My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Kisah Devania 17: Gertakan Anti-mainstream


__ADS_3

Devan semakin gencar melakukan pendekatannya dengan Dania. Meskipun seringkali diabaikan tak menyurutkan sedikitpun usaha pria itu. Semakin wanita itu mengabaikan semakin kuat pula tekadnya. Entahlah, dia sendiri bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya.


Seperti saat ini, Devan terus mengekor kemanapun wanita itu melangkah, mengabaikan tatapan aneh para karyawan yang sedari tadi memperhatikannya.


"Ciyee, bucinnya Dania," goda Wina yang melihat pemandangan itu.


"Diem, ipar gak ada akhlak," seru Dania mendelik kesal.


Dania mempercepat langkahnya hingga tiba di sebuah lorong yang jarang di lewati para karyawan maupun petugas kebersihan.


"Apa mau Anda?" tanya Dania dengan menyilangkan tangan di dada.


''Meluluhkan hatimu."


''Mimpi."


''Bapak kenapa sih? Salah minum obat apa gimana?"


"Kenapa?" Devan balik bertanya dengan tampang polosnya.


"Beberapa hari ini bapak aneh. Seperti bukan bapak yang biasanya. Bapak itu mirip laki-laki kurang belaian tau gak? Ngintilin saya kemanapun saya pergi. Saya gak nyaman, Pak. Saya lebih suka bapak yang dulu yang cuek, dingin, datar mirip papan berjalan."


''Asal bapak tau. Sikap Anda ini membuat gosip di kantor semakin berhembus kencang. Mereka mengatai saya yang tidak-tidak. Saya ganjen lah, gadis penggoda lah, sok cakep, kecentilan, dan masih banyak lagi, bahkan ada yang tega mengatakan, 'pasti target selanjutnya, Pak Armand suami sahabatnya sendiri'. Telinga saya panas, Pak. Saya bukan wanita seperti itu. Lagipula, saya juga sudah menegaskan hubungan kita berakhir, saya tidak ingin melanjutkan apapun alasannya, titik!" tutur Dania berapi-api, matanya berkaca-kaca tak tau lagi harus berbuat apa.


Dia sudah menunjukkan dengan sikapnya. Ternyata, hal itupun tidak cukup membuat Devan mengerti. Semakin diabaikan semakin menjadi.


"Mestinya, bapak senang karena bapak bisa lepas dari wanita pengganggu seperti saya. Bapak pernah bilang, 'kan? Tidak akan tertarik dengan wanita seperti saya karena bukan tipe bapak. Tapi sekarang kenyataan malah sebaliknya," ucap Dania dengan nada rendah.


''Bapak jangan seperti orang yang menjilat ludahnya sendiri."


Setelah mengatakan itu, Dania pergi begitu saja meninggalkan pria yang mematung di tempatnya.


Devan hanya menatap nanar punggung berambut sebahu yang kian menjauh. Beginikah yang dirasakan Dania dulu, kenapa sakit sekali. Disaat kita berusaha mati-matian untuk merebut hati seseorang yang disukai. Tapi pada akhirnya hanya sebuah penolakan yang didapat.


...----------------...


"Mari pulang bersamaku." Devan menarik paksa tangan Dania yang tengah menunggu kedatangan ojek online pesanannya.


"Pak, lepasin."

__ADS_1


"Pak Devan, malu dilihat banyak orang."


"Lepas!''


Dania terus berteriak di sepanjang jalan menuju parkiran dimana mobil Devan berada. Sungguh, seandainya ada tempat sembunyi ingin rasanya, bersembunyi di lubang semut sekalipun. Dia berusaha memberontak tapi tenaganya kalah kuat dengan pria ini.


Wanita itu hanya bisa pasrah saat menjadi bahan tontonan gratis banyak pasang mata yang menyaksikan acara tarik-menarik paksa sore itu.


''Masuk!" Devan mendorong kasar tubuh Dania hingga terduduk di bangku mobil, kemudian menutup pintunya dengan kasar.


Dia segera berlari mengitari mobil, lalu masuk pada kemudinya. Tanpa mengucap sepatah katapun, Devan segera menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan kota yang lumayan ramai.


