
''Vello, ayo terus sayang.... Sini ke mama.'' Renita berteriak heboh menyemangati putranya yang sedang berusaha menggerakkan kakinya.
''Jangan takut! Pelan-pelan, Sayang,'' kata Renita saat melihat putranya seperti takut untuk menggerakkan kakinya.
Dan....
Brukkk!
Karena belum seimbang betul, balita gembul itu terjatuh di tempatnya.
''Huwaaa...."
''Loh, kok nangis. Kalau gak bisa gak boleh nangis. Masa anak cowok nangis,'' ucap Renita seraya menggendong putranya.
''hiks-hiks-hiks....'' Mata bulat itu sudah memerah bahkan sampai ke hidungnya.
''Udah, nggak apa-apa besok belajar lagi ya.''
Renita mengusap sisa air mata yang ada di pipi Marvello.
Di usianya yang memasuki sebelas bulan, Marvello sudah bisa berdiri sendiri tanpa penyangga. Dan mulai bisa menggerakkan kakinya meskipun baru satu langkah harus terjatuh.
''Kenapa dia?'' Armand menghampiri istrinya yang berada di ruang bermain.
''Belajar jalan tapi jatuh. Nangis, deh....''
Tampak Marvello merentangkan tangannya minta gendong ayahnya.
''Kebiasaan banget, sih, Dek. Kalau papa datang langsung minta gendong,'' tegur Renita.
''Huwaaa....''
Padahal baru terdiam tapi Marvello kembali menangis setelah mendengar teguran ibunya.
''Uluh, mama nakal ya. Papa nggak....'' Armand melirik istrinya.
Renita hanya mencebikkan bibirnya.
''Pasti sebentar lagi mama di cuekin,'' dumelnya.
''Mama cemburu.'' Armand berbisik pada putranya.
''hehehehe....''
''Nggak usah ketawa, Dek,'' sewot Renita.
''Hehehe....''
Suara Marvello semakin keras saja. Agaknya dia sedang menggoda ibunya.
''Uluh..., mamanya adek ngambek.'' Armand menjawil dagu istrinya.
''Bodo!''
drrrtt-drrrtt-drrrtt....
Renita segera meraih ponsel yang ada di saku celananya.
Dania is Calling....
''Iya, Nya.... Ada apa?''
''Apa?!''
''Ya ampun, ikut seneng gue.'' Renita berteriak girang, ''share posisi sekarang, Nya. Gue langsung meluncur. Tapi mau mandi dulu.''
''Iya harus, dong. Mama Renita harus tampil cetar membahana ulalala,'' kata Renita dengan gaya centilnya.
''Bye, Nya....''
''Siapa, Ren?'' tanya Armand yang sedari tadi mendengar percakapan istrinya.
__ADS_1
''Dania ngasih tahu, kalau kakak iparnya lahiran.''
''Sahabatmu juga, 'kan?''
''Iya, Mas. Masa mesti di jelaskan sejelas-jelasnya.''
''Udah, ah. Aku mau mandi, bentar lagi kita kesana. Nih, lokasinya udah di kirim sama Dania.'' Renita menunjukkan layar handphone-nya di depan muka sang suami.
''Kamu ajak Vello dulu. Udah mandi, 'kan?'' tanya wanita itu.
Armand mengangguk tanda mengiyakan.
...----------------...
''Ganti, Ren. Aku gak suka kamu pakai baju itu. Dan itu riasanmu terlalu tebal. Mau menggoda siapa kamu?''
Pria itu baru memasuki kamar, tapi sudah di suguhkan pemandangan yang membuat hatinya panas.
''Apa, sih, Mas? Bajuku tertutup, gak terbuka.''
''Kamu terlalu cantik aku tidak suka.'' Armand sudah merajuk seperti anak kecil.
''Astaga.... Gak usah kumat, deh, Mas,'' keluh Renita frustasi.
''Ganti Renita,'' geram Armand.
''Gak!'' Renita menolak keras.
''Renita,'' panggil Armand dengan merapatkan giginya.
''Gak mau, aku udah capek-capek dandan disuruh hapus suruh ganti pula. Kalau ganti aku pakai baju yang lebih terbuka, nih. Bila perlu pakai lingerie sekalian. Biar tambah ulala,'' ancam Renita disisipi kecentilannya.
Armand melotot mendengarnya.
''Gak, gak perlu! Pakai ini aja. Pakaian itu hanya boleh di depanku.''
Renita mengulum senyumnya, padahal dia hanya ingin mengerjai suaminya. Tapi di tanggapi dengan serius.
...----------------...
''Mas itu mukamu bisa di jernihkan? Perasaan dari tadi buthek mulu,'' protes Renita.
Saat mereka sampai di parkiran rumah sakit tempat Wina melahirkan.
Armand masih diam tak ingin menanggapi istrinya. Dia kesal karena Renita berpenampilan terlalu cantik, hanya untuk menjenguk sahabatnya yang melahirkan.
''Senyum....'' Renita menarik kedua sudut bibir suaminya.
''Nah, jauh lebih baik. Gantengnya suamiku,'' puji Renita.
