
Disinilah Renita berada, di sebuah klinik pinggiran kota. Yang melayani penghilangan nyawa janin.
Renita sudah mendaftar, kini tengah mengantri di nomor sekian. Di dampingi Reva dengan jalan memaksa. Sejatinya dia juga ragu untuk melakukan ini, tapi sebuah tekad telah membutakan mata hatinya akan tindakan kejam itu.
Reva menatap sekeliling dengan perasaan entah, dia juga tidak tahu bagaimana menjabarkan nya?
Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak muda yang perkirakan masih kuliah di dampingi dengan pasanganny, ada juga pasangan seperti suami istri.
Tapi untuk apa? Jika memang suami istri ke tempat seperti ini. Bukankah adanya anak dalam pernikahan sebuah anugrah? Mungkin itu mereka yang mempunyai hubungan gelap, begitu pikirnya.
Renita terus menggenggam erat jemari Reva. Keringat dingin membasahi pelipis dahi juga tangannya. Menandakan, jika dia tengah gugup.
''Ren kalau ragu, mending pulang aja yuk.'' Reva mencoba membujuk sahabat nya di detik-detik terakhir. Berharap mata hati wanita itu terbuka lalu mengurungkan niatnya ini.
''Gak, gue sudah disini, gak akan mundur lagi! Gue nglakuin ini demi keluarga gue. Gue gak mau buat malu bapak ibuk gue di kampung.''
Reva menghembuskan nafas, tekad sahabatnya benar-benar bulat.
Ponsel di jaket Reva bergetar, menandakan sebuah pesan masuk.
Dania
'Va, sharelock sekarang!'
Reva melirik wanita di sampingnya terlebih dulu, sebelum membalas pesan itu. Setelah dirasa aman, dia segera memberitahukan lokasinya saat ini.
'Buruan! keburu di panggil..'
Buru-buru, Reva memasukkan kembali ponselnya. Sedang Renita tak mengetahui sama sekali apa yang di lakukan sahabatnya, ia sibuk dengan rasa gugupnya.
Seorang berpakaian seperti suster menghampiri mereka.
'' Renita Claudia..''
''Saya,'' jawab renita.
Sedang Reva, jangan ditanya, ia sudah tegang. Baru saja, dia memberitahukan lokasi mereka masa sudah di panggil?
__ADS_1
''Mari ikut saya.''
Renita mmengajak sahabatnya untuk mengikuti suster itu.
Ternyata, Renita di panggil untuk menandatangani surat perjanjian yang berisi, jika terjadi sesuatu ketika atau sesudah tindakan. Pihak klinik tidak ingin bertanggung jawab. Mereka melakukan ini murni karena permintaan pasien tanpa unsur paksaan.
Jujur, Renita semakin takut setelah membaca poin-poin dalam surat itu. Perasaan ragu menyusup ke dalam hatinya. Tapi, sekali lagi tekadlah yang memantapkannya.
Reva menyentuh tangan Renita yang hendak menandatangani surat itu. Dia menggeleng dengan tatapan memohon.
Renita membalasnya dengan senyuman, mengisyaratkan semua akan baik- saja.
Setelahnya, mereka kembali ke tempat duduknya untuk mengantri.
...----------------...
Armand berangkat ke kantor lebih pagi dari biasanya. Semalaman dia tidak bisa tidur, setelah mengetahui dua benda yang di temukannya kemarin.
"K**akak dapat ini dari mana?'' Amanda bingung melihat kakaknya menyerahkan sebuah tespack bergaris dua dan foto hasil USG.
''Dari seseorang! Sudah ini apa? Cepetan beritahu kakak," pinta Armand denga**n tidak sabarnya.
''APA! Tiga bulan? hamil?' Armand terkejut mendengar itu semua.
Berarti Keanehan-keanehan Renita selama ini sebab hamil. Kenapa Renita tak memberitahu nya? Seharusnya dia meminta pertanggungjawabannya.
