
Dua hari sebelumnya....
Tring-tring-tring....
Tring-tring-tring
"Hallo, selamat pagi," sapa David tanpa melihat identitas si penelepon.
"Pagi, apa benar ini dengan David Guettardo kakak kandung dari Dania Guettardo?" Suara seorang wanita di seberang memastikan.
"Iya, benar. Ini siapa, ya?" tanya David.
Dia menghentikan pekerjaannya, ketika mendengar wanita ini menyebut nama adiknya. Dan suaranya seperti ibu-ibu.
"Perkenalkan, saya Sekar ibu dari Devan, pria yang tengah dekat dengan adik Anda."
"Oh, iya, saya paham. Ada apa ibu, mungkin ada yang bisa saya bantu?" tanya David dengan sopan.
"Sabtu kemarin, putra saya mengajak Dania bertemu dengan saya. Saya cocok dengan adik Anda. Dan saya ingin menjadikan Dania sebagai menantu saya." Sekar mulai mengutarakan maksudnya.
David terdiam mendengarnya. Kenapa Dania tidak pernah cerita akan hal ini. Adiknya juga tidak meminta izin kepadanya bahwa dia bertemu dengan orang tua pria itu.
"Bagaimana, Nak David? Apa Anda setuju?" Sekar mencecar dengan pertanyaannya, karena tidak mendapatkan balasan dari lawan bicaranya.
"Saya tidak bisa memutuskan, Bu. Bagaimanapun juga? Yang akan menjalaninya adik saya, jadi saya harus berembuk dulu dengan Dania," putus David setelah berfikir beberapa saat.
"Dania pasti setuju, Nak David. Saya ingin mengikat mereka ke hubungan yang halal agar mereka tidak terjerumus pada hubungan yang tidak semestinya. Saya seorang ibu, tentu saya mengkhawatirkan hal itu. Apa Nak David tidak merasakan hal yang sama seperti saya? Anda tau sendiri, 'kan? Bagaimana pergaulan jaman sekarang. Mereka rela melanggar norma yang berlaku hanya untuk yang namanya cinta, hingga mereka dengan pasrah menyerahkan harta berharga milik mereka. Tentu saja, saya tidak ingin itu terjadi," tutur Sekar panjang lebar.
Bagaimanapun caranya, Dania harus menjadi menantunya. Belum tentu ada perempuan yang seperti gadis itu, pikirnya.
David kembali terdiam, kalau dipikir-pikir ada benarnya juga ucapan wanita ini. Selama ini, dia sengaja bersikap posesif pada adiknya, tujuannya ya ini, agar adiknya tidak terjerumus kedalam pergaulan bebas.
"Baik, saya setuju," ucap David dengan tegas.
"Jadi kapan Anda akan melamar adik saya?"
Mereka terus saja berbincang,. membicarakan masalah persiapan lamaran Devan dan Dania, hingga keduanya temu kata sepakat.
"Terimakasih, ya, Nak David sudah mau menyetujuinya," pungkas Sekar mengakhiri pembicaraannya.
"Sama-sama, Bu Sekar. Saya juga menginginkan yang terbaik untuk adik saya."
Sambungan mereka berakhir.
_________
"Bang David, abang...."
Pagi-pagi sekali, Dania nekad mendatangi rumah mertua David, karena kakak dan kakak iparnya masih berada di sana.
"Abang!" teriak Dania, "aku mau bicara sama Abang."
Dugh-dugh-dugh
Dania terus berteriak sembari menggedor-gedor pintu kamar sahabatnya sekaligus kakak iparnya. Dia tidak peduli, jika nanti akan di marahi David, bahkan dia tak memedulikan orang-orang yang mungkin akan terganggu dengan keributan yang dia buat.
"Ada apa, Nia?"
Dania merotasi bola matanya, dia kemari mencari kakaknya, kenapa malah si Biang Kerok yang keluar. Dan lihatlah penampilannya, dengan pede-nya pria ini keluar hanya dengan handuk yang melilit pinggangnya, sedangkan tubuh bagian atasnya di biarkan terbuka tak tertutupi sehelai benang pun.
__ADS_1
Beruntung kamar Oma dan kedua orang tua Wina berada di lantai bawah. Jadi merek tak perlu terganggu dengan keributan pagi ini.
"Aku nyari abang bukan Biang Kerok," sewot Gadis itu.
Andrew menaikkan sebela alisnya. "Siapa?"
"Orang! Mana mungkin hantu," sahut Dania masih dengan kejudesannya.
Dia memilih mengabaikan pria kepo di sebelahnya, memilih melanjutkan aksinya menggedor-gedor pintu kamar agar penghuni di dalamnya terganggu.
"Percuma kamu meneriaki orang yang sedang adu mekanik, yang ada kamu malah di kacangin," kata Andrew dengan santainya.
Pria itu menyandarkan tubuhnya pada dinding tepat di bagian samping Dania.
"Bodo amat!"