Armand yang mendengar itupun tak bisa menahan senyumnya. Istrinya terlalu pintar untuk membujuk dirinya.
''Yuk, masuk,'' ajak Renita.
''Kamu tunggu sebentar, jangan bergerak.'' Armand mencegah sang istri yang ingin membuka pintu.
Meski bingung, Renita menurut saja karena ingin melihat apa yang akan dilakukan suaminya.
''Silahkan, Tuan Putri.''
Armand membukakan pintu mobil untuk wanita pujaannya.
''So sweet banget, sih.''
''Tumben,'' lanjutnya lagi.
''Ck, kamu seperti mengajakku terbang ke awan, lalu kamu hempaskan aku ke dasar jurang, Ren,'' sahut Armand dengan mengikuti langkah kaki sang istri.
Renita menoleh sekilas, kemudian melanjutkan kembali langkahnya.
''Kamu belajar dari mana kata-kata lebay seperti itu, Mas?''
__ADS_1
''Pengen romantis dibilang lebay,'' gerutu Armand.
''Udah gak usah cemberut lagi, kita sudah sampai. Kalau kamu gak senyum gak aku buka pintunya.''
''Iya-iya,'' jawab Armand.
...----------------...
''Hallo, Gengs,'' teriak Renita.
Semua yang ada disana menoleh kearah ibu satu anak itu. Bertepatan pula, Wina tengah memberi ASI bayinya.
''Waduh! Masuk di waktu yang tidak tepat,'' celetuk Armand.
''Pak Armand!'' Berganti Wina yang berteriak heboh.
Dengan sigap, David segera menghalangi istrinya dengan tubuhnya.
''Tutup mata, Mas!'' perintah Renita, ''gak usah jelalatan matanya. Cukup punyaku yang boleh kamu lihat.''
''Iya, aku gak lihat, kepunyaanmu masih favoritku. Meskipun harus berbagi sama Vello,'' ucap Armand.
''Mas!'' Renita memperingati suaminya.
Sungguh, ingin rasanya dia bersembunyi di lubang tikus, agar tidak ada seorangpun yang melihatnya. Kalimat frontal suaminya benar-benar membuat dirinya malu.
Pasalnya, di ruangan itu ada keluarga besar Wina, mulai dari oma, kedua orang tuanya dan Andrew.
''Pak Armand, kalau bicara hati-hati, nanti ada yang mupeng,'' celetuk Wina dengan mata melirik ke arah kakaknya.
''Gak usah nyindir, Win,'' sahut Andrew.
''Tahu nih, sebel aku.'' Renita melengos begitu saja, memilih menghampiri bayi mungil yang ada di gendongan David.
''Lucunya, cantik banget, sih.''
''Sini, Mas Dav, aku mau gendong,'' pinta Renita.
David memberikan bayinya pada wanita itu. Tampak, bayi mungil itu mengeliat kecil saat berpindah tangan.
''Kapan kerasanya?'' tanya Renita mulai kepo.
''Semalam, tengah mulai kerasa. Untung aku gak ada lembur,'' jawab David.
''Normal apa Caesar?'' tanya Renita lagi.
''Kamu seperti belum pernah melahirkan, Ren. Kok tanya sampai sebegitunya.'' Melissa menimpali dari tempat duduknya.
Renita tersenyum kecut, saat mengingat peristiwa sebelum dirinya melahirkan Vello dulu.
''Ke-kepo, Tan.'' Renita berusaha menguasai dirinya, terlihat sebiasa mungkin di hadapan mereka.
''Jadi, loe ngelahirin normal apa operasi, Win?'' Renita mengalihkan pembicaraan dengan keingintahuannya.
''Normal, kalau operasi mungkin gue belum sadar, Ren. Dia keluarnya subuh tadi,'' kata Wina, ''asal loe tau. Rasanya, sedap-sedap, yahud, gitu. Yang pasti, masih enak pas buatnya,'' kelakarnya.
Renita mencebik saja. ''Otakmu udah gak beres, Win. Baru brojol udah keinget ngadon.''
Semua yang ada di sana tak bisa menahan tawa, saat mendengar perkataan ibu satu anak itu.
''Cantik, jangan kayak mamamu, ya. Kayak papamu aja, kalem. Nanti tante jadiin mantu,'' ucap Renita secara tiba-tiba, dia mengajak bicara bayi mungil dalam dekapannya.
''Eh, apaan kagak bisa! Gue yang bawa dia selama sembilan bulan. Enak aja main mirip bapaknya, harus mirip emaknya. Nanti gue latih dia bela diri, biar jadi wanita tangguh,'' sahut Wina tidak terima.
''Terus nanti cucu mama jadi tukang pukul kayak kamu dong, Win.'' Melissa menimpali.
''Biarin, Ma. Biar dia ngerasain, gimana pusingnya bolak-balik di panggil ke sekolahan gara-gara anak gadisnya berantem.'' Andrew tak mau kalah.
''Terus aja pojokin aku, bongkar semua keburukan aku,'' kesal Wina.
''Si Princess ngambek, Oma.'' Andrew mengadu pada Omanya yang duduk tak jauh darinya.
__ADS_1
''Dia ngambek juga gara-gara kamu, And,'' jawab Oma.