''Pak, stop, Pak. Bapak jangan gila!" teriak Dania dengan panik.


Tangannya memegang erat pegangan yang berada diatas kepalanya. Tubuhnya pun ikut bergerak kesana-kemari saat melewati tikungan tajam.


''Bapak kalau mau bundir jangan ajak saya. Saya masih muda masih ingin menikmati hidup."


"Bapak, jangan diam saja! Jawab, dong. Bapak mendadak bisu ya."


Wajahnya tampak memucat karena rasa takut yang teramat sangat.


"Sekarang aku tunjukkan, inilah aku yang dulu. Aku paling tidak suka yang namanya penolakan, dan kau selalu menolakku. Aku berusaha baik-baik, kau masih pada pendirianmu. Jika setelah ini kau masih menolak, lebih baik kita mati bersama."


Mobil yang mereka kendarai memasuki kawasan hutan yang cukup sepi. Tidak ada satupun kendaraan yang melintasi tempat itu, meskipun jalannya lumayan mulus beraspal.


Hari yang mulai petang dan suara-suara binatang malam semakin menambah kengerian yang dirasakan Dania. Dalam hatinya terus saja merapal doa-doa demi keselamatan mereka.


"Sekarang, saya bertanya kepadamu untuk terakhir kalinya, apa kamu bersedia melanjutkan hubungan ini? Jika ya kita akan selamat. Jika tidak maka bersiaplah, di depan sana ada tikungan yang mana sebelah kirinya ada pembatas jalan yang berbatasan langsung dengan jurang yang cukup dalam."


''Waktumu lima menit dari sekarang."


Dania menelan ludahnya kelat, pria ini sungguh menyeramkan.


"Ku hitung mundur, lima, empat, tiga, dua, sa...."


"Aku bersedia!"


Ciiit!

__ADS_1


Devan menginjak rem mendadak hingga membuat tubuh Dania terhuyung ke depan, bahkan jidatnya langsung membentur dashboard mobil cukup keras. Beruntung, wanita itu masih bisa mempertahankan kesadarannya.


Dania menatap sekeliling, lalu menghembuskan nafas lega. Dengan tangan bergetar meraba satu per satu setiap inci tubuhnya.


"A-aku se-selamat."


"A-aku ma-masih hidup."


''Jidatmu berdarah biar ku obati," kata Devan.


"Tidak perlu." Dania menepis kasar tangan kekar yang hendak menyentuh dahinya.


"Dania," geramnya dengan menatap tajam wanita di depannya.


''Ba-baiklah. Si-silahkan."


''Good girl."


"Besok kita bertemu abangmu untuk membicarakan kembali tanggal pernikahan yang sempat tertunda."


''Secepat itu?"


''Ya lebih cepat lebih baik, sebelum kau berubah pikiran."


"Selesai. Sekarang kita pulang," kata Devan setelah berhasil membalut luka gadis itu.


"Gak, aku gak mau di supiri bapak lagi. Aku gak mau nyawaku hampir melayang dua kali," kata Dania dengan suara bergetar.


Devan tergelak kencang dibuatnya. "Aku juga tidak segila itu, Dania. Aku hanya menggertakmu. Kau masih belum tau banyak tentangku."


Dania menatap tidak percaya pria itu. Menggertak dengan cara seperti ini? Baginya, Devan sudah gila.


"Tidak usah menatapku seperti itu. Kau belum tau kehidupanku sebelum memasuki dunia perkantoran. Jalanan seperti ini sudah menjadi makanan sehari-hari bagiku."


"Sudahlah, nanti kau juga akan tau setelah memasuki kamar pribadiku. Dan untuk masuk kesana, kau harus menjadi istriku terlebih dulu," bisik Devan, kemudian menjalankan kembali mobilnya dengan kecepatan yang lebih rendah dari sebelumnya.


''Pak Devan!" Dania refleks berteriak karena peristiwa beberapa menit yang lalu masih terngiang di benaknya.


"Calm down, Honey."

__ADS_1


__ADS_2