Armand menambah kecepatannya agar segera sampai di kantor. Dia semakin kalut saat ponsel Renita tak bisa di hubungi dari semalam. Saat dia mendatangi, kontrakan nya juga kosong.
Kemana kamu, Renita? Tak 'kan aku biarkan kau pergi bersama anakku, batinnya geram.
Sesampainya di kantor, Armand berlari menuju ruangannya, mengabaikan setiap orang yang menyapa nya. Dipikirannya sekarang, hanya bertemu sekretarisnya untuk meminta penjelasan.
Dia langsung menuju tempat, dimana Renita bekerja tapi hasilnya kosong. Dia memanggil-manggil Renita di seluruh penjuru kantor seperti orang kesetanan.
Para karyawan yang melihat itu, bergidik ngeri melihat kemarahan bosnya. Mereka mengira, jika Renita telah melakukan kesalahan fatal.
Di tengah kekalutannya mencari Renita. Tiba-tiba Wina menghampiri dengan ekspresi yang sulit di jabarkan.
__ADS_1
PLAKK!
Wina langsung menampar keras pipi bosnya. Tatapannya tajam seolah ingin menguliti.
''Aku gak nyangka bapak sebrengsek ini! Seharusnya yang melakukan ini Renita."
''Asal bapak tahu, Renita sedang mengandung anak bapak tapi bapak malah mau menikah dengan perempuan lain. Kalo bapak memang menghamili dua cewek, mestinya bapak tanggungjawab sama dua-duanya, bukan cuma salah satunya!'' maki Wina.
Kemarahan yang ditahannya beberapa hari belakangan dia luapkan hari ini.
Banyak karyawan yang mendengar pertengkaran itu. Mereka tak percaya, jika bosnya seperti itu. Jika dilihat, bosnya seperti orang baik-baik. Tapi kenyataannya sungguh berbanding terbalik
''Saya juga baru tahu semalam! Dia tidak memberitahu saya!'' jawab Armand tak kalah keras.
Sontak keributan itu menjadi tontonan seluruh karyawan karena posisinya berada di loby.
''Karena bapak menunjukkan foto-foto dan video murahan bapak di hadapan Renita! Di tambah dia, menyaksikan sendiri, bagaimana bapak mengelak tak mau bertanggung jawab dengan wanita itu!'' nafas Wina naik turun karena emosinya
''Asal bapak tahu! Bapak mau mencari Renita di seluruh kantor sampai kaki bapak gempor. Bapak tidak akan menemukannya karena Renita sedang berada di tempat untuk menggugurkan janinnya," kata Wina dengan suara rendahnya.
Tubuh Armand menegang.
Semua karyawan yang mendengar itu menutup mulut tak percaya. Ada yang menyayangkan tindakan Renita karena sebagian dari mereka, ada yang sudah menikah bertahun-tahun tapi belum di beri keturunan.
Tanpa banyak bicara, Armand segera menarik tanmngan Wina menuju mobilnya.
''Kamu pasti tau, dimana tempatnya? Antar saya kesana! Saya tidak mau kehilangan anak saya..''
Wina segera menunjukkan lokasi yang dikirimkan Dania tadi.
Armand langsung menancap gasnya dengan kecepatan maksimal. Berulang kali dia hampir menabrak pengemudi lain, tak peduli dengan umpatan mereka. Armand tetap mengemudi dengan kecepatan di atas rata-ratanya. Di pikiran nya saat ini, dia harus bisa mencegahnya.
Semoga belum terlambat, batinnya harap-harap cemas.
Untuk Wina, mulutnya sudah komat kamit merapalkan doa. Semoga tak terjadi apa-apa padanya.
Bagaimanapun juga? Dia masih muda, masih ingin menikmati hidup.
__ADS_1
Setibanya di tempat, Armand segera memarkirkan mobilnya asal. Dengan langkah lebarnya memasuki klinik itu.
Meneriaki nama sekretarisnya seperti orang kesetanan.