mood berantem," jawabnya dengan lesu.


"Pulang sekarang! Tidak ada bantahan atau alasan apapun. Abang mau membicarakan masalah pernikahan mu sekalian ajak calon suamimu.''


Entah kenapa, hati wanita itu mendadak resah. Apa mungkin sudah terbongkar semuanya, bisiknya dalam hati.


''Aku masih di Kota B, Bang. Paling lambat sore sampai rumah.'' Dania berusaha tenang menghadapi pria yang tengah emosi itu.


''Abang gak mau tau, Dania. Kamu harus pulang sekarang juga. Jika tidak, rumah akan abang kunci dan kuncinya abang yang pegang," ucap David tanpa mau di bantah.


''Ya, gak bisa gitu, dong, Bang. Aku tidur di mana? Semua barangku ada di dalam," sanggah Dania tidak terima.


''Abang tidak peduli."


TUT.


Dania memandang sendu ponsel yang menggelap. Kalau sudah begini, dengan terpaksa dia harus menuruti perintah David.


"Mending manut daripada tidur di luar."


Baru saja hendak melangkah, suara suster menghentikan langkahnya.


"Apa disini ada yang bernama Dania?''


"Saya, Sus." Dania segera menghampiri wanita berseragam putih itu.


''Ibu Sekar sudah sadar. Di ingin bertemu dengan wanita yang bernama Dania.''


"Dimana dia?''


"Mari saya antar."


Dania mengikuti langkah wanita itu hingga tiba di sebuah ruangan bertuliskan 'R. Melati'.


''Silahkan masuk. Tolong jaga emosi pasien ya, Mbak. Jangan sampai membuatnya stres." Si suster berpesan sebelum Dania memasuki ruangan itu.


''Iya, Sus."


Dania menghela nafas sebelum memutar knop pintu itu. Perlahan namun pasti, dia melangkah pelan memasuki ruangan itu.


''Dania,'' panggil Sekar dengan nada lemahnya.


"Bu."


Dania mendudukkan dirinya pada kursi yang berada di samping ranjang pasien. Dia menggenggam tangan pucat itu.

__ADS_1


"Maafkan aku, Bu,'' ucap Dania dengan mengecup punggung tangan itu bertubi-tubi, air matanya tidak bisa di bendung lagi.


"Aku sudah membuat ibu seperti ini, maafkan aku, hiks-hiks.'' Wanita itu terisak begitu pilu.


''Sudah, tidak apa-apa. Ini bukan salah kamu. Ibu saja yang terlalu capek mengurus ini itu sendiri, padahal ibu bisa menyuruh orang."


Masih ada seutas senyum yang terlukis di wajah pucatnya.


Hati Dania semakin teriris, terbuat dari apa hati wanita ini. Begitu mudahnya memaafkan orang yang sudah membuatnya terbaring lemah seperti ini.


"Ibu ada permintaan, apa kamu mau menurutinya?"


"Apa, Bu?''


"Jadilah menantu ibu."


Dania menegang di tempatnya, perkataan itu seakan terngiang di telinganya.


"Tapi, Bu....''


"Devan tidak mencintaimu." Sekar menyela cepat ucapan Dania.


Gadis itu mengangguk pelan.


"Dania, cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu. Kuncinya hanya satu sabar. Hanya kamu yang ibu percaya untuk menjadi pendamping putraku.''


Tanpa keduanya sadari, Devan mendengar semuanya dari luar. Pria itu menyandarkan tubuhnya pada dinding dengan mata berkaca-kaca.


"Saya bukan wanita yang mempunyai sejuta kesabaran untuk menunggu seseorang. Pak Devan lebih bahagia bersama wanita lain, bukan dengan saya."


Dania memejamkan mata, air matanya mengalir deras tanpa bisa di cegah.


"Ibu tau, kamu masih mempunyai rasa pada putraku. Buat dia bertekuk lutut di hadapanmu. Ibu akan membantumu," pintanya dengan pancaran penuh harap.


''Mau ya meneruskan hubungi ini. Ibu mohon." Sekar menggenggam erat tangan gadis itu.


Dania bingung harus menjawab apa, Satu sisi ia tidak ingin membuat Sekar stress. Di sisi lain, dia juga tidak ingin jatuh ke dalam lubang yang sama.


Devan yang tidak tega mendengar ibunya memohon seperti itu, langsung menerobos masuk begitu saja.


''Saya-''


''Aku bersedia, Bu,'' sela Devan cepat.


Dania langsung menatap tajam pria itu. Tangannya terkepal kuat. Ingin rasanya, dia mencakar wajah tampan itu.


"Kamu serius, Van.''


Devan mengangguk mantap.


"Aku akan berusaha untuk mencintai Dania. Aku ingin memperbaiki semuanya."


Dania yang terlanjur kesal memilih memalingkan muka ke arah lain. Rasanya, dia ingin segera pergi dari tempat menyesakkan itu.


"Lakukan untuk dirimu sendiri, Van. Dari dalam hatimu, jangan demi Ibu," pinta Sekar.

__ADS_1


Lagi-lagi, pemuda itu mengangguk mantap.


Dania hanya berdecih dalam hati.


Pucuk di cinta ulampun tiba, handphone-nya kembali berdering tanda ada panggilan masuk. Dania pamit untuk mengangkat telponnya terlebih dulu.


Tak berselang lama, dia kembali masuk hendak berpamitan karena David memintanya pulang sekarang juga.


"Bu, saya harus permisi. Abang menunggu saya di rumah."


''Iya, hati-hati,'' balas Sekar dengan senyumnya.


Dania mencium tangan pucat wanita itu, lalu berbalik begitu saja tanpa menghiraukan keberadaan Devan.


Sekar segera memberi isyarat kepada putranya untuk mengejar gadis itu. Devan mengangguk dan menuruti permintaan ibunya.


"Dania!" teriak Devan memanggil wanita yang sudah menjauh dari pandangannya.


Mendengar itu, bukannya berhenti. Dania malah mempercepat langkahnya, bahkan berlari untuk menghindari pria itu.


''Dania."


Devan berhasil mencekal pergelangan tangan itu dengan nafas tersengal-sengal.


"Aku akan mengantarmu, hhhh,'' ucap Devan di sela-sela nafasnya.


''Tidak perlu." Dania menyentak kasar tangannya, lalu melanjutkan kembali langkahnya.


''Aku tidak menerima penolakan."


"Aku tidak menerima paksaan.''


Wanita itu segera menghentikan taksi yang melintas.


''Kau tidak bisa egois seperti ini, Dania,'' kata Devan dengan menahan pintu taksi agar tidak terbuka.


Dania terkekeh sinis. ''Aku egois. Sepertinya, sebutan itu lebih pantas untuk bapak."


''Minggir!" Dania mendorong kasar tubuh kekar yang menghadang jalannya.


Tapi nihil, Devan tak bergeser sedikitpun dari tempatnya.


"Lebih baik bapak menjaga Ibu Sekar, daripada membuang waktu untuk mengejar saya."


''Neng, jadi naik apa tidak?" tanya si sopir yang mungkin sudah jengah mendengarnya pasangan debat itu.


''Tidak jadi, Pak. Bapak silahkan pergi."


"Kenapa tidak dari tadi,'' gerutu sopir itu dengan menjalankan kembali kendaraannya.


"Sekarang, aku antar kamu."


Devan menarik paksa tangan Dania, kemudian membawanya pada kendaraannya.


Dania hanya memandang sengit pria itu. Tanpa bisa menolak lagi, dia terpaksa menuruti Devan diiringi kedongkolan dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2