"Abang!" teriak Dania dengan kekesalan yang memuncak.
"Aku mau ngomong penting! Kalian ngapain, sih? Masih pagi woy! si Winda masih bayi."
"Sudah ku bilang mereka lagi adu mekanik. Percuma, Nia." Andrew mengulangi ucapannya.
"Kak Andrew masih punya malu, 'kan?"
Dengan polosnya, pria itu mengangguk.
"Kalau masih punya malu mending Kak Andrew kembali ke kamar terus pakai baju. Dada kerempeng gitu sok-sokan di pamerin," cibir Dania.
Andrew melotot mendengarnya. Tanpa mengucapkan sepatah kata, pria itu kembali ke kamarnya.
"Ada apa?"
"Astaga, Abang," pekik Dania dengan menggelengkan kepala.
"Ada apa?" tanya David sekali lagi.
"Aku mau ngomong penting sama Abang. Jadi, biarkan aku masuk dulu."
Tanpa menunggu persetujuan kakaknya, Dania menyerobot masuk begitu saja.
"Astaga! Kalian benar-benar," geram Dania.
Gadis muda itu langsung berbalik arah dengan menutup matanya. Dia tidak ingin mata sucinya ternodai oleh pemandangan yang terpampang nyata di depannya
"Aku tunggu abang di sofa depan televisi. Gak pake lama!"
"Nya, tunggu!" panggil Wina.
"Apa?" Dania menyahut setengah malas.
"Ajakin si baby, ya," pinta Wina penuh harap.
"Hmmm, bawa kemari si Winda. Ogah! Gue masuk sono lagi."
"Nih, sebagai aunty yang baik harus mau mengajak keponakannya." Wina meletakkan putrinya ke tangan adik iparnya.
"Mommy cantik mau bersih-bersih dulu, habis di goyang Daddy pagi-pagi," kata Wina sebelum menghilang dari balik pintu kamar.
"Ayo, Dek. Jangan dengarkan mommy somplak." Dania menutup kedua telinga mungil keponakannya sembari menjauhi kamar itu.
__ADS_1
...****************...
"Kamu pantas menjadi ibu," celetuk Andrew yang tiba-tiba duduk di samping Dania.
Dia ikut mengajak bicara bayi mungil yang masih berusia dua bulan itu.
Dania mengabaikan kehadiran pria itu. Anggap saja, dia radio rusak, pikirnya.
"Nia," panggil Andrew pelan.
"Hmmm."
"Kalau dilihat-lihat, kita seperti keluarga kecil yang bahagia ya. Kamu sedang mengajak anak kita bermain, aku menemani kamu seperti ini. Ah, sayangnya.... Hanya sebuah khayalan. Seandainya itu nyata." Andrew menerawang jauh kedepan.
Dania memutar matanya jengah. Dia tau, pria ini sedang memancingnya tapi Dania memilih mengabaikan. Membiarkannya terus mengoceh, nanti kalau capek pasti berhenti sendiri.
"Loe gak usah ngada-ngada, Kak. Enak aja anak gue main diaku anak kita. Loe kira brojolin dia gampang, Hah!" sengak Wina.
Entah sejak kapan, wanita itu berada di belakang mereka.
"Andai, Win. Andai," sahut Andrew.
"Emang loe mau sama dia, Nya?" tanya Wina.
Dania langsung menggeleng keras. "Gue mending jomblo seumur hidup."
Raut wajah Andrew berubah suram setelah mendengar itu. Ini penolakan yang kesekian kalinya dari gadis pujaannya.
"Dengerin, Kak. Pasang telinga baik-baik, cinta gak bisa dipaksakan." Wina menepuk pelan bahu kakaknya.
"Mau bicara apa?" tanya David yang sudah berada diantara mereka.
"Apa benar abang menyetujui lamaran ibunya Pak Devan?"
"Iya, memang kenapa?"
Bukan hanya Dania yang terkejut mendengar jawaban ringan pria itu, melainkan Andrew pun sama terkejutnya.
"Kamu serius, Vid?" tanya Andrew setengah tidak percaya.
David mengangguk.
"Tapi, kenapa, Vid? Kamu 'kan tau kalau aku.... Arrrggghhh!" Andrew mengerang frustasi.
"Biasa aja kali, Kak," celetuk Wina sembari menimang bayinya.
"Diem loe!" sahut Andrew dengan kesal.
"Kenapa abang gak pernah bilang ke aku?" tanya Dania dengan menahan dongkol dalam hatinya.
"Kamu sendiri, kenapa gak cerita ke abang, kalau kamu dekat dengan laki-laki?" David membalik pertanyaan adiknya.
"Anggap saja ini hukumanmu."
Dania tak bisa menyangkal karena sedari awal dirinya memang bersalah.
"Terserahlah!" ucap Dania dengan pasrah.
Wanita itu tak menyadari, jika sedari tadi gerak-geriknya di awasi oleh Andrew
__ADS_1